Majelis Adat Budaya Melayu Kabupaten Sambas

Majelis Adat Budaya Melayu Kabupaten Sambas Hidup Bersendi Adat, Adat Bersendi Syara', Syara' Bersendi Kitabullah

http://www.youtube.com/watch?v=B9eujPu8hvY
12/12/2012

http://www.youtube.com/watch?v=B9eujPu8hvY

Festival seni budaya melayu Kalimantan Barat ke delapan tahun 2012, akan di selenggarakan pada bulan desember mendatang. Iven tahunan ini diselenggarakan gun...

“Berubah dan Mencari"Penulis : Yusmar Yusuf (Budayawan Riau)di-posting 25 November 2012 – pukul 07.37 WIBDi-download dar...
01/12/2012

“Berubah dan Mencari"

Penulis : Yusmar Yusuf (Budayawan Riau)
di-posting 25 November 2012 – pukul 07.37 WIB
Di-download dari
http://www.riaupos.co/kolom.php?act=full&id=527&kat=6 #.ULo5t3mCqjk
Minggu, 2 Desember 2012 - pukul 01.10 WIB
Dibaca 110 kali




Berpindah, ialah sebuah ikhtiar untuk berubah. Dan berubah itu hanya bisa dilakukan ketika orang senantiasa mencari dan mencari. Berpindah, sebuah keadaan yang menuntun manusia bergerak dari tapal garis menuju tapal garis seberang, nan lain dan asing. Dalam keasingan dan kesendirian, seseorang akan mudah menemukan dirinya yang sejati. Penemuan diri ini, dapatlah disangkutkan sebagai peristiwa mencari - mencahari.

Pada awalnya orang mencari sesuatu penyebab kehidupan. Maka lahirlah dewa-dewa. Selanjutnya pencaharian ini dipatahkan, ketika Tuhan ‘mengumumkan’ “Diri-Nya” melalui para anbiya. Para pencinta kebijaksanaan merindukan ‘kebenaran’, maka perburuan berikutnya manusia memperkenal ingsutan demi dan untuk kebenaran. Filsafat dan sistem filsafat mengusung kebenaran dan instrumen yang paling mustari untuk mencapai kebenaran itu pada hari ini adalah melalui uji-uji keilmuan dan riset. Dan kebenaran ini masih bisa dipilah dalam fraktal keilmuan. Bahwa yang dijulang oleh ilmu, akademia adalah kebenaran itu sendiri bukan kekuasaan.

Namun perjalanan panjang menemu dan menyemai kebenaran dalam apologia akademia selalu berujung pada tragedi pemberhalaan kebenaran. “Kita membuat berhala dari kebenaran itu sendiri; karena kebenaran yang terlepas dari kedermawanan adalah bukan Tuhan, tetapi ikon dan berhalanya, yang tidak boleh disembah atau kita cintai”, ujar Pascal.

Maka, perjalanan yang jauh dilakukan baik secara fisik maupun ruhani, senantiasa memperkaya wawasan mengenai kebenaran itu yang dilekatkan dengan imbuhan kedermawanan. Kebenaran yang tidak diimbuh atau diperkaya oleh kedermawanan, dia akan melahirkan durjana dan kecelakaan kemanusiaan. Hijrah Nabi Muhammad suci, ialah sebuah citra yang melekatkan kedermawanan itu sendiri kepada manusia. Sehingga kebenaran yang diusung, senantiasa memberi dampak secara sosial dan selaras dengan harmoni yang rimbun yang telah dilaungkan dalam ensembel kehidupan oleh beragam makhluk muka Bumi. Ketika dia tidak keluar dari lembah Mekkah, maka kebenaran yang diusung akan mengalami pembusukan dan involusi. Sebuah taktik untuk membesarkan bibit yang unggul, adalah dengan cara mencari material lahan yang kaya hara dan humus. Tanah yang kaya baja, humus dan hara bagi persemaian ajaran agung ini adalah Madinah.

Dan ajaran, dan figur, dan apalah namanya, dia menjadi subur ketika dia diperkenalkan pada tanah-tanah asing. Dia akan bantut dalam ruang asalnya sendiri. Karena itu, semua pemikiran besar yang lahir di sebuah tanah, dia akan menjadi gunung bagi tanah lain. Tan Malaka, tak mendapat tempat yang layak bagi orang Minangkabau hari ini dan sejarah Minangkabau. Namun ia di terima dan dirindukan di tanah-tanah jauh. Begitulah seterusnya. Dermawan itu adalah refleksi dari cinta (hubbah); cinta tak mencari sebab di luar dirinya dan tidak mencari hasil; ia adalah hasil itu sendiri, kenikmatannya sendiri. “ Cinta adalah satu-satunya cara —bagi makhluk, meskipun tidak berdasarkan istilah-istilah yang sama— dapat menjamu Tuhan dan membalikkan sesuatu yang serupa dengan apa yang telah diberikan padanya…”Ketika Tuhan mencintai, Ia hanya ingin dicintai, karena Ia tahu bahwa cinta akan mengubah semua orang yang mencinta Dia dengan senang” (St. Bernard).

