10/03/2021
DUKA NABI MUHAMMAD SAW
Menjelang peristiwa Isra' mi'raj
๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท
DUA Peristiwa penting menjelang terjadinya israโ miโraj Nabi Muhammad saw. Dua peristiwa itu amat berkesan dalam hati beliau, peristiwa yang diliputi dengan duka yang senantiasa menekan dadanya. Demikian berat peristiwa itu dirasakan oleh Nabi saw, sehingga para ahli sejarah menyebutnya dengan istilah โAam al-Huzniโ atau tahun kesedihan.
Peristiwa pertama adalah wafatnya Abu Thalib, seorang paman yang sangat dicintai,paman yang sangat mencintainya yang selama bertahun-tahun memeliharanya. Sejak beliau berusia delapan tahun sampai diantar ke gerbang kebahagiaan ketika ia menikah dengan Sayyidah Khadijah dalam usia 25 tahun.
Sebagai seorang paman Abu Thalib amat sangat mencintai Nabi saw keponakannya bahkan cintanya beliau melebihi cintanya kapada anak anaknya , ia senantiasa melindungi dari berbagai tantangan dan ancaman serta rongrongan yang datang dari kaum musyrik Quraisy. Ia yang menjadi pelindung dan perisai bagi Nabi Saw dari segala tindakan musuh. Ia juga pemimpin Quraisy yang amat berwibawa dan disegani oleh berbagai kalangan.
Peristiwa kedua adalah wafatnya Sayyidah Khadijah, istri yang sangat beliau cintai dan ia pun sangat mencintainya. Istri yang senantiasa mendampinginya selama bertahun-tahun dalam segala s**a dan duka. Sayyidah Khadijah adalah wanita bangsawan Quraisy yang memiliki sifat keibuan yang luhur. Ia selalu berusaha membahagiakan Nabi Saw dalam segala kehidupannya dan senantiasa mendukung kegiatan-kegiatan yang dilakukannya.
Perananan Sayyidah Khadijah begitu besar dalam perjuangan Nabi Muhammad saw. Ia senantiasa menghibur Nabi saw dari segala kesedihannya.Ia juga selalu berusaha membela Nabi dari segala rintangan dan tantangan. Sampai sayyidah khadijah wafat, Nabi saw tidak pernah nikah dengan siapapun, dialah istri satu-satunya yang beliau cintai.
Demikian besarnya cinta dan kasih sayang Nabi Saw pada Sayyidah Khadijah, sehingga setelah ia wafat Nabi selalu mengingatnya. Setelah Nabi menikah dengan โAisyah sepeninggal beliau, meskipun โAisyah seorang wanita yang sangat cantik dan cerdas, ia tidak bisa menggeser kedudukan Khadijah dalam diri Nabi Saw.
Terkait Khadijah yang kedudukannya tidak bisa digeser siapapun di samping Nabi saw, beliau mengatakan: Allah tidak menggantikan untukku seorang yang lebih baik dari Khadijah, ia seorang yang pertama kali beriman kepadaku, pada saat orang lain mendustakan aku. Ia yang senantiasa mencintaiku tatkala banyak orang membenciku. Ia korbankan harta kekayaannya dalam rangka membela agama.
Setelah kehilangan dua orang yang dicintainya itu, Nabi Muhammad Saw semakin menjumpai berbagai kesulitan. Tekanan orang-orang Quraisy dirasakan semakin keras saja. Dua peristiwa di atas akan meninggalkan luka yang parah dalam jiwa manusia, bagaimanapun ia kuat dan tabahnya. Ia akan menimbulkan benih-benih keputusasaan dalam jiwa seseorang, andaikata tidak dibekali dengan iman yang kuat.
Sepeninggal keduanya, terus menerus beliau menghadapi permusuhan dan penghinaan dari kaumnya, sehingga beliau pernah dilempari dengan tanah yang kotor, sehingga mengenai seluruh kepalanya. Dengan bekas tanah masih menempel di kepalanya. Fatimah putrinya yang sangat beliau cintai, membersihkan tanah itu. Ia membersihkannya sambil menangis, mencucurkan air mata, tanda kesedihan yang sangat mendalam.
