Montong Betok

Montong Betok Desaku tercinta Montong betok Kecil tapi aman dan damai

TENTANG WAKTU DAN LUKA​Barangkali sejarah adalah sebuah igauan panjang yang enggan usai. Di Montong Betok, ingatan itu m...
11/05/2026

TENTANG WAKTU DAN LUKA

​Barangkali sejarah adalah sebuah igauan panjang yang enggan usai. Di Montong Betok, ingatan itu menetap selama tujuh dasawarsa lebih—sebuah rentang waktu di mana kekuasaan merawat dirinya sendiri melalui darah dan silsilah. Sejak sebelum 1889 hingga fajar 1951, desa itu tegak di atas sendi monarki yang ganjil: sebuah pemerintahan kaum bangsawan yang berkelindan erat dengan bayang-bayang kolonial.

​Leluhur kita, mungkin, tak sepenuhnya keliru. Mereka hanya bidak yang bergerak di atas papan catur yang disusun oleh hukum Belanda. Di sana, kepemimpinan bukanlah pilihan, melainkan takdir yang turun-temurun, sebuah mandat yang dipaksakan oleh undang-undang penjajah.
​Baru pada 1951, rakyat Montong Betok memutuskan untuk berhenti bermimpi dan mulai bertindak. Sebuah revolusi pecah. Demokrasi pun tiba, meski kita tahu, ia sering datang dengan napas yang tersengal.

"​Perihal Revolusi dan Penantian"

​Sebenarnya, getar kemerdekaan itu sudah menyusup ke sela-sela dinding bambu sejak 1947. Rakyat mulai mengecap makna kedaulatan. Namun, revolusi selalu punya tabiatnya sendiri: ia adalah pernyataan yang tak acuh kepada waktu. Bagi mereka yang tak sabar, revolusi seolah-olah bukan lagi politik dengan cara lain, melainkan sebuah ledakan yang niscaya.
​Namun, sebelum ledakan itu tiba, ada perih yang panjang.

"​Ruang yang Tertutup"

​Di masa itu, pengetahuan adalah barang mewah yang dijaga ketat. Rakyat jelata dilarang menyentuh bangku sekolah. Baru pada 1927, Sekolah Rakyat (SR) membuka pintunya, itu pun hanya sebatas kelas tiga—seolah-olah kecerdasan rakyat memang sengaja dipangkas agar tak melampaui batas pagar kasta.
​Namun, sejarah selalu punya celah. Kita mengenang Amaq Laji yang pada 1932, dengan sembunyi-sembunyi, mengantar anaknya, Amaq Kalsum, menembus sunyi menuju Selong demi kelas IV dan V Vervolgschool. Langkah sunyi itu kemudian diikuti oleh Jumahir dan Abdulhamid pada 1934, lalu Kamarudin serta Badlun yang berkelana hingga ke Praya. Mereka adalah para pencuri api yang membawa terang ke dalam kegelapan desa.

"​Tubuh yang Merunduk"

​Kenangan itu tak mudah mengabur; ia membuntuti seperti bayang-bayang di sore hari. Kita ingat bagaimana tata krama berubah menjadi belenggu. Antara "Kaula" dan "Pemekel", ada jarak yang dijaga oleh lutut yang bergeser di tanah—sebuah laku bernama ngesot.
​Di hadapan bangsawan, tubuh rakyat harus ditekuk, kepala harus merunduk. Bahkan suara derap kaki kuda sang pemimpin dari kejauhan sudah cukup untuk membuat rakyat menepi, bersembunyi, atau mengecilkan diri dalam sikap sembah. Pakaian pun menjadi penanda kasta: kain yang melekat di tubuh tak boleh menyamai keagungan sang penguasa.

​Kini, setelah kemerdekaan lama berlalu, hal-hal itu mulai luruh. Namun, bukankah ingatan tentang martabat yang pernah dilipat itu selalu punya cara untuk kembali, mengingatkan kita bahwa kedaulatan adalah sesuatu yang harus terus-menerus diperjuangkan, agar tak ada lagi lutut yang harus melecet demi sebuah penghormatan yang dipaksakan?

