Birô Peuneurangan Atjèh Meurdéka AM1976

Birô Peuneurangan Atjèh Meurdéka AM1976 Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Birô Peuneurangan Atjèh Meurdéka AM1976, Political organisation, Seulimeum.

25/09/2018

Apa yg sudah saya sumbangkan utk Aceh ???

Wali Tgk Hasan Tiro sdh mengorbankan hidupnya dan keluarganya demi rakyat Aceh..

Seulamat Uroe Lahe Paduka Jang Mulia Wali Neugara Atjeh. Tanggal, 25 September 1925. Tengku Hasan Bin Muhammad di Tiro atau Tengku Chik di Tiro Hasan Muhammad dilahirkan dari orang tua Ulama dan tokoh pejuang. Beliau membangunkan rakyat dari tidur panjang, memahat identitas di dalam diri orang Aceh. Meneruskan perjuangan èndatu, sampai akhir hayat nya... Semoga Allah meluaskan kubur Tengku, semoga Allah memuliakan bersama para syudaha' dan aulia'. Amin....

Kita Berjuang Atas Nama Negara Sambungan.Kalau Bukan Atas Negara Sambungan (Successor State) Yang Kita Dirikan, Berarti ...
03/08/2018

Kita Berjuang Atas Nama Negara Sambungan.
Kalau Bukan Atas Negara Sambungan (Successor State) Yang Kita Dirikan, Berarti Kita Sudah Melemahkan Sendiri Kedudukan Legal Dan Kedudukan Politik Kita Di Dunia.

Kalau Bukan Atas Negara Sambungan (Successor State) Yang Kita Dirikan, Berarti Kita Sudah Mengkhinati Sejarah Perjuangan Endatu Endatu Kita Yang Bergelimang Mayat, Darah Dan Air Mata Di Setiap Pelosok Tanah Aceh.

Kalau Bukan Atas Negara Sambungan (Successor State) Yang Kita Dirikan, Berarti Kita Sudah Mengkhinati Hak Pusaka Endatu Kita Yang Sudah Di Akui Dan Di Hormati Dunia.

Kalau Bukan Atas Negara Sambungan ( Successor State) Yang Kita Dirikan, Berarti Kita Sudah Mengkhinati Sejarah Kita Sendiri Yang Tidak Bisa Di Pertengkarkan Lagi ( Undisputed History).

Kalau Bukan Atas Negara Sambungan ( Successor State) Yang Kita Dirikan, Berarti Kita Sudah Memutuskan Hubungan Dengan Sejarah Kita Yang Gilang Gemilang, Berarti Di Sini Kita Sudah Memberi Kesempatan Kepada Si Penjajah Kolonialis Indonesia Dan Kaki Kaki Tangannya Untuk Membenarkan Bandit Bandit Jawa, Bahwa Sejarah Kita Bohong Dan Kalau Bukan Atas Negara Sambungan ( Successor State) Yang Kita Dirikan, Maka Negara Negara Dunia Pasti Akan Membuat Persyaratan Bahwa Wali Negara Kita Wajib Di Pilih Dulu Dalam Pemilihan Umum Sebelum Di Akui Dan Baru Di Terima Untuk Berbicara Dengan Dunia.

Oleh Karena Dasar Negara Sambungan ( Successor State) Itulah Almarhum Wali Negara Tgk Hasan Muhammad Di Tiro Menyatakan Kembali Kemerdekaan Aceh Pada 4 December 1976, Pernyataan Ini Di Terima Oleh Masyarakat Politik Dunia Internasional Dengan Alasan Alasan Yang Kuat Berdasarkan Fakta Sejarah Masa Silam.

PESAN SAYA "HARGAILAH PENGORBANAN ENDATU ENDATU KITA DAN PENGORBANAN ALMARHUM TGK HASAN MUHAMMAD DI TIRO".

INGAT..TIDAK ADA SATU PUN BANGSA DI DUNIA INI HIDUP SEJAHTRA BILA MASIH DALAM GENGGAMAN SI PENJAJAH..

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIMKEPADA BANGSA-BANGSA DI DUNIA,Kami bangsa Acheh Sumatra, telah melaksanakan hak hak kami untuk m...
24/07/2018

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

KEPADA BANGSA-BANGSA DI DUNIA,

Kami bangsa Acheh Sumatra, telah melaksanakan hak hak kami untuk menentukan nasib sendiri, dan melaksanakan tugas kami untuk melindungi hak suci kami atas tanah pusaka peninggalan nenek moyang, dengan ini menyatakan diri kami dan negeri kami bebas dan merdeka dari penguasaan dan penjajahan regime asing Jawa di Jakarta.

