04/03/2013
“Perjuangan Cinta dalam Hujan”
Ini adalah kisah ku, perasaan cinta yang mulai menjangkiti hatiku tepatnya saat aku masih duduk dibangku SMP. Sore itu, selesai estra kulikuler paduan suara di sekolah, hujan turun dengan sangat lebat, awan pun gelap memikat. Semua murid sudah p**ang, tapi aku masih menunggu jemputan di serambi masjid sekolah. Suasana sepi yang menakutkan. Tiba-tiba ada tangan yang memegang pundak kanan ku dan hampir-hampir melepaskan jantung yang telah merekat di dalam paru-paru ku. “Woe jelek, nunggu dijemput ya?” sapanya dari belakang. “Ngomongnya biasa aja! Jangan ngaget-ngagetin gitu ngapa!” jawab ku kesal. “Yah, marah muluk sih, supir mu jadi malas jemputkan?”jawabnya. “Enak aja kamu Ris, kamu sendiri kok belum p**ang?”tanyaku. “Habis latihan basket. Ow ya, kamu udah sholat ashar belum?” tanyanya. “Astagfirulla hal adzim, aku lupa!” aku pun langsung bangkit dari duduk ku. “Ya udah ayo sholat bareng aku, sambil nunggu hujan reda.”ajaknya. Suasana yang sepi, gelap, dan perasaan takut, ditambah hawa dingin yang menusuk tulang seakan berubah menjadi suasana tenang, hangat dan aman saat Risky menjadi imam dalam sujud senja ku.
Sesudah sholat... hujan mulai reda, namun risky tak juga beranjak dari mushola. “Hujannya udah reda ni Ris. Kamu nggak mau p**ang?” tanya ku memecah keheningan di antara kami berdua. ”Ah ntar aja Din,” jawabnya singkat. Lalu kami berdua pun mengobrol lebih banyak dan hujan pun kembali turun dengan lebatnya. Dan tak lama kemudian jemputan ku datang. “Ris, aku udah dijemput ni, duluan ya?” dia hanya tersenyum dan tak lama kemudian ikut beranjak dari tempat duduknya. Dari arah kaca mobil, aku melihatnya mengendarai motor dengan basah kuyup tanpa jas hujan. Namun aku pun hanya bisa tersenyum sesekali kearahnya tanpa bisa berbuat apa-apa. Dan sepertinya malam ini aku akan tidur nyenyak karenanya. Karena terbayang-bayang kejadian sore tadi. Menunaikan panggilan Nya bersama dengan orang yang diam-diam aku s**a.
Keesokan harinya, ketika jam istirahat, setelah dari kantin aku bertemu dengan sahabat ku namanya Sifa. “Din temenin ke kantin lagi yuk.” Ajaknya. “Yah sif, aku barusan dari sana.” “Yah,,, ya udah deh tapi bareng ke kelasnya ya, tungguin aku disini bentar! ” pintanya. “Iya, tapi aku tunggu di pinggir lapangan aja ya.”kataku. “Oke deh, ntar aku nyusul ke lapangan.”jawabnya singkat. Setelah Sifa melanjutkan langkahnya menuju kantin, aku segera menemui Risky yang baru saja selesai olahraga dan beristirahat di tepi lapangan. “Hay Ris, makasih ya kemarin udah ditemenin nunggu jemputan. Ini buat kamu. Es krim rasa coklat bisa bikin kamu lebih semangat loh.” Es krim rasa coklat yang baru saja aku beli dari kantin itu pun berpindah tangan. “Hah? Siapa yang nemenin kamu? GR! Tapi makasih ya.” jawabnya setengah meledek. Tanpa sadar senyumku pun merekah, terkejut dengan jawabannya yang 100% berbeda dari biasanya. “Hla terus, kenapa kemarin kamu baru p**ang setelah aku p**ang hayo?” tanya ku menggoda. “Eeem.. itukan karena...” belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba Sifa datang dan mengajak ku kembali ke kelas. “Ya udah deh Ris, aku balik ke kelas dulu ya. Ow ya, es krimnya jangan cuma di diemin terus, meleleh tuh.” Dia pun tersenyum sambil kembali menjilat es krimnya yang hampir menodai bajunya.
