Gubuk Pengetahuan Islam

Gubuk Pengetahuan Islam Di Gubuk Pengetahuan Pengetahuan Islam ini kita akan berbagi ilmu dan share cerita cerita islam yang

01/05/2016

Tertundanya Kematian

Assalamualaikum wr wb.
hai kawan kawan remas darud doa , masih tentang cerita inspiratif nih, kali ini kami akan memberikan cerita yang insyaallah akan membuat kita tetap tertuju kepada kebaikan , amin yarobbal alamin.
simak cerotanya ya kawan kawan

Suatu ketika, Nabi Daud a.s. duduk di suatu tempat. Di sampingnya, ada seorang pemuda saleh yang duduk dengan tenang tanpa banyak bicara. Tiba-tiba, datang Malaikat Maut yang mengucapkan salam kepada Nabi Daud. Anehnya, Malaikat Maut terus memandang pemuda itu dengan serius.

Nabi Daud berkata kepadanya, "Mengapa engkau memandangi dia?"

Malaikat Maut menjawab, "Aku diperintahkan untuk mencabut nyawanya tujuh hari lagi di tempat ini!"

Nabi Daud pun merasa iba dan kasihan kepada pemuda itu. Beliau pun berkata kepadanya, "Wahai Anak Muda, apakah engkau mempunyai istri?"

"Tidak, saya belum pernah menikah," jawabnya.

"Datanglah engkau kepada Fulan - seseorang yang sangat dihormati di kalangan Bani Israil - dan katakan kepadanya, 'Daud menyuruhmu untuk mengawinkan anakmu denganku.' Lalu, kau bawa perempuan itu malam ini juga. Bawalah bekal yang engkau perlukan dan tinggallah bersamanya. Setelah tujuh hari, temuilah aku di tempat ini."

Pemuda itu pergi dan melakukan apa yang dinasihatkan Nabi Daud kepadanya. Dia pun dinikahkan oleh orang tua si Gadis. Dia tinggal bersama istrinya selama tujuh hari. Pada hari kedelapan pernikahannya, dia menepati janjinya untukbertemu dengan Daud.

"Wahai Pemuda, bagaimana engkau melihat peristiwa itu?"

"Seumur hidupku, aku belum pernah merasakan kenikmatan dan kebahagiaan seperti yang kualami beberapa hari ini," jawabnya.

Kemudian, Nabi Daud memerintahkan pemuda itu untuk duduk di sampingnya guna menunggu kedatangan malaikat yang hendak menjemput kematiannya. Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Nabi Daud berkata, "Pulanglah kepada keluargamu dan kembalilah ke sini untuk menemuiku di tempat ini delapan hari setelah ini."

Pemuda itu pun pergi meninggalkan tempat itu menuju rumahnya. Pada hari kedelapan, dia menemui Nabi Daud di tempat tersebut dan duduk di sampingnya. Kemudian, kembali lagi pada minggu berikutnya, dan begitu seterusnya. Setelah sekian lama, datanglah Malaikat Maut kepada Nabi Daud.

"Bukankah engkau pernah mengatakan kepadaku bahwa engkau akan mencabut nyawa anak pemuda ini dalam waktu tujuh hari ke depan?"

Malaikat itu menjawab, "Ya."

Nabi Daud berkata lagi, "Telah berlalu delapan hari, delapan hari lagi, delapan hari lagi, dan engkau belum juga mencabut nyawanya."

"Wahai Daud, sesungguhnya Allah swt merasa iba kepadanya lalu dia menunda ajalnya sampai tiga puluh tahun yang akan datang."

Pemuda dalam kisah ini adalah seseorang yang taat beribadah, ahli munajat, gemar berbuat kebaikan, dan sangat penyayang kepada keluarganya. Boleh jadi, karena amal saleh dan doa-doanyalah, Allah Swt. berkenan menunda kematian sang Pemuda hingga tiga puluh tahun lamanya.

"Sungguh, suatu kaum akan ditimpa azab oleh Allah sebagai suatu ketetapan yang pasti. Namun, kemudian seorang anak di antara mereka membaca, "Alhamdulillahi Rabbil Alamin." Ucapan itu didengar Allah dan Dia mengangkat azab-Nya dari mereka karena bacaan itu selama 40 tahun. (Fakhruddin Ar Razi)"

assalamualaikum wr.wbhallo kawan kawan yang insyaallah dirahmati oleh Allah SWT. kali ini kita akan mengepostkan tentang...
29/04/2016