Tanah air kami Acheh, Sumatera, telah menjadi satu negara yang bebas, merdeka dan berdaulat selama dunia terkembang, Belanda adalah penjajah asing yang pertama datang mencoba menjajah kami ketika ia menyatakan perang kepada negara Acheh yang merdeka dan berdaulat, pada 26 Mart 1873, dan melakukan serangan atas kami pada hari itu juga, dengan dibantu oleh serdadu-serdadu sewaan Jawa, apa kesudahannya serangan Belanda ini sudah tertulis pada halaman muka surat-surat kabar di seluruh dunia, surat kabar London "Times" menulis pada 22 April, 1873:

"Suatu kejadian yang sangat menarik hati sudah diberitakan terjadi di kepulauan Hindia Timur, satu kekuatan besar dari tentara bangsa Eropah sudah dikalahkan dan dipukul mundur oleh tentara anak negeri... tentara negara Acheh, bangsa Acheh sudah mendapat kemenangan yang menentukan. Musuh mereka bukan saja sudah kalah, tetapi dipaksa melarikan diri".

Surat kabar Amerika, "The New York Times" pada 6 Mei 1873, menulis: "Peperangan yang berkubang darah sudah terjadi di Acheh, kerajaan yang memerintah Sumatra Utara, tentara Belanda sudah menyerang negara itu dan kini kita sudah mengetahui kesudahannya, serangan Belanda telah dibalas dengan penyembelihan besar-besaran atas Belanda, jenderal Belanda sudah dibunuh, dan tentaranya melarikan diri dengan kacau balau. Menurut kelihatan, sungguh-sungguh tentara Belanda sudah dihancur leburkan.

Kejadian ini telah menarik perhatian seluruh dunia kepada kerajaan Acheh yang merdeka dan berdaulat lagi kuat itu. Presiden Amerika Serikat, Ulysses S. Grant sengaja mengeluarkan satu pernyataan yang luar biasa menyatakan negaranya mengambil sikap neutral yang adil, yang tidak memihak kepada Belanda atau Acheh, dan ia meminta agar negara-negara lain bersikap sama sebab ia takut perang ini bisa meluas.

Para hari 25 Desember (hari natal), 1873, Belanda menyerang Acheh lagi, untuk kali yang kedua, dengan tentara yang lebih banyak lagi, yang terdiri dari Belanda dan Jawa, dan dengan ini mulailah apa yang dinamakan oleh majalah Amerika "Harper's magazine" sebagai "perang seratus tahun abad ini". Satu perang penjajahan yang paling berlumur darah, dan paling lama dalam sejarah manusia, dimana setengah dari bangsa kami sudah memberikan korban jiwa untuk mempertahankan kemerdekaan kami. Perang kemerdekaan ini sudah diteruskan sampai pecah perang dunia ke-II, delapan orang nenek dari yang menandatangani pernyataan ini sudah gugur sebagai syuhada dalam mempertahankan kemerdekaan kami ini. Semuanya sebagai Wali Negara dan Panglima Tertinggi yang silih berganti dari negara islam Acheh Sumatra.

Tetapi sesudah Perang Dunia ke-II, ketika Hindia Belanda katanya sudah dihapuskan, tanah air kami Acheh Sumatra, tidaklah dikembalikan kepada kami, sebenarnya Hindia Belanda belum pernah dihapuskan. Sebab sesuatu kerajaan tidaklah dihapuskan kalau kesatuan wilayahnya masih tetap dipelihara -sebagai halnya dengan Hindia Belanda, hanya namanya saja yang ditukar dari "Hindia Belanda" menjadi "Indonesia" Jawa, sekarang bangsa Belanda telah digantikan oleh bangsa Jawa sebagai penjajah, bangsa Jawa itu adalah satu bangsa asing dan bangsa seberang lautan kepada kami bangsa Acheh-Sumatera. Kami tidak mempunyai hubungan sejarah, politik, budaya, ekonomi dan geografi (bumi) dengan mereka itu. Kalau hasil dari penaklukan dan penjajahan Belanda tetap dipelihara bulat, kemudian dihadiahkan kepada bangsa Jawa, sebagaimana yang terjadi, maka tidak boleh tidak akan berdiri satu kerajaan penjajahan Jawa diatas tempat penjajahan Belanda. tetapi penjajahan itu, baik dilakukan oleh orang Belanda, Eropah yang berkulit putihm atau oleh orang Jawa, Asia yang berkulit sawo matang, tidaklah dapat diterima oleh bangsa Acheh, Sumatera.

