09/05/2026
Kampung Kanik memang mempesona. ๐
๐๐๐ซ๐๐ฃ๐ ๐๐๐ค๐ญ๐ข ๐
๐๐๐ง๐๐๐ก๐๐ฃ๐๐ฃ ๐ ๐ ๐๐๐ข๐ฅ๐ช๐ฃ๐ ๐๐๐ฃ๐๐
๐๐ฆ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข๐ณ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช ๐๐ข๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฌ ๐๐ช๐จ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ญ๐ช๐ณ ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ด๐ถ๐ฏ๐จ๐ข๐ช ๐ฅ๐ช ๐ฎ๐ถ๐ด๐ช๐ฎ ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ณ๐ข๐ถ, ๐ฅ๐ช ๐๐ฆ๐ณ๐ข๐ซ๐ข ๐๐ข๐ฌ๐ต๐ช, ๐๐ช๐บ๐ถ๐ฌ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐จ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฌ.
๐๐ฆ๐ฏ๐ค๐ข๐ฏ๐ข ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ถ๐ฏ๐ซ๐ถ๐ฏ๐จ๐ช ๐๐ข๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ฏ๐จ ๐๐ข๐ฏ๐ช๐ฌ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ช๐ข ๐ฎ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ซ๐ข๐ฌ ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ๐ฏ ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ. ๐๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ถ๐ณ๐ถ-๐ฃ๐ถ๐ณ๐ถ. ๐๐ฆ๐ต๐ช๐ข๐ฑ ๐ฅ๐ฆ๐ต๐ข๐ช๐ญ ๐ช๐ข ๐ฉ๐ช๐ต๐ถ๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ด๐ข๐ฌ๐ด๐ข๐ฎ๐ขโ๐ซ๐ถ๐ฎ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ, ๐ฃ๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ค๐ถ๐ฌ๐ถ๐ฑ, ๐ซ๐ข๐ญ๐ถ๐ณ ๐ข๐ช๐ณ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฎ๐ข๐ฏ, ๐ด๐ฆ๐ณ๐ต๐ข ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ต๐ช ๐ช๐ป๐ช๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ญ๐ข ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ฏ๐จ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ญ๐ฆ๐ธ๐ข๐ต๐ช.
โ๐๐ช๐ต๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ข๐จ๐ข๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ,โ ๐ฌ๐ข๐ต๐ข ๐๐ช๐บ๐ถ๐ฌ ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ณ๐ข๐ฑ๐ข๐ต ๐ฃ๐ฆ๐ด๐ข๐ณ ๐ฅ๐ช ๐ฃ๐ข๐ญ๐ข๐ช ๐๐ฆ๐ณ๐ข๐ซ๐ข ๐๐ข๐ฌ๐ต๐ช. โ๐๐ช๐ต๐ข ๐ฅ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ข๐จ๐ข๐ช ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ข. ๐๐ฆ๐ฃ๐ข๐จ๐ข๐ช ๐ด๐ฆ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐๐ฆ๐ช๐ฃ. ๐๐ช๐ต๐ข ๐ด๐ข๐ญ๐ช๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ญ ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ถ, ๐ฃ๐ข๐ณ๐ถ ๐ฃ๐ช๐ค๐ข๐ณ๐ข ๐ฅ๐ข๐จ๐ข๐ฏ๐จ.โ
๐๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฑ๐ข ๐ต๐ฆ๐ต๐ถ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ต๐ถ๐ซ๐ถ. ๐ ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ณ๐ข๐จ๐ถโ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฏ๐จ๐ข๐ต๐ข๐ฏ ๐๐ฆ๐ฌ ๐๐ถ๐ต๐ข ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ถ ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ด๐ฆ๐จ๐ข๐ณ ๐ฅ๐ช ๐ช๐ฏ๐จ๐ข๐ต๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข. ๐๐ข๐ฑ๐ช ๐๐ช๐บ๐ถ๐ฌ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ถ๐ญ๐ข๐ต ๐ต๐ฆ๐ฌ๐ข๐ฅ๐ฏ๐บ๐ข.
Persiapan berlangsung hampir dua bulan.
Mereka mengumpulkan kayu-kayu ulin terbaik dari hutan sekitar Meraja Sakti dan Tuana Tuha. Kayu-kayu itu lalu dibawa ke tepi sungai, tempat para tukang perahu mulai bekerja.
Lombong namanyaโperahu panjang yang dibuat dari satu batang kayu bulat utuh.
Proses pembuatannya tidak mudah. Batang kayu yang sudah dipilih dibakar perlahan di bagian tengahnya, lalu bagian yang hangus dikerok dengan kapak dan alat dari besi hingga terbentuk ruang memanjang. Bagian luar tetap dibiarkan bulat, tanpa dihaluskan, agar perahu tetap kuat menahan ombak dan arus.
Tidak semua tukang bisa membuat Lombong. Hanya mereka yang paling berpengalamanโyang sudah puluhan tahun hidup di tepi sungai dan tahu persis kayu mana yang cukup tua, cukup keras, namun tidak terlalu berat.
Dalam waktu tiga minggu, lima buah Lombong selesai dibuat.
Setiap perahu panjangnya sekitar delapan depa (sekitar 12โ15 meter), dengan lebar hanya cukup untuk dua orang duduk berdampingan. Dayung-dayung panjang disiapkan dari kayu ringan namun kuat. Layar dari anyaman daun rumbia juga dipasang di tiang bambuโsebagai cadangan jika angin bertiup kencang dan menguntungkan.
Piyuk memilih lima puluh orang untuk ikut dalam rombongan ini.
Mereka bukan sembarang orang. Sebagian besar adalah nelayan andal, pemburu, pedagang, dan beberapa dukun beliyan yang paham seluk-beluk alam gaib. Piyuk juga mengajak dua orang kepercayaannyaโNek Dai, seorang pria tua keturunan dayak kenyah, yang tangannya penuh tato dari ujung jari hingga bahu, ahli dalam membaca arus sungai dan cuaca; dan Nek Inaq, seorang perempuan paruh baya yang fasih berbahasa berbagai kampung dan dipercaya sebagai juru runding.
