Nusa Pustaka

Nusa Pustaka Perpustakaan SMA Ma'arif leksono

03/10/2023

cek TKP

Local business

31/10/2017
31/10/2017

Seperti dinukil dari berbagai sumber oleh Okezone, berikut ini deretan pekerjaan di dunia yang sudah hilang karena adanya teknologi. Apa saja?

Operator Elevator
Pekerjaan yang satu ini menjadi salah satu yang mungkin sudah jarang ditemui. Pekerjaan ini bertugas untuk mempermudah pengunjung saat mereka hendak menaiki elevator atau lift. Namun sekarang, pengunjung bisa lebih mudah karena mereka tinggal menekan lantai yang diinginkan dengan tombol-tombol yang disediakan dalam lift tersebut.
Pekerjaan Pos
Meskipun masih ada, kita mungkin jarang menemui petugas yang bekerja sebagai pekerja pos seperti pemilahan, pemrosesan, sampai operator mesin. Pekerjaan ini terus tergerus waktu karena adanya teknologi. Bahkan dalam beberapa dasawarsa ke depan, pekerjaan ini akan musnah.
Pinsetter
Ini adalah sebuah profesi yang tugasnya adalah menyusun pin-pin pada bola boling yang berjatuhan. Mereka akan duduk di ujung arena boling untuk siap merapikan kembali pin-pin yang berjatuhan. Namun, kini profesi ini sudah tidak lagi kita temuan di tempat-tempat permainan boling. Sebab, pekerjaan ini telah digantikan oleh mesin.
Pengantar Koran
Mungkin dulu Anda kerap menemui orang-orang yang sering mengantarkan koran ke rumah. Namun hal tersebut, kini menjadi suatu hal yang jarang ditemukan bahkan tidak ada lagi. Sehingga lama-kelamaan, pekerjaan ini pun akan lenyap dimakan zaman.

31/10/2017

Hujan Berlian Terjadi di Planet Ini, Kok Bisa?
JAKARTA - Sebuah planet mengalami hujan air, mungkin itu sudah biasa terdengar. Namun, bagaimana jika ada sebuah planet yang memiliki hujan berlian bukan hujan air seperti Bumi?
Dalam sebuah percobaan yang dirancang peneliti untuk meneliti kondisi planet es di tata surya, peneliti menemukan fakta yang mengejutkan. Para ilmuwan mengamati hujan berlian untuk pertama kalinya yang terbentuk akibat kondisi tekanan yang sangat tinggi.
Tekanan yang sangat tinggi itu memeras hidrogen dan karbon yang ditemukan di planet itu dan membentuk berlian padat yang turun ke daratan seperti hujan. Curah hujan berlian tersebut telah lama dihipotesiskan muncul dari 5 ribu mil di bawah permukaan Uranus dan Neptunus.
Peneliti melakukan simulasi lingkungan kedua planet tersebut dengan menciptakan gelombang kejut dalam plastik berlaser optik yang intens di instrumen Matter in Extreme Conditions (MEC) di LAC National Accelerator Laboratory's dengan laser X-ray elektron bebas dan Linac Coherent Light Source (LCLS).
Dalam percobaan tersebut, peneliti melihat bahwa hampir setiap atom karbon dari plastik digabungkan ke dalam struktur berlian kecil sampai beberapa nanometer, seperti dikutip dari Sciencedaily, Sabtu (26/8/2017).
Di Uranus dan Neptunus, peneliti memprediksi bahwa berlian akan jauh lebih besar dan mungkin bobotnya mencapai jutaan karat. Selain itu, peneliti juga memperkirakan bahwa selama ribuan tahun, berlian tersebut perlahan-lahan akan meresap ke lapisan es planet dan merapat ke lapisan tebal di sekitar inti planet.
"Sebelumnya, peneliti hanya bisa berasumsi bahwa berlian telah terbentuk dari awal, tetapi ketika melihat hasil eksperimen terbaru ini, ternyata tidak," ungkap Dominik Kraus, ilmuwan di Helmholtz Zentrum Dresden-Rossendorf dan penulis utama penelitian ini. Pada percobaan sebelumnya, peneliti mencoba menciptakan hujan berlian dalam kondisi yang sama tetapi tidak secara real-time.
Ketika para astronom mengamati exoplanet di luar tata surya, mereka dapat mengukur massa dan jari-jari planet. Hubungan antar keduanya digunakan untuk mengklasifikasikan sebuah planet dan membantu peneliti untuk menentukan apakah planet tersebut terdiri dari elemen yang lebih ringan atau lebih berat.