Perjalanan ruhani, menggiring dan menuntun orang untuk memperhalus akal budi, sehingga aras ruhani mengalami pencerahan sebagai seorang yang ‘budiman’. Perjalanan ruhani dan gerakan spasial yang terkandung dalam peristiwa berpindah (hijrah), juga menuntun seseorang menjadi haus dan dahaga akan kebenaran yang dierami bersama secara kolektif, sehingga dia mengarahkan diri sebagai seorang yang gairah dengan ilmu. Maka dia mendaki tangga sebagai ilmuan atau seorang alim (berilmu). Dan maqam berikutnya, dia mendaki tangga yang disimbolkan dari peristiwa hijrah ini adalah mendaki tangga dermawan. Seseorang yang penuh cinta, adalah sosok yang sanggup memberi bukan menerima.

Ketiga perubahan yang diusung dalam semangat ‘budiman’, ‘ilmuan’ dan ‘dermawan’ itu menyubur dan merecup hebat pada sebuah tanah baru bernama Madinah. Inilah gerakan sosial dari peristiwa masyarakat padang gurun (umran badawi) menjadi masyarakat kosmopolitan (umram hadari). Tabiat berikutnya yang diemban dari peristiwa hijrah adalah tabiat gerakan ummah. Ajaran langit yang tinggi, bukan menjadi urusan dan makanan individu per orang. Akan tetapi dia telah menjadi makanan kolektif, telah menjadi sesuatu milik bersama, sesuatu yang menggerakkan sebuah sistem sosial baru. Bahwa persaudaran, kekerabatan, bukan diukur dari tali bani, bukan karena keturunan nan agung dan susur galur darah biru, akan tetapi kualitas iman dan kemampuan menggubal diri dalam organisasi sosial baru, rasional dan manajemen yang tidak lagi berpaut pada pesukuan sebagaimana disemangati oleh sistem para bani sebelumnya.

Dan Muhammad pun terusir dari ’kesatuan primordialnya’ demi membentuk masyarakat baru, perkauman baru, komunitas baru yang menjujung tinggi prinsip-prinsip dasar keragaman. Kemampuan ini hanya bisa dituai ketika seseorang telah sanggup mengusung ’konsep dasar’ memberi, bukan menerima. Bahwa Muhammad memberi, bukan kepada sanak keluarga bani, tetapi kepada segala makhluk hidup. Usianya dihabiskan dengan peristiwa memberi dan memberi.

Hari ini kita mengalami persoalan maha besar, baik dalam sistem pengaturan pemerintahan, pengaturan sosial dan pengaturan lingkungan hidup. Semuanya mengalami katastrofe maha dahsyat. Lingkungan hidup kita mengalami kiamat ekologis, tersebab kita yang tak pernah memberi, namun bertabiat sebaliknya; mengambil dan menerima terlalu banyak dari lingkungan. Daya dukung lingkungan untuk memberi dikuras habis di luar akal sehat. Selama menerima dan mengambil, manusia tidak pernah menanam keinsyafan ekologis mengenai lingkungan hidup sebagai rumah habitat bersama dengan makhluk lainnya. Selanjutnya, manusia bertindak bagai predator kepada sesama dan dengan makhluk hidup lainnya.

Berpindah secara ruhani, secara spiritual maupun secara fisikal, jika dia tidak memperkaya dimensi kedermawanan kita, sama lah halnya kita terperangkap pada penyembahan kebenaran yang tiada kedermawanan itu. Kebenaran jenis ini, menguras renjana dan mengandaskan pelantar jiwa. Ruhani kita menjadi kering seiring kerontangnya sistem pemerintahan yang laik dianut dan dipanut. Maka, perpindahan ruhani, spiritual yang tak diimbuh dengan kedermawanan, dia hanya akan menyungkurkan mata batin dan menyebukan perjalanan ruhani manusia. Selanjutnya sebuah perkauman, apakah itu bangsa, masyarakat atau komunitas, dia hanya menunggu peristiwa ’tersungkur’ di dalam ruang yang kering dan senyap. Bangsa yang tak kenal peristiwa memberi, identik dengan bangsa yang mati. Dan berpusu-pusu kita menuju ke sana dan ke liang yang sama.***

Berubah dan Mencari

" Bani Stepa"Penulis : Yusmar Yusuf (Budayawan Riau)di-posting 18 November 2012 – pukul 07.15 WIBDi-download darihttp://...
01/12/2012

" Bani Stepa"

Penulis : Yusmar Yusuf (Budayawan Riau)
di-posting 18 November 2012 – pukul 07.15 WIB
Di-download dari
http://www.riaupos.co/kolom.php?act=full&id=521&kat=6 #.ULo5tHmCqjk
Minggu, 2 Desember 2012 - pukul 24.59 WIB
Dibaca 153 kali





Mereka menjemput Islam dengan perang. Berpacu dalam ‘jelaga dan debu’ perkasa. Mereka membelah debu dalam kecepatan sentak pelana kuda. Debu terburai, mengurai dan lopak-lopak air pun terkuak. Menembus dingin padang gurun, lalu menusuk jantung peradaban Islam di Baghdad. Perpustakaan dibakar dan rata dengan tanah. Dan perpustakaan ini pernah menjadi inspirasi bagi dunia Barat untuk menerjemah ulang kebijaksanaan Yunani dan kearifan Timur. Ketika bahasa (Arab) tak lagi menjadi hambatan, maka cerlang-cemerlanglah bangsa-bangsa di Barat untuk menunai tugas-tugas pencerahan dan kemajuan. Barat yang menyerbu Timur-Dekat, mengalami kekalahan telak selama atau dalam Perang Salib. Tapi, serangan dari Timur, ikut memati dan menghanguskan peradaban Islam yang berpusar sekitar tanah diapit dua air (Tigris dan Eufrat / Furat). Inilah serangan dari Timur. Jauh di belakang hulu sejarah yang jauh, sebelum serangan dari Timur, ‘Kisah Tinggi’ mengenai Timur, terekam p**a dalam Alquran mengenai benteng Ja’juj dan Makjuj.

