Kumpulan Puisi Puisi Karya Kami

Kumpulan Puisi Puisi Karya Kami puisi terindah ada kalanya datang ketika hati kita bersedih ---

17/03/2021

Sang Hujan
oleh : Aris Saiful Amin

Aku adalah sang Hujan,

yang tak henti--hentinya menaburkan benih--benih kenangan,
Pada tiap kenangan sepucuk bunga teratai berembun salju
mekar dalam telaga warna warni dunia

Aku adalah sang Hujan

Yang menitipkan rindu--rindu terpendam
Pada kisah kasih yang tiada berbalas dan terlupakan
Namun tetap terkenang dan penuh pengharapan

Aku adalah Sang Hujan

cerita--cerita serta dongeng katak bernyanyi di bawah rintiknya
menyuratkan keagungan akan nikmat Tuhan

Aku adalah sang Hujan

Tiada pernah memekikan tabir--tabir kehidupan
Namun membasuh sang Bumi dengan tiap tempias yg bersahutan
Mengundang rasa cemburu dan kegelisahan
semenjak pagi hingga petang

Aku adalah sang Hujan

nyanyian alam tersyahdu yang tak tergantikan memberi warna kelabu pada awan--awan lembut tanpa menyakitinya
membawa jalan pilihan dari langkah yang terguncang

Aku adalah sang Hujan

memetik rindu dari langit--langit kelabu
menutup matahari dengan cadar--cadar jingga
Hingga terlupa siapa ia sebenarnya

Dan engkau adalah sang Bumi
jawaban atas segala tetes rinai dan segenang kesah
pemilik dari titik temu perjumpaan kita
Dan basah pada tanah adalah ranah perkenalan kita
ketika Tuhan mnakdirkan hujan yg angkuh untuk di pertautkan dgn bumi yg ramah tamah rendah diri
dan itulah sebenar benarnya dirimu yg ku harap atas hujan sore ini

aku menungguinya
Berharap Tuhan tak ingkar atas janjinya

Wonosobo, 18 Maret 2021
NT

Kudapan Rinduoleh : HersLetih bila hanya merasakan rinduHanya merasakan rasa untuk dirindukanNamun melepaskan mu ituBisa...
09/06/2020

Kudapan Rindu
oleh : Hers

Letih bila hanya merasakan rindu

Hanya merasakan rasa untuk dirindukan

Namun melepaskan mu itu

Bisa matikan pijar bola-bola cahaya

Semua pagi hanyalah kejam hening malam

Dan itu lelah memang

Untuk jarak yang tidak bisa dipatahkan ini

Untuk rasa senang cinta hanyalah inginkan kedekatan itu

Untuk memastikan senyuman indah mu masih miliki indah nya hati ku

Dan bila waktu ingin merelakan mu

Maka semua siang hanyalah rasa keruh malam untuk menyesatkan

Aku tidak bisa tidak

Tidak bisa ya untuk jarak yang mungkin bisa menghilangkan tubuh kita

Mungkin lautan ingin mencabik denyut hati kami

Tidak, untuk tidak ingin kehilangan mu

Ya, untuk rasa sabar menunggu mu

Tidak bisa tidak, tidak bisa ya

Hati selalu berlabuh di semua dermaga hati mu

Kudapan rindu ku

Ku dapatkan hati mu hanya untuk ku

Kudapan bukan pertarungan

Kepastian rasa sabar sayang

Atau bulir matang ragu

Ini perasaan sederhana untuk kudapan rindu mu, mungkin

Ini rumus pengetahuan cinta tanpa soda kue

Bahkan bila kompor minyak kehabisan bahan bakar

Atau mungkin rasa ekstrim.rindu seperti penampakkan roh jahat

Kudapan rindu di atas meja tamu mimpi

Tidak ada yang lain, sayang ku

Bahkan waktu dan jarak ini telah semakin tua memisahkan tubuh kita

(c) Hers, 08 Juni 2020

Tentang Hidupoleh : Ria MiMungkin kau sedang bahagia? Atau sedang bersedih, seperti patah sayapmuBila sedang bahagia, tu...
09/06/2020