Montong Betok: Sebuah Fragmen di Tepian Waktu​I.Pada 12 Mei 1951, rakyat di Montong Betok seakan terbangun dari tidur ya...
09/05/2026

Montong Betok: Sebuah Fragmen di Tepian Waktu

​I.
Pada 12 Mei 1951, rakyat di Montong Betok seakan terbangun dari tidur yang panjang dan pengap. Hari itu, rantai penjajahan dan beban tua feodalisme dipatahkan. Mereka tak lagi hanya menjadi angka dalam upeti, melainkan subjek yang menatap cakrawala dengan kepala tegak.

​II.
Waktu bergegas ke November 1959. Montong Betok bukan lagi sekadar nama di peta Lombok Timur; ia menjelma teladan. Dari sana, Guru Kamar—sang Kepala Desa—melintasi laut menuju Pejaten, Pasar Minggu. Di Jakarta yang riuh, ia menyelami Kursus Kader Pembangunan Masyarakat Desa, membawa p**ang sebentuk harapan tentang bagaimana sebuah komunitas semestinya dirajut.

​III.
Tahun 1968, sejarah kembali memanggilnya ke Bandung. Departemen Sosial mengumpulkan para kader perumahan rakyat dalam semangat gotong royong. Guru Kamar ada di sana, bersinar di antara yang lain. Ia sejatinya terpilih menjadi ketua untuk tingkat nasional—sebuah pengakuan atas kecakapan yang melampaui batas wilayah.
​Namun, ada semacam ganjalan laten dalam struktur kita: karena ia datang dari luar Jawa, posisi itu harus bergeser. Ia ditunjuk sebagai wakil, sementara kursi ketua diserahkan kepada Sudarsono, Kepala Desa Jombang. Di sana kita melihat, betapa geografi terkadang masih menjadi dinding bagi prestasi.

​IV.
Di tahun yang sama, sebuah kursus tingkat provinsi digelar. Pengajarnya adalah mereka yang telah lulus dari kawah candradimuka di tingkat nasional. Guru Kamar berdiri di depan kelas, menghadapi para siswa yang datang dari birokrasi provinsi.
​Pada ujung masa belajar, ketika para siswa diminta menilai siapa yang paling jernih menyampaikan ilmu dan paling menyentuh dalam cara mengajar, nama itu kembali muncul. Di antara para kader terbaik negeri, Guru Kamar dari Montong Betoklah yang menduduki tempat tertinggi. Sebuah bukti bahwa kecerdasan dan karisma tak pernah butuh legitimasi pusat untuk dapat berpendar.
berat

BENTENG: Fragmen-Fragmen yang Liat​I​Ada sesuatu yang ganjil sekaligus puitis ketika maut tak lagi mengetuk pintu sebaga...
05/05/2026

BENTENG: Fragmen-Fragmen yang Liat

​I

​Ada sesuatu yang ganjil sekaligus puitis ketika maut tak lagi mengetuk pintu sebagai tamu, melainkan hadir sebagai udara yang dihirup sehari-hari. Kita melihatnya dalam bayang-bayang sejarah Montong Betok: orang-orang yang menenteng keris dengan jemari yang tenang, pedang yang diangkat tinggi seakan hendak membelah langit, dan ujung tombak yang berkilat di bawah matahari. Di sana, di antara ritual yang khusyuk dan debu yang beterbangan, garis antara hidup dan mati menjadi tipis, setipis doa yang dipanjatkan sebelum serbu.
​Ketika perang antara Kerajaan Bali dan kekuasaan kolonial Belanda pecah, sebuah batas tak hanya ditarik di atas peta, tapi juga di atas tanah yang basah oleh keringat. Di dasan Teluk dan dasan Pelolat—dua garda terdepan di tanah milik Raden Belian—para tetua desa membangun benteng. Tapi mereka tahu, benteng kayu dan tanah hanyalah raga. Jiwa dari pertahanan itu adalah sebuah antisipasi yang waspada terhadap serangan tak terduga dari Kotaraja.