assalamualaikum wr.wb
hallo kawan kawan yang insyaallah dirahmati oleh Allah SWT. kali ini kita akan mengepostkan tentang mengharapkan mati syahid , betapa mulianya mati syahid itu. ingin tau kisahya???. simak kisahnya berikut ini.
Mati Syahid , Kau Ku Rindukan
Menjelang shubuh, Khalifah Umar bin Al Khathab berkeliling kota membangunkan kaum muslimin untuk shalat shubuh. Ketika waktu shalat tiba, beliau sendiri yang mengatur saf (barisan) dan mengimami para jamaah.
Pada shubuh itu, tragedi besar dalam sejarah terjadi. Saat Khalifah mengucapkan takbiratul ihram, tiba-tiba seorang lelaki bernama Abu Lu'luah menikamkan sebilah pisau ke bahu, pinggang, dan ke bawah pusar beliau. Darah pun menyembur.
Namun, Khalifah yang berjuluk "Singa Padang Pasir" ini bergeming dari kekhusyukannya memimpin shalat. Padahal, waktu shalat masih bisa ditangguhkan beberapa saat sebelum terbitnya matahari. Sekuat apa pun Umar, akhirnya ambruk juga. Walau demikian, beliau masih sempat memerintahkan Abdurrahman bin 'Auf untuk menggantikan posisinya sebagai imam.
Beberapa saat setelah ditikam, kesadaran dan ketidaksadaran silih berganti mendatangi Khalifah Umar. Para sahabat yang mengelilinginya demikian cemas akan keselamatan Khalifah.
Salah seorang di antara mereka berkata, "Kalau beliau masih hidup, tidak ada yang bisa menyadarkannya selain kata-kata shalat!"
Lalu, yang hadir serentak berkata, "Shalat, wahai Amirul Mukminin. Shalat telah hampir dilaksanakan."
Beliau langsung tersadar, "Shalat? Kalau demikian di sanalah Allah. Tiada keberuntungan dalam Islam bagi yang meninggalkan shalat." Lalu, beliau melaksanakan shalat dengandarah bercucuran. Taklama kemudian, sahabat terbaik Rasulullah saw. ini pun wafat.
Sebenarnya, apa yang terjadi pada Umar Al Faruq ini adalah buah dari doa yang beliau panjatkan kepada Allah Swt. Alkisah, suatu ketika, saat sedang wukuf di Arafah, beliau membaca doa, "Ya Allah, aku mohon mati syahid di jalan-Mu dan wafat di negeri Rasul-Mu (Madinah)." (HR Malik)
Sep**angnya dari menunaikan ibadah haji, Umar pun menceritakan soal doanya itu kepada salah seorang sahabatnya di Madinah. Sahabat itu pun berkomentar, "Wahai Khalifah, jika engkau berharap mati syahid, tidak mungkin di sini. Pergilah keluar untuk berjihad, niscaya engkau bakal menemuinya."
Dengan ringan, Umar menjawab, "Aku telah mengajukannya kepada Allah. Terserah Allah."
Keesokan harinya, saat Umar mengimami shalat shubuh di masjid, seorang pengkhianat Majusi bernama Abu Lu'luah itu menghunuskan pisaunya ke tubuh Umar yang menyebabkan beliau mendapat tiga tusukan dalam dan tubuhnya pun roboh di samping mihrab.
Seperti itulah, Allah telah mengabulkan doa Umar bin Al Khathab untuk bisa syahid di Madinah dan dimakamkan berdampingan dengan Rasulullah saw. dan Abu Bakar Ash Shiddiq.

demikian ceritanya semoga bermanfaat,
wassalamualaikum wr. wb.

