26/01/2026
Soraya Waterfall
Perjalanan menuju Air Terjun Soraya bukan sekadar soal jarak, tapi tentang proses menemukan keindahan yang tersembunyi.
Dari pusat Kota Subulussalam, roda kendaraan membawa kita menyusuri jalan nasional menuju Dermaga Kampong Pasir Belo. Sekitar 40 menit perjalanan darat terasa biasa saja, hingga petualangan sebenarnya dimulai. Perahu tradisional bermesin speed melaju perlahan menyusuri Sungai Lae Soraya, membelah hening hutan lindung di kawasan Ekowisata Lae Soraya, wilayah Hutan lindung bumper konservasi Taman Nasional Gunung Leuser. Selama hampir satu jam, mata dimanjakan oleh dinding hutan tropis yang rimbun, suara alam yang jujur, dan udara yang makin terasa bersih.
Sesampainya di tepian sungai, langkah kaki dilanjutkan sekitar 200 meter menembus jalur hutan. Dan di sanalah ia menampakkan diri, Air Terjun Soraya.
Semua lelah seketika luruh. Air terjun ini jatuh lebar dan tinggi, membentuk tirai alami yang megah. Dinding batunya tersusun unik, seolah dipahat dengan ritme teratur: garis-garis persegi yang tegas berpadu dengan alur air yang miring dan halus. Sebuah karya seni alam yang nyaris sempurna. Airnya jernih dan sejuk, mengundang siapa saja untuk berlama-lama, diam, dan menyatu dengan suasana.
Keistimewaan Soraya tak berhenti di situ. Di balik tirai air, tumbuh anggrek-anggrek batu yang menempel alami di dinding tebing. Saat musim mekar tiba, warna dan bentuknya menghadirkan pemandangan eksotis yang jarang dijumpai, sebuah rahasia alam yang hanya diberikan kepada mereka yang mau menempuh perjalanan.
Air Terjun Soraya bukan hanya destinasi, tetapi pengalaman. Tentang menyusuri sungai, menembus hutan, dan akhirnya menemukan ketenangan di jantung alam Kota 1001 Air Terjun Kota Subulussalam. Sebuah pengingat bahwa keindahan sejati sering kali tersembunyi, menunggu untuk ditemukan.
Loc. ๐ Ekowisata Lae Soraya Kp. Pasir Belo Kota Subulussalam
Inframe: