Hidayat Viral Videos

Hidayat Viral Videos Rumah Pendidikan, Ruang Guru

Begini cara mengolah nilai kuantitatif rapor yang mudah dan akurat! 🎓 Yuk, pelajari 3 metode populer: Pembobotan, Persen...
04/12/2024

Begini cara mengolah nilai kuantitatif rapor yang mudah dan akurat! 🎓 Yuk, pelajari 3 metode populer: Pembobotan, Persentase, dan Rata-rata. Sesuaikan dengan karakteristik materi pembelajaran, biar hasilnya tepat sasaran! 💡 "

Tagar viral:

Kolaborasi komunitas belajar SDN KETAWANG KARAY III dengan SDN Pangaragan III. Sebagai tindak lanjut pasca observasi di ...
12/11/2024

Kolaborasi komunitas belajar SDN KETAWANG KARAY III dengan SDN Pangaragan III. Sebagai tindak lanjut pasca observasi di pengelolaan kinerja guru. Yg membuahkan kesepakatan belajar bersama Antara guru SDN KETAWANG KARAY III dan guru SDN pangaragan III. Yg insyaAllah akan d laksanakan hari Selasa tanggal 19 Nopember 2024.

09/10/2024

Mengenal Akar Lebih Jauh | Fase B Kelas 4
akar adalah bagian pokok selain batang dan daun yang ada pada tumbuhan yang tumbuh menuju dalam tanah. Dimana fungsi akar adalah menyerap air, mineral dan zat hara lainnya untuk kebutuhan tumbuhan dan juga berfungsi untuk menjaga tumbuhan agar berdiri kokoh. Jadi teman-teman Jika akar dipotong, maka tumbuhan tidak bisa mengambil nutrisi dari dalam tanah dan akan mati.
Ada 2 jenis akar pada tumbuhan yaitu akar serabut dan akar tunggang. Yuk kita kenali ap aitu akar serabut dan akar tunggang
Akar tunggang memiliki akar utama dari pangkal batang, dan pada akar utama tumbuh akar cabang yang ukurannya lebih kecil.
Sedangkan akar serabut memiliki banyak akar yang berasal dari pangkal batang. Dimana di setiap akarnya mempunyai ukuran yang hampir sama, ketebalannya hamper sama dan juga membentuk jaringan akar yang padat.
Contoh akar serabut berada pada gambar berikut.

Dan untuk ciri-ciri daun yang memiliki akar tunggang biasanya urat daun seperti jarring yang melingkar di bagian Tengah tulang rusuk. Sedangkan ciri-ciri daun yang memiliki akar serabut biasanya urat daun berjalan sejajar satu sama lain di sepanjang tulang rusuk Tengah. Contoh daun tanaman yang memiliki akar serabut adalah daun pisang. Sedangkan contoh daun tanaman yang memiliki akar tunggang adalah daun pohon mangga

08/10/2024

Melindungi Bumi : Pelestarian Sumber Daya Alam untuk Masa Depan
Materi ini adalah materi Fase B (kelas 3 dan 4) dengan Capaian Pembelajaran : Memahami masalah yang berkaitan dengan pelestarian sumber daya alam sebagai upaya mitigasi perubahan iklim

MENGAPA TUT WURI HANDAYANI???Sebuah Filsuf Lokal yang tiada tandingannyaOleh : Akhmad Said Hidayat, S.Pd.SD (Kepala SDN ...
01/05/2024