Keganasan dan keperkasaan orang-orang yang menyerang dari Timur itu memang tak tertandingi. Merekalah bangsa Mongol yang berserak di kawasan stepa subur di barat laut Tiongkok hari ini; menyerbu dan membawa warta kematian ke tanah-tanah sebelah barat. Orang-orang stepa ini dalam kuluman waktu berpuluh tahun telah amat dikenal sebagai bangsa yang gairah mera’ikan pembangunan menara-menara (tengkorak) kepala manusia. Namun setelah mereka menyerbu Baghdad, berubah arah membangun menara-menara masjid di hamparan stepa maha luas di sisi gurun Gobi. Seni bina @ arsitektur Islam bersinar, bertabur sanggam dan langgak memenuhi lembah dan bentang saujana stepa nan luas ini hingga hari ini. Mereka menjemput Islam dengan cara menyerbu.

Serangan dari Timur oleh bangsa Mongol-Turko yang bermastautin di plateau stepa, padang savana nan dingin menjadi kisah tinggi gelombang kedua dalam replika sejarah perjalanan panjang peradaban manusia. Islam masuk ke nusantara melalui peristiwa pasar. Lewat kisah jual-beli dan akad di pusat-pusat keramaian tepian selat dan sungai. Islam datang ke wilayah timur Asia, sebaliknya akibat dari kaum ini yang menyerbu pusat kecemerlangan Islam. Mereka menyerbu, dan sebaliknya mereka terserbuk oleh ‘virus’ Islam yang mereka serbu itu p**a. Inilah ironi sekaligus surealisnya dunia yang menghidang misteri-misteri yang bersenandung dalam nada serba bertolak belakang, walau lebih banyak disebut sebagai peristiwa menyulam.

Sesuatu yang ganas dan keras senantiasa takluk dan berlutut di depan kelembutan dan haribaan serba lunak. Jika Anda sempat berpesiar ke negara dua benua (Turki), tersaji masa lalu dan kekinian dalam batas centimeter. Anda ke Konya, wangi gubalan masa lalu Rumi, sekaligus mengharum gerak kuntum kaki para darwish hari ini dalam kemasan kekinian demi kelopak Islam yang hanif di hamparan tanah Turki. Ketika berjalan di lorong-lorong Istanbul, batas antara barat-timur, berubah, lalu menjelma dalam ukuran debu. Ketika bersenandung di Ankara, kelebat kepak urusan agama dan urusan negara jadi sesuatu yang terpisah sepanjang dinding supra rasional sebagai alat tawar mereka yang hidup berdampingan dengan warga Eropa yang barat-rasional. Sekularisme ialah pilihan rasional dalam respon masa lalu kontinental. Inilah marfologi sajian tanah-tanah lembut yang dikulum oleh masa lalu dan masa kini yang serba melodius. Lain lagi ketika Anda menginjak kaki di sebuah tapak tanah yang secara geo-marfologis terjadi dalam rentang waktu jutaan tahun. Sebuah tapak tanah sempit yang banyak dikunjungi pelancong dunia. Inilah Cappadocia, terletak di Turki tengah. Dia jantung tanah ini. Serakan batu vulkanik yang diukir (terukir) dalam ukuran milenia. Inilah sudut keras kejadian tanah Turki, yang lunak oleh kelembutan manajemen kekinian. Secara lanskap dan arsitektural, wilayah Cappadocia amat mengganggu dan menggoda. Ini kawasan yang amat seksi dilihat dari terjangan-terjangan alam yang membentuk rangkaian seni instalatif. Bahwa lembut dan kaku-keras, seakan bersatu dalam gelora dan gairah yang menuju pada suatu inisiasi penceritaan dunia. Begitulah pertembungan antara Timur dan Timur-Dekat, juga pertinjuan antara Timur-Dekat dengan Barat. Saling menjinak dan me”nawar”.

Serangan dari Timur, tercatat dalam sejarah besar dunia, sekaligus melahir sederet nama-nama gagah; Jenghis Khan (nama dodoi kecil Temujin) begitu juga ada bilangan nama, Timerleng. Serangan ini juga mempersembah melodia diplomasi @ perundingan antara puak Islam dengan para penakluk timur di kemah-kemah yang berdiri gerun dengan tancapan kaki kemah yang kukuh di atas tanah Hammurabbi. Jalur timur ini juga menjadi garis ‘jalan sutera’ (silk road) yang menawan hati sejarah hingga hari ini. Orang stepa inilah yang merintis jalur ke Barat dan membawa kembali Islam masuk ke tanah Timur. Malah jauh sebelum itu, interaksi dengan Mesir juga terjadi, sehingga meledak p**a penemuan kertas di Timur yang sebenarnya dalam dugaan tegas terpengaruh oleh tradisi tulis era Mesir kuno pada sebuah titik bernama Papyrus (paper @ kertas).