"Penyerahan kedaulatan" yang tidak sah, illegal, yang telah dilakukan oleh penjajah lama, Belanda, kepada penjajah baru, Jawa, adalah satu penipuan dan kejahatan politik yang paling menyolok mata yang pernah dilakukan dalam abad ini: sipenjajah Belanda kabarnya konon sudah menyerahkan kedaulatan atas tanah air kita Acheh, Sumatera, kepada satu "bangsa baru" yang bernama "Indonesia". Tetapi "Indonesia" adalah kebohongan, penipuan, dan propaganda, topeng untuk menutup kolonialisme bangsa Jawa. Sejak mulai dunia terkembang, tidak pernah ada orang, apalagi bangsa, yang bernama demikian, di bagian dunia kita ini. Tidak ada bangsa yang bernama demikian di kepulauan Melayu ini menurut istilah ilmu bangsa (ethnology), ilmu bahasa (philology), ilmu asal budaya (cultural antropology), ilmu masyarakat (sociology) atau paham ilmiah yang lain, "Indonesia" hanya merek baru, dalam bahasa yang paling asing, yang tidak ada hubungan apa-apa dengan bahasa kita, sejarah kita, kebudayaan kita, atau kepentingan kita, "Indonesia" hanya merek baru, nama pura-pura baru, yang dianggap boleh oleh Belanda untuk menggantikan nama "Hindia Belanda" dalam usaha mempersatukan administrasi tanah-tanah rampasannya di dunia Melayu yang amat luas ini, sipenjajah Jawapun tahu dapat menggunakan nama ini untuk membenarkan mereka menjajah negeri orang di seberang lautan. Jika penjajahan Belanda adalah salah, maka penjajahan Jawa yang mutlak didasarkan atas penjajahan Jawa itu tidaklah menjadi benar. Dasar yang paling pokok dari hukum internasional mengatakan: "Ex Injuria Jus Non Oritur"- Hak tidak dapat berasal dari yang bukan hak, kebenaran tidak dapat berasal dari kesalahan, perbuatan legal tidak dapat berasal dari illegal.

Meskipun demikian, bangsa Jawa tetap mencoba menyambung penjajahan Belanda atas kita walaupun Belanda sendiri dan penjajah penjajah barat lainnya sudah mundur, sebab seluruh dunia mengecam penjajahan. Dalam masa tiga-puluh tahun belakangan ini kami bangsa Acheh, Sumatera, sudah mempersaksikan betapa negeri dan tanah air kami telah diperas habis-habisan oleh sipenjajah Jawa; mereka sudah mencuri harta kekayaan kami; mereka sudah merusakkan pencaharian kami; mereka sudah mengacau pendidikan anak kami; mereka sudah mengasingkan pemimpin-pemimpin kami; mereka sudah mengikat bangsa kami dengan rantai kezaliman, kekejaman, kemiskinan, dan tidak peduli: masa hidup bangsa kami pukul rata 34 tahun dan makin sehari makin kurang. Bandingkan ini dengan ukuran dunia yang 70 tahun dan makin sehari makin bertambah, sedangkan Acheh, Sumatera, mengeluarkan hasil setiap tahun bagi sipenjajah Indonesia-Jawa lebih 15 milyar dollar Amerika yang semuanya dipergunakan untuk kemakmuran pulau Jawa dan bangsa Jawa.

Kami, bangsa Acheh, Sumatera, tidaklah mempunyai perkara apa-apa dengan bangsa Jawa kalau mereka tetap tinggal di negeri mereka sendiri dan tidak datang menjajah kami, dan berlagak sebagai "Tuan" dalam rumah kami, mulai saat ini, kami mau menjadi tuan di rumah kami sendiri; hanya demikian hidup ini ada artinya, kami mau membuat hukum dan undang-undang kami sendiri; yang sebagai mana kami pandang baik; menjadi penjamin kebebasan dan kemerdekaan kami sendiri; yang mana kami lebih dari sanggup; menjadi sederajat dengan semua bangsa-bangsa di dunia; sebagaimana nenek moyang kami selalu demikian, dengan pendek: Menjadi berdaulat atas persada tanah air kampung kami sendiri.