MENGAPA TUT WURI HANDAYANI???
Sebuah Filsuf Lokal yang tiada tandingannya
Oleh : Akhmad Said Hidayat, S.Pd.SD (Kepala SDN Ketawang Karay III)
Ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangon karso, tut wuri handayani.
(di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, dan di belakang memberi daya kekuatan)
“.....kok gak ing ngarso sung tulodho atau ing madyo mangon karso?”. Pertanyaan ini memang selalu muncul semenjak saya mengenal kalimat Tut Wuri Handayani, saya mengenal kalimat tersebut disaat duduk di bangku Sekolah Dasar, karena memang kalimat itu sangat familiar dan sudah tertulis di setiap topi sekolah dan juga slogan-slogan di buku mata pelajaran, bahkan sudah terpampang di sampul buku tulis saya. namun pada saat itu saya hanya mengenal kalimatnya saja tanpa tahu kutipan sebelumnya bahkan maknanya.
Seiring berjalannya waktu, kalimat Tut Wuri Handayani ini hanya menjadi kalimat saja, pasalnya selama saya mengenyam pendidikan sejak SD sampai lulus kuliah, saya tak pernah mendapatkan ulasan arti falsafah ini, kecuali sebatas pelajaran sejarah yang hanya mengenalkan saja. saya hanya dipelajari sedikit saja tentang ulasan kalimat “Tut Wuri Handayani” di bangku sekolah, namun walaupun hanya sebatas ulasan pelajaran sejarah saja, saya sudah cukup bergembira, ternyata sebelum kalimat “Tut Wuri Handayani” ada kalimat lain dibelakangnya yaitu kalimat “Ing ngarso sung tulodho dan ing madyo mangon karso”.
Kegelisahan saya semakin bertambah ketika saya berada di bangku Sekolah Menengah Umum (SMU), mata pelajaran di bangku SMU jurusan IPS beramai – ramai menunjukkan kearifan filsafat bangsa lain, seperti plato dan aristoteles dan lain sebagainya. Banyak ulasan yang lebih detail tentang para filsuf tersebut, namun sedikit sekali membahas tentang filsafat kearifan lokal khususnya kalimat “Ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangon karso, tut wuri handayani”. Saya seolah-olah di cekoki filsafat bangsa lain yang menurut saya tidak pernah ada kaitannya dengan budaya lokal. Dan sempat saya berfikir “apa iya hasil pemikiran/filsafat bangsa lain itu bisa menjamin untuk bertahannya budaya kita?” sedangkan ulasan filsafat bangsa sendiri mendapatkan porsi sedikit di dalam mata pelajaran? Kenapa? Apakah bangsa Indonesia ini tidak Percaya Diri? Ah Dunia kita beramai-ramai mempelajari filsafat dari bangsa lain (sebetulnya ini juga tak salah jika dibarengi dengan pengkajian falsafah bangsa) tapi enggan menyelami kearifan lokalnya” Ibaratnya kita lupa pada baju sendiri dan selalu melirik pada baju tetangga.
Kembali pada pertanyaan di atas. “Kenapa Tut Wuri Handayani? Mengapa tidak yang lainnya saja? mengapa tidak Ing ngarso sung tulodho atau ing madyo mangon karso? Mengapa mengambil kalimat yang paling belakang? Ada apa dengan Tut Wuri Handayani? Benarkan itu cita-cita sekaligus cermin dari pendidikan bangsa ini?”
Pertanyaan tersebut terinspirasi dari siswa pertanyaan salah satu siswa saya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar kelas 5. Mereka bertanya : “Pak, kenapa harus Tut Wuri Handayani?” sontak saya menelan ludah, dan sontak pikiran saya secara auto terkumpul beberapa pertanyaan seperti yang saya tuliskan diatas. (“Kenapa Tut Wuri Handayani? Mengapa tidak yang lainnya saja? mengapa tidak Ing ngarso sung tulodho atau ing madyo mangon karso? Mengapa mengambil kalimat yang paling belakang? Ada apa dengan Tut Wuri Handayani? Benarkan itu cita-cita sekaligus cermin dari pendidikan bangsa ini?”)
Sebelum membahas tentang falsafah ini, alangkah arifnya jika kita kembali menengok sejarah, melihat rahim kelahiran pendidikan bangsa ini yang kemudian mengangkat “Tut Wuri Handayani” menjadi falsafahnya. Mengingat masalah pendidikan kita mungkin akan teringat pada peran bapak pendidikan kita, yaitu Ki Hajar Dewantara dengan Taman Siswanya. Lembaga pendidikan ini didirikan bertujuan untuk membuat budaya tanding terhadap pendidikan kolonial masa itu. Selian itu, pendidikan bermaksud menyadarkan bangsa ini dari keterjajahan, baik fisik dan budaya, sehingga tercapai sebagai bangsa yang memiliki kemerdekaan seutuhnya. Taman siswa didirikan oleh Ki Hajar Dewantara setelah beliau pulang dari menuntut ilmu di Negeri Belanda. Tapatnya pendirina Taman Siswa pada 3 Juli 1922. Taman siswa mempunyai 7 pasal asas yang dijadikan pedoman bagi kalangan Taman Siswa.
Pernyataan asas Taman Siswa, seperti yang ditulis Abdurachman Surjomihardjo dalam bukunya Ki Hajar Dewantara dan Taman Siswa Dalam Sejarah Indonesia Modern, itu berisi 7 (tujuh) pasal yang dapat diringkas sebagai berikut: pasal 1 dan 2 mengandung dasar kemerdekaan bagi tiap-tiap orang untuk mengatur dirinya sendiri. Bila diterapkan kepada pelaksanaan pengajaran, maka hal itu merupakan usaha mendidik murid-murid supaya dapat berperasaan, berpikiran dan bekerja merdeka di dalam batas-batas tujuan mencapai tertib-damainya hidup bersama.