​II

​Namun, sejarah seringkali lebih tertarik pada manusia daripada pada batu. Dasan Pelolat, misalnya. Nama itu bukan sekadar penanda geografis, melainkan sebuah maklumat tentang daya tahan. Pelolat, dari kata lolat, yang berarti "licin". Konon, kulit para penghuninya memiliki hubungan yang aneh dengan senjata tajam: golok dan parang akan terpeleset, gagal mencari celah untuk merobek daging.
​Masyarakat di sana adalah mereka yang tumbuh dari benturan. Mereka seakan rindu akan pertempuran, bukan karena haus darah, tapi karena di dalam kancah itulah identitas mereka diuji. Sejarah kemudian mencatat Pelolat sebagai "benteng manusia" yang tak kunjung pecah.
​Saya teringat pada sebuah fragmen kecil, mungkin remeh bagi para sejarawan besar, tapi abadi dalam ingatan lokal. Ada seorang lelaki bernama Amaq Udin Belo. Suatu siang yang terik, ketika tenggorokannya serasa menjadi padang pasir, ia berdiri di depan pohon kelapa setinggi lima belas meter. Ia tak memanjat. Dengan sebuah laku yang efisien—hampir mirip sebuah adegan film yang sureal—ia hanya melemparkan sebongkah batu. Kelapa itu jatuh. Ada kekuatan yang terukur, sebuah harmoni antara niat dan alam yang hanya dimiliki oleh mereka yang hidup dekat dengan misteri.

​III

​Lalu, ada kisah tentang Mahir di tahun 1970. Ia kedapatan mencuri pakaian seorang pegawai Balai Pengobatan bernama Daeng Hasanung. Di depan saya, ia bungkam, sebuah kebungkaman yang keras kepala. Dalam sebuah momen yang penuh amarah, saya mengambil cambuk dari ekor ikan pari—benda yang panjangnya hampir satu meter, yang kelak dipinjam oleh seseorang bernama Badri dan hilang ditelan waktu.
​Cambuk itu saya sebatkan berkali-kali ke pipinya. Tapi aneh, Mahir tak memasang raut kesakitan. Kulitnya tak berbekas, seolah-olah cambuk ekor pari itu hanyalah belaian angin. Di sana saya paham, "kelolatan" atau kelicinan itu bukan sekadar mitos masa lalu; ia adalah warisan yang masih berdenyut di bawah pori-pori.
​Bukti lain hadir melalui api. Tahun 1973, sebuah kebakaran hebat menghanguskan dasan Pelolat akibat tungku masak ketupat yang terlupa. Di balik abu dan puing rumah yang runtuh, ditemukan puluhan tombak, keris, dan kelewang yang tersimpan rapi selama puluhan tahun. Senjata-senjata itu adalah artefak diam dari sebuah desa pejuang yang selalu bersiaga, bahkan ketika zaman telah berganti rupa.

​IV

​Kekuasaan, sebagaimana kita tahu, selalu memiliki cara untuk berganti baju. Ketika perang berakhir di tahun 1889 dengan kemenangan Belanda, Montong Betok pun tunduk pada administratif kolonial.
​Sebelum tahun itu, kita mengenal sistem monarki yang personal: Raden Belian, sang penguasa tunggal yang menerima tanah itu sebagai anugerah dari Desa Kilang, lalu dilanjutkan oleh Raden Sinung. Namun, ketika Raden Sinung menua dan putranya, Lalu Rahmat, masih terlalu kanak-kanak untuk memegang kendali, birokrasi Belanda melakukan intervensi. Mereka "meminjam" Mamiq Sam, seorang bangsawan dari Masabagik, untuk menjadi kepala desa sementara.
​Nama-nama kemudian berderet dalam catatan resmi: Mamiq Sam, Lalu Rahmat (H. Nasrudin), Mamiq Fatemah (H. Abdulwahab), Mamiq Putrasih, hingga Mamiq Sakmah.
​Mamiq Sakmah naik di tahun 1942, tepat ketika sepatu lars serdadu Jepang menghentak bumi Lombok. Ia dipilih karena sebuah alasan pragmatis yang pahit: ia melek huruf. Jepang, dengan obsesi keteraturan militernya, butuh seseorang yang bisa membaca, menulis, dan berbahasa Indonesia. Mamiq Putrasih, sang pendahulu, harus menepi karena buta huruf. Di titik ini, kita melihat betapa pengetahuan—dan abjad—menjadi alat pertahanan sekaligus alat kolaborasi.

