09/09/2021
๐ฆ๐ฒ๐น๐ฎ๐บ๐ฎ๐ ๐๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐ฅ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ผ ๐ก๐ฎ๐๐ถ๐ผ๐ป๐ฎ๐น
Setiap tanggal 11 September, kita memperingati Hari Radio Nasional. Hari Radio Nasional juga sekaligus diperingati sebagai hari kelahiran Radio Republik Indonesia (RRI) yang didirikan pada 11 September 1945. Itu juga yang menjadi sebab mengapa peringatan Hari Radio kerap disebut juga sebagai Hari RRI.
Lantas, bagaimana sejarah berdirinya RRI?
Pemerintah Indonesia meresmikan berdirinya RRI pada 11 September 1945. Berdirinya RRI sendiri tidak bisa dilepaskan dari keberadaan stasiun-stasiun radio di era itu. Generasi pertama stasiun radio ada di Malabar, Jawa Tengah, sejak 1925, atau sekitar 20 tahun sebelum ada RRI. Lima tahun setelah itu, terbentuk Nederland Indische Vereniging Radio Amateur (NIVERA) sebagai organisasi radio amatir milik Belanda. Sementara stasiun radio pertama kali berdiri di Indonesia bernama BRV. BRV juga didirikan Belanda yang berlokasi di Batavia. Selanjutnya juga ada Stasiun Radio Nederlandsch-Indische Radio Omroep Maatschappij (NIROM) di Jakarta. Setelah Jepang mengambil alih Indonesia, radio-radio siaran Jepang mulai berkumandang di Tanah Air. Jepang juga mengakuisisi stasion radio milik Belanda. Selain untuk memberikan informasi, siaran radio juga berfungsi sebagai propaganda Jepang ke masyarakat Indonesia.
Namun, ada juga radio Jepang yang kesempatan banyak untuk mengembangkan kebudayaan dan kesenian, jauh lebih berkembang dibandingkan zaman penjajahan Belanda. Jawatan radio swasta akhirnya dibekukan dan disatukan dalam satu komando Hoso Kanri Kyoku, yang merupakan pusat radio siaran dan berkedudukan di Jakarta. Cabang-cabangnya yang dinamakan Hoso Kyoku terdapat di Bandung, Purwakarta, Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Surabaya, dan Malang. Selain itu, Hoso Kyoku juga mempunyai cabang kantor di kabupaten-kabupaten untuk menyiarkan programnya kepada masyarakat.
Bom Hiroshima dan Nagasaki menjadi tanda runtuhnya kekuasaan Jepang di Indonesia. Berkat informasi radio, akhirnya Indonesia bisa segera merealisasikan kemerdekaanya melalui momentum Proklamasi pada 17 Agutus 1945. Hoso Kyoku akhirnya dihentikan siarannya pada 19 Agustus 1945. Situasi saat itu semakin mendesak ketika siaran-siaran radio memberitakan tentara Inggris yang mengatasnamakan sekutu akan menduduki Jawa dan Sumatera. Ditambah lagi, pihak Inggris akan melucuti senjata Jepang. Menanggapi berita itu, masyarakat Indonesia yang aktif di radio menyadari perangkat radio merupakan alat yang diperlukan pemerintah Republik Indonesia untuk berkomunikasi dan memberi tuntunan kepada rakyat mengenai apa yang harus dilakukan. Perwakilan delapan stasiun radio bekas Hosu Kyoku kemudian berkumpul di gedung Raad Van Indje Pejambon, Jakarta. Muncul nota kesepahaman, salah satunya adalah meminta pemerintah untuk mendirikan stasiun radio sebagai alat komunikasi antara pemerintah dengan rakyat. Radio dipilih sebagai alat komunikasi karena lebih cepat dan tidak mudah terputus saat terjadi pertempuran. RRI akhirnya disepakati berdiri dan akan meneruskan penyiaran dari delapan stasiun di Jawa untuk menjadi alat komunikasi antara pemerintah dengan masyarakat.
Sumber : kompas.com