Negeri-negeri dengan bentangan benua, sebagian besar berwajah imperium. Namun negeri-negeri berwawasan maritim, juga memiliki sejarah yang gagah dan sasa dalam tabiat imperialisme; perilaku dasar yang bernafsu menambah tanah-tanah taklukan baru. Inggris, Spanyol di antara yang berwawasan maritim demi menjilat tanah-tanah jauh dan taklukan. Begitulah serang-menyerang dalam kaidah bertetangga adalah sebuah jalan mencari dan urai menuju keseimbangan baru. Di celah gesekan, sekecil apapun gesekan itu, akan menghasil sebuah dialog yang saling mengisi sekaligus memperkaya dimensi peradaban yang mengalami gesekan itu.

Pembawaan sejati dari hidup berjiran itu, tak selamanya saling lempar senyum. Takluk-menakluk adalah ihwal datar dan normal dalam hubungan berjiran-tetangga. Gesekan dalam bentuk apapun, mendorong sebuah stilasi kecerdasan baru. Dari kecerdasan baru ini, peradaban yang saling bergesek itu, akan menjalani fase-fase menuju equilibrium baru. Bahwa konflik merupakan bawaan dinamis dan fungsional dalam kehidupan masyarakat antar bangsa. Pilihan menyerbu dan menakluk, juga memberi sumbangan bermakna dalam sejarah manusia. Tentang ihwal serangan nan perkasa, sesungguhnya sang penyerang, senantiasa mencuri dan mengutip ceceran remah yang dianggap mustika sepanjang retas remah bekas taklukan (pihak kalah). Artinya, yang menyerang, sebenarnya diserang oleh elemenen-elemen lembut, oleh penciptaan karya seni tinggi dan ranggi. Termasuk sistem bahasa.

Bangsa stepa yang superior secara fisik-militer, namun sep**ang dari tanah taklukan itu, mereka diserbu dan ditakluk oleh pemikiran-pemikiran Islam yang membaharu untuk zaman itu. Cita rasa hidup Islam yang hanif dan menjulang prinsip-prinsip universalitas. Maka, dunia yang terbentang ini adalah dunia yang bertolak dari prinsip serba walau. Dan, walau itu sendiri adalah sempadan antara kuat dan dhaifnya sang penakluk dan ditakluk. Dan, walau adalah makna hakiki tentang keterbatasan manusia yang menakluk di satu sisi, dan di sisi lain sesungguhnya dia ditakluk pada sudut jiwa yang berlekuk. Maka, walau bangsa-bangsa stepa yang gagah sasa itu datang dengan penaklukan demi penaklukan, sesungguhnya mereka ditakluk. Dan takluk… ***

Bani Stepa

"Dan Muhammad Pun... "Penulis : Yusmar Yusuf (Budayawan Riau)di-posting 14 Oktober 2012 – pukul 07.54 WIBDi-download dar...
01/12/2012

"Dan Muhammad Pun... "

Penulis : Yusmar Yusuf (Budayawan Riau)
di-posting 14 Oktober 2012 – pukul 07.54 WIB
Di-download dari
http://www.riaupos.co/kolom.php?act=full&id=485&kat=6 #.ULo5onmCqjk
Minggu, 2 Desember 2012 - pukul 24.30 WIB
Dibaca 832 kali

Seorang pengemis, sudut jalan, pojok kota, Yahudi kumal, dan buta. Lengkaplah sudah timpaan nasib; tunai. Namun ada satu lagi, dia tak hanya seorang pengemis buta, namun juga seorang bermulut judes, dan mengulang-ulang kejudesan itu tak mengenal kala. Setiap orang yang mendekat dan memberikan sesuatu, dia akan menumpahkan seranahnya kepada orang itu dengan kalimat seragam, saban waktu dan saban hari: “Jauhilah Muhammad, dia seorang pembohong!!!”. “Jauhi Muhammad!!!, Jika dia mendekati mu, niscaya dia akan mempengaruhi mu, hingga sesatlah kalian selama-lamanya”. “Muhammad, adalah seorang tukang sihir, tak bermoral, dan penipu”. Inilah kalimat yang diulang-ulang seperti suara kaset, kepada setiap orang yang menghampiri dan melintas di depannya.

Madinah saban pagi. Madinah, sebuah kota dengan sejuta kisah dan cerita. Di tanah ini, hidup beragam manusia, anak bani Adam dengan jalannya masing-masing. Dengan keceriaan spiritualnya sendiri-sendiri. Keriangan langit dan keriangan Bumi bertumpu pada sebuah tanah bercahaya. Setiap kening dan dahi manusia di kota ini bercahaya, setiap genggam telapak tangan manusia di tanah ini menggenggam rasa damai. Pagi, damai, ceria, ramai dan sibuk. Itulah gambaran kesibukan pasar Madinah, kota Nabi.

Pada satu sudut jalan, bersimpuh seorang pengemis buta, Yahudi: Lalu menghumban kalimat-kalimat menghujat kenabian dan pribadi nabi. Dan saban pagi p**a Nabi Muhammad mengantarkan makanan kepada sang pengemis buta ini. Tak sekadar mengantar makanan, beliau juga menyuap makanan ini kepada sang pengemis, penuh kasih dan sayang. Begitulah… saban pagi dan pagi-pagi berikutnya. Setiap beliau menghampiri sang pengemis, maka berhamburan kalimat-kalimat standar yang meluncur dari mulut sang pengemis. Namun, Nabi dengan sabar menyuap makanan ke mulut sang pengemis, tanpa berkata sepatah pun. Nabi mengantar makanan ini saban pagi hingga menjelang beliau wafat di Madinah.