Sesampainya didepan kelas, fikiran ku masih saja terngiang akan diri Risky yang sedari tadi membuat ku deg-degan. Apalagi saat dia tersenyum, seakan-akan semua pemandangan indah yang ada didunia tidak mampu menandingi senyumannya. Matanya yang berbinar, wajahnya yang menawan. “He is a perfect boy!” tanpa sadar aku berteriak dengan muka seperti kepiting rebus. “Ih, Dinda... yang barusan ketemu ma si gebetan, seneng sampai segitunya..” tiba-tiba suara si keppo Sifa menyadarkan ku dari tingkah konyol yang tanpa sadar telah aku lakukan. Aku hanya tersenyum malu kearahnya, tak ingin melanjutkan kata-katanya yang pasti akan berujung pada sebuah gosip murahan yang tanpa perlu waktu lama gosip itu akan tersebar ke antero sekolah.
Kini aku berada dalam ambang perasaan. Bukan ambang kematian. Jujur aku s**a Risky tapi aku tidak bisa meninggalkan Rasya (pacarku) begitu saja. Meski sudah sejak lama aku jenuh dengannya, jenuh dengan sikapnya yang over protektif, sikapnya yang egois dan sikapnya yang genit dengn semua gadis. Berulang kali sudah ku coba untuk mengakhiri hubungan ku dengannya namun dia tidak pernah mau. Hingga pada akhirnya, siang itu, seusai pelajaran biologi di laboratorium aku kembali ke kelas dan tanpa sengaja melihat Rasya memeluk dan mencium adik kandungku. Hal itu terasa seperti petir yang menyambarku di siang bolong. Akan tetapi dengan kejadian ini aku jadi mempunyai alasan untuk mengakhiri ubunganku dengan Rasya. Aku mendekati mereka, aku pura-pura marah dan pergi dengan mengucurkan air mata. Meski semua itu hanyalah settingan ku saja.
Ternyata jodoh memang tak pernah bisa di duga. Saat aku meninggalkan ruang kelas adikku, tanpa sengaja aku berpapasan dengan Risky di depan pintu ruang komputer. Risky melihat ku menangis, dia mengikuti ku. “Heh jelek, kenapa kamu nangis?” tanyanya singkat. “Kenapa kamu tanya sama orang jelek?”jawabku kesal. “Ih, mewek gini masih bisa galak juga ya kamu? Padahal baru kemarin baikin aku.” nada bicaranya seolah-olah mengisyaratkan bahwa ada curahan perhatian dari Risky, meskipun tidak dia ungkapkan secara langsung. Sifat inilah yang aku s**a dari Risky, terlihat cuek namun perhatian. Terlihat galak namun penyayang. “Ya udah tunggu disini bentar ya?”pintanya. Tak lama kemudian Risly datang dengan membawa es krim rasa coklat persis dengan yang tempo hari aku berikan ke dia. “Kata kamu, kalau makan es krim bisa bikin lebih semangatkan? Ini, biar kamu semangat dan galakin aku lagi.” Kalimat pertamanya yang bisa membuat senyum di bibirku mengembang dan gejolak di hatiku pun tak dapat tertandingi oleh semua getaran yang diakibatkan oleh pergeseran lempengan bumi sekali pun.
Malam ini, aku benar-benar merasa bahagia karena bisa mendapat perhatian dari si usil, Risky. Meskipun si brengsek Rasya masih meminta maaf dengan jurus andalannya, memohon dengan melankolisnya yang justru aku anggap kampungan. Meski begitu aku tetap tidak akan memaafkannya. Apalagi merestui hubungannya dengan adikku. Berulang kali aku menasehati Zahra, adikku. Namun sifatnya yang egois dan bandel membuatku kewalahan untuk menasehatinya. Rasanya seperti menjelma dalam raga makhluk egois yang sangat egois hingga Zahra tak lagi mau bertegur sapa dengan ku sejak aku memintanya untuk meninggalkan Rasya. Bukannnya iri atau sakit hati justru karena kejadian siang itu, aku jadi memiliki alasan untuk meninggalkan Rasya selamanya. Dan Rasya pun sudah tidak kan memiliki alasan apapun untuk memintaku bersamanya kembali. Tapi kenapa harus adik ku yangn menolongku dan menjadi korban Rasya? Berulang kali aku mendekati Zahra dan menasehatinya karena aku hanya tidak ingin adik kandung ku menjadi korban Rasya ke-playboy-an Rasya. Meskipun semua usahaku berujung dengan kata NIHIL.
