11/05/2018
Hati bergejolak tak menentu, semua rasa teraduk jadi satu, panas menjalar dari genggaman tangan hingga ubun-ubun. Kalau yang panas itu wajan maka akan sangat bermanfaat untuk menggoreng telur, ikan, krupuk dan lain-lain, tapi kalau yang panas kepala? Hati-hati ya Buk-Ibuk....
Cemburu adalah luapan emosi yang jamak terjadi pada siapapun yang dalam hatinya ada rasa memiliki, tetapi umumnya jarang diakui secara terbuka. Dibandingkan dengan rasa khawatir, cemas, kesepian, dan rendah hati, cemburu merupakan perasaan yang paling sulit untuk diakui, bahkan oleh diri sendiri ketika cemburu itu datang.
Cemburu bagai dua sisi uang, kecemburuan bisa menjadi penyelamat dan juga sekaligus sebagai pembunuh. Penyelamat jika dengan cemburu semakin menyuburkan cinta dan kasih sayang, dengan cemburu dapat saling terbuka dan komunikasi terjalin, namun ia dapat menjadi pembunuh cinta itu sendiri jika salah dalam bersikap dan mengambil keputusan.
Cinta tanpa cemburu akan menjadi hampa, ibarat sayuran tanpa garam, ia kan terasa hambar. Bayangkan jika dalam pernikahan tak pernah sekalipun terbesit cemburu, itu pernikahan atau kontrak kerja?
Nah, pertanyaannya saat ini, Bolehkah cemburu itu menyerbu masuk ke dalam hati? Jawabannya bukan boleh atau tidak boleh, lahir kecemburuan adalah suatu kewajaran yang dirasakan oleh dua insan yang saling mencintai karena Allah. Cemburu pada istri atau sebaliknya memang dimaksudkan untuk melahirkan sikap saling menjaga satu sama lainnya dan bukan termasuk perbuatan terlarang, justru bagi pasangan khusunya suami yang tidak memiliki rasa cemburu mendapat kecaman oleh Rasulullaah shallallaahu 'alaihi wa sallam.
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Tiga golongan manusia yang Allah SWT mengharamkan surga bagi mereka yaitu pecandu khamr, orang durhaka pada orangtua dan lelaki dayyuts; yang tidak memilki kecemburuan( HR. An. Nasai)
Suami diharapkan memiliki rasa cemburu pada istrinya juga kelurganya, cemburu yang menyebabkan ia dapat berperan sepenuhnya dalam mengendalikan keluarga untuk tetap dalam ketaatan kepada Allah Ta'ala.
Agar istri bersama keluarga terhindar dari kemaksitan dan ikhtilat antara lawan jenis tanpa hijab.
Tapi harus selalu diingat bahwa ada cemburu yang dilarang dan adapula yang diperbolehkan dalam agama Islam. Maka cemburu yang diperbolehkan adalah yang datang karena mengharapkan kebaikan untuk istri atau suami dalam koridor ketaatan kepada Allah 'azza wa jalla. Jika cemburu itu datang maka selesaikan dengan kepala dingin, jangan pernah menuduh dengan hal-hal yang masih belum terbukti kebenarannya dan jangan sekali-kali mengeluarkan kata-kata kasar. Tahan lisanmu.
Sikap dewasa diperlukan untuk mengatasi kecemburuan, jangan sampai karena cemburu rusaklah reputasi pasangan, menghancurkan kewibawaannya di mata orang lain dan jika cemburu datang pada istri yang suaminya menerapkan poligami, jangan jadikan kecemburuanmu sebagai alasan untuk merusak cinta suami kepada istri yang lainnya.
Cemburu merupakan tabiat wanita. Ini juga dialami para istri Rasulullah shollollohu ‘alaihi wasallam dan sahabiyyah yang lain. Namun tentu saja, kecemburuan ini tidak serta-merta membutakan hati mereka. Bagaimana dengan kita?
Cemburu tak hanya milik lelaki, tapi juga milik kaum wanita. Bahkan, wanitalah yang dominan memiliki sifat yang satu ini karena merupakan tabiatnya. Perasaan cemburu ini paling banyak muncul pada pasangan suami-istri.
Bersambung...