Tak ada yang lebih sakit rasanya dalam qalbu seseorang ayah daripada mendengar isak tangis anaknya, lebih lebih yang mencucurkan air mata itu adalah anak perempuan. Setetes air mata kesedihan yang menitik dari kelopak mata seorang putri adalah sepercik api yang membakar jantung. Ia juga secercah duka yang menyelinap jauh ke lubuk hati dalam rintihan jiwa yang menyedihkan.
Rasul Muhammad saw adalah seorang ayah yang sangat bijaksana dan penuh kasih kepada anak anaknya. Yang kita lihat dari reaksi beliau terhadap tangisan anak perempuannya, yang merasa sedih dan duka karena malapetaka yang menimpa ayahnya.
Peristiwa yang mengharukan itu beliau hadapi dengan kesabaran dan berlapang dada. Semuanya dikembalikan kepada Allah dengan penuh iman dan taqwa. Ia berkata kepada putrinya: โJangan menangis anakku sesungguhnya Allah akan melindungi ayahmu.
_(Muhammad Husen Haikal, Hayatu Muhammad: 186)_
Karena tekanan dan penghinaan orang orang Quraisy terhadap Rasulullah saw semakin gencar, terlintas olehnya untuk melakukan perjalanan ke Thaif, berdakwah kepada penduduk negeri itu. Rasul menaruh harapan semoga kaum Tsaqif yang menduduki wilayah Thaif yang amat subur dengan udara sejuk itu mau menerima agama Allah swt. Thaif sebuah kota kecil yang kini sering dipakai tempat peristirahatan di musim panas karena hawanya sejuk, berjarak 60 km sebelah timur laut Kota Makkah.
Sesampainya di Thaif, setelah mengadakan perjalanan yang melelahkan dengan terik panas matahari yang menyengat, Nabi memasuki kota itu dengan penuh harapan. Ia berharap semoga penduduk Thaif mau menerima kedatangan dan dakwahnya yang senantiasa ia perjuangkan. Harapan dan keinginan Nabi menjadi sirna, ketika beliau memasuki kota itu dengan sambutan yang sangat mengecewakan. Penduduk Thaif ternyata amat bengis, mereka menolak kedatangan Nabi Muhammad, dakwahnya mereka tolak dengan kasar.
Demikian kasarnya sikap mereka kepada Nabi SAW, sehingga mereka mengkhianati kebiasaan bangsa Arab, yang selalu menghormati tamunya. Orang orang Thaif mengusir Nabi SAW dengan kasar, bahkan dilempari dengan batu. Nabi segera menghindari mereka, berlindung di bawah pohon anggur milik Uthbah dan Syaibah.
Kaki beliau mengucurkan darah sehingga melengket di sandalnya karena darah yang mengering. Menghadapi penghinaan yang teramat keras, Nabi SAW tidak mengutuk mereka, bahkan beliau menyampaikan doโa: Wahai Tuhanku, tunjukilah kaumku, karena sesungguhnya mereka belum mengetahui. Di tempat itu, beliau menengadah ke langit, hanyut dalam suatu doโa pengaduan yang sangat mengharukan.
ุงูููููููู
ูู ุฅููููู ุฃูุดููููู ุฅููููููู ุถูุนููู ูููููุชููู ูููููููุฉู ุญูููููุชููู ููููููุงูููู ุนูููู ุงููููุงุณู ุฃูููุชู ุฑูุจูู ุงููุนูุงููู
ููููู ููุฃูููุชู ุฑูุจูู ุงููู
ูุณูุชูุถูุนููููููู ููุฃูููุชู ุฑูุจูููู ุฅูููู ู
ููู ุชููููููููู ุฅูููู ุจูุนูููุฏู ููุชูุฌููููู
ููููู ุฃูู
ู ุฅูููู ุนูุฏูููู ู
ูููููุชููู ุฃูู
ูุฑูููุ ุฅููู ููู
ู ูููููู ุจููู ุนูููููู ุบูุถูุจู ููููุง ุฃูุจูุงูููู ุบูููุฑู ุฃูููู ุนูุงููููุชููู ูููู ุฃูููุณูุนู ูููู. ุฃูุนูููุฐู ุจูููููุฑู ููุฌููููู ุงูููุฐููู ุฃูุดูุฑูููุชู ูููู ุงูุธููููู
ูุงุชู ููุตูููุญู ุนููููููู ุฃูู
ูุฑู ุงูุฏููููููุง ููุงููุขุฎูุฑูุฉู ุฃููู ููุญูููู ุนูููููู ุบูุถูุจููู ุฃููู ุฃููู ููููุฒููู ุจููู ุณูุฎูุทููู ูููู ุงููุนูุชูุจูู ุญูุชููู ุชูุฑูุถูู ูููุงู ุญููููู ูููุงู ูููููุฉู ุฅููููุง ุจููู.