Beberapa hari setelah wafat, Abu Bakar Assidieq berkunjung ke rumah Siti Aisyah, puterinya sekaligus isteri Nabi. Lalu Sayiidina berkata kepada sang puteri: “Adakah lagi perbuatan Nabi yang tak aku lakukan setelah beliau wafat?” “Ada”, jawab Siti Aisyah tegas. “Apakah itu Ananda?” ujar Abu Bakar singkat. “Memberi makan kepada sang pengemis di sudut jalan di sebuah pojok kota yang ramai”, jawab Aisyah lagi. Abu Bakar ialah penyalin lengkap perilaku nabi, seorang ahli tariqat yang alim, rendah hati dan bersikap sabar. Sebab, hampir seluruh tabiat dan perilaku nabi yang jadi suri tauladan, sepeninggal Nabi, telah diikuti dan dilakukannya demi meneruskan ‘aliran air’ langit yang bergerak menerobos ke masa depan itu.

Maka, Abu Bakar pun bergegas pada sebuah pagi. Mendatangi dan mendekat ke sosok tubuh loyo pada sudut sebatang jalan. Abu Bakar menjinjit kasih dan mendekat. Dia mengantar makanan untuk sang pengemis buta. Lalu menyuapkannya ke dalam mulut si pengemis. Namun, betapa terperanjat Abu Bakar, ketika sang pengemis membentak dengan suara yang keras: “Siapa Tuan hamba? Anda bukan orang yang biasa datang kepada ku”. Lalu Abu Bakar menjawab dengan tenang: “Akulah yang datang saban pagi dan memberikan makanan ini kepada mu”. “Tidak… tidak, aku tak percaya! Betapa susahnya mengunyah makanan mu, sangkut di tekak dan kerongkong, dan begitu keras makanan ini”, ujar pengemis itu kesal. “Orang yang biasa datang kepada ku, memberi dengan lembut, makanan dimamahkan dengan telapak tangannya, sehingga dia menjadi lunak dan lembut di mulut.”

Abu Bakar terdiam. Air mata menitis… “Wahai Tuan Hamba, ujar Abu Bakar, orang yang selalu mengantarkan makanan dan menyuapimu itu, telah tiada. Dia telah wafat beberapa hari lalu. Dia adalah Nabi Muhammad SAW”. Sampai di situ, ya sampai di situ. Sang pengemis terdiam,… juga sampai di situ. Alam yang dialami pengemis, berubah sontak… ada yang berterjangan di dalam benak dan hatinya. Galau...? Inilah perilaku sejati… Sesuatu yang keras membeku, meremeh dan menodai, ketika didatangi dengan diam, berbuat dan kasih, dia akan terhenti dan diam. Tak semata diam,… Ya, sebuah diam yang menunjuk untuk berubah dan beringsut. Lalu, kita pun dianjur mengambil peran pengemis buta yang judes itu? Bagaimana sikap kita setelah mendengar “ketiadaan” yang ranggi itu?

Ibnu Abbas memberi bingkai yang molek kepada pribadi-pribadi maksum dalam sejarah manusia: Dawud itu pembuat perisai yang lihai, Adam seorang petani yang tabah dan teliti, Nuh seorang tukang kayu dan navigator, Idris seorang penjahit dan astronom, Musa seorang pengembala, dan Muhammad seorang pengembala lembut, penebuk hati setiap insan dan segala makhluk. Muhammad Suci, membalikkan sejarah gelap, keras dan membeku, dengan sejumlah kedatangan yang lembut dan mencair. Dia hadir dengan sejumlah kedatangan tak terduga olah sebuah zaman yang serba dangkal. Perilaku dan suri tauladannya terlalu dalam untuk diselami oleh sebuah zaman yang diisi oleh kaum yang berakal dangkal. Kian dihujat, kian dinista, nabi mendatanginya dengan munajat, dengan doa tak kenal sudah. Bukan malah didatangi dengan vigilantis, dengan vendetta dan jingoism. Agama dan spirtualisme itu bertemu dan bertumpu pada: diam dan berbuat. Bukan menggertak dan menggelodak, bersorak dan bertempik. Sang pengemis buta, mengalir sejuta tafsir tentang kedatangan nabi dalam diam, tanpa kata, namun berbuat. Kita semua adalah anak-anak Adam yang saling iri dan bersinggungan untuk mencapai sesuatu yang tak pasti. Pun, Muhammad datang dengan segenap pun… dan Muhammad hadir dengan sesuatu yang tak berhingga. Diam, memulai pada sang pengemis buta, dan dengan diam p**a, dia merasakan kehilangan yang tak terkata… Dan Muhammad pun… ***

Dan Muhammad Pun...