​V

​Zaman Jepang adalah zaman penderitaan yang telanjang. Perut lapar dan tubuh-tubuh kurus kering yang dibalut kulit kayu. Namun, di bawah tekanan itu, perlawanan tetap menyala. Kakak saya, Abdulhamid, adalah salah satu potret dari ketegaran itu.
​Saya masih ingat ketika ia berdiri di depan pos jaga tentara Jepang. Ia menolak untuk merundukkan kepala dalam hormat yang dipaksakan. Terjadilah perkelahian. Ia kemudian diculik, hilang selama sepuluh hari dalam kegelapan sel, dan kembali dengan kepala digundul. Sebuah upaya untuk menghina martabatnya, tapi mereka lupa bahwa martabat tidak terletak pada rambut, melainkan pada tegaknya leher yang menolak tunduk.
​Begitulah sejarah berjalan di tanah ini—penuh dengan kekerasan, keajaiban kecil, dan transisi yang cemas. Hingga akhirnya, di sebuah hari di bulan Agustus 1945, di sebuah beranda di Jakarta, Soekarno membacakan sebuah teks yang ditulis tergesa-gesa, penuh coretan dan revisi di sana-sini. Sebuah teks yang menandai bahwa benteng-benteng lama mungkin telah runtuh, tapi sebuah bangsa baru saja mulai membangun bentengnya yang paling besar: sebuah kemerdekaan.

WAKTU​Waktu, barangkali, adalah sebilah pedang yang bekerja dalam diam. Ia tidak hanya mengukir sebuah proses, tapi juga...
03/05/2026

WAKTU

​Waktu, barangkali, adalah sebilah pedang yang bekerja dalam diam. Ia tidak hanya mengukir sebuah proses, tapi juga sanggup memenggalnya dengan dingin. Di bawah kuasanya, umur memendek, rambut menipis, dan jantung pun melambat. Kayu-kayu di kusen pintu perlahan lapuk, dan segalanya kehilangan sejuk—seperti matahari yang pelan-pelan meluputkan diri dari hamparan ladang.
​Dalam perputaran yang tak terelakkan itu, Raden Sinung, sang penerus tahta Raden Belian, akhirnya mengembuskan napas terakhir. Sejarah segera menyiapkan penggantinya: sang putra, Lalu Rahmat, yang kelak dikenal sebagai Mamiq Kertasih. Namun, sejarah sering kali punya jeda yang kikuk. Saat itu, Lalu Rahmat masih kanak-kanak. Maka, atas restu warga dan kehendak birokrasi kolonial Belanda, dipinjamlah seorang bangsawan dari Masbagik, Mamiq Sam. Ia hadir sebagai pemangku sementara, menyiapkan sebuah desa baru di bawah bayang-bayang perundangan pemerintah Belanda.
​Sepuluh tahun berlalu. Waktu telah mendewasakan Lalu Rahmat di mata masyarakat. Pemerintah Belanda pun melantiknya, menggantikan Mamiq Sam. Jabatan itu kini ia pikul, dan pusat kuasa yang semula menetap di Dasan Solong pun berpindah ke Montong Betok—sebuah "desa induk". Di sana, ia mulai menyusun barisan pamong desa berdasarkan ketentuan I.G.O.B., sebuah tertib administrasi di luar tanah Jawa.
