Taman Bacaan Masyarakat Serambi Ilmu

Taman Bacaan Masyarakat Serambi Ilmu Taman Bacaan Masyarakat Serambi Ilmu diresmikan tanggal 21 Mei 2016 di Cipancar Sumedang Selatan

17/05/2025

Siapapun yang terhibur dengan buku-buku, kebahagiaan tak akan sirna dari dirinya.
_Ali bin Abi Thalib_
Selamat Hari Buku Nasional

Sesi akhir acara
08/11/2021

Sesi akhir acara

Alhamdulillaah di acara lomba kemarin
08/11/2021

Alhamdulillaah di acara lomba kemarin

04/11/2021

Assalamu'alaikum warohmatullaahi wabarokaatuh
Salam sejahtera kami sampaikan, semoga setiap langkah aktivitas kita senantiasa diridhoi Allah SWT, Aamiin.
Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Saw, kami selaku tim literasi Taman Bacaan Serambi Ilmu & KB Daarul Aulad bermaksud menggelar lomba dan Bazzar PAUD.
Adapun jenis lomba yang dapat diikuti oleh Peserta lomba di antaranya:
1. Lomba Mewarnai untuk (Kelas 2 SD)
2. Lomba Menggambar untuk (kelas 3 SD)
3. Lomba dekorasi dan kaligrafi untuk (kelas 4 SD)
4. Lomba menggambar bebas dg kaligrafi sesuai tema dalam kertas kerja yg sama (untuk kelas 5 SD)

Kriteria dalam penilaian lomba : Seni/Kreativitas, Kerapihan, perpaduan warna dan kesesuaian dengan tema.
Dari setiap cabang lomba akan dipilih yang terbaik Juara 1, 2 dan 3. Pemenang berhak menerima Tropi dan bingkisan.
Insya Allah acara akan dilaksanakan pada:
Hari/tanggal: Ahad/07 Nov 2021
Tempat : PAUD Daarul Aulad
Waktu : Jam 08.00 s.d selesai
Dengan demikian kami mengajak putra putri Bapak/Ibu untuk berpartisipasi dalam acara tersebut.
Terima kasih jazaakumullah atas perhatian dan partisipasinya.

Wassalaam,

ttd,

Panitia Acara

Info Pendaftaran : Bu Ismah wa.me/6281286738549, Bu Ati wa.me/
6282315187793, Bu Irma wa.me/6282113967086
Catatan: Peserta lomba membawa alat tulis/menggambar dari rumah, Kertas kerja disediakan oleh panitia

Bacaan keliling tanggal 31Mei-3 Juni 2019
13/06/2019

Bacaan keliling tanggal 31Mei-3 Juni 2019

24/04/2019
23/04/2019

Buku baru

15/12/2018

KRISIS IDENTITAS
Oleh: Kak Eka Wardhana, Rumah Pensil Publisher

Menurut para psikolog, beberapa generasi yang lalu seluruh dunia tidak mengenal masa remaja seperti yang kita kenal sekarang. Mengapa demikian? Sebab di zaman itu pada usia belasan tahun seorang remaja sudah bekerja mencari nafkah. Bahkan sampai belasan jam per hari. Dengan kata lain, masa transisi dari anak-anak ke usia dewasa berlangsung singkat.

Mengapa sekarang usia remaja jadi lebih panjang? Sebab waktu pendidikan sekarang lebih panjang. Bila tidak melalui jalur pendidikan itu, orang sulit mendapat pekerjaan yang diharapkan. Selain itu pekerjaan zaman sekarang lebih rumit, dulu bila orang mau bekerja maka ia bisa bekerja. Kini orang harus punya keterampilan dulu baru bisa bekerja.

Kesimpulannya: di zaman dulu para remaja menghabiskan waktunya untuk bekerja, sementara di zaman sekarang para remaja menghabiskan waktunya untuk belajar di sekolah.

Di balik segala kelebihannya, remaja di zaman sekarang punya kelemahan mencolok di banding remaja zaman dulu: remaja sekarang mengalami apa yang namanya Krisis Identitas.

Menurut E. Erickson, Krisis Identitas adalah pencarian paling kritis di masa remaja. Dimana remaja harus memutuskan siapakah dirinya sebenarnya, dan bagaimanakah peranannya dalam kehidupan nantinya.

Dalam bukunya, Atkinson menuliskan bahwa krisis identitas adalah upaya pencarian jawaban remaja terhadap hal-hal berikut ini:
• Siapakah saya?
• Kemanakah saya akan pergi?
• Apa yang penting dan pantas dikerjakan?
• Membuat standar evaluasi diri dan orang lain.
• Bagaimana harga diri saya?
• Bagaimana kompetensi saya?