Sebelum berangkat, Piyuk menyempatkan diri kembali mengunjungi Tambak Tiga.
Ia ingin berpamitan pada Guru Arsa.
Di rumah kayu Arsa yang sederhana, Piyuk duduk di beranda sambil ditemani segelas air dingin dari piun tanah liat. Ma dan Mi menyuguhkan kue-kue kecil dari singkong, lalu pamit pergi membantu ibunya di Taman Sitanuk.
Arsa duduk di hadapan muridnya, menatap wajah Piyuk yang penuh semangat.
โJadi kau benar-benar pergi,โ kata Arsa pelan.
โIya, Guru. Ini kesempatan yang tidak bisa kami lewatkan.โ
Arsa menghela napas. Ia sudah tidak berniat menghentikan Piyuk lagi. Ia hanya bisa memberi nasihat terakhir.
โHati-hati dengan sungai di lapisan yang kalian lewati. Arusnya berbeda dari lapisan pertama. Kadang tenang, tiba-tiba bisa berubah kencang. Bawa selalu air minum lebih banyak dari yang kau kira cukup. Dan jangan terlalu percaya pada orang asing sebelum kau melihat matanya.โ
Piyuk mengangguk sambil tersenyum.
โAku akan selalu ingat, Guru.โ
Arsa berdiri, lalu memeluk muridnya erat.
โKembalilah,โ bisiknya. โBawa kabar baik. Tapi yang lebih pentingโฆ bawalah dirimu p**ang utuh.โ
Piyuk menahan haru. Ia hanya bisa mengangguk sekali lagi, lalu pamit pada Arsa di halaman depan.
*****
Di pelabuhan Meraja Sakti, fajar belum sepenuhnya lahir ketika lima buah Lombong mulai diatur posisinya. Kabut tipis masih menyelimuti permukaan sungai, membuat segalanya tampak seperti lukisan buram yang belum selesai. Suara air mengalir terdengar pelan, seolah enggan membangunkan dunia yang masih setengah tidur.
Piyuk berdiri di Lombong paling depan. Ia mengenakan pakaian tebal dari kulit binatangโtahan air dan cukup hangat untuk perjalanan panjang. Di pinggangnya tergantung sebilah mandau pendek dengan gagang dari tanduk rusa. Rambutnya yang panjang diikat ke belakang dengan tali kulit, membuat wajahnya yang tegas terlihat lebih dewasa dari usianya.
Di sampingnya, Nek Dai duduk di buritan dengan posisi yang nyaris tidak pernah berubah selama persiapan berlangsung. Lelaki tua itu tidak banyak bicara. Matanya yang sayu terus bergerakโmemeriksa tali-temali, memeriksa dayung cadangan, memeriksa muatan di setiap perahu. Tangannya yang dipenuhi tato tua bergerak lambat tapi pasti, seperti sudah ribuan kali melakukan hal yang sama.
"Arus musim ini tidak terlalu deras," kata Nek Dai tiba-tiba, tanpa menoleh ke Piyuk. "Tapi ada satu jalur dekat pertemuan tiga sungai yang sering berubah. Kita harus lebih hati-hati di sana."
Piyuk mengangguk. "Berapa lama sampai ke pertemuan tiga sungai itu?"
"Tiga hari. Jika tidak ada halangan."
Piyuk menarik napas panjang. Tiga hari baru sampai di pertemuan tiga sungai. Perjalanan masih panjang setelah itu.
Di Lombong kedua, Nek Inaq duduk di antara tumpukan dagangan. Ia sibuk memeriksa kembali gulungan peta dari kulit kayu yang sudah ia hafal di luar kepala. Rute menuju Kampung Kanik tidak sederhanaโmereka harus melewati tujuh sungai berbeda, kadang keluar dari air dan menyeberangi daratan sempit untuk masuk ke aliran lain, lalu sekali lagi bergerak hingga akhirnya sampai di wilayah yang konon menjadi tempat berkumpulnya Urang Geib dari berbagai penjuru.
Nek Inaq tidak gelisah. Ia sudah melakukan perjalanan seperti ini berkali-kaliโbukan ke Kampung Kanik, tapi ke berbagai kampung lain. Ia tahu sungai. Ia tahu arus. Yang ia waspadai bukan alam, melainkan manusia di seberang sana yang belum pernah ia temui.
"Piyuk," panggilnya dari Lombong kedua, "sudah pastikan semua bekal air minum?"
"Sudah, Nek Inaq. Enam piun besar di setiap perahu."
Nek Inaq mengangguk puas. Piun buatan Taman Sitanuk itu memang paling baik untuk menyimpan airโdinginnya tahan berhari-hari, dan tanah liatnya yang padat membuat air tidak mudah keruh.
Di tepi Sungai Belayan, puluhan warga mulai berdatangan meski matahari baru sepenuhnya terbit. Ada yang membawa makanan tambahan untuk rombongan, ada yang hanya ingin menyaksikan, dan ada p**a yang tidak bisa menyembunyikan air mata.
Banu berdiri di antara kerumunanโputra Piyuk yang baru menginjak usia belasan tahun. Ia tidak ikut dalam rombongan ini. Piyuk memintanya tinggal di Meraja Sakti untuk menjaga kampung dan belajar memimpin dari para tetua yang tersisa.
"Ayah akan kembali," kata Piyuk sebelum turun ke Lombong. "Jaga adik-adikmu. Jaga ibumu. Dan jangan membuat masalah."
Banu hanya mengangguk. Ia bukan tipe yang banyak bicara. Tapi matanya mengikuti gerak-gerik ayahnya dengan seksama, seolah merekam setiap detail untuk dikenang.