​Zaman terus berganti, dan tokoh-tokoh lama satu per satu memudar. Raden Belian wafat, disusul Raden Sinung. Demung Limbungan pun hilang kabarnya, ditelan sunyi berpuluh tahun. Maka tegaklah Lalu Rahmat—yang menyandang deretan nama: Mamiq Kertasih, Hajji Nasrudin, Tuan Lingsir. Ia bukan sekadar Kepala Desa; ia adalah penguasa tunggal tanah Montong Betok yang membentang hingga menyentuh sunyinya hutan di kaki Rinjani.
​Gaung Montong Betok pun merambat ke seluruh penjuru Lombok. Terutama ketika api pemberontakan melawan Kerajaan Karang Asem pecah di Barabali. Para pejuang datang, memohon restu dan tenaga dari para bangsawan serta rakyat Montong Betok. Namun, seperti ingatan yang gagal dilembagakan, kisah heroik itu lama-kelamaan memudar, luput dari catatan resmi sejarah yang sering kali hanya menuliskan apa yang ingin diingatnya.
​Lalu datanglah gelombang manusia. Mereka bermukim, menetap, dan membawa jejak asal masing-masing. Ada Jro Sinawang, seorang "Perwangsa" dari Suradadi yang menempuh jalan setapak Kalitemu—leluhur H.A. Kamarudin S. Ada p**a Lalu Putra dari Lombok Tengah, moyang bagi Guru Muhsip. Mamiq Sam dari Masbagik meninggalkan keturunan di Jembatan, sementara dari Lombok Barat hadir leluhur Mahrip. Mereka datang dari Mujur, dari Paok Kambut, dari berbagai titik di Gumi Lombok, menyatu dalam sebuah tanah yang semula adalah rimba, lalu menjelma menjadi tempat yang disebut "tanah tumpah darah".
​Memahami waktu yang bergulir adalah memahami sejarah sebagai sebuah proses yang tak pernah utuh. Betapapun kita duduk berdampingan di tengah kerumunan hari ini, kita sadar bahwa kita tidak pernah benar-benar sama. Jika kita menengok ke belakang, ada akar leluhur yang berbeda-beda. Penggalian identitas melalui masa lalu menyadarkan kita akan perbedaan itu.
​Namun, masa kini pun akan segera menjadi silam. Penelusuran identitas lewat cerminan masa lampau barangkali adalah cara kita agar tak sepenuhnya hancur oleh mesin modernisasi. Sejarah, pada akhirnya, semestinya dimaknai sebagai "proses", bukan sekadar "label" yang memisahkan antara si bangsawan dan yang bukan. Ia adalah upaya untuk menemukan satu titik temu yang purba di antara para leluhur kita: sebuah rasa cinta yang keras kepala pada tanah tempat mereka tinggal.

