Suhairi sps 5: Catatan Ilmiah "Aswaja" vs "Wahhabi".

Suhairi sps 5: Catatan Ilmiah "Aswaja" vs "Wahhabi". Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Suhairi sps 5: Catatan Ilmiah "Aswaja" vs "Wahhabi"., Library, Alamat: Sungai Ambawang, Pontianak.

Masih banyak Wahabi tidak terima postingan saya sebelumnya tentang "Pembantaian Wahabi". Mereka malah berteriak, "Ini ho...
05/04/2026

Masih banyak Wahabi tidak terima postingan saya sebelumnya tentang "Pembantaian Wahabi". Mereka malah berteriak, "Ini hoax! Ini propaganda Syiah!"

Padahal saya sama sekali tidak punya kaitan dengan Syiah, dan sudah sertakan rujuannya. Tapi tetap saja tuduh saya "Syiah". Sungguh menggelikan.

Ini adalah salahs atu sumber yg saya tulis, nash dari kitab Unwan al-Majd fi Tarikh Najd yang secara jelas mengabarkan penyerbuan pasukan Saud ke Karbala. Saya tunjukkan langsung buktinya di halaman 257.

Mari kita baca yuk

Kalimat 1
ثم دخلت السنة السادسة عشرة بعد المائتين والآلف
tsumma dakhalat is-sanatu as-sadisata asyarata ba'da al-ma'atayni wal-alaaf
ثم = kemudian
دخلت = masuklah
السنة السادسة عشرة = tahun keenam belas
بعد المائتين والآلف = setelah dua ratus seribu
(maksudnya tahun 1216 Hijriah)

Kalimat 2
وفيما سار سعود بالجيش المنصورة والخليل العتاق المشهورة
wa fiimaa saara su'ud bil-jaysyi al-mansurati wal-khalili al-itaaqi al-masyhurah
وفيما = dan ketika
سار = berjalan
سعود = Sa'ud
بالجيش المنصورة = dengan pasukan yang ditolong (Al-Jaysh al-Mansurah)
والخليل العتاق المشهورة = dan Al-Khalil al-'Itaq yang terkenal

Kalimat 3
من جميع حاضر جند وبادئها والجنوب والحجاز وتهامة وغير ذلك
min jami'i haadiri jundin wa baadi'iha wal-janubi wal-hijazi wa tihaamata wa ghayri dhaalika
من جميع = dari seluruh
حاضر جند = kota/pasukan
وبادئها = dan pedalamannya/desanya
والجنوب = dan selatan
والحجاز = dan Hijaz
وتهامة = dan Tihamah
وغير ذلك = dan selain itu

Kalimat 4
وقصدوا أرض كربلاء ونازلوا أهل بلد الحسين
wa qasaduu arda karbalaa'a wa naazaluu ahla baladi al-husayn
وقصدوا = dan mereka menuju
أرض كربلاء = tanah Karbala
ونازلوا = dan mereka mengepung
أهل بلد الحسين = penduduk kota al-Husain (Karbala)

Kalimat 5
وذلك في ذي القعدة فحشد عليها المسلمون
wa dhaalika fii dhii al-qa'dati fahasyada 'alayhaa al-muslimuun
وذلك = dan itu terjadi
في ذي القعدة = pada bulan Dzulqa'dah
فحشد = maka berkumpullah
عليها = melawannya (menuju Karbala)
المسلمون = kaum Muslimin

Kalimat 6
وتسوروا جدرانها ودخلوها عبوة
wa tasawwaruu judraanahaa wa dakholuuhaa 'abwatan
وتسوروا = dan mereka memanjati/melompati
جدرانها = tembok-temboknya
ودخلوها = dan memasukinya
عبوة = secara serentak/ramai-ramai

Kalimat 7
وقتلوا غالب أهلها في الأسواق والبيت
wa qataluu ghaaliba ahlihaa fi al-aswaaqi wal-bayti
وقتلوا = dan mereka membunuh
غالب أهلها = kebanyakan penduduknya
في الأسواق = di pasar-pasar
والبيت = dan rumah-rumah

Kalimat 8
وهدموا القبة الموضوعية = dan mereka menghancurkan kubah yang dibuat (oleh orang-orang)
بزعم من اعتقد فيها = menurut keyakinan orang yang meyakininya (yakni kubah di atas)
على قبر الحسين = di atas makam al-Husain

Kalimat 9
وأخذوا ما في القبة وما حولها
wa akhadhuu maa fi al-qubbati wa maa hawlahaa
وأخذوا = dan mereka mengambil
ما في القبة = apa yang di dalam kubah
وما حولها = dan apa yang di sekitarnya

Kalimat 10
وأخذوا النصية التي وضعوها على القبر
wa akhadhuu an-nasiyyata allatii wada'uuhaa 'alaa al-qabri
وأخذوا = dan mereka mengambil
النصية = an-naṣiyyah (benda perhiasan/mahkota)
التي وضعوها = yang mereka letakkan
على القبر = di atas makam