Di samping Banu, beberapa pemuda Meraja Sakti lainnya juga berdiri. Ada yang iri tidak ikut, ada yang lega karena tidak harus menghadapi bahaya di sungai-sungai asing. Tapi tidak ada yang berani menyuarakannya dengan keras.
Dari kejauhan, Ma dan Mi terlihat datang bersama Yona.
Mereka tidak berjalan terlalu dekat ke pelabuhan. Yona memilih berdiri di bawah pohon besar agak ke belakangโcukup jauh untuk tidak mengganggu rombongan, tapi cukup untuk melihat semuanya dengan jelas.
Ma berdiri di samping ibunya dengan tangan disilangkan di dada. Wajahnya datar, seperti biasa, tapi matanya terus bergerakโmencari Banu di antara kerumunan.
Mi memegang tangan ibunya. "Ayah tidak ikut melepas mereka?" tanyanya pelan.
"Piyuk sudah pamit dengan ayahmu tadi malam," jawab Yona. "Ayahmu tidak s**a keramaian seperti ini."
Sementara Banu dan Ma tidak saling mendekat. Mereka hanya bertukar pandang dari kejauhan. Ma mengangguk kecil. Banu membalas dengan senyum sekilas. Tidak ada kata-kata. Tidak perlu.
Mi yang melihat itu hanya tersenyum kecil dalam hati.
"Lepaskan!" perintah Nek Dai dengan suara lantang.
Lima Lombong serempak bergerak. Dayung-dayung panjang menyentuh air bersama-sama, menciptakan riak-riak yang melebar ke tepian. Para pendayung duduk berpasangan di setiap perahuโkaki kiri menapak dasar perahu, kaki kanan menapak sisi papan kayu yang sudah dilapisi anyaman bambu agar tidak licin.
Gerakan mereka terlatih. Suara dayung memecah air dengan irama yang teratur. Setiap tarikan napas, dorongan tangan, lalu hentakan kaki bergerak selaras untuk menjaga keseimbangan.
Matahari pagi merangkak naik di timur. Sungai berkilauan keemasan. Lima Lombong perlahan mengecil di kejauhanโsampai akhirnya hanya titik-titik kecil yang menghilang di belokan sungai.
Piyuk tidak menoleh ke belakang. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiriโperjalanan ini akan ia fokuskan sepenuhnya ke depan. Tidak ada ruang untuk kerinduan atau keraguan.
Tapi di dalam hatinya, ia berbisik pelan:
"Aku akan kembali. Aku akan kembali dengan kabar baik."
*****
๐๐ข๐ณ๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ฎ๐ข: ๐๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐บ๐ถ๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข ๐ฑ๐ข๐ฏ๐ซ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฏ๐ข๐ฎ๐ถ๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ฎ๐ข๐ช.
Sungai di awal perjalanan masih lebar dan tenang. Dahan-dahan pohon dari kanan dan kiri bertemu di atas, membentuk terowongan alami yang melindungi perahu dari terik matahari. Kadang-kadang, monyet-monyet melompat dari satu dahan ke dahan lain, mengawasi rombongan dengan rasa ingin tahu. Burung-burung aneh dengan bulu berwarna-warni beterbangan di kejauhan, suaranya seperti campuran antara tawa dan nyanyian.
Para pendayung bergantian beristirahat. Dua jam mendayung, lalu berganti dengan yang lain. Sistem ini sudah diatur sejak di darat, sehingga tidak ada yang kelelahan di hari pertama.
Nek Dai memegang kemudi di buritan Lombong pertama. Ia tidak pernah tidur. Matanya terus memperhatikan arus, kadang memerintahkan sedikit belok kiri atau kanan untuk menghindari pusaran air yang tersembunyi di balik bebatuan.
"Di sini dulu ada buaya besar," katanya di suatu sore, sambil menunjuk ke arah sebuah teluk kecil di tepi sungai. "Tapi sudah puluhan tahun tidak terlihat. Mungkin sudah mati."
"Atau pindah ke sungai lain," sahut salah satu pendayung.
"Atau menunggu," kata Nek Dai dengan suara datar.
Semua terdiam sejenak.
Malam pertama, mereka berlabuh di sebuah tepian yang landai. Api unggun dinyalakan dari kayu-kayu kering yang dikumpulkan dari sekitar. Para pendayung bergantian berjagaโtidak banyak yang bisa tidur nyenyak di tempat asing.
Nek Inaq membuka peta kulit kayunya di dekat api. Jari telunjuknya yang keriput menelusuri garis-garis sungai yang digambar dengan arang.
"Besok kita akan sampai di pertigaan Luah (sungai)," katanya. "Luah Aru, Luah Tabir, dan Luah Melai. Kita ambil Luah Melai, yang paling kiri."
"Mengapa bukan yang kanan?" tanya salah satu anak buah Piyuk.
"Kanan menuju ke wilayah yang tidak bertuan," jawab Nek Inaq. "Banyak makhluk liar di sana. Dan konon, ada "Taman Tuha" (taman tua) yang dijaga sesuatu. Lebih baik tidak usah."
Piyuk yang mendengar itu terdiam. Taman Tuha? Ia teringat cerita Guru Arsa yang pernah menyinggung soal taman gaib di lapisan pertama. Tapi ini lapisan kedua. Mungkin hanya kebetulan. Atau mungkin tidak.
Ia memutuskan tidak bertanya lebih lanjut.
๐๐ข๐ณ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ฅ๐ถ๐ข: ๐๐ถ๐ฏ๐จ๐ข๐ช ๐ฎ๐ถ๐ญ๐ข๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ช๐ต.
Dahan-dahan pohon yang tadinya tinggi di atas, kini hampir menyentuh kepala para pendayung. Mereka harus sesekali menunduk atau menggeserkan perahu ke tengah untuk menghindari ranting-ranting rendah.