"Kump**an Daku"Penulis : Yusmar Yusuf (Budayawan Riau)di-posting 23 September 2012 – pukul 07.37 WIBDi-download darihttp...
01/12/2012

"Kump**an Daku"

Penulis : Yusmar Yusuf (Budayawan Riau)
di-posting 23 September 2012 – pukul 07.37 WIB
Di-download dari
http://www.riaupos.co/kolom.php?act=full&id=464&kat=6 #.ULo5nHmCqjk
Minggu, 2 Desember 2012 - pukul 24.04 WIB
Dibaca 832 kali



Segala sesuatu terkumpul di satu pangku. Helat budaya, helat politik, helat ekonomi. Semua terpusat dan dikumpulkan dalam satu pangkuan bernama; pemerintah. Segala sesuatu yang semestinya tumbuh recup dan berserak di serata masyarakat awam, hari ini mengalami fase-fase terpusat, fase terkumpul pada satu kumparan, tersedot oleh sebuah kekuatan yang mengatur terlalu jauh dan teramat jauh. Sehingga, kebudayaan bukan lagi milik masyarakat. Antara kebudayaan dan masyarakat terbangun tembok. Tidak terjadi saling serbuk, terutama ‘penyerbukan silang’ antara kebudayaan dan masyarakat. Begitu sebaliknya.

Kebudayaan yang dilahirkan oleh masyarakat, kemudian kebudayaan p**a yang merenjis, membasahi jiwa masyarakat menjadi lembab dan ramah. Membuat jiwa kolektif menjadi hanif dan lembut. Namun, belum jauh-jauh berlari, peristiwa itu (kebudayaan) mengalami ‘pembajakan’ oleh pemerintah. Rakyat diletakkan dalam posisi oketai lemah, tiada daya, dan harus disantuni. Berposisi sebagai penonton, bukan pelaku kebudayaan, pelaku ekonomi dan apatah lagi politik. Semua terkooptasi pada satu genggam, ya genggam pemerintah yang terlalu kuat.

Ketika mentabal diri sebagai pusat kebudayaan anu, maka yang menjadi provider kebudayaan itu bukanlah masyarakat atau rakyat. Padahal sejatinya, ketika masyarakat yang menjadi pelaku utama dari satu segmen kebudayaan, maka akan teralirlah sebuah tradisi yang dipupuk dari hari ke hari, kemudiaan menjadi sebuah bukit tradisi yang ranggi; misalnya tradisi industri kreatif yang berpaksi pada rasa lokal dan perisa pucuk serba lokalitas. Dia tak bisa diunggah dan dilakukan oleh pemerintah. Dia mesti ada dan bersemi dalam sanubari masyarakat awam, sehingga dia menjadi sistem pertahanan diri dan pertahanan kolektif; terutama dalam soal politik identitas yang berdampak secara ekonomi.

Hari ini, ketika berbincang mengenai industri kreatif (yang kemudian dipesong menjadi ekonomi kreatif), sesungguhnya adalah sejenis model ekonomi yang disokong oleh sebuah kuasa mobile (gerak terrestrial dan bergerak tanpa batas). Pelaku utamanya adalah anak muda, malah sudah menjadi gaya hidup pada usia belasan (teentrade); tabiat teentrading ini diawali dari peristiwa ‘main-main’, semisal jualan pulsa elektronik di lingkungan kelas dan sekolah, sampai masuk pada sistem niaga online (terutama fashion; busana, aksesori dan sepatu). Gadget-trading juga sebuah pemangkin bagi bangkitnya industri kreatif di kalangan anak muda.

Bak anai-anai, makhluk muda dari tanah jauh bernama ceruk dan cekung Bandung berhamburan mengisi ruang-ruang kosong sepanjang jalan dan lengkung kawasan Stadion Utama Riau selama helat PON. Pernak-pernik berbau PON, menjadi inspirasi mengenai gadget-trading yang saling berkhabar, berkisah dan saling bagi informasi, mengenai sebuah titik tanah di Sumatera yang harus diserbu selama penggal pertama hingga medio bulan September ini. Wah… amboi… di kalangan muda dan mereka yang ‘berdarah hangat’ mengalami kenyataan tentang “September Ceria”, walau dikepung oleh majelis tirai asap, hasil pembakaran hutan Sumatera.

Makhluk-makhluk cekung Bandung ini, semacam memberi alarm positif, bahwa mereka pada sebuah tahun (2016) akan menjadi tuan rumah National Olympic (PON) yang lebih memukau, tak saja berpangku pada satu kekuatan atau sedotan peristiwa acara pembukaan yang glamour, akan tetapi wadah kota bernama Bandung itu sendiri sudah menjadi medan, arena atau venue tempat orang menggali kedalaman sumur kreatif makhluk muda yang mentabalkan diri dalam jejeran panjang industri kreatif, teen trade, atau gadget-trading itu. Masih empat tahun ke depan. Sebuah jarak yang begitu jauh dan teramat kaya untuk diimbuh dengan segala sesuatu yang bernada kreatif.

Tersebab berbasis pada gerak nisbi, maka mereka meloncat dari satu tanah ke tanah jauh yang sebelumnya tak terpetakan. Selama helat PON rumah makan bernuansa Melayu sepi pengunjung, karena memasang tarif mahal dan terlalu eksklusif. Dalam sebuah hajat yang diimbuhi oleh sejumlah orang yang terlalu ramai, kenyataan yang harus dihidang oleh Riau adalah; cepat, tepat dan murah, medan tanpa kasta, termasuk dalam ihwal harga dunia kuliner. Maka satu tahun jelang helat besar di tanah Riau, kita menyaksikan bak cendawan para pedagang makanan informal, berbekal tenda, datang dari Jawa dan ceruk Sunda mengisi ruang-ruang kota. Mereka mengantisipasi tentang kedatangan orang-orang yang ‘memang harus’ lapar, setelah berjuang demi menegak marwah dan identitas kultural mereka masing-masing. Bahwa yang punya marwah itu bukan Riau saja, bukan Melayu saja. Tapi, Minang, Bugis, Jawa, Batak, Mandar, Timor, Bali, Borneo, Makassar dan Papua juga memikul marwah, dan mereka ditugaskan mengusung marwah dengan akhlak terpuncak, sekaligus prestasi akal budi terpuncak, yang harus dipersembahkan di tanah orang.