12/04/2016

Assalamualaikum wr wb kawan kawan yang insyaallah dirahmati Allah SWT. kali ini kita akan membagikan tentang cerita insipratif,penasaran?? simak ceritanya ya....
KISAH ORANG YANG MENEPATI JANJINYA
Ketika khalifah Umar Bin Khattab sedang duduk di bawah pepohononan kurma yang berada tidak jauh dari masjid, tiba tiba datang tiga laki – laki dengan satu laki – laki ditengah dengan pakaian nya yang lusuh.
Ia datang ke Umar Bin Khattab dan berkata : “wahai khalifah Umar , kita datang kesini karena ingin engkau menegakkan keadilan hukum”. Lalu sang khalifah pun berkata :” mengapa engkau ingin menegakkan hukum ke pemuda ini”. “karena ia telah membunuh ayahku wahai khalifa Umar” jawab mereka berdua.
Lalu Umar pun bertanya ke pemuda yang lusuh itu. “ apakah benar engkau melakukan hal ini ?” ,sang pemuda pun menjawab “iya wahai khaifah”, Umar pun bertanya kembali “lalu apa yang membuatmu membunuh ayah dari laki laki dua ini ?”
“ saat itu saya sedang perjalanan jauh dari negeri saya ke mekkah karena suatu urusan,dan saat aku sudah sampai di tempat itu unta ku pun aku ikat dengan tali di bawah pepohonan ,lalu saat aku kembali untuk mengecek untaku ternyata untaku tidak ada di tempat tadi. lalu aku mencari dan menemukan untaku sedang dibunuh oleh laki laki tua , aku pun khilaf dan marah karena untaku adalah transportasi satu satunya untuk perjalananku kembali p**ang telah dibunuh. Lalu aku pun membunuh orang yang membunuh untaku”
- Ternyata sebelum untanya dibunuh ,unta dari pemuda ini lepas sehingga merusak tanaman sang pemillik rumah yaitu ayah dari dua anak yang memegang pemuda ini , dan ayahnya membunuh unta karena telah merusak tanamannya-
Umar pun mengerti akan cerita yang disampaikan pemuda ini, lalu Umar pun kembali bertanya kepada dua laki laki yang mengadu tersebut “ kita telah mendengarkan penjelasan dari pemuda ini, lalu apakah engkau meaafkannya (pemuda itu)?”. Dua laki laki tersebut tetap menjawab “kita ingin tegak kan hukuman”
Akhirnya setelah Umar berbicara pada kedua pemuda tersebut namun,kedua pemuda tersebut tetap tidak mau untuk memaafkannya pemuda yang telah membunuh ayahnya itu,dan ini membuat keputusan bahwa pemuda lusuh tersebut harus di qisos.
Pemuda tersebut pun tetap setuju walau dijatuhi hukuman namun pemuda tersebut meminta satu permintaan kepada Umar Bin Khattab”wahai khalifah,aku hanya ingin meminta satu permintaan, yaitu aku mohon berikan waktu tiga hari untuk menyelesaikan urusanku disini lalu aku siap di qisos”
Dua pemuda yang mengadu pun tidak setuju dan berkata “ bagaimana bisa engkau mempercaiya pemuda ini, jika begini pemuda ini akan kabur wahai khalifah Umar “ kedua pemuda tersebut meminta jaminan sebagai pengganti.
Tiba tiba seseorang datang yang ternyata adalah sahabat Sulman, sahabat Sulman termasuk sahabat dekat nabi Muhammad SAW. Lalu Sulman pun mendekat dan berkata “ wahai Umar ijinkan aku untuk menjadi jaminan bagi pemuda ini “ semua orang yang disitu pun tersentak tidak percaya.
Sang Umar pun tidak percaya dan berkata “wahai sahabatku Sulman , benarkah engkau akan menjadi jaminan bagi pemuda ini ???, jika pemuda ini tidak datang maka engkau yang dihukum qisos wahai sahabatku?”
Sahabat Sulman pun tetap teguh dan berkata “ iya sahabatku, aku percaya akan pemuda ini” “lantas apa yang membuatmu percaya pada pemuda ini ?” tanya Umar lagi.
Lalu sulman pun memberi penjelasan “ wahai khalifah aku dulu juga datang dari negeri yang jauh, oleh karena itu aku mempercayai pemuda ini “Dan akhirnya Umar pun mengasihi izin kepada pemuda yang lusuh itu
Akhirnya berhari hari berlalu sampai datang hari ke – 3 yaitu dimana pemuda lusuh tadi akan kembali. Ditungguhlah pemuda itu oleh rakyat mekkah yang saat itu menantikan kehadiran nya untuk di qisos.
Saat hari mulai terbenam warga mekkah pun mulai resah karena pemuda tersebut tidak kunjung datang,jika pemuda itu tidak datang maka Sulman lah yang akan di qisos , itulah yang membuat warga mekkah sedih.
Hingga pada akhirnya terlihat dari kejauhan seseorang merangkak rangkak ke arah mereka (warga mekkah),ia semakin dekat dan ternyata dia adalah pemuda lusuh yang waktu itu meminta izin untuk meminta waktunya karena ada suatu urusan yang harus dilaksanakan.
Lalu Umar pun berkata “ mengapa kau tergesa gesa?” pemuda itu menjawab “wahai khalifah,aku tadi sedang perjalanan ke mekkah dengan secepat yang kau bisa namun unta ku ternyata kelelahan hingga mati di tengah perjalanan ,
akhirnya aku pun berlari sekuat yang ku bisa agar aku dapat mencapai negeri ini”
Semua warga pun terkejut mendengar kejadian tersebut. Sang umar pun juga terkejut lalu berkata kembali “wahai pemuda,engkau telah menepati janjimu , lalu mengapa engkau sampai segan datang kesini hanya untuk menghukummu?”
Laki – laki tersebut menjawab “ wahai khalifa aku begini agar dunia tahu bahwa umat muslim adalah hamba yang sholeh dan bukan pengkhianat” lalu tiba tiba entah apa yang membuat keadaan makin haru ,tiba tiba dua pemuda yang mengadukan pada Umar saat pertama kali berkata “ kau adalah pemuda yang jujur , aku memaafkan dan mencabut hukumanku “
peristiwa haru ini sontak membuat semua warga yang hadir ikut menangis melihat keharuan ini , lantas Umar pun bertanya kepada dua pemuda tadi “apa yang membuat kalian berdua mencabut hukuman ini?”
mereka pun menjawab “ aku memaafkannya agar dunia tahu bahwa sesungguhnya umat muslim adalah umat yang pemaaf”.
SELESAI
Dari sini kita bisa mengambil hikmah bahwa
Jika kita mempunyai janji,kita harus bisa menempati itu
Kepercayaan adalah segala sesuatu hal yang sangat mahal .