Di sekolah, aku tak lagi memperdulikan masa laluku itu. Aku hanya berusaha bersikap tenang dan mencoba cuek dengan masalah yang bukan masalahku itu. Apalagi semenjak aku menceritakan semuanya kepada Risky yang semakin hari semakin dekat dengan ku. Meski dalam hati aku masih tidak percaya bisa dekat dengan si usil, Risky. Risky Reza Ananta, cowok yang sejak lama aku s**a dan aku yakin dia juga menyimpan hal yang sama dengan apa yang aku rasa ke dia. Meski keyakinanku itu masih sepertiga dari kenyataannya. Atau justru perasaan ku ini salah? Entahlah.
“Rinai hujan basahi aku, temani sepi yang mengendap, kala aku mengingat mu dan semua saat manis itu.” MP3 siap memanjakan telinga ku dengan memutar lagu Hujan-Utopia, lagu favorit ku sejak sore itu. Duduk diantara anak tangga masjid sekolah sambil menunggu hujan reda adalah momen yang perfect untuk menggalau. Bukan galau karena Rasya dan adikku yang masih saja marah dengan ku, melainkan galau karena Risky selalu ada didalam setiap hela nafasku. “Woe jelek, ngapain kamu disini? Pakek ngelamun lagi!” Untuk kedua kalinya dia ada pada saat aku benar-benar merindukannya. Seakan kami berdua memiliki radar yang bisa menyatukan perasaan kami. “Huh, ditanya malah diem aja! Kesambet ntar!” katanya lagi. “Heh, iya Ris, ini,,, emm aku lagi nungguin jemputan.”jawabku terbata-bata. “Cie, udah nggak galak ni ceritanya?..”godanya. Aku hanya bisa tersenyum tanda menyetujui ucapannya. Tanda mengiyakan hal itu karena semenjak aku semakin dekat dengan Risky aku sudah bisa menghilangkan sifat galakku. Saat aku terdiam, tiba-tiba dia turun ke halaman masjid dan menarik kedua tanganku dan diajaknya menikmati rintikan hujan yang cukup lebat sore itu. Kejar-kejaran, gelitik-gelitikan dan tertawa bersama dengan Risky dibawah rinai hujan yang menjadi saksi bisu kebahagiaan kami saat itu.
Malam ini, 17 Mei, hari dimana aku mulai mengisi kembali lembaran-lembaran putih buku diary ku. Kembali mengisinya dengan cerita-cerita unik dan membahagiakan. Dan kebahagiaan itu tidak pernah sedikit pun terlepas dari kenangan-kenangan tentang kebersaman ku dengan risky disaat hujan di senja hari. Malam ini juga hujan kembali mengguyur kota ku. Saat-saat seperti ini menjadi terasa semakin tenang dan membahagiakan. Karena seperti lirik lagu itu, (Kala aku mengingat mu dan semua saat manis itu.) Selesai mengisi diary, aku kembali melakukan hobby ku yaitu menulis sebuah cerita yang tidak pernah jauh dari kisah hidup ku. Semua inspirasi dengan lebat mengguyuri pikiranku, namun ketika ponsel yang aku letakkan di atas tempat tidur ku berbunyi, semua ketenangan itu dengan sekejap membuyar bahkan hilang. Ketika mataku melihat layar ponsel yang bertuliskan (1 Pesan Baru). Pesan dari Risky, membuatku terkejut memang. Bagaimana tidak, ketika seseorang yang diam-diam kita s**a tiba-tiba mengirim pesan pada ponsel kita yang pada sebulum-sebelumnya tidak pernah melakukan hal itu. Tanpa sadar air mata ku membasahi pipiku ketika aku membaca pesannya “Din, maafin aku ya. Selama ini aku sudah usil sama kamu. Ow ya aku cuma mau ngasih tahu kalau aku besok mau pindah sekolah ke Yogyakarta. Jadi kamu udah gak akan aku gangguin lagi. Senangnya... ”. Pesan yang Risky kirim ke ponsel ku seakan-akan membuatku tertegun. Tiba-tiba hati ku sedih dan sesak mencoba menahan air mata yang hampir meluap namun gagal dan pada akhirnya air mataku benar-benar meluap. Tanpa sadar hatiku berkata, untuk apa aku menangis? Toh Risky bukan siapa-siapa aku, dia hanya cowok usil yang sesekali bikin aku kesal meski sejujurnya aku tidak pernah kesal justru aku selalu bahagia dekat dengannya.