31/10/2017

Planet Asing Diduga Miliki Kandungan Air, Benarkah Dapat Dihuni?
CALIFORNIA - Beberapa waktu lalu, temuan sistem planet TRAPPIST-1 cukup menghebohkan dunia sains. Sistem planet tersebut terdiri dari planet-planet asing yang terus diteliti oleh para ilmuwan.
Kini, seperti dilansir Bgr, Jumat (1/9/2017), dilaporkan beberapa planet mungkin memiliki sejumlah air yang signifikan, termasuk kabarnya tiga planet yang berlokasi dalam zona layak huni.
Sebelumnya peneliti meyakini bahwa sistem planet TRAPPIST-1 merupakan kandidat yang baik dalam mencari kehidupan alien. Pengamatan menggunakan Space Telescope Imaging Spectrograph Hubble mengindikasikan bahwa radiasi dari bintang benar-benar hebat.
Sehingga, peneliti menduga bahwa planet terdalam benar-benar hancur karena radiasi itu. Sementara planet-planet terluar yang mencakup tiga planet yang terletak di zona 'goldilocks' layak dihuni.
Peneliti juga memperkirakan bahwa planet tersebut menahan sebagian besar air yang menopang kehidupan mereka. "Planet dalam bisa saja kehilangan lebih dari 20 air laut Bumi selama delapan miliar tahun terakhir," kata ilmuwan menjelaskan.
Ilmuwan melanjutkan, planet luar dari sistem, termasuk planet e, f dan g yang berada di zona layak huni seharusnya telah kehilangan lebih sedikit air, menunjukkan bahwa mereka dapat mempertahankan beberapa air di permukaannya.
Sayangnya, teknologi saat ini tidak memungkinkan peneliti untuk membuat keputusan definitif mengenai berapa banyak air yang masih dimiliki planet. Saat ini tampaknya ilmuwan masih terus meneliti planet asing tersebut.
Pada Februari 2017 dilaporkan, astronom dari SETI Institute mengarahkan teleskop radio ke dalam bintang kerdil merah TRAPPIST-1. Bintang dingin yang sedikit lebih besar dari Jupiter itu berjarak 39 tahun cahaya dari Bumi.
Setidaknya ada tiga planet yang hangat, yang disebut-sebut mampu mendukung kehidupan. Peneliti telah membidik sejak tahun lalu tiga dari tujuh planet yang baru ditemukan itu menggunakan Allen Telescope Array di California.
Selama dua hari, peneliti menyisir kawasan sekira TRAPPIST-1, memindai melalui sepuluh miliar saluran radio untuk mendengarkan setiap sinyal dari ET. Namun, tidak ada transmisi yang terdeteksi.

31/10/2017

Tak Hanya Saturnus, Planet Kerdil Ini Juga Miliki Cincin

JAKARTA - Setiap planet tampaknya memiliki keunikan tersendiri. Mulai dari warna, corak hingga sesuatu yang menyertainya. Misalnya saja Saturnus, yang dikenal memiliki cincin yang mengelilinginya.
Rupanya, tak hanya Saturnus, ada planet kerdil yang disebut Haumea yang juga memiliki cincin. Berkat teleskop yang mempu mendeteksi exoplanet, beberapa penemuan menakjubkan atau cenderung aneh bisa ditemukan di sistem tata surya.
Para astronom telah menemukan sebuah cincin partikel yang mengelilingi dunia Haumea, planet kerdil yang berbentuk seperti telur tergencet.
Haumea merupakan satu dari lima planet kerdil yang diakui secara resmi, dan yang lainnya seperti Ceres, Eris, Makemake, dan Pluto.
Cincin di sekitar planet seperti Saturnus, Uranus, dan Neptunus dipelajari dengan baik, dan untuk sebagian besar dipahami. Akan tetapi, planet kerdil yang memiliki cincin sendiri dinilai sangat aneh.
Banyak hal yang membuat Haumea seperti sebuah planet kerdil yang aneh. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa planet kerdil itu mengalami tabrakan dengan benda lain di Kuiper Belt.
Dampaknya, sangat mungkin tidak hanya menyebabkan kurcaci berputar liar, mengirimkan puing ke orbitnya. Puing-puing itu bisa jadi material yang membentuk bulannya, dengan sisa debu jatuh ke orbit dan menciptakan cincinnya.

31/10/2017
31/10/2017
25/10/2017

Selamat Bergabung di Perpustakaan "NUSA PUSTAKA" SMA Ma'arif Leksono .... ..... 😊

Perpustakaan SMA Ma'arif leksono

Hari Santri Nasional 2017
23/10/2017

Hari Santri Nasional 2017

Address

Jalan Kauman Km. 01 Leksono
Wonosobo
56362

Opening Hours

Monday 08:00 - 13:00
Tuesday 08:00 - 13:00
Wednesday 08:00 - 13:00
Thursday 08:00 - 13:00
Friday 08:00 - 11:00
Saturday 08:00 - 11:00

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Nusa Pustaka posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category