09/04/2016

Berapakah kira-kira luas neraka ?

Suatu saat Abu Hurairah ra, mengatakan, ketika kami bersama rasulullah, tiba-tiba terdengar suara yang sangat keras, seperti benda yang jatuh menggelegar. Nabi yang mulia mengatakan:
“Tahukah kamu sekalian, suara apa itu? Kami menjawab: hanya Allah dan rasulNya sajalah yang lebih mengetahuinya. Nabi menjawab, itu tadi adalah suara dari sebuah batu yang dijatuhkan ke dalam jurang neraka, sejak tujuh puluh tahun yang lalu, baru sampai ke dasarnya ini tadi…†(HR. Muslim)
Benda yang jatuh, secara ilmu fisika bisa dihitung jaraknya. Berdasarkan gravitasi yang berlaku. Jika gravitasi bumi kita ini adalah 9,8 m / detik, maka dengan mudah kita bisa menghitung jarak tempuh batu yang jatuh mengikuti rums 1/2 gt2. Jika jatuhnya ke bumi kita sbb:
Jarak tempuh batu selama 70 tahun adalah, 0,5 x [70X360X24X60X60] x [70X360X24X60X60] x 9,8 m = 23.228.686.172.160.000 m = 23.228.686.172.160 km,
Bandingkan garis tengah bumi kita hanya: 12.756 km. Ini berarti, bahwa neraka memiliki kedalaman: 23.228.686.172.160 km /12.756 km = 1.821.000.797.441,2 X diameter bumi ini jika dipakai gravitasi ‘bumi kita’.
Artinya bahwa, jika jurang neraka itu diukur berdasarkan gravitasi bumi kita, maka neraka memiliki kedalaman = 1.821.000.797.441,2 kali garis tengahnya bumi. Atau jika kita menggali sebuah sumur, maka sumur itu akan mencapai kedalaman seperti yang kita hitung di atas. Apabila sumur itu menembus bumi berulang kali, sampai sebanyak 1.821.000.797.441,2 kali.
Dari sini saja kita sudah sulit membayangkan betapa dalamnya jurang neraka seperti yang diinformasikan oleh rasulullah saw tadi. Jadi jurang neraka itu sedalam: 1.821.000.797.441,2 kali ‘tebal’nya bumi. Ah, betapa menggiriskan! Yang baru kita illustrasikan tadi kedalaman vertikal neraka, bagaimana p**a lebar horizontalnya. Semestinya lebar horizontal lebih luas dari vertikalnya, ibarat bumi yang memiliki permukaan lebih luas dibanding ketinggian atmosfir bumi.
Tetapi kedalaman itu, ‘belum seberapa, sebab nanti di yaumil akhir, bumi kita ini akan diganti oleh bumi yang lain. Sehingga gravitasi yang dimaksud tentu bukan gaya gravitasi bumi kita ini. Tetapi gravitasi bumi baru, yang jauh lebih hebat dan lebih dahsyat kekuatan daya tariknya.
“Ketika bumi ini diganti dengan bumi yang lain, begitu p**a dengan langitnya, Mereka bermunculan dari kuburnya masing-masing menghadap kepada Allah Yang Maha Esa dan Maha Perkasaâ€. (QS. Ibrahim 14 : 48)
Jangankan dipakai ukuran bumi baru yang kita belum tahu gravitasinya. Andaikata dipakai ukuran gaya tariknya Black Hole saja, yg mempunyai perbandingan 1 : 100 trilyun (perbandingan ini telah dianalisis pada suatu diskusi ilmiah yang bejudul “Menikmati keindahan Allah melalui logika dan tanda-tandaâ€), maka kedalaman neraka menjadi sangat sangat menggiriskan
Secara matematis kedalaman itu menjadi : 23.228.686.172.160 km X 100.000.000.000.000 = 232.286.861.721. 600.000.000.000.000 km
Sebagai gambaran, bila 1 trilyun atau 1000 milyar manusia sekalipun dimasukkan kedalam neraka sekaligus maka tiap orangnya masih bisa diberi jatah ruang lebih dari 200 trilyun kilometer persegi .
Sehingga kalau seseorang dimasukkan ke dalam neraka, jangan harap mudah menemukan teman ‘senasib dan sependeritaan’, apalagi sampai berbagi duka dan saling memberi dorongan agar ‘tabah’.
Tulisan ini belum lagi membicarakan dahsyatnya suhu neraka serta ragam siksaan dan kualitas siksaannya. Sebagai gambaran singkat Rasulullah saw pernah berkata, andaikata dari dalam neraka yang dahsyat itu menerobos keluar apinya meskipun hanya sebesar lubang jarum saja, maka hancur binasalah bumi kita. Tulisan ini juga belum menggambarkan bahwa di neraka tubuh manusia tidak langsung gosong atau meleleh tapi memuai dahulu. Rasulullah SAW pernah berkata bahwa ada gigi seorang kafir yang akan menjadi sebesar gunung Uhud di neraka. Hadits lain meriwayatkan bahwa tebal kulit manusia di neraka akan (memuai) hingga setebal 3 hari perjalanan, jauh lebih tebal dibanding kulit sapi yang digoreng dan memuai hingga setebal kerupuk kulit. Inilah mungkin hikmah kenapa jatah ruang neraka untuk setiap penghuninya diberi kapasitas yang sedemikian luasnya.
Setelah kita membayangkan keindahan surga yang ternyata tidak bisa dibayangkan saking dahsyatnya, dan setelah kita berhitung matematis tentang kedalaman neraka, yang ternyata juga tidak bisa kita bayangkan betapa mengerikan kedalaman neraka itu, masihkah kita mau menunda amal akhirat kita untuk suatu masalah dunia yang ternyata sangat kecil dan tidak abadi ini.
Ya Allah, berilah kami kebaikan di atas dunia ini, dan berilah kami kebaikan di akhirat nanti, hindarkanlah kami dari siksaMu yang amat pedih…
(Sumber tulisan oleh : Dahlia Putri dikutip dari Kebun Hikmah )