“Diary, pagi ini 18 Mei adalah hari terakhirku untuk bisa bertemu dengan Risky. Hari terakhir Risky berada di sekolah kami, hari yang akan penuh dengan keharuan, kesedihan. Apa aku bisa menyembunyikan kesedihanku di depannya? Diary, apa aku tidak usah berangkat sekolah saja ya? Tapi..... kalau aku tidak berangkat, aku tidak bisa lagi bertemu dengannya. Tapi aku takut jika nanti aku menangis di depannya? Aku belum ingin dia tehu tentang perasaanku. Baiklah diary, aku siap! Aku siap untuk bertemu dengannya hari ini. Aku siap beradu acting dengannya, aku juga ingin tahu apakah keyakinanku itu benar.”
Di sekolah, dia melihat ku masuk ke gerbang sekolah. Aku lihat langkah kakinya mulai mendekat kearah ku. sepagi ini? Aku belum siap. Dan pada akhirnya aku menjauh darinya dan mencoba untuk tidak memperhatikannya sampai perasaan ku benar-benar siap untuk bertemu dengannya. Sejak awal pelajaran dimulai aku melihat Risky duduk di depan kelas ku. di sampingku, hanya saja kita terhalang oleh sebuah jendela kaca. Risky melihatku, aku sadar itu. Aku yakin sekali bahwa dia benar-benar memperhatikan ku. karena sesekali kami saling berpandangan tanpa sengaja dan sesekali itu p**a kami saling melemparkan senyum satu sama lain.
“Teeet... Teeet... Teeet” bel sekolah pun berbunyi. Teman-teman sekelasku berebut keluar paling awal ketika menyadari bahwa Risky masih setia duduk di depan kelas ku. semua larut dalam keharuan, tak terkecuali aku. di dalam kelas tanpa sadar aku adalah satu-satunya murid yang masih setia duduk di bangku ku dan tak berkutik sedikit pun. Namun pandangan ku masih belum bisa melihat kearah Risky. Suasana mulai hening, suara teriakan, tangisan dan kesedihan tiba-tiba berubah menjadi suasana tegang dengan penuh kesunyian. Ketika aku kembali menegakkan wajah ku tanpa sadar Risky sudah berdiri dihaadapan ku dengan muka tersenyum seolah-olah tak ada sedikit pun raut wajah sedih di mukanya. “Dinda, kamu nggak ingin bertemu dengan ku untuk yang terakhir kalinya?” suara Risky tiba-tiba membuatku terperangah. Semua mata pengiring kedatangan Risky mengarah kearah ku. sedih tapi juga malu yang aku rasakan saat itu. Hingga untuk mengucapkan kata selamat tinggal pun aku tak sanggup. “Teman-teman biarkan aku berbicara hany berdua dengan cewek galak ini ya...” katanya lagi. Kali ini, kalimatnya dia tujukan untuk semua teman-teman dan sahabat-sahabatnya yang sedari tadi masih mengekori Risky.