KASTA​Di sebuah masa yang kini terasa jauh, di tanah Raden Belian, kekuasaan tidak sekadar ditegakkan dengan pedang, mel...
03/05/2026

KASTA

​Di sebuah masa yang kini terasa jauh, di tanah Raden Belian, kekuasaan tidak sekadar ditegakkan dengan pedang, melainkan dengan sekat-sekat yang rapi. Di desa Montong Betok, sejarah mencatat bagaimana para pendatang—meski di nadinya mengalir darah Bangsawan, Menak, atau Perwangsa—harus menanggalkan jubah kebesarannya di pintu masuk desa. Di sana, hanya boleh ada satu matahari: Sang Penguasa tunggal dan garis keturunannya.
​Mungkin itu adalah sebuah upaya merawat hegemoni. Para penguasa kala itu membagi manusia ke dalam kotak-kotak yang presisi, seolah derajat adalah takdir yang sudah selesai dituliskan di langit.
​Ada Bangsawan Penguasa, mereka yang memegang silsilah Raden Belian. Di bawahnya, ada Turunan Luput: para aristokrat pendatang yang kehilangan gelarnya namun menyisakan sedikit martabat. Mereka tak wajib memeras keringat dalam Pengayah (kerja rodi), namun mereka adalah para fungsionaris ruhani—penjaga ingatan akan kepercayaan dan pembisik nasihat saat kewibawaan sang penguasa mulai goyah.
​Lalu, di lapisan yang lebih luas, terbentang Rakyat Biasa atau Kaula. Mereka adalah tubuh dari desa itu sendiri, yang dibagi menurut fungsi dan kesetiaan:
​Pekemit yang menjadi bayang-bayang penjaga sang tuan.
​Batu Bata yang berjaga di perbatasan antara aman dan cemas.
​Pengayah yang memikul beban kerja fisik, kecuali jika mereka sanggup menebus keringatnya dengan keping uang.
​Lang-lang yang menjaga denyut surat-menyurat di Kantor Desa, menunggu giliran jaga yang ditandai oleh Orak yang berpindah dari tangan ke tangan.
​Kaula Dalem, mereka yang hidupnya sepenuhnya dilarutkan ke dalam Pedaleman. Dari menggembala ternak hingga memijat kaki sang tuan, hidup mereka adalah pengabdian yang total. Sebagai imbalannya, hidup mereka ditanggung, bahkan urusan sorong-serah pernikahan pun dibiayai. Sebuah ikatan yang menjamin keberlangsungan hidup, sekaligus mengunci kebebasan.
​Di atas segalanya, ada satu panggilan yang mengikat: Pemekel. Tak peduli lelaki atau perempuan, dewasa atau kanak-kanak, mereka yang berdarah biru adalah Pemekel, dan sisanya adalah Kaula. Dunia hanya terbagi dua: yang dipertuan dan yang mengabdi.
​Bahkan cinta pun tak luput dari hitungan angka. Adat Sorong-Serah menjadi timbangan martabat dalam keping-keping kepeng tepong:
​66.000 bagi Bangsawan Penguasa.
​33.000 bagi Turunan Luput.
​10.400 bagi Rakyat Biasa.
​7.000 bagi Kaula Dalem.
​Dan di sudut yang sunyi, para penganut Wetu Telu menjaga kesakralan angka tiga dengan nilai 3.300. Sebuah harmoni angka yang menyimpan ketegasan hukum: bahwa kasta yang rendah tak boleh menjangkau perempuan bangsawan. Jika dilanggar, seseorang akan menjadi Susut—terbuang, meluruh, dan kehilangan pijakan derajatnya.
​Namun, jika kita renungkan kembali, kekuasaan sebenarnya adalah ruang yang senantiasa terbuka. Betapapun kita menyembahnya, tak ada seorang pun yang secara mutlak berhak mendudukinya selamanya. Sang penguasa, pada akhirnya, adalah paduan antara perjuangan, kecerdikan, pengorbanan, dan barangkali, sejumput keberuntungan.
​Seringkali kita menyangka kasta adalah gurat tangan dari langit. Padahal ia hanyalah konstruksi dari masa lalu. Modernitas membawa wawasan lain yang lebih jernih: bahwa derajat manusia bukanlah warisan beku, melainkan sesuatu yang tumbuh dari tingkah laku dan gagasan yang dikerjakan untuk sesama.
​Wawasan semacam ini memang tak tumbuh di lahan yang gampang. Kasta, antara tampak dan tiada, seringkali menyerupai hantu. Ia tetap membayangi meski sang raja telah lama berbaring di liang lahat tanpa nisan. Kasta tak lagi seperkasa dalam hikayat lama, apalagi sejak demokrasi mengetuk pintu. Sejarah memang tak lagi bisa dikendalikan sepenuhnya, namun ia membiarkan silsilah dan identitas itu tetap terbuka—bukan untuk menghamba, melainkan untuk dikenang sebagai bagian dari perjalanan kita menjadi manusia.

Di masa itu, kekuasaan adalah sebuah orkestra tanpa penonton, di mana dirigennya hanya mengenal satu tangga nada: patuh....
21/03/2026

Di masa itu, kekuasaan adalah sebuah orkestra tanpa penonton, di mana dirigennya hanya mengenal satu tangga nada: patuh. Kita belajar bicara dengan bisik-bisik, seolah-olah angin punya telinga dan dinding-dinding kantor memiliki mata yang dingin. Sebab di luar sana, kebenaran bukan dicari dalam debat, melainkan dikubur dalam sepatu laras.
berat

 berat
06/03/2026

berat

01/03/2026

Ada kematian yang lebih hidup daripada kehidupan yang dibeli dengan ketundukan. Ketika rudal-rudal itu menghantam, mereka tidak sedang memadamkan sebuah nyawa, melainkan sedang meresmikan sebuah syahid—sebuah kehormatan bagi dia yang lebih memilih hancur berkeping daripada utuh namun terbelenggu.
berat

