07/06/2024
ADA APA DENGAN GROBOGAN?!
Dinasti Mataram Islam yang kini terbelah menjadi dua yakni Surakarta Hadiningrat - Solo Dan Ngayogyakarta Hadiningrat - Yogyakarta, sejujurnya adalah keturunan pribumi Grobogan.
Tak bisa selak, sejarah mencatat demikian bahwa Pakubuwana XIII dan Hamengkubuwana X sebagai pewaris mahkota Mataram Islam yang masih langgeng hingga detik ini, leluhurnya berasal dari Grobogan. Artinya Grobogan itu saudara tuanya Solo dan Jogja.
Bahkan Jaka Tingkir atau Mas Karebet atau kelak dikenal Sultan Hadiwijaya sebagai Raja pertama Keraton Pajang pun adalah santrinya Ulama yang bertumpah darah pribumi Grobogan.
Lantas siapakah beliau?! Sebegitu hebatnya melahirkan generasi yang berhasil mendirikan kerajaan Mataram Islam dan sukses menempa Jaka Tingkir sehingga naik tahta Raja pertama di Pajang. Tiada lain, beliau adalah Ki Ageng Selo atau Bagus Sogom atau Risang Sutawijaya atau Syekh Abdurrahman bin Ki Ageng Getas Pendawa bin Ki Ageng Lembu Peteng. Sang Waly penangkap petir, yang dilingkup sejarawan, budayawan dan para pelestari seni budaya dikenal sebagai pewaris ajaran Suluk Pepali.
Grobogan sejak zaman Majapahit, Demak Bintara, Pajang hingga Mataram Islam, selalu memiliki nilai istimewa. Siapapun bangsawan jika sudah masuk wilayah Grobogan akan aman dari kejaran musuh.
Sebagaimana Bondan Kejawan atau Ki Ageng Lembu Peteng putra Brawijaya V, tatkala Majapahit runtuh, salah satu alasan Bondan Kejawan memilih Grobogan sebagai tempat tinggal adalah karena Grobogan secara teritorial, sejak berabad-abad termasuk tanah yang dituakan oleh para pribumi, bangsawan dan Raja-raja di Jawa.
Sehingga bagi Bondan Kejawan, menghuni Grobogan adalah pilihan paling tepat dan bisa selamat dari pengejaran musuh. Soal alasan sejarah tentang keistimewaan Grobogan, lain kali dibahas lebih detail dengan disertakan bukti primernya. Karena ini berkaitan dengan keberadaan salah satu Kerajaan tertua di Jawa, yakni Medang Kamulan yang indikasinya kuat terletak di Grobogan juga.