21/03/2026
Dari Beijing ke Shanghai: Belajar Pariwisata dari Negeri Lain
Perjalanan ke luar negeri sering kali memberikan pengalaman yang lebih dari sekadar melihat tempat baru. Ia juga membuka kesempatan untuk melihat bagaimana negara lain membangun kota, mengelola destinasi wisata, dan menciptakan sistem yang mendukung pergerakan manusia dalam jumlah besar.
Kunjungan singkat ke Beijing, Shanghai, dan Kuala Lumpur pada 8–14 Maret 2026 memberikan gambaran yang menarik mengenai bagaimana pariwisata berkembang di kawasan Asia.
Perjalanan ini bukan sekadar wisata, tetapi juga menjadi kesempatan untuk melakukan pengamatan sederhana tentang bagaimana kota-kota besar di kawasan ini membangun daya tariknya.
⸻
Kota Besar dengan Infrastruktur yang Tertata
Kesan pertama ketika tiba di Beijing adalah skala kota yang sangat besar dan sistem infrastruktur yang tertata dengan rapi.
Bandara modern dengan teknologi pelayanan otomatis menjadi pintu masuk pertama yang memperlihatkan bagaimana teknologi banyak digunakan untuk meningkatkan efisiensi pelayanan.
Di sisi lain, interaksi langsung dengan petugas relatif terbatas. Banyak petugas yang hanya menggunakan bahasa Mandarin sehingga komunikasi dengan wisatawan asing terkadang tidak selalu mudah.
Namun dari sisi fasilitas publik, kualitasnya sangat baik. Toilet di bandara maupun tempat umum terlihat bersih dan terawat, sesuatu yang sering kali menjadi indikator sederhana dari kualitas pengelolaan fasilitas publik di sebuah kota.
Di luar bandara, jalan-jalan di kota terlihat rapi, lebar, dan hampir tidak ditemukan kerusakan. Sampah di jalan juga hampir tidak terlihat.
Menariknya, jumlah polisi yang berjaga di jalan tidak terlalu banyak. Ketertiban masyarakat lebih banyak dijaga melalui teknologi pengawasan seperti kamera CCTV yang terpasang hampir di seluruh sudut kota.
⸻
Mobilitas Tinggi Melalui Transportasi Cepat
Salah satu hal yang paling mengesankan dari perjalanan ini adalah sistem transportasi publik.
Perjalanan dari Beijing menuju Shanghai yang berjarak sekitar 1300 kilometer dapat ditempuh hanya dalam waktu sekitar 4,5 jam menggunakan kereta cepat.
Kereta berangkat tepat waktu dan tiba sesuai jadwal tanpa keterlambatan.
Transportasi yang cepat dan relatif terjangkau seperti ini membuat masyarakat sangat mudah melakukan perjalanan antar kota.
Dampaknya sangat besar bagi sektor pariwisata. Mobilitas yang tinggi membuat wisata domestik di Tiongkok berkembang sangat pesat karena masyarakat dapat dengan mudah mengunjungi berbagai destinasi di negaranya sendiri.
⸻
Beijing: Kota Sejarah dan Simbol Negara
Di Beijing, beberapa destinasi wisata memperlihatkan bagaimana sejarah dan identitas nasional menjadi bagian penting dari daya tarik wisata.
Salah satu tempat yang paling terkenal adalah Tiananmen Square, sebuah alun-alun yang sangat luas dan memiliki arti penting dalam sejarah modern Tiongkok.
Lapangan ini dikelilingi oleh bangunan-bangunan monumental negara dan menjadi salah satu ruang publik terbesar di dunia.
Tidak jauh dari sana terdapat kompleks istana kekaisaran yang dahulu menjadi pusat pemerintahan selama ratusan tahun. Dari atas bukit di Jingshan Park, pengunjung dapat melihat keseluruhan kompleks istana tersebut dengan jelas.
Atap-atap kuning keemasan dari istana tampak membentang luas, memberikan gambaran tentang betapa besarnya pusat kekuasaan kekaisaran Tiongkok pada masa lalu.
Perjalanan di Beijing juga terasa belum lengkap tanpa mengunjungi Great Wall of China.