Jika begini-begini saja Riau memaknai kebudayaan, ekonomi dan politik, maka pusat kebudayaan Melayu yang dipersepsikan itu adalah pusat kebudayaan menurut pikiran pemerintah yang berbasis pada ‘buku lintang’ dan kisah baris berbaris. Kemudian dihebohkan dengan sejumlah perkusi kompang dan tari persembahan. Kemudian datanglah jamaah pemberi restu dari sebuah celah gelap yang menamakan diri sebagai pucuk adat dengan modal dasar; menabur beras kunyit, memasang tanjak, dan ‘berpura-pura santun’. Seolah-olah kedatangan sejumlah orang dari negeri-negeri tetangga, tak membawa santun dan kehalusan akal budi. Seakan kita saja yang memiliki akal budi dan ‘kitab santun’ di atas muka Bumi. Maka, kita dengan rasa ‘tak bersalah’ menjadi ‘guru’ lalu berhujah tinggi kepada sekump**an kontingen yang datang ke kampung kita. Dan… khotbah demagogi mengenai akal budi dan kesantunan itu kita lontarkan dari sebuah pucuk bukit. “Bahwa tuan-tuan harus memahami akal budi kami”. Akal budi yang diusung, ketika celah untuk berbuat gemerlap dan spektakuler itu tertutup, karena ketiadaan dana. Lalu kita membungkusnya dengan kata-kata serba “akal budi”… Pada ketika itu kita mendakukan diri. Padahal tak lebih dari daku-dakuan sejumlah “orang-orang kalah”. He he he… ***

Kump**an Daku

"Yusuf "Penulis : Yusmar Yusuf (Budayawan Riau)di-posting 2 September 2012 - pukul 09.24 WIBDi-download darihttp://www.r...
01/12/2012

"Yusuf "

Penulis : Yusmar Yusuf (Budayawan Riau)
di-posting 2 September 2012 - pukul 09.24 WIB
Di-download dari
http://www.riaupos.co/kolom.php?act=full&id=445&kat=6 #.ULo4EHmCqjk
Minggu, 2 Desember 2012, pukul 24.04
Dibaca 801 kali


Di kedalaman sumur, nama itu senyap, dingin dan menggigil. Yakub gelisah, galau dengan yang mata katarak.

Penglihatan sekeping celah, benderang nan redup. Yusuf ditelan padang gurun, kemudian naik dalam gegar pikulan caravan.

Hidup antara budak, fitnah, kumal, gelap, jeruji penjara. Keteguhan iman yang menghunjam, bertindak sebagai pembebas.

Zulaikha yang melemparkan dia ke penjara, dan Zulaikha p**a yang menghidu madu.

Setiap desiran darah yang mengalir dalam nadi Zulaikha, membentuk huruf; Y u s u f. Dan darah di ujung jemari yang menetes jatuh vertikal ke tanah, juga membentuk huruf: Y u s u f…, Y u s u f,… Y u s u f,… Y u s u f.

Dalam ‘igau’ sentak pelana kuda, lalu Zulaikha berlari kencang. Debu yang beterbangan dari telapak pelana kuda itu, membentuk huruf; Y u s u f….. Y U S U F …

Tanah Mesir pada sebuah zaman: dari ujung kaki langit ke kaki langit nan sayup, beradu dalam sekepal genggam Yusuf yang bijak dan tampan. Yusuf, bukan anak wathan Mesir. Dia seorang pendatang, yang digelinding oleh sejarah pembuangan dan para budak.

Yusuf adalah klimaks dendam para saudara sedarah yang bermaksud mencuri hati sang ayah renta bernama Yakub. Benjamin, si bungsu jadi rebahan jiwa yang koyak, walau tak kuasa menjahit calar dan luka sang anbiya gering.

Dan Benjamin menjalani persaksian panjang tentang Yusuf yang hilang, berdiri gagah di atas peterakna kuasa di sebuah tanah jauh bernama Mesir. Dari Kana’an, keluarga Yakub, mengembara mencari bala bantuan pangan, ketika Kan’aan mengalami krisis pangan.

Yusuf tegak sebagai raja. Kemudian Yusuf menyibak rahasia kepada Benjamin, dan Benjamin pun dibungkus rahasia. Antara rahasia dan Benjamin, entah siapa yang duluan berujar: Benjamin diam, sang rahasia pun tercenung. Begitu sebaliknya.

Membaca dan mentakwil mimpi, adalah sebuah instrumen langit yang dihibahkan kepada Yusuf.

Diikat kencang oleh ‘tongkat’ kejujuran, Yusuf bersaksi mengenai mimpi sang raja tua mengenai tanah Mesir. Dan mimpi itu ditakwil dan diterjemah dalam jangkauan serba terukur.