09/04/2016

Kisah Penjual Susu

Di malam yang pekat dan angin dingin semilir menusuk, Amirul Mukminin, Umar bin Khaththab sedang menelusuri kota Medinah melalui lorong demi lorong. Di saat seluruh penduduk kota terlelap, sang khalifah tetap terjaga mendatangi satu demi satu rumah untuk mengetahui kondisi rakyatnya.

Ia sadar bahwa kepemimpinannya kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Oleh karena itu, ia tidak ingin ada seorang pun dari rakyatnya yang terzalimi.

Malam makin larut hingga tibalah fajar menyingsing. Ketika hendak beranjak ke masjid, langkahnya tertahan di depan sebuah gubuk reot. Dari dalam gubuk itu terdengar percakapan lirih antara seorang ibu dan putrinya. Dari percakapan itu ternyata mereka adalah penjual susu kambing yang akan menjual hasil perahannya di pasar pagi itu.

"Nak, campurlah susu itu dengan air," pinta sang ibu kepada putrinya. Sang ibu berharap agar ia memperoleh keuntungan lebih banyak dari hasil penjualan susu oplosannya (campuran).

Putrinya menjawab, "Maaf, Bu, tidak mungkin aku melakukannya. Amirul Mukminin tidak membolehkan untuk mencampur susu dengan air, kemudian menjualnya," tolak putrinya dengan halus.

Sang ibu tetap bersikukuh, "Itu suatu hal yang lumrah, Nak. Semua orang melakukannya. Lagi p**a Amirul Mukminin tidak akan mengetahuinya," bujuk sang ibu lagi.

"Bu, boleh jadi Amirul Mukminin tidak mengetahui apa yang kita lakukan sekarang, tetapi Allah SWT Maha Melihat dan Mengetahui!" jawab sang putri salehah.

Haru dan bahagia membuncah di dada Amirul Mukminin. Betapa ia kagum akan kejujuran dan keteguhan hati sang gadis miskin tersebut. Mungkin gadis tersebut miskin harta, tetapi begitu kaya hatinya. Amirul Mukminin teringat akan tujuannya semula dan bergegas menuju masjid untuk shalat Fajar bersama para sahabat.

