07/01/2026
mantaps
Dari HP Sederhana ke Pengakuan NASA, Jejak Nyata Aan Rehan di Dunia Keamanan Siber
Nama Aan Rehan mendadak dikenal luas setelah kisahnya menyebar dari Purbalingga, Jawa Tengah, hingga ke ranah keamanan siber internasional. Di usia 18 tahun, pemuda asal Desa Tunjung Muli ini menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi dan latar pendidikan non teknologi tidak selalu menjadi penghalang untuk menembus dunia digital global.
Rehan berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai kuli bangunan, sementara ia sendiri menempuh pendidikan di SMK Mutu Tunjung Muli dengan jurusan Agribisnis. Bidang yang dipelajarinya sama sekali tidak berkaitan dengan teknologi informasi atau pemrograman. Namun ketertarikan pada dunia siber tumbuh kuat sejak 2022, ketika isu kebocoran data dan peretasan besar ramai diperbincangkan di Indonesia.
Tanpa akses laptop atau perangkat mahal, Rehan belajar secara otodidak hanya menggunakan ponsel pintar yang spesifikasinya terbatas. Dari layar kecil itu, ia mempelajari dasar keamanan siber, ethical hacking, pemetaan aset situs web, hingga cara mengidentifikasi potensi kebocoran data. Sumber belajarnya berasal dari video edukasi, forum daring, serta dokumentasi terbuka yang tersedia gratis di internet.
Ketelitian dan konsistensi membawanya pada capaian yang tidak biasa. Rehan berhasil menemukan celah keamanan pada sistem publik milik NASA melalui jalur resmi Vulnerability Disclosure Program. Program ini memang dibuka untuk umum dan memungkinkan siapa saja melaporkan kerentanan secara legal dan etis. Temuan yang dinilai valid akan mendapat pengakuan resmi dari NASA.
Atas laporannya tersebut, Rehan menerima sertifikat apresiasi dan namanya tercantum dalam daftar pengakuan atau Hall of Fame sebagai kontributor keamanan sistem. Pengakuan ini bukan berarti bekerja atau memiliki akses ke sistem internal NASA, melainkan bukti bahwa laporannya membantu meningkatkan keamanan platform publik lembaga antariksa tersebut.
Kontribusinya tidak berhenti di tingkat internasional. Di level lokal, Rehan juga pernah melaporkan kebocoran data warga Purbalingga yang tersebar di internet. Laporan itu membantu pihak terkait mengambil langkah pengamanan sebelum data disalahgunakan lebih jauh.
Di tengah kemampuan yang dimilikinya, Rehan memilih jalur white hat hacker. Ia secara sadar menolak menggunakan keahliannya untuk tindakan ilegal. Baginya, kepuasan terbesar datang saat celah yang ia temukan ditutup dan sistem menjadi lebih aman bagi banyak orang.
Saat ini, Rehan masih menyimpan impian sederhana namun penting, memiliki sebuah laptop. Ia meyakini perangkat yang lebih layak akan membantunya memperdalam ilmu keamanan siber dan membuka jalan menuju cita citanya menjadi Polisi Siber. Dari sebuah ponsel sederhana di desa kecil, langkah Rehan menjadi contoh nyata bahwa literasi digital dan ketekunan bisa melampaui batas ruang, fasilitas, dan latar belakang.