Piyuk mulai merasakan perubahan udara. Lebih lembab. Lebih dingin. Dan ada aroma aneh yang tidak bisa ia kenaliโcampuran antara bunga dan bau busuk, samar-samar seperti ada sesuatu yang lama terkubur.
"Kita sudah dekat dengan pertigaan," kata Nek Dai.
Benar saja. Menjelang sore, sungai mulai melebar lagi. Di kejauhan, tiga aliran terlihat bertemuโair dari arah kanan yang deras dan keruh, air dari arah kiri yang tenang dan jernih, serta air dari depan yang berwarna kehijauan.
Luah Melai adalah yang paling kiri, airnya jernih kebiruan.
Piyuk memberi tanda. Lombong demi Lombong berbelok perlahan ke kiri, mengikuti arus yang lebih tenang.
Namun saat mereka memasuki Luah Melai, Nek Dai tiba-tiba mengangkat tangan kanannya. Tanda berhenti.
Semua perahu berhenti mendayung.
"Ada apa?" tanya Piyuk pelan.
Nek Dai tidak menjawab. Ia menutup mata sejenak, seolah mendengarkan sesuatu yang tidak bisa didengar oleh telinga biasa.
Beberapa saat kemudian, ia membuka mata dan berkata pelan:
"Ada yang mengawasi kita."
Bulu kuduk Piyuk meremang. Ia melirik ke kanan dan kiri. Hanya pepohonan dan kegelapan yang mulai turun.
"Bukan makhluk jahat," lanjut Nek Dai. "Merekaโฆ penasaran. Seperti sudah lama tidak melihat manusia."
"Terus?" tanya Piyuk.
"Terus saja," kata Nek Dai. "Tapi jangan ada yang buang air sendiri malam ini. Jangan ada yang memancing. Jangan ada yang berteriak."
Perintah itu disampaikan ke semua perahu melalui bisikan berantai.
Malam itu, tidak ada yang tidur nyenyak.
๐๐ข๐ณ๐ช ๐๐ฆ๐ต๐ช๐จ๐ข: ๐๐ฆ๐ญ๐ถ๐ข๐ณ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐๐ถ๐ฏ๐จ๐ข๐ช.
Di hari ketiga, mereka keluar dari Luah Melai dan memasuki aliran yang lebih terbuka. Pepohonan mulai renggang, memberi ruang pada langit kelabu yang tampak tidak pernah cerah. Udara terasa lebih berat di siniโseperti alam itu sendiri sedang menahan napas.
Nek Inaq memeriksa peta lagi.
"Setelah ini, kita harus keluar dari sungai," katanya. "Ada daratan sempit yang harus kita lintasi sekitar setengah hari jalan kaki. Lalu masuk lagi ke sungai lain bernama Luah Butut. Dari sana, sekitar lima hari ke Kampung Kanik."
Piyuk menghela napas. Perjalanan masih panjang.
Tapi di dalam hatinya, ia mulai merasakan sesuatu yang asing. Bukan takut. Bukan gelisah. Tapiโฆ penasaran yang lebih dalam.
Ia ingin tahu seperti apa Kampung Kanik. Ia ingin tahu apakah Urang Geib di sana benar-benar seperti yang dikabarkan. Dan ia ingin tahu, apakah perjalanan ini akan membawanya pada sesuatu yang lebih besar dari sekadar hubungan dagang.
Di kejauhan, awan hitam mulai menggumpal.
Nek Dai menoleh ke langit.
"Hujan besar akan datang dalam dua hari," katanya. "Kita harus sudah berada di Luah Butut sebelum itu, atau kita akan terjebak di daratan tanpa perlindungan."
Piyuk mengangguk. "Kita harus bergerak lebih cepat."
Dayung-dayung mulai bekerja lebih cepat. Lima Lombong melaju menyusuri aliran terakhir sebelum daratan, meninggalkan riak-riak kecil yang segera ditelan air keruh.
๐๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐๐ฆ๐ต๐ช๐จ๐ข: ๐๐ช๐ด๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐๐ฆ๐ฑ๐ช ๐๐ถ๐ต๐ข๐ฏ
Mereka berlabuh di tepian yang tidak terlalu landai. Nek Dai memilih tempat ini karena posisinya yang sedikit lebih tinggi dari permukaan airโaman jika hujan besar turun di malam hari.
Setelah api unggun menyala, Piyuk duduk di dekat Nek Inaq. Wanita tua itu sedang menggulung peta kulit kayunya dengan hati-hati.
"Nek Inaq," panggil Piyuk pelan. "Tentang Taman Tuha yang disebutkan tadi..."
Nek Inaq. "Kau penasaran?"
"Ya. Apakah ituโฆ berbahaya?"
Nek Inaq diam sejenak. Lalu ia berkata, suaranya hampir berbisik:
"Taman itu bukan milik kita. Bukan milik siapa pun di lapisan kedua. Konon, tempat itu adalahโฆ sisa dari sesuatu yang dulu sangat kuat. Sesuatu yang diciptakan oleh makhluk dari lapisan pertama yang kabarnya sudah lama tiada."
"Makhluk apa?"
"Tidak ada yang tahu pasti. Yang jelas, taman itu tidak boleh dimasuki. Apalagi di malam hari." Ia menatap Piyuk tajam. "Jangan kau cari, Piyuk. Bukan untuk urang geib seperti kita."
Piyuk mengangguk, meskipun di dalam hatinya, rasa penasaran itu semakin menggeliat.
Malam itu, saat semua orang sudah tertidur kecuali para penjaga, Piyuk terbangun dari tidurnya karena sesuatu.
Sebuah suara. Samar. Dari kejauhan.
Seperti... tangisan.
Atau seperti... lantunan lagu.
Ia duduk, mencoba mendengar lebih jelas. Tapi suara itu berhenti seketika, seolah menyadari bahwa ia sedang didengar.
Piyuk menatap ke arah gelap di antara pepohonan. Tidak ada apa pun. Hanya kegelapan yang pekat.
