06/09/2014
Musyawarah Para Burung
Dikisahkan, segala
burung di dunia,
yang dikenal atau
tidak dikenal, datang
berkumpul. Mereka
sama-sama
memiliki satu
pertanyaan,
siapakah raja mereka? Di antara
mereka ada yang berkata, “Rasanya
tak mungkin negeri dunia ini tidak
memiliki raja. Maka rasanya mustahil
bila kerajaan burung-burung tanpa
penguasa! Jadi, kita semua memiliki
Raja, ya, Raja.”
Semua burung tertegun, seperti ada
keraguan yang mengawang-awang.
“Keadaan semacam ini tak bisa
dibiarkan terus menerus. Hidup kita
ini akan percuma bila sepanjang hayat
kita, kita tidak pernah mengetahui, dan
mengenal siapa Raja kita
sesungguhnya.”
Masing-masing dari mereka masih
berfikir dan terdiam. Lalu kembali ada
yang berteriak, “Lalu apa yang harus
kita lakukan?”
“Tentu saja
kita harus
berusaha
bersama-
sama mencari
seorang raja
untuk kita
semua; karena
tidak ada negeri yang memiliki
tatanan yang baik, tanpa seorang
raja.· Mereka pun mulai berkumpul
dan bersidang untuk memecahkan
persoalan. Burung Hudhud dengan
semangat dan penuh rasa percaya diri,
tampil ke depan dan menempatkan diri
di tengah majelis burung-burung itu.
Di dadanya tampak perhiasan yang
melambangkan bahwa dia telah
memiliki pancaran ruhaniah yang
tinggi. Dan jambul di kepalanya tegak
berdiri mahkota yang melambangkan
keagungan dan kebenaran, dan dia
juga memiliki pengetahuan luas
tentang baik dan buruk.
Burung-burung sekalian, kata Hudhud,
kita mempunyai raja sejati, ia tinggal
jauh di balik gunung-gunung Qaf.
Ribuan daratan dan lautan terbentang
sepanjang perjalanan menuju
tempatnya. Namanya Simurgh. Aku
kenal raja itu dengan baik, tapi aku tak
bisa terbang sendiri menemuinya.
Bebaskan dirimu dari rasa malu,
sombong, dan ingkar. Dia pasti akan
melimpahkan cahaya bagi mereka
yang sanggup melepaskan belenggu
diri. Mereka yang demikian akan
bebas dari baik dan buruk, karena
berada di jalan kekasih-Nya.
Sesungguhnya Dia dekat dengan kita,
tapi kita jauh dari-Nya.
Dikisahkan, pada
suatu malam sang
Maharaja Simurgh
terbang di kegelapan
malam. Tiba-tiba
jatuhlah sehelai
bulunya yang
membuat geger
seluruh penduduk
bumi. Begitu mempesonanya bulu
Simurg hingga membuat tercengang
dan terheran-heran. Semua penduduk
gegap gempita ingin menyaksikan
keindahan dan keelokannya. Dan
dikatakan kepada mereka, “Andaikata
sehelai bulu tersebut tidak jatuh,
niscaya tidak akan ada makhluk yang
bernama burung di muka bumi ini.”
Kemudian burung Hudhud melanjutkan
pembicaraannya, bahwa untuk
menggapai istana Simurg mereka
harus bersatu, saling bekerja sama
dan tidak boleh saling mendahului.
Setelah mendengar cerita yang
disampaikan oleh burung Hudhud,
semua burung-burung bersemangat
ingin sekali secepatnya pergi
menghadap sang Maharaja Simurg.
Namun, burung Hudhud menambahkan,
bahwa perjalanan menuju istana
Simurg tidak semudah yang
dibayangkan, melainkan harus
melewati ribuan rintangan dan
guncangan dahsyat. Perjalanan juga
sarat dengan penderitaan, kepedihan
dan kesengsaraan.
“Apakah kalian sudah siap ?” kata
burung Hudhud, menguji keseriusan
mereka. Setelah mereka
mendengarkan penjelasan bagaimana
s**a dukanya, pahit getirnya
perjalanan menuju istana Simurg,
ternyata semangat sebagian burung
menjadi pudar dan turun.
