20/06/2014
MARAPASA SUTTA
(Kekuatan dan Kekuasaan Mara)
Menarik untuk menyimak sejauh mana kekuatan dan kekuasaan Mara, Sang Dewa Kematian ini. Berikut adalah uraian dalam Marapasa Sutta (Kekuatan Mara) dari Samyutta Nikaya ###V, 115.
“Terdapat bentukan, O para bhikkhu, yang dapat dilihat melalui mata – yang disetujui, yang menyenangkan, yang menarik, yang menawan, yang memupuk keinginan, yang memikat. Apabila seorang bhikkhu menikmati bentukan ini, menerima bentukan ini, dan tetap melekat pada bentukan ini, maka ia disebut sebagai seorang bhikkhu yang terbelenggu oleh bentukan-bentukan yang dapat dilihat melalui mata. Dia telah pergi ke perkemahan Mara, dia telah berada di bawah kekuasaan Mara. Si jahat akan dapat memperlakukannya ses**a hatinya.
“Terdapat suara yang dapat didengar melalui telinga …
“Terdapat aroma yang dapat diketahui melalui hidung …
“Terdapat rasa yang dapat dicicipi melalui lidah …
“Terdapat sensasi sentuhan yang dapat dirasakan melalui tubuh …
“Terdapat buah pikiran yang dapat diketahui melalui kecerdasan – yang disetujui, yang menyenangkan, yang menarik, yang menawan, yang memupuk keinginan, yang memikat. Apabila seorang bhikkhu menikmati buah pikiran ini, menerima buah pikiran ini, dan tetap melekat pada buah pikiran ini, maka ia disebut sebagai seorang bhikkhu yang terbelenggu oleh buah pikiran yang dapat diketahui melalui kecerdasan intelektual. Dia telah pergi ke perkemahan Mara, dia telah berada di bawah kekuasaan Mara. Si jahat akan dapat memperlakukannya ses**a hatinya.
“Sekarang, terdapat bentukan yang dapat dilihat melalui mata – yang disetujui, yang menyenangkan, yang menarik, yang menawan, yang memupuk keinginan, yang memikat. Apabila seorang bhikkhu tidak menikmati bentukan ini, tidak menerima bentukan ini, dan tidak melekat pada bentukan ini, maka ia disebut sebagai seorang bhikkhu yang terbebas dari bentukan-bentukan yang dapat dilihat melalui mata. Dia tidak pergi ke perkemahan Mara, dia tidak berada di bawah kekuasaan Mara. Si jahat tidak akan dapat memperlakukannya ses**a hatinya.
“Terdapat suara yang dapat didengar melalui telinga …
“Terdapat aroma yang dapat diketahui melalui hidung …
“Terdapat rasa yang dapat dicicipi melalui lidah …
“Terdapat sensasi sentuhan yang dapat dirasakan melalui tubuh …
“Terdapat buah pikiran yang dapat diketahui melalui kecerdasan – yang disetujui, yang menyenangkan, yang menarik, yang menawan, yang memupuk keinginan, yang memikat. Apabila seorang bhikkhu tidak menikmati buah pikiran ini, tidak menerima buah pikiran ini, dan tidak melekat pada buah pikiran ini, maka ia disebut sebagai seorang bhikkhu yang terbebas dari buah pikiran yang dapat diketahui melalui kecerdasan intelektual. Dia tidak pergi ke perkemahan Mara, dia tidak berada di bawah kekuasaan Mara. Si jahat tidak akan dapat memperlakukannya ses**a hatinya.
Sumber: http://jatakakatha.wordpress.com/category/sutta/