Wahai Allah Tuhanku, kepada Mu aku mengadukan kelemahan diriku, kekurangan daya upayaku dan kehinaanku dihadapan sesama manusia. Wahai Allah Yang Maha Kasih dari segala kasih, Engkau adalah pelindung orang orang yang lemah dan teraniaya.
Engkau adalah pelindungku. Tuhanku, kepada siapa Engkau serahkan diriku? Apakah kepada orang jauh yang membenciku atau kepada musuh yang menguasai diriku. Tetapi asal Kau tidak murka padaku, aku tidak perduli semua itu. Rahmat dan karunia Mu lebih luas bagiku, aku berlindung dengan cahaya Mu yang menerangi segala kegelapan, yang karenanya membawa kebahagiaan bagi dunia dan akhirat, daripada murka Mu yang akan Kau timpakan kepadaku. Engkaulah yang berhak menegurku sehingga Engkau meridhaiku. tiada daya dan upaya kecuali dari-Muโ.
(Muhammad Husen Haikal, Hayatu Muhammad, hal 187).
Munajat dan doa pengaduan Nabi Saw tersebut kemudian dikenal dengan nama Do'a Thaif.
Peristiwa peristiwa penting itulah yang terus menguji ketabahan Nabi Saw , menjelang beliau mendapatkan kehormatan yang agung, yaitu peristiwa Israโ dan Miโraj. Hendaknya kita dapat mengambil pelajaran tersebut sebagai teladan bagi kita dalam mengarungi kehidupan. Dalam doa itu Nabi SAW mendekatkan diri pada Tuhannya dengan merasakan kelemahan dirinya dan ketidakmampuannya.
Sikap merendahkan diri dan mengakui kelemahan serta kekurangan di hadapan Allah Swt adalah merupakan ciri dari seseorang manusia yang imannya sempurna. Penghambaan diri di hadapan Allah Ta'ala adalah merupakan realisasi dari iqrar kita dalam surat al-Fatihah "Iyyaka Naโbudu wa iyyaka Nastaโinโ, hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.
Dalam doa itu juga ditegaskan dengan penuh keyakinan bahwa hanya kepada Allah Swt sajalah tempat berlindung dan tempat memohon segala pertolongan. Selanjutnya Nabi Saw menegaskan bahwa sekiranya semua orang membencinya atau memusuhinya, hal itu tidak ada masalah, asal Allah Swt meridhainya.
Ridhanya Allah Ta'ala adalah dambaan setiap orang yang beriman, sedangkan rahmat-Nya dapat mengalahkan segala kesulitan yang diderita umat manusia, betapa pun beratnya. Banyak orang yang kelihatannya menderita dalam kehidupan dunia, tetapi sebenarnya merasakan kebahagiaan batin yang amat tinggi yang tidak dirasakan orang lain.
Seorang yang bertaqwa kepada Allah swt. dengan tingkatan takwa yang setinggi-tingginya akan merasakan bahagia meskipun dalam kesederhanaan materi , ia akan merasa ramai meskipun sendirian, ia akan merasa berani meskipun tanpa pendukung.Ia akan memiliki dada yang lapang, bagaikan samudera yang tidak bertepi, bila memperoleh nikmat ia bersyukur dan bila terkena musibah ia tabah dan sabar dalam menjalani nya
A'lamu
bariklana
Rojaba wa sya'bana
Ramadhana.