Bumi singkil

Bumi singkil Konstribusi singkil untuk aceh,sumatra, negeri malaya, nusantara, indonesia dan dunia

14/11/2019
Tiada habis habis nya kita membahas historycal beliau, yg jelas argumen apapun yg dibawa kenegara negara Islam mereka ha...
27/08/2019

Tiada habis habis nya kita membahas historycal beliau, yg jelas argumen apapun yg dibawa kenegara negara Islam mereka hanya tau kalau beliau adalah pukak Malim deman Singkil..

Syekh Abdurrauf As Singkily

Beliau adalah salah satu dari empat ulama terkemuka yang pernah muncul di Aceh pada abad ke-17. Sedang yang tiga lagi adalah Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani dan Nuruddin Ar-Raniry. Para ahli sejarah memperkirakan bahwa ia lahir sekitar 1615 M (1035 H) di Singkil yang terletak di ujung paling selatan pantai barat Aceh, sekampung dengan Syekh Hamzah Fansuri dan juga putra dari saudara Syekh Hamzah Fansuri sendiri. Ia tumbuh dan berkembang sebagai calon ulama di Aceh pada masa negeri itu sedang berada dalam puncak kejayaan di bawah pimpinan sultannya yang terbesar, Sultan Iskandar Muda.
Demi untuk lebih memperdalam atau memperluas pengetahuan agamanya, ia berangkat ke negeri Arab sekitar tahun 1643 M (1064 H) pada saat negeri Aceh dipimpin oleh Sultanah Safiatuddin yang berada kekacauan politik dan pertentangan paham keagamaan.
Abdurrauf tidak segera langsung menuju Mekkah, tapi terlebih dahulu bermukim pada banyak tempat yang menjadi pusat-pusat pendidikan agama di sepanjang jalur perjalanan haji. Setelah beliau sampai di Mekkah dan Madinah beliau melengkapi ilmu lahir (ilmu Al-Qur’an, tafsir, hadits, fiqh) yang telah dimilikinya dan dilengkapi p**a dengan ilmu, yakni tasawuf dan thariqat. Setelah belajar di Madinah pada Syekh Thariqat Syatthariyah Ahmad Al Qusyasyi (wafat 1661 M/ 1082 H) dan kemudian pada khalifah atau penggantinya IbrahimAlqur’ani, beliau memperoleh ijazah dari pimpinan thariqat tersebut. Ini berarti ia telah beroleh pengakuan dan hak untuk mengajarkan Thariqat Syatthariyah itu pada orang lain atau untuk mendirikan cabang baru pada tempat lain. Banyak guru-guru besar yang ia mendapatkan ijazah ilmu pengetahuan dari padanya selama 19 tahun ia menuntut ilmu pengetahuan itu. Ia p**ang ke Aceh sebagai seorang ulama yang luas dalam ilmunya. Menurut perkiraan para ahli sekitar tahun 1662 M (1083 H), boleh jadi peranannya sebagai pengajar thariqat Syatthariah telah dimulainya di Madinah, menjelang p**ang ke Aceh, seperti yang disimpulkan oleh Snouck Houghranje dari penelitiannya atas silsilah-silsilah thariqat, yang tidak hanya tersebar di Sumatra tetapi juga di Jawa, yang sudah pasti beliau sesudah berada di Aceh, aktif mengajar dan tercatat sebagai ulama Indonesia yang menjadi mata rantai pertama dalam silsilah thariqat Syatthariah yang mengajar di Sumatra, Jawa atau tempat-tempat lain di Indonesia. Ia mengajar di Kuala atau muara krueng Aceh sampai wafat di sana pada tahun 1693 M (1105 H). Karena mengajar dan berkubur di kuala Aceh ia kemudian dikenal oleh masyarakat Aceh dengan sebutan Syiah Kuala. Selain mengajar ia juga menjalankan tugasnya sebagai m***i kerajaan Aceh Darussalam pada masa pemerintahan Sultanah Safiatuddin (1641 – 1675 M). Banyak karangan beliau baik dalam ilmu tafsir dan kitab tafsir pertama yang dihasilkan di Indonesia dan ilmu-ilmu lain.

23/08/2019

Sapo beulleun

Setidaknya bangsa Singkil pernah menyumbangkan pukak Malim deman-nyaUntuk Aceh dan Nusantara..
23/08/2019

Setidaknya bangsa Singkil pernah menyumbangkan pukak Malim deman-nya
Untuk Aceh dan Nusantara..

Tidak ada putra putri Singkil yg tidak berguna karena kemampuannya,Tapi tidak ada putra putri Singkil yang menjadi pedan...
09/08/2019

Tidak ada putra putri Singkil yg tidak berguna karena kemampuannya,
Tapi tidak ada putra putri Singkil yang menjadi pedangdut dijakarta musti diakui..😐😌

Dr Fadjri Alihar, Rela Disebut Doktor Gila Demi Menarik Wisatawan ke Singkil

===============

FADJRI Alihar bukanlah orang sembarangan. Meski penampilannya biasa-biasa saja, tapi putra asli Singkil ini ternyata salah seorang peneliti senior di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Ia saat ini sangat aktif mengembangkan potensi parawisata di Aceh Singkil untuk menarik kedatangan wisatwan. Bahkan, demi hal tersebut, Fadjri sampai disebut sebagai doktor gila karena membangun rumah besar yang di dalamnya diisi dengan barang bekas.

Hasratnya ini didasari penilaian kalau pariwisata merupakan potensi besar yang berada di depan mata demi menyejahterakan rakyat yang menghuni tanah kelahiran Syekh Abdurrauf As Singkili. Doktor lulusan Univesitas Kassel Jerman itu mengaku pernah melakukan penelitian wisata di Kep**auan Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar). Berdasarkan hasil penelitiannya, potensi pariwisata Mentawai kalah jauh dibanding objek wisata yang dimiliki Aceh Singkil, seperti Kep**auan Banyak dan Rawa Singkil. “Namun industri pariwisata Mentawai jauh lebih maju karena mereka mengelolanya dengan serius,” ulas Fadri saat diwawancarai Serambi di Sapo Belen (rumah besar) di Desa Pulo Sarok, Singkil, Minggu (4/8).

Belajar dari Mentawai, ucapnya, perlu partisipasi semua pihak dalam memajukan pariwisata Aceh Singkil, mulai pemerintah, pengusaha, hingga masyarakat. “Pemerintah fokus dalam pembenahan infrastruktur pendukung pariwisata yang selama ini menjadi faktor penghambat kemajuan. Sedangkan masyarakat berbuat sesuai kemampuan masing-masing,” terangnya.

Ia mencotohkan dirinya sendiri yang membangun rumah dengan bentuk anomali (unik) agar menarik wisatawan mancanegara. Rumah bernama Sapo Belen (rumah besar) di Desa Pulo Sarok, Singkil itu diisi dengan barang bekas. Tingkahnya itu sempat membuat Fadjri disebut doktor gila oleh sejawatnya sesama peneliti di LIPI. Namun begitu, kreativitasnya tersebut berhasil memikat para wisatawan. “Bahkan, teman-teman saya di Jakarta meminta diri diajak berkunjung ke Sapo Belen,” ungkap Fadjri.(dede rosadi)

09/08/2019

Address

Subulusalam

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Bumi singkil posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share