Di dalam pasal 1 termasuk juga dasar kodrat alam, yang diterangkan perlunya, agar kemauan sejati dapat diperoleh dengan perkembangan kodrat, yang terkenal dengan “evolusi”. Dasar ini mewujudkan sistem among, yang salah satu seginya ialah mewajibkan para guru untuk berperan sebagai pemimpin yang berdiri di belakang tetapi “mempengaruhi” dengan memberi kesempatan kepaada anak didik untuk mewujudkan diri sendiri. Itulah yang disebut tut wuri handayani. Di samping guru diharuskam dapat membangkitkan pikiran murid, bila berada di tengah-tengah mereka, memberi telada bila di depan.
Pasal 3 menyinggung sosial, ekonomi dan politik. Kecenderungan bangsa kita untuk menyesuaikan diri dengan hidup dan penghidupan kebarat-baratan akan menimbulkan pelbagai kekacuan. Sistem pengajaran yang timbul dianggap terlampau mementingkan kecerdasan pikiran, yang melanggar dasar-dasar kodrati yang terdapat dalam kebudayaan sendiri, sehingga tidak menjamin keserasian dan memberi kepuasan.
Pasal 4 mengandung dasar kerakyatan. Pernyataan “tidak ada pengajaran, bagaimanapun tingginya dapat berguna, apabila hanya diberikan kepada sebagaian kecil dalam pergaulan hidup. Daerah pengajaran harus diperluas.”
Pasal 5 merupakan asas yang sangat penting bagi semua orang yang ingin mengejar kemerdekaan hidup yang sepenuh-penuhnya. Pokok dasar ini ialah percaya kepada kekuatan sendiri untuk tumbuh.
Pasal 6 berisi pernyataan dalam mengajar kemerdekaan dengan jalan keharusan untuk membelanjai sendiri segala usaha.
Pasal 7 mengharuskan adanya keikhlasan lahir dan batin bagi guru untuk mendekati anak didiknya.
Itulah 7 pasal yang menjadi landasan taman siswa yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara. Jika kita perhatikan pasal tersebut lebih menekankan, atau berpusat pada siswa (student centered), peran guru sekedar fasilitator (meminjam gaya bahasa pendidikan yang sering kita dengar). Jadi, tak ayal jika dunia pendidikan kita mengambil Tut Wuri Handayani sebagai slogan, falsafah pendidikannya.
Dan juga saya sempat teringat pada teori pembelajaran konstruktivisme Menurut teori ini (Trianto, 2010: 74), guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun sendiri pengetahuan di benaknya. Guru dapat memberikan kemudahan untuk proses ini, dengan memberikan siswa kesempatan untuk menemukan dan menerapkan ide-ide mereka sendiri, dan membelajarkan siswa dengan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberi siswa anak tangga yang membawa siswa pemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa sendiri yang harus memanjatnya.
Esensi dari teori pembelajaran ini adalah siswa sendiri yang menemukan dan mentransformasikan sendiri suatu informasi komplek apabila mereka menginginkan informasi itu menjadi miliknya Menurut pandangan konstruktivisme anak secara aktif membangun pengetahuan dengan cara terus menerus mengasimilasi dan mengakomodasi informasi baru, dengan kata lain konstruktivisme adalah teori yang menekankan peran aktif siswa dalam membangun pemahaman mereka tentang realita (Slavin, 1994: 225)
Dari kesimpulan teori konstruktivisme siswa yang secara aktif di depan membangun pengetahuan dengan cara kontinuitas mengupdate informasi, namun nantinya jika ada gejala siswa melakukan kesalahan, guru memberikan masukan atau arahan dari belakang yang kita kenal dengan istilah Tut Wuri Handayani.
Konsep konstruktivime dengan model pembelajaran berpusat pada siswa ini sebenarnya sama dengan konsep Slogan Tut Wuri Handayani atau dalam bahasa madura “nganjuh” atau mengasuh. Artinya seorang guru mengasuh muridnya dengan mengikuti setiap gerak geriknya tanpa harus terlibat didalamnya. diibaratkan kita nganjuh/mengasuh anak balita yang sedang belajar merangkak, kita ikuti saja gerak-gerik si anak tanpa harus merangkak juga, namun ketika si anak mau merangkak ke arah listrik,kompor atau benda yang berbahaya, kita angkat anaknya kemudian kita taruh lagi ke tempat yang lebih aman dan kemudian merangkak lagi bayinya, sampai pada akhirnya si anak tersebut fasih dalam merangkak. Dalam proses merangkak tersebut biarkan anak mendapatkan informasi dengan sendirinya, anak akan merasakan jatuh, bangun, jatuh dan bangun lagi hingga anak akan memiliki kesimpulan dengan sendirinya
Inilah falsafah lokal yang tiada tandingannya, inilah falsafah lokal rasa internasional, dan pada akhirnya saya mengerti kenapa harus Tut Wuri Handayani sebagai slogan pendidikan kita.
Ayo Majukan Pendidikan kita dengan Tutwuri Handayani. Selamat Hari Pendidikan 02-Mei-2024