Usai melaksanakan shalat di masjid, Umar bin Khaththab segera memangil putranya yang bernama 'Ashim. Beliau segera memerintahkan 'Ashim untuk melamar putri penjual susu yang jujur tersebut karena memang sudah saatnya 'Ashim untuk berumah tangga. Tidak lupa Amirul Mukminin menceritakan keluhuran hati gadis penghuni gubuk reot tersebut kepada putranya.

"Aku melihat dia akan membawa berkah untukmu kelak jika kamu mempersuntingnya menjadi istrimu. Pergilah dan temui mereka, lamarlah dia untuk menjadi pendampingmu. Semoga kalian dapat melahirkan keturunan yang akan menjadi pemimpin umat kelak!" ujar Umar bin Khaththab kepada putranya, 'Ashim.

Akhirnya, 'Ashim menikahi gadis berhati suci itu dan lahirlah seorang putri bernama Laila. Ia tumbuh menjadi gadis yang taat beribadah dan cerdas. Saat dewasa, Laila dipersunting oleh Abdul Aziz bin Marwan. Dari pernikahan keduanya lahirlah Umar bin Abdul Aziz, seorang pemimpin besar yang disegani. Dia mewarisi keagungan akhlak neneknya dan kepemimpinan buyutnya, Umar bin Khaththab.

Oke Teman teman kali ini kita akan membahas tentang al bashir.Al-Basir artinya maha melihat. Allah Maha Melihat segala s...
07/04/2016

Oke Teman teman kali ini kita akan membahas tentang al bashir.
Al-Basir artinya maha melihat. Allah Maha Melihat segala sesuatu walaupun lembut dan kecil. Allah Swt. melihat apa saja yang ada di langit dan di bumi, bahkan seluruh alam semesta ini dapat dipantau. Hal ini sesuai dengan firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (١٨)
“Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang gaib di langit dan di bumi. dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Surah al-Hujurat/49: 18)

Perilaku yang mencerminkan keyakinan bahwa Allah Maha Melihat adalahhendaklah kita berusaha semaksimal mungkin untuk dapat melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam ini sebagai bahan renungan akan kebesaran Allah Swt. Kita diajarkan untuk pandai dan cermat dalam memandang berbagai persoalan di sekeliling kita. Namun jangan lupa, kita juga harus selalu introspeksi diri untuk melihat kelebihan dan kekurangan kita sendiri agar hidup menjadi lebih terarah. Sungguh hal ini sangat indah untuk diamalkan.

Wah udah lama gak ngepost nih. maaf ya sahabat GPI. saya udah jarang ngepost. oke deh karena saya jarang ngepost saya ak...
28/03/2016

Wah udah lama gak ngepost nih. maaf ya sahabat GPI. saya udah jarang ngepost. oke deh karena saya jarang ngepost saya akan mengasih cerita tentang renungan hati yang berjudul "layang layangku dan terpaan angin""

Layang-Layangku dan Terpaan Angin
Menata Hati Bagaimana Cara Menata Hati

Saat SD atau SMP paling sebagian kita pernah bermain layang-layang. Kami pun pernah.

Dahulu kami mencari tempat yang tinggi di dekat rumah, lalu berusaha menaikkan layang-layang dengan benang yang berada di gulungan kaleng.

Coba lihat … Layang-layang tersebut naik pelan-pelan dari keadaan angin yang awalnya sepoi-sepoi. Kadang juga ada hembusan angin yang kencang dari bawah.

Lama kelamaan layangan tersebut beranjak naik. Terus naik dan terus naik, hingga berada di ketinggian sampai benang yang berada dalam gulungan habis karena terus dilepas.

Coba rasakan, beda sekali saat layangan tersebut di ketinggian dan di keadaan rendah.

Betul kan?

Kita yang memegang dari bawah merasakan terpaan angin di atas sangat kuat, beda saat masih rendah di bawah. Sehingga kita pun memegang benangnya dengan kuat, jangan sampai lepas.

Namun kalau sudah seimbang di atas, terpaan angin yang kencang pun kita anggap biasa.



Sohibku … Kehidupan kita seperti itu.

Sebelum kita beranjak ke kedudukan tinggi, kita beranjak belajar dari bawah terlebih dahulu.

Masih angin sepoi-sepoi yang kita rasakan. Atau ada yang langsung melejit karena terpaan angin kencang.

Jika lolos, kita beranjak ke tempat yang lebih tinggi.

Artinya saat di atas, iman kita makin meningkat. Namun cobaan angin pun makin berat.

Tatkala kita ingin istiqamah (tetap) di atas, ada tiupan angin di kanan-kiri. Kadang angin yang datang tiba-tiba langsung bisa merusak layangan kita atau membuat layangan kita jadi terganggu kestabilannya.