Tentang Hidup
oleh : Ria Mi

Mungkin kau sedang bahagia? Atau sedang bersedih, seperti patah sayapmu

Bila sedang bahagia, tutupilah separuh bahagiamu, sebab di sekelilingmu masih banyak yang mereguk sari pahit kehidupan

Bila kau bersedih menangislah jika kau ingin tumpahkan segala butiran bening yang memenuhi dadamu

Lalu tulislah sebuah cita-cita indah, jangan pernah kau ingin berhenti dari perjalanan yang belum usai

Tuangkanlah lukisan harapan, laksana menggambar potret masa depanmu di dalam bingkai kehidupan
Jangan gunakan keraguan, sebab lukisan wajahmu nanti tampak buram

Tahukah kau, bahwa sebuah keputusasaan adalah hilangnya sebuah harapan, maka jangan pernah kau pupuk

Berdirilah di senja temaram, lalu nikmati sunyinya malam
Kau akan temukan kerlip bintang

Saat matamu terlelap, akan tertidur di atas sofa kepasrahan
Di sinilah bawah sadarmu akan temukan sebuah keyakinan bertemu fajar
Begitu setiap hari, hingga kau pahami bahwa perubahan adalah kehendak Tuhan
Maka yakinlah bahwa hidup bergerak

Bergeraklah, bergeraklah seperti air
Ia tahu kapan harus tenang, gerimis, berombak dan menghanyutkan kepedihan-kepedihan yang menjadi polusi kalbu
Yakinlah

Bukit Nuris, 2020

Puisi Orkestra Pagioleh : Mim YudiartoKetika badai bertamu di pelataran tempatmu menanam masa laluBiarkan dia berpusar d...
09/06/2020

Puisi Orkestra Pagi
oleh : Mim Yudiarto

Ketika badai bertamu di pelataran tempatmu menanam masa lalu
Biarkan dia berpusar di sana
Tak perlu kau persilahkan duduk di beranda

Saat hujan menabuh keramaian di pintu pagar tempatmu melindungi bunga-bunga yang sedang mekar
Biarkan dia berorkestra di sana
Kau hanya perlu menyeduh segelas kopi
Lalu menikmati suguhannya dari serambi

Manakala sengatan matahari mengikuti kemanapun lebah-lebah sedang menari
Biarkan panggungnya adalah kenanga dan melati
Jangan kau usik dengan tegur atau sapa
Kau hanya perlu menajamkan kelopak mata
Saat nektar dan rasa manis hilir mudik dibawa

Jika kau merasa sunyi dari kejauhan mendatangi
Biarkan saja pintu dan jendelamu terbuka
Karena di setiap sunyi yang diterima dengan tangan terbuka
Ada terikut asa yang tidak lagi berahasia

Kau hanya perlu berdansa dengan pagi
Untuk mengingat seperti apa laiknya sebuah kehangatan
Kau hanya perlu berteman dengan ruang-ruang memori
Untuk melupakan sedih dan teruknya kenangan

Bogor, 9 Juni 2020

Air Itu Menetes di Kalbu-kuoleh : Kris Banarto Tanah hati itu mengering lama, air tak pernah mau menghampiriKesepian tan...
09/06/2020