19/02/2026

Ada ironi yang tumbuh subur di antara imsak dan maghrib: saat tubuh diminta menjadi sunyi, pikiran justru menjadi arsitek yang paling ambisius. Di dapur, kita menyusun menu seolah membangun monumen. Di trotoar, para penjual takjil menggelar karnaval warna yang menggoda iman yang sedang kepayahan. Kita sedang berpuasa dari benda, namun pada saat yang sama, kita berpesta dalam imajinasi tentang rasa yang paling molek. Barangkali, Ramadhan adalah cara kita mempercantik rasa lapar agar ia tak tampak seperti penderitaan, melainkan sebuah festival.
berat

Kita seolah dipaksa percaya pada pepatah lama bahwa buah tak jatuh jauh dari pohonnya. Dlm hal ini, pohon itu adalah kek...
17/02/2026

Kita seolah dipaksa percaya pada pepatah lama bahwa buah tak jatuh jauh dari pohonnya. Dlm hal ini, pohon itu adalah kekuasaan yg alergi terhadap kritik. Tak ada yg baru di bawah matahari politik kita; yg ada hanyalah estafet represi, dmn menantu hanya menyempurnakan teknik mertua dlm mengubah hak konstitusional menjadi delik pidana.
berat

13/02/2026

NUNA RAHMAT alias TUAN LINGSIR
(Kepala Desa ke III)

I. Layang-layang dan Bayang-bayang
Ada sebuah masa di Sakra ketika waktu seolah-olah berhenti di ujung sebilah parang. Kita bisa membayangkan debu yang beterbangan dari kaki anak-anak yang berlari mengejar layang-layang yang putus di langit Lombok yang biru, namun gerah oleh kecemasan Kerajaan Karangasem.

Di sana, di antara teriakan bocah-bocah itu, ada Nuna Rahmat. Di sampingnya, seorang kawan yang kelak namanya akan disebut dengan getar takzim dalam doa-doa: Tuan Guru Sombe.

Sejarah seringkali enggan mencatat sisi "tengil" para pembesar, namun di sini kita menemukannya. Masa kanak-kanak mereka adalah sebuah perlawanan kecil. Di bawah tekanan Kerajaan Karangasem yang liat, bermain gasing bukan sekadar memutar kayu; itu adalah latihan memusatkan keseimbangan di tengah dunia yang limbung. Dan ketika layangan putus meliuk jatuh, Nuna Rahmat dan Sombe kecil akan mengejarnya dengan parang di tangan. Bukan karena mereka haus darah, melainkan sebuah maklumat yang jernih: di tanah yang sedang dijajah ini, siapa yang ragu akan tertinggal. "Jangan coba-coba mendahului kami," bisik keberanian yang tumbuh prematur itu.

II. Kuasa yang Dipinjamkan
Lalu datanglah musim di mana kekuasaan harus turun takhta. Raden Sinung, sang ayah, telah mencapai senja usianya justru ketika kompeni datang dan mulai sibuk menata administratif desa-desa di luar Jawa.

Ada sebuah kekosongan yang ganjil. Nuna Rahmat, sang putra mahkota, masih terlalu hijau. Umurnya belum cukup untuk menanggung stempel jabatan. Maka terjadilah sebuah kompromi yang puitis: kekuasaan itu "dipinjamkan". Mamiq Sam, seorang bangsawan dari tanah Masbagik, datang sebagai penjaga gawang sejarah. Ia duduk di kursi kepala desa bukan untuk memilikinya, melainkan untuk merawat kursi itu hingga Nuna Rahmat cukup matang untuk mendudukinya.

Sepuluh tahun adalah waktu yang panjang untuk sebuah penantian. Dalam sepuluh tahun itu, Nuna Rahmat belajar bahwa memimpin bukanlah soal memerintah, melainkan soal mematangkan diri dalam diam. Hingga akhirnya, Belanda mengukuhkannya. Mamiq Sam pamit, dan sebuah era baru dimulai di Montong Betok.

III. Braim dan Rahasia Besi
Namun, seorang pemimpin tak pernah berdiri sendirian di panggung. Selalu ada sosok bayangan di sampingnya. Bagi Nuna Rahmat, sosok itu adalah Ibrahim, atau yang lebih akrab dipanggil Braim.

Braim datang dari Lombok Barat, membawa aroma misteri yang tenang. Ia adalah seorang perwangsa, tipe manusia yang ilmunya tak dipamerkan di etalase, melainkan disimpan rapat dalam lipatan sarung.