Maksud angin tadi adalah cobaan dalam hidup kita.

Ada angin yang datang membisikkan, ahh sok alim.

Ada angin yang mengisukan tidak benar tentang kita, alias fitnah.

Ada angin yang juga berusaha jatuhkan kita ke bawah.

Sampai ada angin besar yang membuat kita goyah, karena tuduhan yang mungkin sangat menusuk: Anda teroris, Anda Wahabi yah, Anda kok gak mau ikut umumnya masyarakat, Anda kok tinggalkan tradisi si mbah dan nenek moyang dahulu.

Ada angin p**a yang sifatnya cobaan, yaitu cobaan pada harta, istri dan anak kita.

Angin kencang yang menggoyahkan layang-layang tadi, jika kita berusaha hadapi dengan tenang, kita pegang benang layangan kita dengan kuat dan ada trik-trik untuk menjaga kestabilan layangan kita, niscaya semua cobaan tadi bisa teratasi.

Ujung-ujungnya kita akan merasa nikmat dan tenang ketika berada di atas.

Artinya: Saat iman dan akidah kita kuat, selalu merasakan ketenangan. Itulah ujung-ujungnya.

Lihat saja layangan tadi kalau sudah stabil di atas. Kita pun dari bawah enak melihatnya.

Sama halnya ketika berada di atas pesawat, berada di ketinggian di atas awan, akan terasa lebih tenang … Coba deh rasakan sendiri.



Kita ingin terus di bawah atau mendaki hingga ke atas sehingga merasakan ketenangan yang lebih nikmat.

Itu pilihan kita sendiri.

Ingat saat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, manusia siapakah yang cobaannya paling berat, beliau menjawab:

“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi.”

Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,

“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat p**a ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Ibnu Majah, Tirmidzi, Ahmad, shahih)

Semoga jadi renungan hidup.
repost dari :remajaislam.com

23/03/2016

Tidak Cinta pada Non Muslim
bagaimana jika salah satu teman kita ada yang beragama lain selain muslim (non muslim)??
apakah kita harus membencinya??

