22/02/2024
KH. ABDUL LATIF, PENYEBAR AGAMA ISLAM DI KABUPATEN TEGAL
Kiai Abdul Latif, sebenarnya bukanlah kiai pengasuh pondok pesantren besar, beliau adalah kiai yang memimpin sebuah majelis taklim dan mushala Darul Latif di desa Suradadi Kabupaten Tegal. Kiai Abdul Latif waktu kecil bernama Rahmat, lahir di Suradadi, tahun 1912, wafat pada 21 Januari 1998 dalam usia 86 tahun. Beliau adalah anak pertama dari H. Mansur (Sarkawi), dan Hj. Khotijah (Simen) yang jika dirunut silsilahnya ke atas, akan sampai kepada para penyebar agama Islam di Tegal.
Semasa muda, beliau belajar agama di berbagai pondok pesantren, antara lain di Pesantren Kauman Pemalang kepada Kiai Asy'ari, di Pesantren Mangkang Semarang kepada Kiai Bulqin dan Kiai Masqon, di Pesantren Kempek Cirebon kepada Kiai Harun, di Pesantren Gubungsari Weleri Kendal kepada Kiai Jamhari, dan di Pesantren Giren Tegal kepada Kiai Ubaidah dan Kiai Said.
Kecintaan Kiai Abdul Latif terhadap ilmu sangat besar, beliau adalah seorang pecinta ilmu sepanjang hayat. Bahkan sampai usia tua, beliau masih terbiasa mengaji kepada KH. Muhammad Nur di Kademangaran Tegal, dan mengaji kapada KH. Sya'ban Zuhdi di Pesantren Salafiyah Pemalang.
Kiai Haji Abdul Latif telah aktif di organisasi NU sejak muda. Pada waktu pemilu pertama tahun 1955 beliau sudah aktif di NU, termasuk pada pemilu tahun 1970 beliau juga menjadi ketua NU Kecamatan Suradadi, dimana pada ketika itu NU menjadi salah satu kontestan pemilu. Beliau bersama-sama para kiai lain, seperti KH. Rosyidi, KH. Fatkhuddin, KH. Muhammad, Mukhyiddin, dan KH. Saifuddin, ikut berjuang menyebarkan agama Islam kepada masyarakat sekitar, termasuk kepada para kaum petani dan para nelayan yang pekerjaan sehari-harinya menangkap ikan di laut.
Beliau juga termasuk kiai seniman, karena Kiai Abdul Latif juga menulis syiiran dalam bahasa Jawa Tegal, yang berisi pesan-pesan kepada jalan kebaikan, pesan untuk mencintai ilmu, yang intinya menyebarkan dakwah melalui syiiran dalam bentuk syair, bahkan hingga sekarang jamaah majlis taklim di Musholla Darul Latif, masih terdengar melagukan syiir suluk hasil karya Kiai Abdul Latif. "Kabeh manungsa umure mung pitung dina ya Allah.. Embuh senin embuh kemis embuh selasa…" demikian antara lain salah satu syairnya.
Kiai Abdul Latif termasuk orang yang mula-mula menggagas berdirinya lembaga pendidikan Islam di desa Suradadi. Pada tahun 1970 menjadi ketua pendiri madrasah yang kemudian sekarang menjadi Madrasah Ibtidaiyah NU 1, dan Madrasah Ibtidaiyah NU 2, kemudian beberapa tahun kemudian bersama-sama tokoh masyarakat lainnya ikut tergabung dalam tim pendiri Madrasah Tsanawiyah Al-Fatah dan SMA NU Suradadi.
Beliau juga termasuk dalam kelompok kiai atau ulama penyebar agama Islam, yang perjuangannya ikut diperingati dalam acara Khaul Rebo Wekasan di desa Suradadi yang bertepatan dengan hari Rabu terakhir pada setiap bulan Safar. Beberapa ulama penyebar agama Islam desa Suradadi dikhauli pada Khaul Rebo Wekasan, sebagai wujud penghormatan dan meneladani perjuangan para ulama dalam menyebarkan agama Islam di desa tersebut.