Namun, di
antara
burung-
burung,
ada
seekor
burung
Kenari
yang memberanikan diri
menyampaikan pendapatnya, “Aku
adalah Imamul Asyiqin, imamnya
orang-orang yang asyik dan rindu.
Aku sangat keberatan untuk ikut
berangkat, bagaimana nanti orang-
orang rindu dengan kemerduan
kicauanku bila aku harus
meninggalkan mereka. Bagaimana
mungkin aku dapat berpisah dari
kembang-kembang mekarku ?”
demikian alasan burung Kenari.
Selanjutnya, burung Merak berkata,
“Dulu aku hidup di syurga bersama
Adam, lantas aku diusir dari syurga,
rasanya aku ingin kembali ke tempat
tinggalku lagi. Karena itu, aku tidak
mau ikut dalam rombongan.”
Kemudian disusul oleh Itik, “Aku
sudah biasa hidup dalam kesucian,
dan aku juga terbiasa berenang di
tempat yang kering kerontang. Aku
tidak mungkin hidup tanpa air,” kilah
Itik.
Begitu juga burung Garuda, “Saya
sudah biasa hidup senang di gunung,
bagaimana mungkin aku sanggup
meninggalkan tempatku yang
menyenangkan”, alasan Garuda.
Kemudian disusul burung Gelatik,
“Aku hanya seekor burung kecil, dan
lemah, takkan mungkin sanggup ikut
mengembara sejauh itu,” kata burung
Gelatik.
Lantas burung Elang ikut menyahut,
“Semua orang sudah tahu
kedudukanku yang tinggi ini, maka
tidak mungkin aku meninggalkan
tempat dan kedudukan yang mulia ini,
” kata burung Elang.
Burung Hudhud sebagai pemimpin
sangat bijak dan sabar mendengar
semua keluhan dan alasan burung-
burung yang enggan berangkat.
Namun demikian, burung Hudhud tetap
bersemangat memberikan dorongan
dan motivasi kepada mereka. “Kenapa
kalian harus berberlindung di balik
dalil-dalil nafsumu, sehingga
semangatmu yang sudah membara
menjadi padam? Padahal kalian tahu
bahwa perjalanan menuju istana
Simurgh adalah perjalanan suci,
kenapa harus takut dan bimbang
dengan prasangka yang ada pada
dirimu?” ucap Hudhud.
Kemudian ada seekor burung menyela,
“Dengan cara apa kita bisa sampai ke
tempat Maharaja Simurgh yang jauh
dan sulit itu? “Dengan bekal himmah
(semangat) yang tinggi, kemauan yang
kuat, dan tabah menghadapi segala
cobaan dan rintangan. Bagi orang yang
rindu, seperti apapun cobaan akan
dihadapi, dan seberapa pun rintangan
akan dilewati. Perlu diketahui bahwa
Maharaja Simurg sudah jelas dan
dekat, laksana matahari dengan
cahayanya,” jawab Hudhud
meyakinkan. Sabarlah,
bertawakkallah, karena bila kalian
telah sanggup menempuh perjalanan
itu, kalian akan tetap berada dalam
jalan yang benar,·demikian lanjut
Hudhud.
Setelah itu, bangkitlah semangat
burung-burung seolah-olah baru saja
mendapatkan kekuatan baru untuk
terus melangkah menuju istana
Simurg. Akhirnya, burung-burung
yang berjumlah ribuan sepakat untuk
berangkat bersama-sama tanpa
satupun yang tertinggal.
Perjalanan panjang telah dimulai,
perbekalan telah disiapkan. Burung
Hudhud yang didaulat menjadi
pemimpin mereka telah mengatur
persiapan, dengan membagi
rombongan menjadi beberapa
kelompok. Setelah perjalanan cukup
lama menembus lorong-lorong waktu,
kegelisahan mulai datang menimpa
mereka. “Mengapa perjalanan sudah
lama dan jauh, kok tidak sampai-
sampai?” guman mereka di dalam hati.
Mulailah mereka dihinggapi rasa
malas karena menganggap perjalanan
terlalu lama, mereka bosan karena
tidak lekas sampai. Perasaan mereka
diliputi keraguan dan kebimbangan.