Wajib bagi setiap muslim untuk tidak cinta atau tidak loyal atau tidak setia pada non muslim.
Prinsip ini diajarkan oleh para ulama, di mana mereka berkata, “Umat Islam memiliki prinsip wala’ dan bara’. Wala’ yaitu setia pada orang yang beriman pada Allah dan Rasul-Nya. Bara’ artinya berlepas diri dari orang yang kafir terhadap Allah dan Rasul-Nya di mana pun itu. Sedangkan orang yang dalam dirinya ada keimanan dan kefasikan (gemar berbuat dosa), maka kesetiaan padanya sekadar dengan keimanan yang ia miliki dan tidak loyal padanya sekadar dengan kemaksiatan yang ia lakukan. Sebagaimana kita sebagai muslim beriman bahwa siapa yang loyal pada agama selain Islam membuat tauhid dan imannya berkurang.” (Maa Laa Yasa’u Al Muslim Jahluhu, hal. 48).
Contohlah sikap Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang ia tampakkan sebagai tanda ketidaksetiaan beliau pada non muslim. Sebagaimana disebutkan dalam ayat Al Qur’an,
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآَءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah.” (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.” (QS. Al Mumtahanah: 4).
Syaikh Musthofa Al ‘Adawi hafizhahullah mengungkapkan pendapat sebagian ulama yang menyatakan bahwa yang dimaksud Nabi Ibrahim dan yang bersamanya yang disebutkan dalam ayat di atas adalah Nabi Ibrahim dan para nabi lainnya. Namun ada p**a ulama yang mengemukakan pendapat bahwa yang dimaksud adalah pengikut Nabi Ibrahim ‘alaihis salam –kholilullah (kekasih Allah)-. (Tafsir Juz Qad Sami’a, hal. 155).
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala menyeru hamba-Nya yang beriman untuk menyatakan permusuhan, menjauh dan berlepas diri dari orang musyrik. Inilah yang jadi prinsip dari Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan para pengikutnya yang beriman. Ibrahim menyatakan terang-terangan pada kaumnya bahwa ia berlepas diri dari mereka dan dari segala yang mereka sembah selain Allah. Ibrahim mengingkari jalan beragama mereka –orang musyrik-. Mulai saat itu beliau pun menyatakan permusuhan dan kebencian dengan mereka. Ketidakloyalan tersebut tetap terus ada selama mereka dalam kekufuran sampai mereka mau beribadah kepada Allah semata dan tidak berbuat syirik, juga melepas patung dan berhala yang mereka jadikan sebagai tandingan bagi Allah.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 245).
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah menyatakan, “Ibrahim ‘alaihis salam dan pengikutnya yang beriman berlepas diri dari kaum musyrikin dan berlepas diri p**a dari apa yang mereka sembah. Lalu dijelaskan bahwa Nabi Ibrahim benar-benar menyatakan permusuhan. Ibrahim menyatakan permusuhan dan kebencian pada orang musyrik dari dalam hatinya, dan ia pun menghilangkan kecintaan pada mereka. Ia pun menyatakan permusuhan dengan ditunjukkan secara lahiriyah. Permusuhan ini berlaku selamanya, tanpa dibatasi waktu.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 856).
Dalil lainnya yang menunjukkan seorang muslim tidak boleh menampakkan sikap loyal, cinta atau setia pada non muslim adalah firman Allah Ta’ala,
لَا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءهُمْ أَوْ أَبْنَاءهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ
“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (QS. Al Mujadilah: 22).
Ibnu Katsir menafsirkan ayat di atas dengan menyampaikan statement, “Orang-orang beriman tidaklah mencintai orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya walaupun mereka adalah kerabat dekat.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 212).
Dalam ayat, yang dimaksud walau itu bapak mereka adalah kisah Abu ‘Ubaidah yang membunuh ayahnya saat perang Badar. Walau itu anaknya, yaitu kisah seorang putra yang bernama ‘Abdurrahman yang dibunuh bapak kandungnya dalam peperangan. Walau itu saudaranya, yaitu kisah Mush’ab bin ‘Umair waktu ia membunuh saudaranya ‘Ubaid bin ‘Umair. Walau itu kerabatnya, yaitu kisah ‘Umar yang membunuh keluarga dekatnya, begitu p**a kisah Hamzah, Ali, ‘Ubaidah bin Al Harits yang membunuh kerabatnya, yaitu ‘Utbah, Syaibah dan Al Walid bin ‘Utbah. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 212-213)
Karena kekaguman Umar bin Al Khattab pada Abu ‘Ubaidah ‘Amir bin ‘Abdillah bin Al Jarroh yang membunuh bapak kandungnya sendiri yang kafir, sampai-sampai ‘Umar berkata, “Seandainya Abu ‘Ubaidah masih hidup tentu kekhalifahan akan kuserahkan untuknya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 212).
Dapatkah kita mendahulukan rasa cinta pada Allah dari rasa cinta pada kerabat yang menjadi musuh Allah?! Sungguh mengagumkan yang dicontohkan oleh para salaf, iman mereka benar-benar jujur.
Ayat yang membicarakan tentang tidak bolehnya patuh pada non muslim adalah firman Allah Ta’ala,
لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ
“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (QS. Ali Imran: 28).
Yang dimaksud dengan ayat ini adalah larangan bagi orang beriman untuk bersikap loyal (setia) pada non muslim, tidak boleh mencintai dan menolong mereka, atau bekerja sama dengan mereka untuk mencelakakan kaum muslimin. Demikian penjelasan Syaikh As Sa’di rahimahullah dalam Taisir Al Karimir Rahman, hal. 127.
Allah pun telah melarang menjadikan orang musyrik dan yang memusuhi Allah sebagai wali dan kekasih. Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu.” (QS. Al Mumtahanah: 1).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengajarkan prinsip wala’ dan bara’. Dari ‘Amr bin Al ‘Ash, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara dengan lantang (tidak lirih),
أَلاَ إِنَّ آلَ أَبِى – يَعْنِى فُلاَنًا – لَيْسُوا لِى بِأَوْلِيَاءَ إِنَّمَا وَلِيِّىَ اللَّهُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِينَ
“Sesungguhnya keluarga Abu Fulan bukanlah kekasihku. Sesungguhnya kekasih setiaku adalah orang shalih yang beriman.” (HR. Muslim no. 215). Abu Fulan di sini maksudnya penyebutan yang disamarkan karena khawatir ada efek negatif jika nama tersebut tetap disebut.
Imam Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa yang dimaksud “waliyyiya” adalah orang shalih, itulah yang jadi kekasih dan teman setia walau jauh nasabnya. Yang jadi kekasih bukanlah orang yang tidak shalih walaupun nasabnya dekat dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Imam Nawawi juga menuturkan bahwa hadits ini mengandung pelajaran p**a untuk berlepas diri dari orang-orang yang menyimpang dan setia pada orang shalih. Kesetiaan atau keloyalan semacam itu boleh dinyatakan terang-terangan selama tidak timbul kerusakan. Lihat Syarh Shahih Muslim, 3: 77

Address

Surabaya

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Gubuk Pengetahuan Islam posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category