Ia kembali berbaring. Tapi tidurnya tidak lagi nyenyak.
๐๐ข๐ณ๐ช ๐๐ฆ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต: ๐๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ๐ช ๐๐ข๐ณ๐ข๐ต๐ข๐ฏ
Fajar belum sepenuhnya terang ketika mereka mulai membongkar muatan dari Lombong. Perahu-perahu ditarik ke tepi, ditambatkan dengan tali kuat ke pohon-pohon besar di pinggir sungai.
Perjalanan darat dimulai.
Mereka berjalan berbanjar menyusuri jalan setapak sempit yang hanya cukup untuk satu orang. Di kiri-kanan, hutan lebat dengan pepohonan tinggi yang hampir tidak menampakkan langit. Udara terasa lebih dingin di sini, dan kadang-kadang terdengar suara anehโseperti batuk, atau tawa, atau sesuatu yang tidak bisa diidentifikasi.
Nek Dai berjalan paling depan, membawa parang panjang untuk membuka ranting-ranting yang menghalangi. Di belakangnya, Piyuk. Lalu Nek Inaq, lalu para pendayung dengan muatan di pundak.
"Hati-hati dengan tanah di sini," kata Nek Dai tanpa menoleh. "Banyak lubang yang ditutupi daun."
Setelah berjalan sekitar dua jam, rombongan berhenti di sebuah tanah lapang kecil. Nek Inaq membuka peta lagi.
"Kita sudah setengah jalan," katanya. "Istirahat sebentar. Jangan lama-lama."
Piyuk duduk di atas batu besar, melepas lelah. Ia menatap ke arah hutan di depannya. Ada sesuatu yang aneh dengan tempat ini. Terlalu sunyi. Tidak ada suara burung. Tidak ada suara serangga.
Seperti alam sedang menahan napas.
"Piyuk," panggil Nek Inaq tiba-tiba. Suaranya tegang.
Piyuk menoleh. Nek Inaq berdiri tidak jauh darinya, menunjuk ke arah pepohonan.
Di sana, di sela-sela batang pohon yang lebat... ada sepasang mata merah menyala.
Tidak bergerak. Tidak berkedip. Hanya diam memandang.
"Jangan lihat terlalu lama," bisik Nek Inaq. "Dan jangan menunjukkan rasa takut."
Piyuk menelan ludah. Ia memalingkan wajahnya perlahan, berpura-pura tidak melihat. Para pendayung yang lain juga mulai menyadari. Tapi tidak ada yang berteriak. Tidak ada yang panik. Mereka hanya berdiri diam, saling berbisik untuk tetap tenang.
Setelah beberapa saat yang terasa seperti satu abad, mata merah itu menghilang. Seperti tidak pernah ada.
"Ayo kita lanjutkan," kata Nek Dai dingin.
Mereka berjalan lebih cepat dari sebelumnya.
๐๐ฐ๐ณ๐ฆ ๐๐ข๐ณ๐ช ๐๐ฆ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต: ๐๐ถ๐ข๐ฉ ๐๐ถ๐ต๐ถ๐ต
Matahari mulai condong ke barat ketika mereka akhirnya tiba di tepi Luah Butut. Airnya tenang, berwarna kehijauan, dengan aliran yang tidak terlalu deras. Di seberang sungai, terlihat sebuah daratan yang lebih terbukaโtanda bahwa mereka semakin dekat dengan wilayah yang dihuni.
Perahu mereka tertinggal di tempat persinggahan sebelumnya. Untuk menyeberangi Luah Butut, mereka harus membuat rakit darurat dari bambu dan kayu-kayu yang ditemukan di sekitar.
"Ini akan memakan waktu," kata Nek Dai. "Tapi tidak ada pilihan."
Mereka bekerja cepat. Pohon-pohon kecil ditebang, bambu-bambu diikat dengan rotan, dan dalam waktu tiga jam, lima rakit sederhana siap digunakan.
Saat matahari hampir sepenuhnya tenggelam, mereka mulai menyeberang.
Piyuk berada di rakit pertama, bersama Nek Dai dan Nek Inaq. Di tengah sungai, ia menatap ke arah hilirโke tempat gelap yang mulai diselimuti kabut.
Ada sesuatu di sana. Ia bisa merasakannya.
Tapi tidak ada yang terlihat.
Setelah sampai di seberang, mereka segera mencari tempat yang aman untuk bermalam. Api unggun dinyalakan lebih besar dari biasanyaโbukan hanya untuk menghangatkan, tapi juga untuk mengusir apa pun yang mungkin mengintai dari kegelapan.
Malam itu, sebelum tidur, Piyuk bertanya pada Nek Inaq:
"Nek Inaq... mata merah tadi. Apa itu?"
Nek Inaq diam lama. Lalu ia menjawab pelan:
"Penjaga. Bukan dari kampung mana pun. Mereka hanya... ada. Mereka menjaga sesuatu. Dan kita tidak perlu tahu apa itu."
Piyuk tidak bertanya lagi.
๐๐ข๐ณ๐ช ๐๐ฆ๐ฅ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ: ๐๐ฆ๐ฏ๐บ๐ถ๐ด๐ถ๐ณ๐ช ๐๐ถ๐ข๐ฉ ๐๐ถ๐ต๐ถ๐ต
Perjalanan dihari berikutnya terasa lebih tenang meskipun tetap melelahkan. Luah Butut berkelok-kelok, kadang lebar kadang sempit, tapi arusnya tidak terlalu deras. Pepohonan di tepi sungai mulai berubahโtidak serapat di hutan sebelumnya, dan kadang-kadang terlihat ladang-ladang kecil yang ditinggalkan.
"Kita sudah dekat dengan wilayah yang dihuni," kata Nek Inaq. "Ladang-ladang ini tanda bahwa tidak jauh dari sini ada kampung."
Piyuk merasa lega. Tapi juga tegang. Pertemuan dengan Kampung Kanik akan menentukan segalanya.