“Dinda....” dia kembali membuka pembicaraan dengan ku. namun aku benar-benar belum siap berbicara dengan Risky saat itu. “Din...” suaranya lagi. “Kamu kenapa diam saja?” tanyanya lagi. Lagi dan lagi dia berbicara. Dan kesunyian yang selalu aku munculkan dalam percakapan itu. Hingga akhirnya, “Ya sudah Din, aku pergi ya... jaga diri mu baik-baik.” Kalimatnya untuk yang terakhir kali sebelum dia mencoba untuk melangkahkan kakinya dan menjauh dari ku. “TUNGGU!!!” teriak ku. “Ayo ikut denganku.” Pintaku lagi. Dengan sigap aku menarik lengannya, membawanya kesuatu tempat yang akan membiaskan kembali kenangan-kenangan dimasa lalu kami. “Masjid ini, pertama kali kita bertemu. Masjid ini adalah saksi bisu kebersamaan kita dulu. Masjid ini, tempat aku dan kamu menggelar sajadah dalam sujud senja kita waktu itu. Di masjid ini juga kamu menarik lengan ku dan menikmati hujan di sore itu dengan mu. Kamu tidak tahu bahwa betapa bahagianya aku saat itu. Dan ayo ikut aku lagi!” tangan ku kembali menarik lenganya dan membawanya pada suatu tempat.” Lapangan ini, kali pertama aku mau menemui kamu dan memberi es krim rasa coklat itu. Ingat nggak? Bahkan siang itu, kamu belum sempat menjawab pertanyaan ku tentang waktu itu, waktu kamu menemaniku menunggu jemputan karena Sifa sudah datang dari kantin dan mengajak ku untuk kembali ke kelas. Padahal saat itu, jujur aku sangat mengharapkan jawaban mu. Ingat nggak? Di sini, dan di sekolah ini, banyak kenangan yang terukir di sekolah ini. Apakah kamu menganggap semua itu hanya omong kosong belaka. Apakah kamu tidak menganggap semua itu adalah kenangan? Kalau kamu menganggap semua itu adalah kenangan, lalu kenapa kamu dengan gampangnya ingin membuang semua kenangan ini?” kata ku kesal. Tanpa terasa aku terbawa emosi hingga meneteskan airmata ku lagi. Kali ini, aku sadar bahwa tak selamanya acting ku bisa berjalan dengan mulus. Acting untuk tidak menangis dan terlihat tegar di hadapan Risky, nyatanya tak berhasil aku lakukan.
Tangannya memegang kedua pundak ku. Melihat ku dengan tatapan tajam. Aku lihat tak ada senyum dari bibirnya. Hanya mta berbinar yang semakin membuatku larut dalam kesedihan. Sepertinya perkataan ku membuatnya marah atau dia menjadi ilfeel dengan ku? Ternyata semua terkaan ku salah. Risky tidak marah dengan ku apalagi ilfeel. Dia hanya ingin memastikan keadaan ku, sambil sesekali mengusap airmata di pipiku. Desah nafasnya mulai terdengar resah, seperti ada beban yang nyangkut di tenggorokannya. Dan pada suatu ketika suasana berubah menjadi haru pilu. “Din, aku tidak akan melupakan semua kenangan ini. Tidak akan! Aku akan tetap mengingat ini semua bahkan juga kejadian siang ini. Kejadian dimana aku melihat seorang cewek yang dulunya sangat galak dan judes dengan ku, tiba-tiba menjadi teman dekat ku, dan sekarang menangis karenaku.” Jawabnya dengan sedikit mencela. “Terserah Ris! Terserah kamu mau ngomong apa! Kamu mungkin tidak sedih meninggalkan kami semua dan juga meninggalkan ini semua!” jawab ku kesal. “Ini Din hal yang aku nanti-nanti sedari tadi. Melihat mu marah, melihat mu kesal. Aku rindu dengan sifat mu yang galak. Aku rindu kamu yang marah-marah ke aku. karena semua kemarahan mu itu adalah kebahagiaan yang terpendam untuk ku Din. Aku mulai mengenal mu dengan sikap galak mu. Bukan sikap mu yang sekarang, cengeng dan lemah. Dinda... lihat aku, aku baik-baik saja dan selamanya akan tetap baik-baik saja. Aku hanya pindah ke Jogja bukan Amerika ataupun Etiopia. Sudahlah Din, simpan air mata mu, karena itu akan menjadi sangat berharga di suatu saat nanti. ”