Air Itu Menetes di Kalbu-ku
oleh : Kris Banarto


Tanah hati itu mengering lama, air tak pernah mau menghampiri

Kesepian tanpa kepastian, dan asa itu jauh tersapu angin

Aku berjalan dalam lorong waktu yang tak berujung

Kenangan masih ada, ketika ada air menetes pelan

Tetapi aku menghiraukan, dan merasa air itu belum cukup menetes

Waktu berlalu dan kita berpisah, ketika mentari menyengat lubuk hati-ku

Nurani-ku kering dan belum ada harap karena aku tak siap

Lalu aku serius menata hati, menyambut air sejuk menetes jiwa

Usia merangkak naik dan orang tua telah membangunkan kesadaran-ku

Rupa-rupanya mereka telah memilih-kan air untuk menyejuk-kan sanubari-ku

Gayung pun bersambut menjemput air di lereng gunung

Menetes di kalbu cukup deras, hingga aku meluap bahagia

Aku bersyukur tanpa henti, Tuhan telah mengirimkan bidadari

Yang mau diajak berjuang melawan teriknya mentari dan ganas-nya badai

Kami menikmati-nya karena kalbu ini tak pernah kering oleh aliran cinta sejati

, 9 Juni 2020

13/05/2019

Mendengar Gong Nekara di Selayar
oleh Wawan Kurniawan

Aku mengenalimu dari bisu jarum jam
Jika mati, aku tak ingin terpejam

Jiwaku tak pandai meminjam
Rasa hangat dari matahari
Detak jantung tak mesti selesai
Agar habis harap dua musim

Di tubuh gong kau merajam
Sementara aku bersembunyi
Sebab kau pukulan kejam
Dari segala bunyi masa silam

2016

13/05/2019

Di Rumah Terakhir
oleh Wawan Kurniawan

Merpati baru saja tiba di sarangnya
Matahari baru saja menenggelamkan dirinya
Masa lalu bertukar cerita dengan inginmu
Mata perempuan itu menakar tulus jiwamu
Perang tak lagi dimulai setelah banyak keliru
Sebelum pagi menyadarkan isi kepala

Kau terbangun, dan perlahan aku tertegun
Setelah menghitung jejak di atas debu tebal
Saat kau mengunjungiku mata usang, lalu angin membunuhku dan di kulit waktu darah mengalir
Hingga aku terpaku memastikan, kau adalah sebenarnya aku

2016

13/05/2019

Bertemu Borges di Beranda
oleh Wawan Kurniawan

Ia mengalami reinkarnasi setelah melihat surga
Labirin waktu pecah dijajaki masa lampau jiwa
Orang lain kembali tiba menjemput siapa dan siapa
Di kepala terbentur bentuk keping diriku hampa
Sejumlah tamu satu per satu hilang entah kemana

Kecuali engkau,
Kudengar kau membaca dalam mata, meski buta
Kau tak lupa hidup di ruang kata di beranda
Aku lupa siapa engkau dan jiwa
“ Apakah benar jika di surga ada perpustakaan paling kaya ?“
Kudengar langit seperti halaman buku senantiasa terbuka

2017

13/05/2019

Menyentuh Batu Nisanku
oleh Wawan Kurniawan

Kini aku menyukai kesedihan di alam matamu
Aku,
Seseorang yang kau biarkan menghuni kesendirian
Jatuh setiap malam dan setiap kali kau menyentuh batu nisanku
Jika esok kita kembali dalam sebuah peluk hangat
Sepantasnya kita sampaikan perasaan senang pada kematian

Kau tak perlu lagi berdoa kepada Tuhan
Langit adalah sahabat dekatku yang mungkin butuh doamu
Ternyata hujan bukanlah kekasih yang sebenarnya ia miliki
Kau ingat sore itu, kita berdebat panjang akan puisi baru
Saat kubiarkan langit dan hujan saling merindukan
Dan kau menyukai puisi itu

2016

Kastratopik Rasaoleh: Mim YudiartoDi percakapan yang mana, aku menerbangkan kata-kata yang terluka, lalu balik melukai, ...
21/01/2019

Kastratopik Rasa
oleh: Mim Yudiarto

Di percakapan yang mana, aku menerbangkan kata-kata yang terluka, lalu balik melukai, karena merasa tak dicintai.

Kau merasa hatimu sekering padang sahara. Kau lupa sedang berada di mana. Kau ada di bawah air terjun yang mengabutkan uap-uap air dingin. Seluruh sosokmu terbungkus kekuatan ingin. Sangat berangin.

Di pertanyaan yang mana, aku melemparkan tajamnya perkara, kemudian kau tersayat-sayat karenanya, kemudian menganggap telah dilupakan cinta.

Kau merasa sendirian, di atas perahu kecil di tengah lautan. Kau terkatung-katung dalam serangkaian skenario membingungkan. Kau lupa sedang dalam pentas kenyataan. Bukan megahnya panggung pertunjukan.