Perjuangan kemerdekaan kami penuh keadilan, kami tidak menghendaki tanah bangsa lain- bukan sebagai bangsa Jawa datang merampas tanah kami, tanah kami telah dikaruniai Allah dengan kekayaan dan kemakmuran, kami berniat memberi bantuan untuk kesejahteraan manusia sedunia, kami mengharapkan pengakuan dari anggota masyarakat bangsa-bangsa yang baik, kami mengulurkan persahabatan kepada semua bangsa dan negara dari ke-empat penjuru bumi.

ATAS NAMA BANGSA ACHEH, SUMATERA, YANG BERDAULAT.

Tengku Hasan Muhammad Di TiroKetua, Angkatan Acheh, Sumatera Merdeka dan Wali Negara.

Acheh, Sumatera, 4 Desember 1976

Cut Rasikin Tokoh Referendum Aceh,..syahid dalam Penjara Lhoknga Aceh Besar..? Awak Gampong Labui Sigli yg terlupakan...
14/06/2018

Cut Rasikin Tokoh Referendum Aceh,..syahid dalam Penjara Lhoknga Aceh Besar..? Awak Gampong Labui Sigli yg terlupakan...

*بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ   الرَّحِيْـــــم*   السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ تَقَبّ...
14/06/2018

*بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم*
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّا وَمنِْكُمْ صِيَامَنَا وَصِيَامَكُمْ,
كُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ. اَللّهُمَّ اجْعَلْنَا وَإِيَّاكُمْ مِنَ العَاءِدِيْنَ وَالفَاءِزِيْنَ وَالمَقْبُوْلِيْنَ.
Seulamat urôe raya puasa, 1 Syawal 1439 H,kamoe jajaran atjèh muerdéka, lakèë meuah lahèë dan baten. Semoga Allah neubri berkat umu Payang untôk Ramadhan thoen ukeu. Aamiiin.
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Biro peuneurangan AM1976