๐๐ข๐ณ๐ช ๐๐ฆ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ: ๐๐ข๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ฏ๐จ ๐๐ข๐ฏ๐ช๐ฌ
Sore hari, ketika matahari mulai berwarna jingga, mereka melihat sesuatu di kejauhan.
Perahu-perahu.
Banyak perahu berjejer di tepi sungai. Dan di belakangnya, rumah-rumah kayu dengan atap rumbia yang menjulang.
Piyuk mengangkat tangan kanannya. Tanda perdamaian.
Dari kejauhan, terlihat beberapa orang berdiri di pelabuhan kecil, memperhatikan kedatangan mereka.
"Kita disambut," kata Nek Inaq. "Itu pertanda baik."
Lima rakit mereka perlahan mendekat. Saat jarak semakin dekat, Piyuk bisa melihat jelas wajah-wajah di pelabuhan itu. Rata-rata lebih tua darinya, dengan pakaian sederhana tapi rapi. Mata mereka waspada, tapi tidak bermusuhan.
*****
Pelabuhan Kampung Kanik terbuat dari kayu ulin yang sudah tua. Lumut hijau menempel di sela-sela papan, tanda usia yang sudah lama. Piyuk menjejakkan kaki di sana dengan perasaan campur adukโlega karena perjalanan panjang berakhir, tapi juga waspada karena ini tanah asing.
Laki-laki paruh baya dengan rambut panjang menjuntai ke pundak itu masih berdiri di depannya. Ia tidak memperkenalkan diri dengan nama, hanya berkata:
"Aku yang mewakili kampung ini. Sebut saja aku... Tua Adat."
Piyuk menangkupkan tangan di depan dada. "Aku Piyuk dari Meraja Sakti. Kami datang sebagai tetangga, bukan musuh. Kami ingin berkenalan dan membuka hubungan baik."
Tua Adat itu menatapnya lama. Matanya tenang, tapi tajamโseperti bisa melihat lebih dari sekadar yang tampak.
"Meraja Sakti," ulangnya pelan. "Kami pernah mendengar nama itu. Kampung yang maju, katanya. Jalanan bercahaya di malam hari. Pasar yang ramai. Sungguh... sesuatu yang tidak pernah kami bayangkan."
Piyuk tersenyum bangga. "Kami tidak datang untuk membanggakan diri. Kami datang untuk belajar dan bertukar."
"Belajar dari kami?" Tua Adat itu tersenyum tipis. "Kampung kami kecil. Jalan kami hanya tanah. Penerangan kami hanya pelita. Apa yang bisa kami ajarkan pada orang semaju Meraja Sakti?"
Piyuk terdiam sejenak. Ia tidak menyangka disambut dengan kerendahan hati seperti ini.
"Kami ingin belajar... cara hidup kalian," jawabnya akhirnya. "Kami ingin tahu bagaimana kampung kalian bisa bertahan selama ini tanpa kemajuan seperti kami."
Tua Adat itu tertawa kecil. Bukan tertawa mengejek, tapi tertawa seperti orang yang mendengar sesuatu yang lucu sekaligus menggelitik.
"Bertahan? Kami tidak bertahan, Piyuk. Kami menjalani hidup. Itu saja."
Ia menepuk bahu Piyuk dengan gerakan yang hampir akrab.
"Tapi baiklah. Kalian tamu. Silakan masuk. Tapi tinggalkan senjata di sini. Di kampung kami, tamu tidak perlu membawa besi."
Piyuk memerintahkan anak buahnya untuk meletakkan parang dan tombak di rakit. Nek Dai sempat ragu, tapi Piyuk mengangguk tegas.
Mereka berjalan melewati dermaga menuju jalan setapak yang menghubungkan rumah-rumah warga. Piyuk terkejut.
Kampung ini... sederhana. Bahkan lebih sederhana dari Tuana Tuha, lapisan kedua.
Rumah-rumahnya terbuat dari kayu dan bambu, beratap rumbia. Tidak ada bangunan dua lantai. Tidak ada jalan yang dikeraskan. Tidak ada lampu yang tergantung di tiang-tiang.
Tapi ada sesuatu yang aneh.
Sepanjang jalan, di setiap halaman rumah, Piyuk melihat tanaman-tanaman dapurโkunyit, jahe, lengkuas, seraiโtumbuh dengan rapi. Tapi bukan hanya sebagai tanaman. Ia perhatikan bahwa tanaman-tanaman itu ditanam melingkar, membentuk pola tertentu. Dan di tengah lingkaran itu, tanahnya sedikit menggembung.
Seperti ada sesuatu yang sengaja dikubur.
Piyuk bertanya pada Tua Adat yang berjalan di sampingnya.
"Maaf, saya penasaran. Apa yang ditanam di tengah lingkaran kunyit itu?"
Tua Adat tidak menoleh. Ia berjalan dengan langkah tenang, seolah tidak terburu-buru oleh apa pun.
"Itu... harta leluhur kami."
Piyuk mengerutkan kening. "Harta? Disimpan di tanah, di depan rumah? Bukankah itu berbahaya? Bisa dicuri orang."
Tua Adat berhenti. Ia menatap Piyuk dengan senyum aneh.
"Siapa yang akan mencuri? Di bawah kunyit, ada tanda. Di bawah jahe, ada izin. Di bawah lengkuas, ada pantangan."
Ia melanjutkan berjalan.
"Orang luar yang datang tanpa niat baik akan merasa pusing jika mendekati halaman kami. Orang kampung sendiri tidak akan mencuri milik tetangganya. Jadi... tidak ada yang berbahaya, Piyuk. Tidak di sini."
Piyuk terdiam. Ia tidak sepenuhnya mengerti ucapan Tua Adat, tapi ia tidak berani bertanya lebih lanjut.
