11/10/2018
CARA SAHABAT NABI MENDIDIK ANAK-ANAK MEREKA
Oleh: Kak Eka Wardhana, Rumah Pensil Publisher
Ayah dan Bunda, siapakah generasi terbaik umat Islam? Para ulama sepakat menyatakan bahwa generasi terbaik umat ini adalah generasi para Sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam. Jadi sudah menjadi keharusan bagi kita untuk meneladani segala hal tentang peri kehidupan mereka. Nah, kebanyakan orang hanya tahu para Sahabat Nabi sebagai ulama dan pejuang tangguh. Tapi pernahkah kita bertanya bagaimana cara mereka mendidik putra-putri mereka?
Ayah dan Bunda, setelah beberapa kali membaca riwayat para Sahabat Nabi, saya coba menyampaikan jawaban atas pertanyaan penting ini.
Sebagai catatan: satu hal yang jelas pertama kali dilakukan para sahabat dalam mendidik anak-anak mereka adalah mengajarkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Rasa cinta pada Allah dan Rasul-Nya hanya tumbuh dari aqidah yang kuat. Jadi sebelum mengajarkan hal-hal lain, para sahabat terlebih dulu mengajarkan aqidah yang benar pada anak-anak mereka. Hal yang satu ini tidak bisa ditawar lagi, Ayah dan Bunda. Setelah itu barulah hal-hal lain bisa ditambahkan.
Bagaimana caranya? Beberapa di antaranya adalah:
1. Mengajar anak-anak mereka dengan cara praktik.
Islam adalah agama sehari-hari sehingga untuk melaksanakannya tidak bisa tidak, harus dilakukan dengan mempraktikkannya. Mendahulukan praktik dibanding teori adalah cara belajar khas anak-anak. Kalaupun ada teori yang diberikan, sekadar berupa alasan dasar untuk melakukan sesuatu. Misalnya agar masuk Surga, agar disayang Allah dan lainnya. Praktik yang dilakukan secara berulang akan menumbuhkan kebiasaan. Kebiasaan yang kuat akan membuat kewajiban rutin, semisal shalat 5 waktu, terasa ringan dilakukan.
2. Para sahabat Nabi tidak pernah mengenal ruangan kelas khusus, mereka melakukan pengajaran dimana saja: di rumah, di masjid, di padang gembala, di pasar.
Menimbang hal ini, saya pikir bila saya menjadi kepala sekolah, saya akan mempertimbangkan untuk memberi pelajaran tidak hanya di dalam ruang kelas, tetapi juga di bawah pohon, di tepi kolam, di sisi persawahan. Belajar bersama alam akan membuat para siswa tidak hanya sekadar tahu, tetapi juga mengerti dan memahami.
3. Mengajarkan keindahan terutama melalui ayat-ayat Al-Qur’an.
Anak yang diajar mengenali keindahan akan halus perasaannya dan santun sikapnya. Fitrah manusia s**a akan keindahan. Bila diajar tentang hal-hal keras dan buruk, fitrahnya akan rusak dan berubah menjadi buruk juga.
4. Para sahabat tidak pernah mematok anak-anaknya untuk menjadi seseorang dengan profesi tertentu.
Mereka hanya menanamkan agar anak-anaknya bertaqwa, selebihnya diserahkan kepada anak-anak mereka sendiri. Para sahabat tahu bahwa setiap orang dikaruniai berbagai kelebihan dan juga punya berbagai kekurangan. Maka anak-anak mereka pun bebas memilih menjadi apa mereka bila telah dewasa nanti: ulama, prajurit, pedagang, petani, tukang.
5. Sangat menekankan agar anak-anak memiliki akhlak yang baik.
Akhlak yang baik menurut Islam itu bukan hanya ramah dan lembut, tetapi juga perlu tegas dan bisa keras bila diperlukan, terutama saat bahaya datang mengancam.
6. Para sahabat Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam memberi yang sama kepada setiap anak untuk berkembang.
Namun perlu diingat, walaupun dasarnya sama, pengajaran anak laki-laki dan perempuan memiliki penekanan yang berbeda. Misalnya: dasar yang diajarkan tentang tanggung jawab. Anak laki-laki akan ditekankan tentang jenis tanggung jawab yang lebih besar akan hal-hal di luar rumah, sementara anak perempuan ditekankan tentang jenis tanggung jawab yang lebih besar tentang hal-hal di dalam rumah.
7. Para sahabat Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam tidak pernah membiarkan anak-anak hanya duduk manis, makan dan tidur setiap hari. Mereka juga menekankan kegiatan fisik dan olah raga. Hal ini bukan hal yang aneh, di masa itu anak-anak terbiasa membantu orangtua mereka dalam menggembala, mengurus kuda, membawakan air dan lainnya.
Ayah dan Bunda, ini hanya beberapa cara saja. Masih banyak hal lain yang bisa kita teladani. Semoga kita bisa mengambil yang terbaik dari para sahabat Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam dan menerapkannya dengan penuh semangat dalam hidup keseharian.
Salam Smart Parents!