Penulis Jerman Thomas Mann, dengan cerdik menggambarkan mimpi Yusuf ketika masih remaja yang diujarkannya kepada sang ayah, dibungkus dalam kemasan novel panjang: “Joseph und seine Brueder”.

Bahwa Yusuf bermimpi; matahari yang sujud, bulan yang sujud disertai sebelas bintang dengan aplitudo nan redup: “die Sonne, der Mond und elf Kokabim…”.

Tetralogi, khusus dalam penggalan “Die Geschicten Jaakobs” dikisahkan sekilas mengenai ujaran Yakub kepada putera tercintanya Yusuf: “Es sitzt das Kind an der Tiefe” sagt Jaakob besorgt zu seinem Lieblingskind, Joseph, als er diesem mitternaechtes dabei andeckt, den Mondguetten zu huldigen…

Dan Yusuf pun memikul resep juga formula dalam tempaan hidup yang pelik, berkecukupan dan pelik kembali, lalu ditutup dengan alkisah kemewahan sebagai raja Mesir. Noer Azam Achsani menyelam tubir sejarah Yusuf mengenai krisis pangan dunia.

Dan Yusuf adalah tapak inspirasi yang giga mengenai ihwal ini. Ketika menyebut Yusuf, sejarah senantiasa silau akan ketampanannya. Sejarah seakan tergoda dan menggoda romantika Yusuf dan Zulaikha.

Setiap ibu hamil, senantiasa berdoa jika anaknya kelak lelaki, hibahkanlah ketampanan Yusuf. Jika perempuan, dekatkanlah dengan citra Siti Maryam sang bunda Al Masiha Isa. Azam Achsani yang tergoda dengan rumusan nabi Yusuf mengenai ketersediaan pangan.

Yusuf dalam konteks ini adalah seorang pendatang, dari tanah jauh. Membawa ide-ide penyelamatan, membawa ihwal kebajikan bagi maslahat segala umat dan makhluk. Dia bangun irigasi, dia bangun ladang gandum.

Nukilan kisah Yusuf ini: “Dan menanamlah selama tujuh tahun berturut-turut secara sungguh-sungguh. Apa yang kamu tuai hendaklah ditingkalkan di tangkai, kecuali untuk kamu makan dalam jumlah yang sedikit”. Nabi Yusuf bagi Achsani adalah “The Best Economist Ever”.

Tak ada ajaran agama yang menganjurkan pembangunan ekonomi berbasis hutang, tak ada ajaran agama yang menyuling kisah mengenai krisis pangan yang diatasi dengan strategi impor pangan.

Kisah Yusuf terentang dari ruang para budak hingga maharaja berkecukupan. Maharaja yang menebar kasih dan mengutamakan transparansi kekuasaan dan sistem pemerintahan.

Ajaran ekonomi yang bertahan dalam jangka panjang (menanam tujuh tahun berturut-turut), jangka menengah (tinggalkan hasil tuaian itu di tangkai, dengan makna sistem tabungan dan transparansi) dan jangka pendek (ambilkan sedikit untuk dimakan, sesuai dengan keperluan).

Kaidah lain adalah, mereka yang bertindak sebagai kaum muhajir, kaum yang berpindah, selalu memiliki elan vital untuk menyelamatkan diri (survive) lewat dawai sensitivitas yang tergolong tinggi dan bijak.

Para pendatang, adalah tempat bertanya. Yusuf sebagai seorang pendatang dalam gelora para budak, fitnah dan jeruji penjara, beroposisi dengan ketampanan, godaan eros wanita, berseteguh dengan kejujuran, menjunjung tinggi prinsip-prinsip kemanusiaan yang memuliakan sang tuan pembebas, yang nyatanya seorang lelaki impoten suami Zulaikha yang perawan bohai.

Yusuf, bukan persoalan kenangan atau ingatan. Di tengah dunia yang bercelaru, entah mana pangkal dan entah mana ujung, masih ada harapan mengejar cahaya.

Yusuf yang terpasung dalam kegelapan sumur, hanya bisa mengeja sejumlah gemintang dalam kuluman amplitude nan redup (dan bahasa Jerman menyebutnya sebagai Kokabim).

Mimpi Yusuf mengenai sebelas bintang, dan ikhtiar Yusuf mengintip celah lubang sumur untuk mengeja sejumlah bintang yang bertabur, ialah celah dan liang mengenai harapan, walau jauh dan jauh.

Sesuatu nan jauh, jika didekat-dekatkan dalam nadi, dalam nurani, dalam sukma dan cita-cita, dia bakal menjadi dermaga di teluk nan teduh, tempat para jauhari berlabuh dan menjatuhkan sauh.

Maka bergeloralah menggali kepingan kisah-kisah yang terpendam, tidak dari kerangka awam, atau tajur para mainstream.

Temukanlah sejumlah dugaan minor di tengah bentangan kisah serba mayor dan romantik. Yusuf, Harun, terutama Khaidir menyilang serangkaian kisah minor tak terduga. Dan kita didorong untuk menjadi para “penduga”, yang tak durjana… ***

Yusuf

Address

Jalan Merdeka, Ds. Lorong, Kec. Sambas
Sambas
79462

Telephone

+62562392540

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Majelis Adat Budaya Melayu Kabupaten Sambas posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Majelis Adat Budaya Melayu Kabupaten Sambas:

Share