Rombongan Piyuk kemudian diarahkan ke sebuah balai kayu tanpa dindingโmirip dengan balai pertemuan di Meraja Sakti, tapi lebih kecil dan lebih sederhana. Di dalam, sudah tersedia tikar pandan dan hidangan sederhana: nasi, ikan bakar, sayur, dan sambal.
"Ini bukan jamuan istimewa," kata Tua Adat sambil duduk di salah satu tikar. "Tapi ini hidangan terbaik yang bisa kami berikan."
Piyuk duduk di hadapannya. Nek Inaq dan Nek Dai duduk di sampingnya, sementara anak buah yang lain duduk di tikar berbeda.
"Kami tidak butuh jamuan mewah," kata Piyuk. "Kami datang untuk... menawarkan hubungan dagang."
Ia mulai menjelaskan. Tentang Meraja Sakti yang maju. Tentang lampu-lampu di jalan. Tentang toko-toko dan pasar yang buka setiap hari. Tentang piun gerabah dari Taman Sitanuk yang sudah dikenal sampai ke kampung-kampung seberang.
Tua Adat mendengarkan dengan sabar. Kadang ia mengangguk. Kadang ia bertanya sedikit. Tapi tidak ada kilatan minat di matanya.
Setelah Piyuk selesai berbicara, Tua Adat diam sejenak. Lalu ia berkata:
"Kami tidak butuh itu, Piyuk. Maaf."
Piyuk terdiam. Ia tidak menyangka penolakan sesederhana itu.
"Kami punya minyak dari kelapa," lanjut Tua Adat. "Kami punya kain dari serat pohon. Gerabah dari tanah liat. Makanan dari ladang dan danau. Apa yang kalian tawarkan... sebenarnya sudah kami miliki. Mungkin bentuknya berbeda. Tapi fungsinya sama."
Piyuk mencoba menekan. "Tapi kami punya lampu yang lebih terang dari pelita. Kami punya jalan yang tidak becek. Kami punyaโ"
"Piyuk," potong Tua Adat lembut. "Kami tidak butuh terang. Di sini, gelap adalah teman tidur kami. Kami tidak butuh jalan yang tidak becek, karena kami tidak pernah terburu-buru di jalan. Apa yang kalian sebut 'maju'... bagi kami bukanlah segalanya."
Piyuk tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Ia menunduk, menghela napas pelan.
Tua Adat melihatnya. Lalu ia berkata dengan nada lebih hangat:
"Tapi kalau kalian mau bertukar cerita, kami siap. Kami ingin tahu tentang Meraja Sakti. Dan kalian boleh tahu tentang kampung kami."
*****
Hari berikutnya, Piyuk dan rombongannya diajak berkeliling.
Mereka melihat ladang-ladang wargaโtidak terlalu luas, tapi subur. Mereka melihat sawah yang dialiri air dari danau. Mereka melihat cara warga menangkap ikan di sungai kecil yang jernih.
Piyuk semakin terkesan. Orang-orang ini hidup sederhana, tapi mereka tidak kekurangan apa pun. Mereka punya makanan cukup. Mereka punya pakaian. Mereka punya tempat tinggal. Dan yang paling mengejutkan: mereka punya harta.
Di setiap ladang, di sela-sela tanaman kunyit, jahe, dan lengkuas, Piyuk sekarang tahu ada harta terpendam. Beberapa warga yang ramah bahkan menunjukkan kepadanyaโdengan izin, dengan ritual singkatโlalu tanah itu dibuka, dan dari dalamnya muncul guci-guci berisi perhiasan emas, batu mulia, dan koin-koin kuno.
"Kalian kaya," kata Piyuk dengan nada tidak percaya.
"Kami tidak kaya," jawab seorang perempuan tua dengan tenang. "Kami hanya tidak miskin. Dan kami tidak ingin lebih dari ini."
Piyuk tidak mengerti. Ia tidak bisa mengerti.
Di Meraja Sakti, orang berlomba-lomba menjadi lebih kaya. Orang berlomba-lomba memiliki rumah lebih besar, lampu lebih terang, jalan lebih lebar. Tapi di sini...
"Mengapa kalian tidak menggunakan harta itu? Membangun jalan. Membeli barang-barang dari kampung lain. Menjadi lebih maju?"
Perempuan tua itu tersenyum. "Untuk apa?"
Piyuk tidak bisa menjawab.
*****
Pada hari ketiga, Tua Adat mengajak Piyuk ke sebuah tempat yang disebut Kenohan Kanik.
Mereka berjalan melewati hutan kecil, lalu tiba-tiba pepohonan terbuka. Dan Piyuk tercengang.
Sebuah danau luas terbentang di hadapannya. Airnya biru kehijauan, tenang, beriak pelan diterpa angin. Di tengah danau, ada sebuah p**au kecilโhanya seukuran dua rumah, tapi dengan pepohonan yang menjulang tinggi hingga tiga kali lipat tinggi pohon biasa.
"Itu Pulau Jungau ," kata Tua Adat, menunjuk ke tengah danau. "Tempat suci ikan-ikan kami."
" Ikan?" tanya Piyuk, bingung. "Ada ikan di p**au?"
Tua Adat tertawa kecil. "Warga di sini menyebutnya Jukut Jungau. Lihatlah nanti malam, saat bulan purnama."
Piyuk menatap danau itu dengan rasa penasaran yang membuncah. Matanya lalu beralih ke seberang danauโke tempat yang jauh, hampir tidak terlihat, di mana ada titik-titik cahaya berkelap-kelip di kejauhan.
"Apa itu?" tanyanya.
Tua Adat terdiam sejenak. Lalu ia menjawab pelan:
"Itu... Kerajaan Hiran."
"Kerajaan?"
"Iya. Di seberang danau. Lewat Pulau Jungau, terus ke timur. Kapal mereka besar. Lampu mereka terang. Jalan mereka terbuat dari batu hitam mengkilat. Mereka lebih maju dari kampung mana pun yang pernah kau lihat, Piyuk. Termasuk Meraja Sakti."