Bagaimana gambaran pencarian identitas diri remaja ini?

Saat seorang anak berangkat remaja, sebenarnya ia sudah punya modal berupa identitas di masa kanak-kanak. Di masa kanak-kanak identitasnya ditentukan oleh standar moral yang diajarkan oleh orangtua. Perasaan harga diri yang tinggi di masa anak-anak juga berasal dari pandangan orangtua terhadap mereka. Bila di masa kanak-kanaknya orangtua menilai dengan pandangan positif, maka seorang remaja punya modal berupa harga diri dan standar moral yang juga positif. Demikian juga sebaliknya. Namun...

Namun ketika seorang menginjak usia remaja, ia akan berusaha lepas dari bayangan keluarga dan orangtua serta mencari identitas dirinya yang lebih pasti. Di saat ini penilaian teman-teman sebaya terhadap dirinya menjadi lebih penting. Tetapi di saat yang sama penilaian guru dan orangtua juga tetap penting.

Nah, di sini kunci sukses seorang remaja mencari identitas diri: bila nilai dari orangtua, guru, orang dewasa yang berpengaruh dan teman-teman sebayanya sejalan, pencarian identitas diri akan lebih mudah. Tetapi bila nilai-nilai itu saling bertentangan: misalnya penilaian orangtua dan teman sebaya tidak sejalan, timbullah konflik.

Akibat konflik ini remaja jadi bingung akan peran dirinya. Ia akan mencoba peran yang satu ke peran yang lain berganti-ganti. Bila konflik ini membesar, bukan tidak mungkin seorang remaja akan putus sekolah, misalnya. Sebab ia harus memikirkan apa yang ingin ia perbuat dan ia merasa perlu bereksperimen dengan peran hidupnya.

Para remaja yang ikut kegiatan keagamaan seperti Remaja Masjid atau kegiatan sosial seperti Sukarelawan Bencana Alam atau ekstra kurikuler di sekolah akan lebih terbantu menemukan identitas dirinya. Sebab kegiatan bersama teman-teman dalam identitas yang sama seperti itu akan membuatnya lebih mudah menghindari konflik identitas.

Akhirnya ada 3 tipe remaja melalui krisis Identitas ini:

1. Kelompok yang melaluinya dengan baik. Remaja di kelompok ini adalah mereka yang menerima nilai-nilai dari orangtua tanpa banyak konflik. Sebab sejak masa kanak-kanak identitas mereka sudah jelas dan tertanam kuat.

2. Kelompok yang mengalami Identitas Menyimpang. Remaja di kelompok ini mengambil identitas yang bertentangan dengan nilai masyarakat. Narkoba dan pergaulan bebas adalah salah satu contoh pelarian mereka.

3. Kekompok yang mengalami kebingungan identitas lebih panjang. Remaja kelompok ini mengalami fase kebingungan identitas yang lebih panjang. Mungkin menjelang selesai masa kuliah, masalah tersebut baru teratasi.

Ayah dan Bunda, ternyata kunci agar anak-anak remaja kita terhindar dari krisis identitas yang parah adalah pendidikan yang baik sejak masa kanak-kanak. Selain itu juga diperlukan pendampingan orangtua saat masa remaja serta memilih lingkungan serta teman pergaulan yang baik.

Yuk didik anak-anak dengan baik sejak kecil dan dampingi mereka melalui masa remaja agar krisis identitas mereka terlalui dengan baik dan aman.

Salam Smart Parents!

Gaya bebas
18/11/2018

Gaya bebas

18/11/2018

Dalam rangka Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW TBM Serambi Ilmu Mengadakan lomba-lomba di antaranya:



Alfatihah & terjemah
kisah Rosul Saw
Pelaksanaan lomba tgl 18 Nov dan 20 Nov 2018

11/10/2018

CARA SAHABAT NABI MENDIDIK ANAK-ANAK MEREKA
Oleh: Kak Eka Wardhana, Rumah Pensil Publisher

Ayah dan Bunda, siapakah generasi terbaik umat Islam? Para ulama sepakat menyatakan bahwa generasi terbaik umat ini adalah generasi para Sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam. Jadi sudah menjadi keharusan bagi kita untuk meneladani segala hal tentang peri kehidupan mereka. Nah, kebanyakan orang hanya tahu para Sahabat Nabi sebagai ulama dan pejuang tangguh. Tapi pernahkah kita bertanya bagaimana cara mereka mendidik putra-putri mereka?

Ayah dan Bunda, setelah beberapa kali membaca riwayat para Sahabat Nabi, saya coba menyampaikan jawaban atas pertanyaan penting ini.