Bentangan tembok raksasa yang melintasi pegunungan ini tidak hanya menjadi objek wisata terkenal di dunia, tetapi juga simbol dari ketahanan dan sejarah panjang peradaban Tiongkok.
Selain destinasi besar tersebut, kawasan permukiman tradisional seperti Hutong juga memberikan pengalaman yang berbeda.
Gang-gang sempit dengan rumah-rumah tradisional memperlihatkan wajah kehidupan masyarakat Beijing pada masa lampau, yang masih bertahan di tengah modernisasi kota.
⸻
Shanghai: Wajah Kota Modern Asia
Jika Beijing mencerminkan kekuatan sejarah, maka Shanghai memperlihatkan wajah kota modern yang berkembang sangat cepat.
Di kawasan The Bund, wisatawan dapat melihat deretan bangunan kolonial bergaya Eropa yang dahulu menjadi pusat perdagangan internasional.
Dari tepi sungai ini terlihat kontras yang menarik. Di seberang sungai berdiri kawasan Pudong dengan gedung-gedung pencakar langit yang sangat modern.
Dalam waktu sekitar empat dekade, kawasan ini berkembang dari daerah rawa menjadi pusat keuangan internasional.
Di sisi lain, kawasan seperti Yuyuan Garden masih mempertahankan taman tradisional Tiongkok dengan paviliun, kolam, dan jembatan batu yang artistik.
Sementara itu, jalan perbelanjaan terkenal Nanjing Road hampir tidak pernah sepi dari pengunjung.
Perpaduan antara sejarah, perdagangan, dan modernitas membuat Shanghai menjadi salah satu kota paling dinamis di Asia.
⸻
Bali Lebih Dikenal daripada Indonesia
Salah satu pengalaman menarik selama perjalanan ini adalah percakapan dengan beberapa warga lokal di Tiongkok.
Ketika berbicara mengenai destinasi wisata luar negeri, banyak dari mereka sangat mengenal Bali.
Bahkan dalam beberapa kasus, nama Bali lebih dikenal dibandingkan nama Indonesia sebagai negara.
Hal ini menunjukkan bahwa Bali telah berhasil membangun reputasi global sebagai destinasi wisata kelas dunia.
Namun di sisi lain, kondisi ini juga menjadi tantangan bagi Indonesia untuk memperluas manfaat dari kekuatan brand Bali ke wilayah lain, termasuk daerah seperti Karangasem Regency yang memiliki potensi wisata alam dan budaya yang sangat besar.
⸻
Singgah di Malaysia
Dalam perjalanan pulang, kunjungan singkat ke Kuala Lumpur memberikan perspektif yang berbeda.
Secara umum, kondisi infrastruktur kota terasa tidak terlalu berbeda dengan banyak kota di Indonesia.
Namun Malaysia memiliki satu destinasi wisata yang sangat menonjol, yaitu Genting Highlands.
Kawasan ini merupakan resor hiburan besar di daerah pegunungan yang memiliki hotel besar, pusat perbelanjaan, taman hiburan, serta kasino internasional.
Proyek ini dibangun oleh sektor swasta melalui perusahaan yang didirikan oleh pengusaha Malaysia Lim Goh Tong dan kemudian dikembangkan oleh putranya Lim Kok Thay.
⸻
Refleksi bagi Indonesia
Dari perjalanan ini terlihat bahwa keberhasilan sebuah destinasi wisata tidak hanya ditentukan oleh keindahan alam.
Tiongkok menunjukkan bagaimana infrastruktur, transportasi, dan teknologi dapat menjadi fondasi utama bagi perkembangan pariwisata.
Malaysia memperlihatkan bagaimana pengembangan destinasi terpadu dapat menciptakan daya tarik wisata yang sangat kuat.
Indonesia sebenarnya memiliki potensi yang tidak kalah besar.
Keindahan alam, kekayaan budaya, dan keramahan masyarakat merupakan modal yang sangat kuat. Namun potensi tersebut perlu didukung oleh pembangunan infrastruktur yang lebih baik, pengelolaan kota yang bersih dan tertib, serta sistem transportasi yang memudahkan mobilitas wisatawan.
Jika hal-hal tersebut dapat terus diperbaiki, maka pariwisata Indonesia memiliki peluang besar untuk berkembang lebih kuat di masa depan.
Wayan Kariasa dan temen- temen PHRI.