Di keraguan yang mana, keyakinan kau kira telah melenyap hilang. Kau merasa diabaikan, harapanmu untuk bisa segera pulang, terpanggang begitu banyaknya genangan kenangan.

Lagi-lagi kau lupa. Kau berada di antara dunia nyata dan bertebarannya drama. Saat ini kau adalah protagonis yang bersalah. Padahal kemarin kau antagonis yang tak pernah kalah.

Kau terjebak dalam katastropik rasa.
Sebuah romantika epik yang bermalapetaka.

Jakarta, 21 Januari 2019

Bintang Kasampurnan: Jiwa-jiwa Tenangoleh : Dharmasutaini bukan tentang kegaduhan sengketa bumi bulat atau datarkarena s...
21/01/2019

Bintang Kasampurnan: Jiwa-jiwa Tenang
oleh : Dharmasuta

ini bukan tentang kegaduhan sengketa bumi bulat atau datar

karena semua kericuhan-kericuhan itu tak akan masuk daftar calon unggul yang ditanyakan: oleh makhluk cahaya saat perjumpaan diperbatasan dua alam!

ia yang dimandati untuk mempertanyakan segala perbuatan: kata-kata yang terwujud, kata-kata yang terlintas, yang terbersit, bahkan yang tersembunyi sekalipun dari deteksi detektor matahari

ini tentang malam yang hening!
tentang kesunyian yang tak selalu mengisahkan babak kesepian hati, kepatahan asa, atau apapun, tidak!

ini tentang denting dari desah desauan angin yang berhembus dalam alunan ritmis: nafas dari jiwa-jiwa tenang
tentang malam sebagai puncak pertemuan: puncak dari segala puncak perjumpaan hati dengan hati

tidakkah boleh aku bersyukur?
mengapa engkau tidak bersyukur?

ini tentang penyempurnaan
tentang malam yang tak mungkin terbunuh oleh apapun, kecuali kelalaian untuk menjumpai Hati, dan memilih melarungkan larutan waktu kedalam segumpal mimpi, yang membantai detik-detik peluang juga kesempatan penyempurnaan: pada kesia-siaan

semua kericuhan-kericuhan itu tak akan dipertanyakan: lantas mengapa terus asik menyibukan nafas-nafas waktu pada hampa yang tersedak-tersengal-sengal? program cacat mental: kesia-sian

aku tak sempurna, sedang mengupaya berjumpa cahaya untuk bermetamorfosa: sempurna

Matahari lapis ke 7; hanya itu!

***
21/1/19

Muslihat Cintaoleh : Lilik Fatimah AzzahraHendak kaularung kemana lagi retakan hatiku? Setelah lebih dari setonggak dasa...
21/01/2019

Muslihat Cinta
oleh : Lilik Fatimah Azzahra

Hendak kaularung kemana lagi retakan hatiku? Setelah lebih dari setonggak dasawarsa cahaya itu kauredupkan. Membuatku berjalan tertatih di lorong kegelapan. Menyusuri tepian waktu. Menggarami luka sendiri tanpa berani mengaduh.

Hendak kaulempar kemana lagi serpihan jiwaku? Setelah puri yang kutempati kaujadikan semacam keranda.

"Aku hidup tapi aku mati"

Lalu. Ketika datang ksatria berkuda hitam mengirim pecahan matahari. Membawa sebulir embun dan setangkup kembang melati. Mencoba melumuri luka ini dengan bait-bait puisi, kau meradang! Kau katakan itu hanya lelaku lelaki pecundang. Yang sedang memainkan orkestra bertajuk muslihat cinta.

"Bukan tengah mempersembahkan sejatinya cinta"

Bisakah kaujelaskan padaku apa sesungguhnya hakekat cinta? Beri aku pemahaman yang mencerahkan. Agar sebelum jasadku benar-benar tenggelam oleh kerumunan syair yang kausebut sebagai gubahan pujangga badut, aku sudah mengerti apa yang kauingin dan kaumaksud.

***
Malang, 21 Januari 2018
Lilik Fatimah Azzahra

Address

Jalan Sukardi No. 28 Kertek
Wonosobo

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kumpulan Puisi Puisi Karya Kami posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category