27/12/2021
Anggota Komisi XI DPR RI Heri Gunawan mengungkapkan ada beberapa faktor yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi 2021 belum mencapai target.
“Faktor pertama, diantaranya belum ditindaklanjutinya arahan presiden untuk mempercepat belanja di awal-awal tahun,” kata Heri Gunawan.
Ia pun membeberkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), bahwa pengeluaran konsumsi pemerintah pada kuartal I-2021 hanya sebesar Rp265,9 triliun. Angka tersebut menurun sebesar 43,35 persen (qtoq) dibandingkan konsumsi pemerintah pada kuartal IV-2020 yang mencapai Rp481,8 triliun. Sementara bila dibandingkan dengan kuartal I-2020 dengan capaian sebesar Rp254,8 triliun, hanya mengalami kenaikan sebesar 2,96 persen (yoy).
Faktor kedua, pemerintah relatif terlambat mengantisipasi masuknya Covid-19 varian Delta. Lalu faktor ketiga, adanya kebijakan PPKM sehingga menyebabkan berkurangnya kegiatan ekonomi dan menurunnya mobilitas masyarakat.
Selain itu, lanjutnya, keperpihakan terhadap UMKM juga perlu diwujudkan dengan meningkatkan porsi kredit untuk UMKM. Dimana sektor UMKM diharapkan menjadi tulang punggung perekonomian di Indonesia, disamping banyak menyerap tenaga kerja dan turut membangkitkan bisnis domestik.
"Saat ini porsi kredit untuk UMKM baru mencapai 20 persen dari total kredit perbankan, sisanya belum mendapatkan akses kredit ke perbankan. Angka tersebut masih lebih rendah dibanding negara-negara lain. Singapura memiliki porsi kredit untuk UMKM sebesar 39 persen, Malaysia 50 persen, Thailand di atas 50 persen, dan Korea Selatan mencapai 81 persen. Tahun 2022, diharapkan pemerintah maupun sektor finansial harus mampu melihat peluang ini, memberikan akses kredit perbankan kepada UMKM dapat menjadi potensi yang menjanjikan asalkan industri keuangan jeli mengidentifikasi UMKM yang berpotensi tumbuh dan berkembang. Presiden Jokowi menargetkan porsi kredit UMKM akan mencapai 30 persen pada 2024," tambahnya.