Piyuk merasa dadanya sesak. Selama ini ia mengira Meraja Sakti yang paling maju. Ternyata, di dunia yang lebih luas, ada peradaban di atasnya.
"Bisakah aku ke sana?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar.
Tua Adat menggeleng pelan.
"Mereka tidak s**a tamu yang tidak diundang. Dan danau di antara p**au itu... berbahaya. Jukut Jungau yang menjaga p**au itu tidak s**a perahu asing melewati wilayah mereka."
Piyuk menatap ke seberang lagi. Lampu-lampu itu berkedip-kedip seperti cahaya bintang. Ia ingin ke sana. Ia ingin melihat. Ia ingin kampungnya seperti itu.
Dan untuk pertama kalinya dalam perjalanan ini, ambisi Piyuk menyala lagi. Lebih besar dari sebelumnya.
*****
Sejak sore hingga memasuki gelap, Piyuk memutuskan menunggu di tepi Kenohan Kanik. Ia ingin melihat sendiri ikan-ikan yang disebut Jukut Jungau itu.
Malam purnama tiba. Langit cerah. Bulan bundar penuh, memantulkan cahayanya ke permukaan Kenohan sehingga danau itu tampak seperti lautan perak.
Piyuk masih duduk di tepi danau, sendiri. Ia sengaja tidak mengajak siapa pun. Nek Inaq dan Nek Dai sudah tidur. Anak buahnya juga.
Ia menunggu.
Pada tengah malam, ketika bulan tepat di atas kepala, ia mulai mendengar suara gemericik air. Bukan dari satu arah, tapi dari banyak arahโseperti ribuan gelembung yang pecah di permukaan danau.
Lalu ia melihatnya.
Ikan-ikan besar mulai muncul dari air. Ukurannya rata-rata sebesar batang kelapa, ada juga yang lebih besar lagi. Tubuhnya memanjang seperti gabus, tapi moncongnya panjang dan pipihโmirip buaya kecil.
Mereka berenang ke arah p**au. Pulau Jungau. Dan begitu sampai di tepi p**au, mereka melakukan sesuatu yang tidak pernah Piyuk bayangkan.
Ikan-ikan itu melompat.
Tinggi. Sangat tinggi. Melewati dahan pohon yang paling rendah, melewati dahan yang di tengah, hingga mencapai pucuk-pucuk pohon yang menjulang. Dengan moncong panjang mereka, mereka memakan pucuk daun yang menjadi incaran. Bergelayutan sebentar, lalu jatuh kembali ke air dengan ceceran perak.
Byuur... pluk!
Byuur... pluk!
Suara lompatan dan jatuhnya ikan-ikan itu menciptakan irama yang anehโseperti tarian, seperti ritual, seperti sesuatu yang suci.
Piyuk terpaku. Ia tidak bisa mengalihkan pandangannya.
Dari kejauhan, di tengah p**au, ia melihat sesuatu yang lebih aneh lagi. Seekor Jukut Jungau yang lebih besar dari yang lainโmungkin dua kali lipat ukuran normalโtidak melompat. Ia hanya mengapung di permukaan air di tepi p**au, memandang ke arah Piyuk.
Seolah ia tahu.
Seolah ia melihat.
Piyuk merasakan bulu kuduknya berdiri. Tapi ia tidak pergi. Ia terus menatap balik.
Beberapa saat kemudian, ikan besar itu menyelam perlahanโdan tidak muncul lagi.
Piyuk menghela napas. Tangannya gemetar, tapi bukan karena takut. Karena... sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Ia merasa kecil. Kecil di hadapan danau ini, di hadapan ikan-ikan ini, di hadapan Kerajaan Hiran yang lampunya berkelap-kelip di kejauhan.
Tapi bukan kerendahan hati yang ia rasakan.
Rasa tidak puas. Rasa ingin lebih. Rasa ingin menjadi seperti mereka. Rasa ingin melampaui mereka.
*****
Keesokan paginya, Piyuk memutuskan untuk pamit.
Ia memang tidak mendapatkan apa-apa secara dagang. Tidak ada perjanjian. Tidak ada barang yang dibeli atau dijual. Ia hanya membawa cerita.
Tapi ia tidak p**ang dengan tangan kosong.
Ia p**ang dengan pengetahuan baru. Tentang Kerajaan Hiran. Tentang danau yang dijaga ikan-ikan raksasa. Tentang orang-orang yang hidup sederhana tapi kaya tanpa perlu "maju".
Tua Adat melepas mereka di dermaga.
"Apa yang akan kau lakukan dengan cerita-cerita itu, Piyuk?" tanyanya pelan.
Piyuk tersenyum. "Aku akan memberitahu warga kampungku. Ada dunia yang lebih besar dari yang kami kira."
Tua Adat menatapnya lama. Lalu ia berkata dengan suara yang nyaris berbisik:
"Hati-hati dengan apa yang kau cari, Piyuk. Tidak semua yang lebih maju... lebih baik."
Piyuk mengangguk, tapi ia tidak sungguh-sungguh mendengarkan.
Ia sudah memikirkan Kerajaan Hiran.
Ia sudah memikirkan cahaya-cahaya itu.
Dan di dalam perjalanan p**ang, ketika rombongannya melewati celah dekat Taman Tuhaโyang tidak pernah mereka sadari kehadirannyaโPiyuk tidak memperhatikan apa pun. Matanya tertuju ke depan. Ke masa depan yang baru ia bayangkan.
Tapi Taman Tuha (a.k.a Taman Aras) memperhatikan mereka.
Bunga-bunga merah di taman itu bergoyang pelan. Anggrek hitam di tengahnya bergetar pelan.
Bukan karena amarah. Belum.
Tapi seperti sesuatu yang baru terbangun dari tidur panjang... dan menyadari bahwa yang ia tunggu tidak akan pernah kembali.
TF080526