Kalimatnya yang begitu panjang membuat ku semakin terdiam. Mencoba memasukkan stiap katanya untuk kurangkai menjadi sebuah kengan yang akan sangat merindukan suatu hari nanti. Siang itu, aku mulai sadar kembali bahwa aku dan Risky bukanlah sepasang kekasih, bukanlah sepasang burung yang selalu terbang beriringan satu sama lain. Aku dan Risky hanyalah sepasang sahabat yang mungkin melakukan kesalahan yang bodoh dan sangat bodoh yaitu sama-sama menyimpan perasaan namun tak berani mengungkapkan. Hingga pada saat aku mengantarnya ke bandara bersama sebagian teman-teman dekatnya, perasaan risau dan resah dia tunjukan kepada ku. Aku yakin bahwa masih ada sedikit beban dalam benak Risky. Dan untuk kali pertama keyakinan ku ini adalah sesuatu yang benar. Risky masih sulit meninggalkan kami semua. Hingga dalam langkah kakinya menuju kedalam bandara ia masih sempat melihat kearah kami dan tiba-tiba menunduk. *Triiiing...* suara ponsel dari aku ku berbunyi. Satu pesan baru, dari Risky. “Dinda, aku sayang kamu. Aku cinta kamu dan sebelum kamu kamu tanya, apa alasanku menyukai kamu adalah karena galak mu. Dinda mau nggak kamu jd pacarku meskipun nantinya kita bakalan Longdistence ?” pesan yang selama ini aku nanti-nantikan. Kejujuran yang selama ini aku harapkan. Tak berlama-lama lagi, aku mengangguk kearahnya yang ternyata sedari tadi dia masih melihat kearah ku.
Melihat anggukan ku, Risky berlari mendekati ku dan mendekap erat tubuh ku. ini adalah perasaan cinta yang aku mau. Benar-benar nnyaman berada dalam pelukannya. Meskipun rasa nyaman itu tak bisa aku rasakan lebih lama dari sekedar lima menit karena sebelum waktu semakin menghanyutkan kebahagiaan kami berdua, kami mulai sadar bahwa ternyata semua pasang mata telah tertuju pada kami berdua. Kini aku yakin, cinta bisa kita dapat dengan usaha dan penuh keberanian. Mungkin tanpa aku memulai semua ini, aku tak akan bisa mendapatkan orang yang benar-benar aku s**a. Mungkin tanpa ada kejujuran dianrata kami semua ini tidak akan pernah terjadi.
Sabtu, 18 Mei 2009, tepatnya pukul 20.18. Diary, hari ini aku sangat senaaaaang sekali. Kamu taukan ry, aku sudah menyukai Risky sejak aku masih bersama Rasya... Dan baru hari ini ry, dia berani mengungkapkan isi hatinya. Diary, dalam perjalanan cinta ku kali ini aku telah berhasil mendapatkan kelima bintang. Sempurna! Keberhasilan yang sempurna. Aku bahagia ry, karena ternyata feeling-feeling ku selama ini benar. Feeling ku terhadap perasaan Risky. Ry, kalau saja kamu manusia, kamu minta teraktiran apa saja pasti aku turutin. Hehehe .... tapi sayang kamu hanya saksi bisu yang panda menyimpan semua curahan hati ku dan tanpa meminta imbalan untuk itu semua. Mungkin aku akan menggunakan feeling ku untuk berterimakasih pada mu. Emmm... Aku akan berikan kesetiaan dan penjagaan pada mu, Ry. Seperti kesetiaan mu menemani aku saat aku sedih maupun s**a dan penjagaan mu untuk setiap curahan hati ku. Diary, aku yakin malam ini kamu juga ikut merasakan apa yang aku rasakan. Aku yakin kamu bahagia seperti yng aku rasakan juga. Karena kamu dan aku adalah sahabat. Kamu dan aku adalah satu, teman abadi. Seabadi cinta ku dengan Risky. Semoga. :’)
NB:
Tulisan yang ditulis dalam waktu satu malam,, cerita yang ditulis setelah sekian lama tidak berlatih menulis,,, Tulisan yang masih acakadul dan kurang manarik!
Saran, kritik adalah mas**an yang berarti... Bebas berkometar... :D