21/04/2024

Kegelisahan saya semakin bertambah ketika saya berada di bangku Sekolah Menengah Umum (SMU), mata pelajaran di bangku SMU jurusan IPS beramai – ramai menunjukkan kearifan filsafat bangsa lain, seperti plato, aristoteles dan lain sebagainya. Banyak ulasan yang lebih detail tentang para filsuf tersebut, namun sedikit sekali membahas tentang filsafat kearifan lokal khususnya kalimat “Ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangon karso, dan tut wuri handayani”. Saya seolah-olah di cekoki filsafat bangsa lain yang menurut saya tidak pernah ada kaitannya dengan budaya lokal. Dan sempat saya berfikir “apa iya hasil pemikiran/filsafat bangsa lain itu bisa menjamin untuk bertahannya budaya kita?” sedangkan ulasan filsafat bangsa sendiri mendapatkan porsi sedikit di dalam mata pelajaran? Kenapa? Apakah bangsa Indonesia ini tidak Percaya Diri? Ah Dunia kita beramai-ramai mempelajari filsafat dari bangsa lain (sebetulnya ini juga tak salah jika dibarengi dengan pengkajian falsafah bangsa) tapi enggan menyelami kearifan lokalnya” Ibaratnya kita lupa pada baju sendiri dan selalu melirik pada baju tetangga.

menanggapi pemberitaan yang beredar mengenai perubahan seragam sekolah yang berlaku setelah lebaran, kami sampaikan hal ...
14/04/2024

menanggapi pemberitaan yang beredar mengenai perubahan seragam sekolah yang berlaku setelah lebaran, kami sampaikan hal tersebut TIDAK BENAR
tidak ada perubahan aturan mengenai seragam sekolah. semua masih merujuk pada Permendikbudristek No.50 Tahun 2022, sehingga tidak ada aturan yang mengharuskan siswa membeli seragam baru pada 2024
tetap bijak ya dalam mencerna informasi. salam literasi

Bagi kamu generasi muda yang memiliki panggilan hati menjadi guru serta kecintaan pada anak dan dunia pendidikan, yuk, m...
07/04/2024

Bagi kamu generasi muda yang memiliki panggilan hati menjadi guru serta kecintaan pada anak dan dunia pendidikan, yuk, mendaftar menjadi guru melalui Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan 2024!
Pendidikan Profesi Guru kali ini membuka pendaftaran untuk lebih banyak studi.

Pendaftaran PPG Prajabatan 2024 dibuka mulai 4 April hingga 15 Mei 2024. Bagi kamu lulusan S1/D4 yang ingin menjadi guru, jangan lewatkan kesempatan ini!

Untuk informasi lebih lanjut mengenai PPG Prajabatan 2024, kunjungi media sosial dan laman https://ppg.kemdikbud.go.id/prajabatan.

 , tahun ini data di Rapor Pendidikan telah diperbarui dengan hasil capaian Asesmen Nasional (AN) dan Survei Lingkungan ...
04/03/2024

, tahun ini data di Rapor Pendidikan telah diperbarui dengan hasil capaian Asesmen Nasional (AN) dan Survei Lingkungan Belajar (Sulingjar) 2023, serta berbagai sumber data lainnya. Dasbor Rapor Pendidikan tahun ini juga mulai dapat dimanfaatkan Satuan PAUD untuk melihat capaiannya.

Mari simak bagaimana hasil capaian di Rapor Pendidikan dapat membantu satuan pendidikan melakukan Perencanaan Berbasis Data dalam menyusun perencanaan dan penganggaran pendidikan yang serta berorientasi pada kebutuhan pembelajaran murid di kanal YouTube Kemdikbud RI pada hari Selasa, 5 Maret 2024 pukul 10:00 - 12:00 WIB.

https://youtube.com/live/QlNKIWohK7I?feature=share

Selanjutnya, satuan pendidikan dan pemerintah daerah berkolaborasi dengan seluruh warga sekolah untuk bergerak bersama memanfaatkan Rapor Pendidikan, demi mewujudkan peningkatan kualitas pendidikan Indonesia yang berkelanjutan.


Rapor Pendidikan merupakan salah satu platform yang mendukung sekolah meningkatkan kualitas layanan pendidikannya, dengan menyajikan kondisi dan capaian pend...

Address

Desa Kalianget Barat, Kalianget Sumenep
Sumenep
69471

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Hidayat Viral Videos posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Hidayat Viral Videos:

Share