07/01/2026
Ada hari-hari ketika kita bangun
dengan dada yang entah kenapa terasa lebih berat
padahal tidak ada apa-apa yang benar-benar terjadi.
Hanya sisa-sisa rasa
yang belum sempat diberi nama.
Kita duduk diam,
menatap pagi seperti menatap cermin
yang memantulkan versi diri
yang sedang lelah menahan segalanya sendiri.
Kopi menghangat di tangan,
tapi hati tetap dingin oleh ingatan
yang belum selesai berpamitan.
Luka itu tidak selalu berisik.
Kadang ia hanya hadir sebagai sunyi yang terlalu lama tinggal.
Sebagai jeda panjang
di antara tawa yang dipaksakan
dan senyum yang dipelajari ulang.
Kita menyimpannya rapi
bukan karena ingin,
melainkan karena takut kehilangan
satu-satunya bukti
bahwa kita pernah berjuang sekuat itu.
Namun hidup tidak diciptakan
untuk dihabiskan mengingat sakit.
Ia bergerak,
ia menunggu kita menyusul
dengan langkah yang lebih ringan.
Ada bahagia yang sebenarnya sudah di depan mata,
tetapi tertutup oleh bayangan masa lalu
yang terus kita bawa ke mana-mana.
Kita terlalu sibuk menoleh ke belakang
sampai lupa bahwa harapan
tidak pernah datang dari arah itu.
Melepaskan bukan berarti kalah.
Kadang ia justru bentuk keberanian paling sunyi,
keberanian untuk berkata pada diri sendiri
bahwa kita pantas untuk tenang.
Karena jika kita terus menggenggam sakit,
tangan kita tak pernah benar-benar kosong
untuk menerima apa yang lebih baik.
Dan jika itu dibiarkan terlalu lama,
kebahagiaan akan selalu terasa asing,
seperti tamu yang datang
saat pintu tak pernah dibuka.
Maka pelan-pelan saja.
Tidak perlu dramatis.
Tidak perlu pengakuan siapa pun.
Lupakan sakitnya.
Atau bahagiamu
tidak pernah kau jumpai.