01/12/2012
"Dan Muhammad Pun... "
Penulis : Yusmar Yusuf (Budayawan Riau)
di-posting 14 Oktober 2012 – pukul 07.54 WIB
Di-download dari
http://www.riaupos.co/kolom.php?act=full&id=485&kat=6 #.ULo5onmCqjk
Minggu, 2 Desember 2012 - pukul 24.30 WIB
Dibaca 832 kali
Seorang pengemis, sudut jalan, pojok kota, Yahudi kumal, dan buta. Lengkaplah sudah timpaan nasib; tunai. Namun ada satu lagi, dia tak hanya seorang pengemis buta, namun juga seorang bermulut judes, dan mengulang-ulang kejudesan itu tak mengenal kala. Setiap orang yang mendekat dan memberikan sesuatu, dia akan menumpahkan seranahnya kepada orang itu dengan kalimat seragam, saban waktu dan saban hari: “Jauhilah Muhammad, dia seorang pembohong!!!”. “Jauhi Muhammad!!!, Jika dia mendekati mu, niscaya dia akan mempengaruhi mu, hingga sesatlah kalian selama-lamanya”. “Muhammad, adalah seorang tukang sihir, tak bermoral, dan penipu”. Inilah kalimat yang diulang-ulang seperti suara kaset, kepada setiap orang yang menghampiri dan melintas di depannya.
Madinah saban pagi. Madinah, sebuah kota dengan sejuta kisah dan cerita. Di tanah ini, hidup beragam manusia, anak bani Adam dengan jalannya masing-masing. Dengan keceriaan spiritualnya sendiri-sendiri. Keriangan langit dan keriangan Bumi bertumpu pada sebuah tanah bercahaya. Setiap kening dan dahi manusia di kota ini bercahaya, setiap genggam telapak tangan manusia di tanah ini menggenggam rasa damai. Pagi, damai, ceria, ramai dan sibuk. Itulah gambaran kesibukan pasar Madinah, kota Nabi.
Pada satu sudut jalan, bersimpuh seorang pengemis buta, Yahudi: Lalu menghumban kalimat-kalimat menghujat kenabian dan pribadi nabi. Dan saban pagi p**a Nabi Muhammad mengantarkan makanan kepada sang pengemis buta ini. Tak sekadar mengantar makanan, beliau juga menyuap makanan ini kepada sang pengemis, penuh kasih dan sayang. Begitulah… saban pagi dan pagi-pagi berikutnya. Setiap beliau menghampiri sang pengemis, maka berhamburan kalimat-kalimat standar yang meluncur dari mulut sang pengemis. Namun, Nabi dengan sabar menyuap makanan ke mulut sang pengemis, tanpa berkata sepatah pun. Nabi mengantar makanan ini saban pagi hingga menjelang beliau wafat di Madinah.
Beberapa hari setelah wafat, Abu Bakar Assidieq berkunjung ke rumah Siti Aisyah, puterinya sekaligus isteri Nabi. Lalu Sayiidina berkata kepada sang puteri: “Adakah lagi perbuatan Nabi yang tak aku lakukan setelah beliau wafat?” “Ada”, jawab Siti Aisyah tegas. “Apakah itu Ananda?” ujar Abu Bakar singkat. “Memberi makan kepada sang pengemis di sudut jalan di sebuah pojok kota yang ramai”, jawab Aisyah lagi. Abu Bakar ialah penyalin lengkap perilaku nabi, seorang ahli tariqat yang alim, rendah hati dan bersikap sabar. Sebab, hampir seluruh tabiat dan perilaku nabi yang jadi suri tauladan, sepeninggal Nabi, telah diikuti dan dilakukannya demi meneruskan ‘aliran air’ langit yang bergerak menerobos ke masa depan itu.
Maka, Abu Bakar pun bergegas pada sebuah pagi. Mendatangi dan mendekat ke sosok tubuh loyo pada sudut sebatang jalan. Abu Bakar menjinjit kasih dan mendekat. Dia mengantar makanan untuk sang pengemis buta. Lalu menyuapkannya ke dalam mulut si pengemis. Namun, betapa terperanjat Abu Bakar, ketika sang pengemis membentak dengan suara yang keras: “Siapa Tuan hamba? Anda bukan orang yang biasa datang kepada ku”. Lalu Abu Bakar menjawab dengan tenang: “Akulah yang datang saban pagi dan memberikan makanan ini kepada mu”. “Tidak… tidak, aku tak percaya! Betapa susahnya mengunyah makanan mu, sangkut di tekak dan kerongkong, dan begitu keras makanan ini”, ujar pengemis itu kesal. “Orang yang biasa datang kepada ku, memberi dengan lembut, makanan dimamahkan dengan telapak tangannya, sehingga dia menjadi lunak dan lembut di mulut.”
Abu Bakar terdiam. Air mata menitis… “Wahai Tuan Hamba, ujar Abu Bakar, orang yang selalu mengantarkan makanan dan menyuapimu itu, telah tiada. Dia telah wafat beberapa hari lalu. Dia adalah Nabi Muhammad SAW”. Sampai di situ, ya sampai di situ. Sang pengemis terdiam,… juga sampai di situ. Alam yang dialami pengemis, berubah sontak… ada yang berterjangan di dalam benak dan hatinya. Galau...? Inilah perilaku sejati… Sesuatu yang keras membeku, meremeh dan menodai, ketika didatangi dengan diam, berbuat dan kasih, dia akan terhenti dan diam. Tak semata diam,… Ya, sebuah diam yang menunjuk untuk berubah dan beringsut. Lalu, kita pun dianjur mengambil peran pengemis buta yang judes itu? Bagaimana sikap kita setelah mendengar “ketiadaan” yang ranggi itu?
Ibnu Abbas memberi bingkai yang molek kepada pribadi-pribadi maksum dalam sejarah manusia: Dawud itu pembuat perisai yang lihai, Adam seorang petani yang tabah dan teliti, Nuh seorang tukang kayu dan navigator, Idris seorang penjahit dan astronom, Musa seorang pengembala, dan Muhammad seorang pengembala lembut, penebuk hati setiap insan dan segala makhluk. Muhammad Suci, membalikkan sejarah gelap, keras dan membeku, dengan sejumlah kedatangan yang lembut dan mencair. Dia hadir dengan sejumlah kedatangan tak terduga olah sebuah zaman yang serba dangkal. Perilaku dan suri tauladannya terlalu dalam untuk diselami oleh sebuah zaman yang diisi oleh kaum yang berakal dangkal. Kian dihujat, kian dinista, nabi mendatanginya dengan munajat, dengan doa tak kenal sudah. Bukan malah didatangi dengan vigilantis, dengan vendetta dan jingoism. Agama dan spirtualisme itu bertemu dan bertumpu pada: diam dan berbuat. Bukan menggertak dan menggelodak, bersorak dan bertempik. Sang pengemis buta, mengalir sejuta tafsir tentang kedatangan nabi dalam diam, tanpa kata, namun berbuat. Kita semua adalah anak-anak Adam yang saling iri dan bersinggungan untuk mencapai sesuatu yang tak pasti. Pun, Muhammad datang dengan segenap pun… dan Muhammad hadir dengan sesuatu yang tak berhingga. Diam, memulai pada sang pengemis buta, dan dengan diam p**a, dia merasakan kehilangan yang tak terkata… Dan Muhammad pun… ***
Dan Muhammad Pun...