04/04/2017
Menelusuri malam di Yogyakarta, bisa ditutup dengan segelas Kopi Joss legendaris dari angkringan Lik Man. Wangi, rasa, dan cara pembuatannya begitu unik, tiada dua di Indonesia. Djlajah Jogja sengaja malam kemarin memesan segelas Kopi Joss di angkringan yang sudah ada sejak tahun 1960-an ini. Letaknya berada di sebelah utara Stasiun Tugu Yogyakarta dan bisa dicapai hanya dengan berjalan kaki dari Jalan Malioboro.
Beragam sajian khas angkringan ditata di atas bakul pikul yang menjadi daya tarik tempat ini. Pikulan ini dulu yang menjadi alat berjualan Mbah Pairo, perintis angkringan Lik Man.
"Dulu simbah jualan minuman keliling, kopi sama teh. Aslinya Klaten. Tahun 1965 baru diwariskan ke Bapak (Lik Man) terus menetap di sini," tutur putra semata wayang Lik Man, Kobar (43).
Di sepanjang Jalan Wongsodirdjan yang sempit ini tak hanya Lik Man, ada beberapa angkringan lain yang juga ramai pengunjung. Tapi memang Kopi Joss pertama kali diperkenalkan oleh sosok Lik Man
"Dulu Bapak buatnya kopi klotok (merebus kopi) pakai kaleng. Tapi Bapak punya ide untuk memasukkan mawa (arang yang membara) biar lebih matang lagi kopinya," ujarnya.
Sambil melayani pelanggan yang memesan, Kobar masih sempat mengobrol ramah dengan sejumlah pelanggan yang menyapanya. Bangku panjang disediakan tepat di hadapan Kobar, sehingga pengunjung bisa duduk, menyaksikan kopinya diracik, sambil mengobrol dengan Kobar.
Kobar meneruskan usaha sang ayah sejak tahun 2008. Kala itu Lik Man memutuskan pensiun meracik kopi dan memilih bertani di kampung halamannya, Klaten.
Sedangkan nama Joss diceritakan Kobar, diberikan oleh pelanggan-pelanggan setia angkringan Lik Man. Suara khas saat arang yang membara bertemu dengan seduhan kopi panas serta rasanya yang berani sehingga pas dinamai Kopi Joss.
"Racikan saya kendel (berani)," kata Kobar sambil tersenyum lebar.
Setelah bubuk kopi dan gula tercampur oleh air panas mendidih, Kodar lalu segera mengambil dua potong arang membara dari tungku di sebelahnya. Benar saja, bara api yang bertemu dengan seduhan kopi membuat permukaan gelas mengepulkan asap, berbuih, dan bersuara khas.
Josssss! Tak sedikit pengunjung yang sengaja mengabadikan bagian ini dengan kamera ponselnya.
Segelas Kopi Joss dihargai Rp 4.000, bubuk kopi yang dipilih turun temurun asli dari Yogyakarta bermerk Murni. Jika sedang ramai, sebanyak 15 bungkus kopi ukuran sedang dan satu karung besar arang habis diracik oleh tangan Kobar.
Angkringan Lik Man buka mulai pukul 14.00- 02.00 WIB. Semakin malam, suasana akan semakin ramai seperti siang. Jalanan yang sempit sesekali tersendat oleh mobil-mobil pengunjung.
Namun tak perlu khawatir kehabisan tempat duduk, trotoar sepanjang sekitar 50 meter yang sudah dialasi tikar siap menjadi tempat ngobrol santai menghabiskan malam.
Harganya yang merakyat membuat angkringan ini memiliki pelanggan dari berbagai kalangan. Kobar bercerita, pada tahun 1960-an hingga 1990-an, pelanggan kopinya lebih banyak tukang becak yang sehari-hari mangkal di Malioboro atau pegawai Stasiun Tugu.
"Tapi 2000-an mulai banyak mahasiswa berkelompok. Baru belakangan ini sudah lebih banyak wisatawan yang dari luar kota," imbuhnya.
Tak hanya wisatawan domestik, Kobar bercerita, tak jarang dia kedatangan tamu dari luar negeri yang sengaja mencari Kopi Joss Lik Man. "Ada yang dari Singapura, katanya kopi Joss di sana banyak dibicarakan," kata Kobar.
Beberapa tokoh, artis, dan seniman juga menjadi pelanggan kopi Joss ini hingga sekarang. Sebut saja Djaduk Ferianto, Ikang Fauzi, personel Band Letto, Bambang Trihatmodjo, dan seniman-seminam Yogyakarta lainnya kerap tampak lesehan menikmati kopi di sini. Akan lebih asikkk menikmati kopi jossss yang legendaris bersama Djlajah Jogja. Maau ke Jogja ingat Djlajah Jogja 😘