Suatu siang di kebun Repoq Timuq, di bawah terik yang seolah-olah mampu melelehkan aspal, mereka sedang memasang sempetik—perangkap burung. Di area yang kini kita kenal sebagai Makam Limbungan, Braim mendadak berhenti. Langkahnya tertahan oleh sesuatu yang tak terlihat. Ia menunjuk tanah di bawah kakinya dan berkata dengan nada yang datar namun pasti: "Jika aku mati nanti, aku ingin dikubur di sini."

Nuna Rahmat hanya tertawa, sebuah tawa yang mungkin sedikit canggung. "Arooo... lain-lain saja Tuan ini," sahutnya sembari berkelakar. Ia tak tahu bahwa maut terkadang memberikan bocoran naskah kepada mereka yang punya "mata" dalam.

Kesaktian Braim kemudian teruji dalam sebuah malam yang gaduh. Seorang perampok tertangkap di Aiq Meneng, diseret ke hadapan Nuna Rahmat dengan tangan dibelit rantai besi yang dingin dan angkuh. Namun, keajaiban terjadi di ruang tengah. Ketika Nuna Rahmat hendak mengecek sang tahanan, ia hanya menemukan rantai besi itu telah melintir, lemas seperti adonan kue yang diremas tangan raksasa. Si perampok hilang.

Di tengah kepanikan para Kliang (kepala dusun), Braim tetap tenang. Ia hanya meminta air hangat untuk menambah kopinya. "Tenanglah, ia pasti kembali," katanya lirih. Dan benar saja, sebelum subuh pecah, sang perampok p**ang dengan wajah linglung. Ia bercerita tentang kegelapan mutlak yang mengepungnya di Paok Motong, dan hanya ada satu titik cahaya di utara yang menuntunnya kembali ke pelukan musuhnya.

Kali ini, Braim mengikatnya bukan dengan besi, melainkan hanya dengan beberapa helai kulit pohon pisang—kedebong. Dan perampok itu, yang mampu meluluhkan besi, justru tak berdaya menghadapi rapuhnya serat pisang. Di sana, sumpah diucapkan: tak akan ada lagi perampokan di tanah Montong Betok.

IV. Cangkir Terakhir di Ambang Senja
Waktu terus mengalir, membawa Nuna Rahmat ke Bali untuk menerima Bintang Kehormatan dari Belanda. Namun, bintang di dada rupanya tak lebih berkilau dibanding panggilan Tuhan. Ia berangkat ke Mekkah, dan p**ang membawa nama baru yang lebih teduh: H.L. Nasruddin. Ia pun menanggalkan jabatannya, menyerahkannya pada sang putra, L. Abdulwahab.

Namun, drama manusia selalu punya babak akhir yang getir. Dalam sebuah perjamuan roah, maut datang dalam rupa secangkir kopi. Seseorang telah menaruh racun di sana. Nasruddin, dengan naluri pemimpinnya, mungkin merasakannya. Namun Braim lebih dulu bergerak.

Dengan senyum yang sulit dimengerti, Braim mengambil cangkir itu. "Ini bagian saya, Tuan sudah cukup," bisiknya dalam bahasa Sasak yang halus. Ia meminum maut itu seolah-olah meminum madu. Ia roboh, menghembuskan napas terakhir demi menjaga sahabatnya tetap bernapas.

Maka, Braim dikuburkan di tempat yang ia tunjuk bertahun-tahun sebelumnya. Di sudut timur utara Makam Limbungan, ia berbaring dalam sunyi yang abadi.

Demikianlah sekelumit hikayat tentang Tuan Lingsir dan seorang sahabat yang setia melampaui logika. Sejarah mungkin hanya mencatat tanggal dan jabatan, namun ingatan masyarakat Montong Betok mencatat sesuatu yang lebih dalam: bahwa kekuasaan bisa berakhir, namun kesetiaan dan pengorbanan adalah sebuah prasasti yang tak butuh semen untuk berdiri tegak.

berat

Address

Montong Gading
Selong
83663

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Montong Betok posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share