Sebagai catatan: satu hal yang jelas pertama kali dilakukan para sahabat dalam mendidik anak-anak mereka adalah mengajarkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Rasa cinta pada Allah dan Rasul-Nya hanya tumbuh dari aqidah yang kuat. Jadi sebelum mengajarkan hal-hal lain, para sahabat terlebih dulu mengajarkan aqidah yang benar pada anak-anak mereka. Hal yang satu ini tidak bisa ditawar lagi, Ayah dan Bunda. Setelah itu barulah hal-hal lain bisa ditambahkan.

Bagaimana caranya? Beberapa di antaranya adalah:

1. Mengajar anak-anak mereka dengan cara praktik.
Islam adalah agama sehari-hari sehingga untuk melaksanakannya tidak bisa tidak, harus dilakukan dengan mempraktikkannya. Mendahulukan praktik dibanding teori adalah cara belajar khas anak-anak. Kalaupun ada teori yang diberikan, sekadar berupa alasan dasar untuk melakukan sesuatu. Misalnya agar masuk Surga, agar disayang Allah dan lainnya. Praktik yang dilakukan secara berulang akan menumbuhkan kebiasaan. Kebiasaan yang kuat akan membuat kewajiban rutin, semisal shalat 5 waktu, terasa ringan dilakukan.

2. Para sahabat Nabi tidak pernah mengenal ruangan kelas khusus, mereka melakukan pengajaran dimana saja: di rumah, di masjid, di padang gembala, di pasar.
Menimbang hal ini, saya pikir bila saya menjadi kepala sekolah, saya akan mempertimbangkan untuk memberi pelajaran tidak hanya di dalam ruang kelas, tetapi juga di bawah pohon, di tepi kolam, di sisi persawahan. Belajar bersama alam akan membuat para siswa tidak hanya sekadar tahu, tetapi juga mengerti dan memahami.

3. Mengajarkan keindahan terutama melalui ayat-ayat Al-Qur’an.
Anak yang diajar mengenali keindahan akan halus perasaannya dan santun sikapnya. Fitrah manusia s**a akan keindahan. Bila diajar tentang hal-hal keras dan buruk, fitrahnya akan rusak dan berubah menjadi buruk juga.

4. Para sahabat tidak pernah mematok anak-anaknya untuk menjadi seseorang dengan profesi tertentu.
Mereka hanya menanamkan agar anak-anaknya bertaqwa, selebihnya diserahkan kepada anak-anak mereka sendiri. Para sahabat tahu bahwa setiap orang dikaruniai berbagai kelebihan dan juga punya berbagai kekurangan. Maka anak-anak mereka pun bebas memilih menjadi apa mereka bila telah dewasa nanti: ulama, prajurit, pedagang, petani, tukang.

5. Sangat menekankan agar anak-anak memiliki akhlak yang baik.
Akhlak yang baik menurut Islam itu bukan hanya ramah dan lembut, tetapi juga perlu tegas dan bisa keras bila diperlukan, terutama saat bahaya datang mengancam.

6. Para sahabat Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam memberi yang sama kepada setiap anak untuk berkembang.
Namun perlu diingat, walaupun dasarnya sama, pengajaran anak laki-laki dan perempuan memiliki penekanan yang berbeda. Misalnya: dasar yang diajarkan tentang tanggung jawab. Anak laki-laki akan ditekankan tentang jenis tanggung jawab yang lebih besar akan hal-hal di luar rumah, sementara anak perempuan ditekankan tentang jenis tanggung jawab yang lebih besar tentang hal-hal di dalam rumah.

7. Para sahabat Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam tidak pernah membiarkan anak-anak hanya duduk manis, makan dan tidur setiap hari. Mereka juga menekankan kegiatan fisik dan olah raga. Hal ini bukan hal yang aneh, di masa itu anak-anak terbiasa membantu orangtua mereka dalam menggembala, mengurus kuda, membawakan air dan lainnya.

Ayah dan Bunda, ini hanya beberapa cara saja. Masih banyak hal lain yang bisa kita teladani. Semoga kita bisa mengambil yang terbaik dari para sahabat Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam dan menerapkannya dengan penuh semangat dalam hidup keseharian.

Salam Smart Parents!

Address

Jalan Pagarbetis Dusun Kukulu Rt 01/04 Desa Cipancar Kec. Sumedang Selatan
Sumedang
45351

Opening Hours

Monday 08:00 - 12:00
Tuesday 08:00 - 12:00
Wednesday 08:00 - 12:00
Thursday 08:00 - 12:00
Friday 08:00 - 11:00
Sunday 09:00 - 12:00

Telephone

081220028505

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Taman Bacaan Masyarakat Serambi Ilmu posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category