06/09/2019
Ramai
Pemilihan kepala desa hangat dibincangkan. Di warung, masjid, pasar, apalagi media sosial. Bahkan grup rumpi "mbok rondo" membualnya. Pemikiran bebas yang usut tak jelaspun seliweran.
Hari ini, 6 September 2019, kami baru berani mengumumkan para peserta pemilu kepala desa. Ada 3 berkas pendaftar yang masuk di loker meja kami. 3 bakal calon. Semoga informasi ini bisa menepis isu negatif yang mengembang di kuping "mbok dewor" atau "pak lamis".
Mereka adalah
1. Abdul Mutholib (dk. Sendang, Gandrirojo)
2. Eko Riyadi (dk. Nganguk, Gandrirojo)
3. Moch. Muslich (dk. Nganguk, Gandrirojo)
Jangan salah, urutan angka diatas belum bisa disimpulkan. Bukan karena kami memihak, bukan p**a nomor urut calon pada kertas suara. Urutan tersebut didasarkan pada waktu pendaftaran.
Adapun urutan calon kepala desa akan diundi pada tanggal 4 oktober 2019. Warga boleh merumuni lokasi penetapan calon kepala desa. Kali saja dapat undian arisan. Maksudnya Arisan memimpin doa. Asal jangan membawa sound seperti karnaval kemarin, apalagi macak tuyul atau banci. Nanti kami malah gagal fokus.
Dari ketiga bakal calon, mereka mendaftarkan diri secara pribadi. Memang begitu Bapak Bupati mengaturnya. Meskipun banyak foto diunggah para fans, dipasalnya tidak menjelaskan ada acara foto atau selfi. Apalagi selfi sambil mecucu. Tidak lah.
Hari ini, hingga tanggal 25 September 2019 mendatang adalah masa penelitian berkas bakal calon. Para calon dipersilakan untuk melengkapi berkas yang kurang dan atau merevisi kesalahan berkas.
Para tim pemenangan atau tim sukses yang mengetahui informasi ini, kami berharap Bapak/Ibu mendorong calonnya untuk segera melengkapi dan atau merevisi agar tidak dinyatakan gugur secara administrasi.
Mari bersama sama menyukseskan kontestasi pemilihan kepala desa ini dengan damai dan demokrasi sehat. Ketiga calon adalah manusia biasa. Tetangga anda, saudara anda, teman anda. Atau status lain. Kebaikan dan keburukan sudah pasti melekat pada mereka. Tipe karakterpun sudah tampak tersurat atau tersirat.
kategori karakter Pandawa, kurawa, atau sengkuni, biarlah menjadi dapur pribadi mereka sendiri. Tugas warga adalah mengawal kontestasi ini dan memilih calon berdasarkan hati nurani. Selebihnya, biar kami menjalankan tugas dengan profesional.
Selanjutnya, tentang kabar baik buruk bakal calon yang sudah berjibaku. Marilah memfilter atau menyaring informasi yang tak layak sebar. Mari menjaga kondusifitas, ketertiban, kerukunan dengan saudara, tetangga, teman, pak duda atau mbok (bukan "mbak") randa dan semua warga. Jangan mengotori keindahan bermasyarakat dengan penyakit 6 tahunan ini.
Rugi bila setelah kontestasi ini ada "neng nengan", atau percerai-beraian warga. Apalagi perceraian di pengadilan agama. Tidak lucu kan bila di surat merahnya tertera alasan perceraian adalah PILKADES.
Bila tulisan ini dirasa memihak, atau menyakiti perasaan kelompok tertentu, akan segera kami perbaiki atau hapus.
Maaf, terimakasih
Salam demokrasi.