14/06/2018

ARIFFADHILLAH CURI SERBAN TENGKU CHIK DI TIRO

>From: lampu sorot
>To: [email protected]
>Sent: Sunday, April 1, 2012 5:09 AM
>
>Subject: |IACSF| ARIFFADHILLAH CURI SERBAN TENGKU CHIK DI TIRO
>
>
> Assalamu'alaikum Wr.Wb.,
>
>
>GEMPAR
>Selebaran berlambangkan Buraq dan Singa bertaburan dimana-mana, undangan untuk menghadiri perhelatan besar yang diseponsori Poros Musang Berbulu Ayam, Arif Fadhillah-Dr Husaini Hasan MD (AF-HH), 6-8 April 2012 di Denmark.
>
>
>Belum pernah Kop Surat Kebesaran GAM/ASNLF diobral murah semacam itu dimasa hidup Wali Negara (WN) sekalipun.
>Lagaknya, seolah-olah Arief Fadhillah (AF) lah sang Putra Mahkota Famili Di Tiro, yang menunggu harinya menuju takhta Wali Negara. Ecèk-ecèk nya dimuka bumi ini Arief Fadhillah-lah yang paling pantas dan berhak atas pusaka peninggalan Famili Di Tiro.
>
>
>POROS MUSANG BERBULU AYAM
>Indonesia penasaran, dikarenakan kubu Tengku Malik Mahmud - Dr. Tengku Zaini Abdullah, menolak pembubaran GAM/ ASNLF secara terang2an, berdalih dengan alasan bahwa GAM sebagai para pihak yang berunding di Helsinki, kapan2 masih diperlukan untuk pembahasan materi yang tak terduga.
>
>
>Indonesia sangat kecewa, oleh sebab itu Intelijen Indonesia bersekongkol dengan Poros Musang Berbulu Ayam Arief Fadhilah - Hussaini Hasan, untuk menghancur-leburkan GAM/ ASNLF, atau ASNLF/ GAM dari dalam, untuk menciptakan huru-hara baru mirip perseteruan GAM lawan MP-GAM diabad lalu.
>
>KEPALSUAN MENCOLOK MATA
>Didalam negeri, sepanjang hayatnya tidak ada sumbangan berarti terhadap gerilyawan GAM, tidak pernah memberikan 10 ton beras pun.
>Di luar negeri, persoalan suaka politik dirinya dengan Pemerintah Jermanpun berlarut-larut. Mengapakah Jerman sangat hati2?
>
>
>Karena keterlibatan Arif Fadhillah dalam GAM sangat tipis. Mengapakah negara2 Eropa lainnya tidak segera menolong Arief Fadhilah? Ini juga memperlihatkan bukti keterlibatan Arief Fadhilah dalam GAM sangat minimal. Nah, dalam keadaan dhaif demikian rupa, lantas dengan nafsu yang bergelora Arif Fadhillah memposisikan dirinya sebagai Putra Mahkota Gadungan Famili Di Tiro yang ingin melompat ke tahta Wali Negara.
>
>Yang paling parah lagi, ketika WN meninggal dunia belum lama berselang, tidak kedengaran Arif Fadhillah menyatakan belasungkawa didepan umum atau seruan berdo'a, sebagaimana layaknya kalau Arief Fadhilah memposisikan dirinya sebagai ahli waris. Bagaimana Arief Fadhilah menjadi Wali Negara, untuk mengurus perang gerilya, padahal kulitnya belum pernah tergores lalangpun di medan juang. Kan ini namanya palsu. Bagai Pungguk Rindukan Bulan.
>
>Arif Fadhillah dan Dr Husaini Hasan MD menyusup masuk Danmark pada akhir Desember 2011, hanya untuk mempersiapkan siasat Poros Musang Berbulu Ayam. Tetapi Arif Fadhillah tidak masuk Denmark, dalam rangka meninggal nya WN, ketika warga Achèh disana ramai2 berdo'a memohon keampunan kepada WN, untuk memimpin acara berdo'a, atau sekurang-kurangnya ikut sama2 berdo'a. Ini bukti paling jelas bahwa Arif Fadhillah mencurahkan perhatiannya hanya untuk merebut pusaka, tanpa sedikit pun memiliki ikatan batin, historis, politik, dan ideologi dengan WN.
>
>HEBOH BESAR
>Diawal tahun 2011 Dr Husaini Hasan MD bertemu dengan Tangan Kanan Susilo Bambang Yudhoyono, di Malaysia. Uang Sogok membuat Dr Husaini Hasan MD, berobah total. Semenjak itu ia meniup serunai lagu misi terselubungnya dengan Intelijen Indonesia.
>
>
>Tak segan2 ia mengatakan bahwa, merdeka adalah mustahil bagi Achèh, karena Indonesia sangatlah kuat disegala bidang. Hanya ada satu pilihan berkompromi, ditegaskannya berulangkali, kemanapun dia pergi. Karena ini telah diucapkannya berulang kali, bisa jadi inilah prinsip Dr Husaini Hasan MD dalam lubuk hatinya. Jadi aneh sekali kalau dia konon mau mendirikan organisasi perjuangan Achèh.
>
>
>Maka sangatlah mudah dipahami , sebenar nya yang ingin diciptakannya adalah huru-hara baru, model permusuhan GAM lawan MP-GAM diabad lalu, dan Hussaini Hasan, telah sangat berpengalaman dalam urusan seperti itu.
>Kalau di MoU Helsinki dipakai istilah " Self-Government ", untuk menipu Achèh, maka Dr Husaini Hasan MD pun sudah siap dengan konsep Negara Achèh Merdeka model "commonwealth".
>
>
>Ini kan aneh, mana ada istilah negara "commonwealth" di Indonesia, itukan istilah negara2 peninggalan Inggris. Atau satu konsep lagi Negara Achèh Merdeka dengan Polisi orang Acèh dan Tentara Orang Jawa (TNI).
>
>
>Sangatlah janggal sebuah negara merdeka di dunia yang mempercayakan pertahanan kedaulatan negaranya kepada musuh kolonialisme, seperti hal nya Achèh dengan Indonesia. Ini kan lagi2 Wah-Kepala.
>
>KECAMAN BERTUBI-TUBI
>Tidak habis2nya Dr Husaini Hasan MD mengecam kubu Tengku Malik Mahmud-Dr. Tengku Zaini Abdullah gara2 MoU Helsinki, tetapi dia tidak mengecam dirinya sendiri padahal berperilaku sama bila sudah diberikan Uang Sogok oleh Indonesia. Pertemuan rahasia Dr Husaini Hasan MD di Malaysia dengan Utusan Khusus SBY, membuat HH terus menjadi ujung tombak Intelijen Indonesia untuk me

Teritorial ACHEH
13/06/2018

Teritorial ACHEH

Address

Seulimeum

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Birô Peuneurangan Atjèh Meurdéka AM1976 posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share