Pada ketika masih muda beliau tergolong pemberani, ketika hendak menuntut ilmu ke pesantren di Mangkang Kendal (sebelum masuk wilayah Semarang), beliau nekad berangkat walaupun tanpa perbekalan yang memadai. Maklum kedua orang tuanya tidak termasuk golongan berada. Dengan berjalan kaki dari Tegal menuju Mangkang waktu itu memakan waktu beberapa hari, sialnya di daerah Alas Roban, yaitu daerah hutan antara Batang dan Kendal, yang waktu itu terkenal angker terjadi banjir, dengan peralatan seadanya beliau memanjat pohon jati dan menyelamatkan diri di dahan pohon, dan selamatlah beliau dari derasnya air banjir yang membawa hanyut pohon-pohonan. Akhirnya perjalanan untuk menuntut ilmu ke pesantren yang penuh rintangan tersebut, bisa dicapai juga dengan selamat.
KH. Abdul Latif pada masa perjuangan kemerdekaan termasuk anggota Lasykar Hizbullah. Diperoleh keterangan bahwa semasa penjajahan Belanda di Indonesia, waktu itu Agresi Belanda II, tahun 1947, Kiai Abdul Latif bersama masyarakat Suradadi lainnya sering dikejar-kejar pasukan Belanda, apalagi di desa Suradadi termasuk daerah operasi sasaran Belanda karena letaknya yang di tepi jalur pantura Tegal-Pemalang. Dalam suatu pengejaran oleh pihak Belanda beliau bersama istrinya Hj. Latifah pernah mengungsi ke arah selatan, tepatnya di desa Semedo, bersama anak-anaknya yang waktu itu masih kecil-kecil H. Mahrus, Hj. Aminah, dan Hj. Bahiroh. Dan mereka tidur di hutan dengan beralaskan tikar demi berlindung dan bersembunyi dari kejaran tentara Belanda.
Ketika suasana aman, Kiai Abdul Latif bersama keluarganya p**ang menuju desanya Suradadi. Namun alangkah terkejutnya ternyata pihak Belanda mengetahui bahwa banyak masyarakat yang kembali p**ang ke desa dari pengungsian. Maka pihak Belanda mengadakan penangkapan kepada penduduk yang ada di desa. Tidak pelak lagi Kiai Abdul Latif pun menjadi sasaran Belanda. Dan dalam waktu sekejap saja pihak Belanda dengan moncong-moncong senjatanya telah menyerbu desa Suradadi.
Pada ketika itu Kiai Abdul Latif masih berada di rumah, maka dengan segera beliau mau berusaha berlari dari penangkapan. Akan tetapi apalah dikata, pihak Belanda sudah berada di depan rumahnya. Beliau pun kemudian masuk ke kamar dan bersembunyi di kolong tempat tidur. Tentara Belanda mengejarnya dan menggeledah setiap kamar rumah, bahkan menanyai sang istri Hj. Latifah dengan gertakan.
"Dimana suamimu?"
"Saya tidak tahu"
"Bohong.."
Tentara Belanda terus memburu keberadaan Kiai Abdul Latif, padahal beliau berada di kolong tempat tidur dengan posisi menungging, akan tetapi berkat pertolongan Allah dan karomah yang dimilikinya, beliau selamat dari penangkapan tentara Belanda yang pada waktu itu menangkapi penduduk dengan semana-menanya. Beberapa orang yang ditangkap Belanda dibawa ke Tegal, dan dipenjarakan disana, bahkan diantaranya ada yang ditangkap dan dipekerjakan di Suriname.
(H. Samsul Munir Amin, Ketua Rumah Mualaf MUI Kabupaten Wonosobo)
Sumber Tulisan:
Beranda Ulama
Suara Merdeka