Kemudian sebagian burung ada yang
memutuskan untuk tidak melanjutkan
perjalanan.
Namun burung-burung lain yang
masih memiliki stamina kuat dan
himmah yang tinggi tidak
menghiraukan penderitaan yang
mereka alami, dan melanjutkan
perjalanan yang maha panjang itu.
Tiba-tiba rintangan datang kembali,
terpaan angin yang sangat kencang
menerpa mereka sehingga membuat
bulu-bulu indah yang dibanggakan
berguguran. Kegagahan burung-
burung perkasa pun mulai pudar.
Kedudukan dan pangkat yang tinggi
sudah tidak terpikirkan. Berbagai
macam penyakit mulai menyerang
mereka, kian lengkaplah penderitaan
yang dirasakan oleh para burung
tersebut. Badan mereka kurus kering,
penyakit datang silih berganti
membuat mereka makin tidak
berdaya. Semua atribut duniawi yang
dulu disandang dan dibanggakan,
sekarang tanggal tanpa sisa, yang ada
hanyalah totalitas kepasrahan dalam
ketidak berdayaan. Mereka hanyut
dalam samudera iradatullah dan
tenggelam dalam gelombang fana’.
Pada akhirnya Cuma sedikit dari
mereka yang benar-benar sampai ke
tempat yang teramat mulia dimana
Simurg membangun mahligainya. Dari
ribuan burung yang pergi, tinggal 30
ekor yang masih bertahan dan
akhirnya sampai di gerbang istana
Simurgh. Namun kondisi mereka
sangat memprihatinkan, tampak
gurat-gurat kelelahan di wajah
mereka. Bahkan bulu-bulu yang
menempel di tubuh mereka rontok tak
bersisa. Di sini terlihat, meski mereka
berasal dari latar belakang berbeda,
namun pada proses puncak
pencapaian spiritual adalah sama,
yaitu dalam kondisi telanjang bulat
dan lepas dari pakaian basyariyah.
Kemudian di depan gerbang istana
mereka beristirahat sejenak sambil
mengatur nafas. Tiba-tiba datang
penjaga istana menghampiri mereka,
“Apa tujuan kalian susah payah datang
ke istana Simurgh?” kata penjaga
istana. Serentak mereka menjawab,
“Saya datang untuk menghadap
Maharaja Simurg, berilah kami
kesempatan untuk bertemu
dengannya.”
Tanpa diduga, terdengar suara sayup-
sayup menyapa mereka dari dalam
istana, “Salaamun qaulam min rabbir
rahiim” sembari mempersilahkan
mereka masuk ke dalam. Lalu mereka
masuk secara bersama-sama.
Kemudian terbukalah kelambu hijab
satu demi satu yang berjumlah ribuan.
Mata mereka terbelalak memandang
keindahan yang amat mempesona,
keindahan yang tidak pernah
dibayangkan sebelumnya, keindahan
yang tidak bisa dilukiskan dengan
kata-kata.
Tatkala seluruh hijab tersingkap,
ternyata yang dijumpai adalah wujud
dirinya. Burung-burung pun saling
bertanya dan terkagum-kagum, “Lho
kok aku sudah ada disini?” begitu
guman mereka dalam hati. Seolah-
olah mereka berada di depan cermin
sehingga yang ada adalah wujud
dirinya. Maka datanglah suara lembut
menjawabnya, “Mahligai Simurgh
ibarat cermin, maka siapapun yang
sampai pada mahligai ini, tidak akan
melihat wujud selain wujud diri
sendiri. Perjumpaan ini di luar angan
dan pikirmu, dan juga tidak dapat
dilukiskan dengan kata-kata, namun
hanya dapat dirasakan dengan rasa.
Karena itu, engkau harus keluar dari
dalam dirimu sehingga engkau
menjadi sosok pribadi Insan Kamil.”
Akhirnya, mereka memahami hakikat
dirinya, setelah melewati tahapan
fana’ billah hingga mencapai puncak
baqa’ billah. Maka hilanglah sifat-
sifat kehambaan dan kekal dalam
ketuhanan.