12/02/2024
❁١٠٣٠ح١١٠❁
*ألْسَّــــــــــلاَمُ عَلَيْكـُم وَرَحْمَةُ اللَّـهِ وَبَرَكَاتُة*
*ﺑِﺴْــــــــــــــــــﻢِﷲِﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِﺍﻟﺮَّﺣِﻴﻢ*
*📚* 𝐁𝐀𝐇𝐀𝐘𝐀 𝐋𝐈𝐒𝐀𝐍
➡️ _*Lisan (lidah),* merupakan nikmat Alloh yang terbesar atas hamba-Nya. Didalamnya terdapat kebaikan besar dan manfaat yang banyak bagi siapa yang memeliharanya dan menggunakannya sebagaimana mestinya._
➡️ _Sebaliknya di dalam lisan itu terdapat keburukan yang banyak dan bahaya yang besar bagi siapa yang menyia-nyiakannya dan menggunakannya tidak sebagaimana mestinya._
📚 *Alloh Ta’ala berfirman:*
وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ
_*“Kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Alloh adalah besar.” (QS. An Nur: 15).*_
📖 *Dalam Tafsir Al Jalalain dijelaskan:*
➡️ _Yang dimaksud dengan orang-orang biasa menganggap perkara itu ringan. Namun, di sisi Alloh perkara itu dosanya amatlah besar:_
_*‘‘Itulah manusia, ia menganggap perkataannya tidak berdampak apa-apa, namun di sisi Alloh bisa jadi perkara besar.‘‘*_
📚 *Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallama bersabda kepada Sayyidina Mu’adz bin Jabal rodhiyallohu ‘anhu:*
أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمَلاَكِ ذَلِكَ كُلِّهِ. قُلْتُ بَلَى يَا نَبِىَّ اللَّهِ قَالَ فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ قَالَ كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا. فَقُلْتُ يَا نَبِىَّ اللَّهِ وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ فَقَالَ ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِى النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ.
_*“Maukah kuberitahukan kepadamu tentang kunci semua perkara itu?”* Jawabku: “Iya, wahai Rosululloh.” Maka beliau memegang lidahnya dan bersabda, *“Jagalah ini”.* Aku bertanya, “Wahai Rosululloh, apakah kami dituntut (disiksa) karena apa yang kami katakan?” Maka beliau bersabda, *“Celaka engkau. Adakah yang menjadikan orang menyungkurkan mukanya (atau ada yang meriwayatkan batang hidungnya) di dalam neraka selain ucapan lisan mereka?” (HR. Tirmidzi no. 2616. Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan shohih)*_
➡️ _Alloh Ta'ala menciptakan lisan pada hamba supaya banyak menyebut-Nya dan membaca kitab-Nya, menasihati para hamba-Nya dan menyeru mereka untuk mentaati-Nya serta memberi tahu mereka kewajiban mereka yang besar untuk menunaikan hak-Nya dan menampakkan keperluan-keperluan agama dan dunianya yang ada di dalam hatinya._
➡️ _Jika ia menggunakannya untuk semua itu, maka ia pun termasuk orang-orang yang bersyukur._
➡️ _Sebaliknya jika ia tidak menggunakannya sebagaimana mestinya, maka ia pun termasuk orang-orang yang zalim dan melampaui batas (melawan atau tidak menerima pada ketentuan Alloh)._
📚 *Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:*
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا، أَوْ لِيَصْمُتْ
_*“Barang siapa beriman kepada Alloh dan hari akhir, maka berkatalah yang baik dan jika tidak maka diamlah.” (HR. Bukhori no. 6018 dan Muslim no. 47).*_
✍️ _Yang perlu digarisbawahi disini adalah mengenai bahaya lisan. Sehingga berhati-hatilah dengan lisan, jangan sampai digunakan untuk mencemooh, mengejek orang lain, apalagi ditujukan pada seorang *Muslim* yang ingin menjalankan ajaran *Islam.*_
📚 *Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:*
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً ، يَرْفَعُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً يَهْوِى بِهَا فِى جَهَنَّمَ
_*“Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dia pikirkan lalu Alloh mengangkat derajatnya disebabkan perkataannya itu. Dan ada juga seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang membuat Alloh murka dan tidak pernah dipikirkan bahayanya lalu dia dilemparkan ke dalam jahannam.” (HR. Bukhori no. 6478)*_
➡️ _Sesungguhnya karena lisan seseorang bisa terjerumus dalam jurang kebinasaan. Hendaklah seseorang berpikir dulu sebelum berbicara. Siapa tahu karena lisannya, dia akan dilempar ke neraka._
📚 *Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:*
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لاَ يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِى بِهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا فِى النَّارِ
_*“Sesungguhnya seseorang berbicara dengan suatu kalimat yang dia anggap itu tidaklah mengapa, padahal dia akan dilemparkan di neraka sejauh 70 tahun perjalanan karenanya.” (HR. Tirmidzi no. 2314. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib)*_
📚 *Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, juga bersabda:*
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا يَهْوِى بِهَا فِى النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ
_*“Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan barat.” (HR. Muslim no. 2988)*_
➡️ _Oleh karena itu, selayaknya bagi setiap orang yang ingin berbicara dengan suatu perkataan atau kalimat, untuk merenungkan terlebih dahulu apa yang akan ia ucap. Jika memang ada manfaatnya, barulah ia berbicara. Jika tidak, hendaklah dia menahan lisannya. Lebih-lebih kepada seorang *Muslim* yang lemah dan pada seorang *Muslim* yang ingin menjalankan ajaran *Islam* (berusaha memperbaiki diri atau berhijroh)._
➡️ _*Ibnul Mubarok* ditanya mengenai nasehat *Luqman* pada anaknya, lantas beliau berkata : “Jika berkata (dalam kebaikan) adalah perak, maka diam (dari berkata yang mengandung maksiat) adalah emas.” *(Dinukil dari Jami’ul ‘Ulum wal Hikam)*_
✍️ _Bahaya lisan sungguh besar dan urusannya menakutkan. Tiada yang selamat darinya, kecuali dengan diam dan tidak bicara kecuali bila perlu sekedar kebutuhannya sebagaimana penjelasan di atas menggunakannya sebagaimana mestinya._
➡️ _Diam itu lebih baik daripada berbicara sia-sia bahkan mencela atau mencemooh yang mengandung maksiat. Jagalah lisan dari durhaka pada guru dan orang tua, dari berkata dusta, ghibah, namimah, dan dari maksiat lainnya, lebih-lebih ketika berdakwah, janganlah engkau mencaci maki dan mencela keburukan saudaramu *Muslim* yang sedang berusaha untuk memperbaiki dirinya dalam menjalankan syari'at apalagi kepada saudaramu *Muslim* yang telah menjalankan syari'at, lebih-lebih kepada saudaramu yang telah menjalankan syari'at yang lemah (yang lagi dizalimi orang kafir atau penguasa zalim, yang lemah ekonomi, fisik dll)._ ```Semoga bermanfaat.```