12/06/2026
Khutbah Jum'at
MENGEPING WAKTU, MENIMBANG MAKNA HARTA
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَاحِبُ الْمَقَامِ الْمَحْمُودِ وَالْحَوْضِ الْمَوْرُودِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، سَيِّدِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ الطَّيِّبِينَ الطَّاهِرِينَ، وَأَصْحَابِهِ الْأَخْيَارِ الْمُنْتَجَبِينَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Hari ini, di penghujung tahun, kita berdiri di sebuah jembatan waktu. Di belakang kita ada bentangan hari yang telah lalu, dan di depan kita ada kabut hari esok yang belum teraba. Detik demi detik berbisik lirih meninggalkan kita, bukan sekadar menandai pergantian kalender, melainkan sedang mengikis jatah usia kita di dunia ini.
Allah SWT telah mengingatkan kita dalam Surah Al-Hasyr ayat 18, yang baru saja khatib bacakan:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Ayat ini adalah fondasi dari muhasabah—sebuah tindakan berani untuk berkaca pada cermin jiwa kita sendiri. Mari kita tanyakan pada diri kita dengan jujur: Selama satu tahun ini, apakah kita lebih banyak membangun istana di dunia atau menanam benih untuk di akhirat?
Sidang Jemaah yang Dimuliakan Allah,
Salah satu ujian terbesar sekaligus nikmat terdahsyat yang Allah titipkan kepada kita sepanjang tahun ini adalah Harta. Banyak di antara kita yang menghabiskan siang dan malam, memeras keringat hingga air mata, demi mengejar harta. Namun, di akhir tahun ini, mari kita merenung: Di mana letak kebermaknaan harta yang sesungguhnya?
Harta seringkali menipu mata. Kita mengira harta adalah apa yang kita miliki di rekening bank, tanah yang membentang, atau kendaraan yang megah. Padahal, Rasulullah ﷺ telah membuka hakikat harta dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim:
يَقُولُ الْعَبْدُ: مَالِي مَالِي، وَإِنَّمَا لَهُ مِنْ مَالِهِ ثَلَاثٌ: مَا أَكَلَ فَأَفْنَى، أَوْ لَبِسَ فَأَبْلَى، أَوْ أَعْطَى فَأَقْنَى، وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ ذَاهِبٌ وَتَارِكُهُ لِلنَّاسِ
“Seorang hamba berkata: ‘Hartaku, hartaku!’ Padahal hartanya yang sesungguhnya hanyalah tiga: Apa yang ia makan lalu sirna, apa yang ia pakai lalu usang, atau apa yang ia sedekahkan lalu ia simpan (di akhirat). Dan apa yang selain itu, maka ia akan lenyap dan ditinggalkannya bagi manusia (ahli waris).” (HR. Muslim).
Harta baru akan bermakna ketika ia berubah wujud menjadi amal shalih. Harta yang kita simpan erat-erat dalam genggaman ego, kelak hanya akan menjadi angka-angka yang ditinggalkan untuk diperebutkan.
Namun, harta yang kita alirkan untuk menyeka air mata anak yatim, membantu agama Allah, dan memberi nafkah yang halal untuk keluarga, itulah harta yang sesungguhnya. Ia melompat melewati batas kematian dan menunggu kita di padang Mahsyar sebagai peneduh.
Jemaah Jumat yang Dirahmati Allah,
Bayangkan hari di mana tidak ada lagi tawar-menawar. Hari di mana kita berdiri sendiri di hadapan Rabbul 'Alamin. Rasulullah ﷺ mengingatkan kita tentang interogasi agung yang pasti akan kita hadapi terkait waktu dan harta kita:
لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنِ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ
“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya apa yang telah ia amalkan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan ke mana ia infakkan, dan tentang tubuhnya untuk apa ia gunakan.” (HR. Tirmidzi).
Perhatikan baik-baik! Untuk umur, ilmu, dan tubuh, Allah hanya bertanya satu hal: untuk apa digunakan? Namun khusus untuk Harta, Allah mengajukan dua pertanyaan sekaligus: Dari mana kau dapatkan, dan ke mana kau belanjakan?
Pertanyaan ini berat, ya ma'asyiral muslimin. Sungguh berat. Apakah rupiah yang masuk ke kantong kita tahun ini bersih dari riba? Bersih dari menzalimi hak orang lain? Bersih dari penipuan? Dan setelah ia mampir ke tangan kita, apakah ia keluar untuk ketaatan, atau justru menjadi bahan bakar untuk kemaksiatan dan kesombongan?
Jika harta membuat kita lupa tegur sapa dengan tetangga, jika harta membuat kita enggan melangkahkan kaki ke masjid, dan jika harta membuat kita merasa lebih mulia dari sesama, maka ketahuilah, harta itu telah kehilangan maknanya. Ia bukan lagi nikmat, melainkan istidraj—jebakan manis yang perlahan menyeret kita ke jurang kebinasaan.
Jama'ah Jum'at Rahimakumullah
Sebelum lembaran tahun ini benar-benar ditutup oleh malaikat pencatat amal, mari kita bersujud, menangis, dan memohon ampun atas segala kelalaian kita. Gunakan sisa waktu yang ada untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah dan sesama manusia.
Jika ada harta yang bukan hak kita, kembalikan. Jika ada zakat yang belum tertunaikan, bayarkan. Jadikan sisa umur kita menjadi sebaik-baiknya masa, dan jadikan harta yang ada di tangan kita saat ini sebagai jembatan menuju ridha-Nya.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.