Kalimat 11
وكانت مرصوفة بالزمرذ والياقوت والجوهر
wa kaanat marsuufatan biz-zumurrudi wal-yaaquuti wal-jawhari
وكانت = dan benda itu
مرصوفة = bertatahkan
بالزمرذ = dengan zamrud
والياقوت = dan yakut
والجوهر = dan permata

Kalimat 12:
وأخذوا جميع ما وجدوا في البلد من الأموال والسلاح واللباس والفرش والذهب والفضة والمصافح المبينة وغير ذلك مما يعجز عنه الحصر
wa akhadhuu jamii'a maa wajaduu fi al-baladi minal-amwaali was-silaahi wal-libaasi wal-furushi wadh-dhahabi wal-fiddati wal-masaafihi al-mubayyanati wa ghayri dhaalika mimmaa ya'jizu 'anhu al-hasru
وأخذوا = dan mereka mengambil
جميع ما وجدوا = semua yang mereka temukan
في البلد = di kota itu
من الأموال = berupa harta-harta
والسلاح = dan senjata
واللباس = dan pakaian
والفرش = dan permadani
والذهب = dan emas
والفضة = dan perak
والمصافح المبينة = dan mushaf-mushaf yang dihiasi/diterangkan
وغير ذلك = dan selain itu
مما يعجز عنه الحصر = dari apa yang tidak mampu dihitung/dibatasi

Kalimat 13:
ولم يلبثوا فيها إلا ...
wa lam yalbathuu fiihaa illaa ...
ولم يلبثوا = dan mereka tidak tinggal
فيها = di dalamnya (di kota itu)
إلا = kecuali ... (teks terputus)

Teks ini menggambarkan serangan pasukan Sa’ud (kemungkinan dari Dinasti Saudi pertama) terhadap Karbala pada tahun 1216 H (1801 M) yang dikenal dalam sejarah sebagai peristiwa penjarahan Karbala oleh pasukan Wahhabi di bawah pimpinan Abdul Aziz bin Muhammad bin Sa’ud (atau Sa’ud bin Abdul Aziz).

Kitab ini ditulis Utsman bin Abdullah bin Utsman bin Ahmad bin Bishr an-Najdi, atau lebih dikenal dengan sebutan Ibn Bishr

Ia hidup sezaman dengan Negara Saudi Pertama dan Negara Saudi Kedua, serta menjadi saksi mata berbagai peristiwa penting di Jazirah Arab pada abad ke-19.

Dia beraqidah Wahabi (pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab), bukan Syiah.

Bahkan, beliau adalah salah satu sejarawan terpenting yang mencatat sejarah Daulah Saudi pertama dan kedua dari sudut pandang dakwah Salafi/Wahabi. Kitabnya, 'Unwan al-Majd fi Tarikh Najd, menjadi rujukan utama bagi sejarah Najd dan ekspansi gerakan Wahabi.

Ia berasal dari keluarga ulama Najd yang mendukung dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Ia berguru kepada para ulama terkemuka dari keturunan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab (Ali bin Husain Alu Syaikh) dan juga kepada Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab (putra langsung sang Syaikh).

Dalam teks diatas, terlihat jelas dia sangat Wahabi

Seperti kata بزعم من اعتقد فيها (bi-za'mi) dalam bahasa Arab ini artinya memandang remeh dengan anggapan umat tentang kesucian makam sholihin, keberkahan makam Sayyidina Husein menurutnya adalah dusta

Juga kalimat Kubah yang dibuat-buat" (القبة الموضوعة), menurutnya kubah tersebut bukanlah bagian dari ajaran Islam, melainkan Bidah buatan manusia.

Juga baginya, membangun bangunan di atas kuburan untuk diagungkan adalah tindakan syirik karena dikhawatirkan menjadi sesembahan selain Allah. Oleh karena itu, penghancuran kubah di Karbala digambarkan sebagai tindakan pembersihan dari kemusyrikan menurut versinya.

Tidak ada keraguan sedikit pun bahwa Utsman bin Bishr adalah seorang sejarawan Wahabi. Dia menulis peristiwa tersebut dengan bangga sebagai bentuk "jihad" melawan "kesyirikan" secara sepihak.

Lha kok sama Wahabi di bilang propaganda Syiah? Nggak nyambung sama sekali

SANAD KEILMUAN IMAM SYAFI’I MADZHAB UTAMA NAHDLOTUL ULAMA)Sanad Imam Syafi’i (w. 204 H) kepada Rasulullah Shalla Allahu ...
03/04/2026

SANAD KEILMUAN IMAM SYAFI’I MADZHAB UTAMA NAHDLOTUL ULAMA)

Sanad Imam Syafi’i (w. 204 H) kepada Rasulullah Shalla Allahu Alaihi wa Sallam memiliki 2 Jalur, Jalur Imam Malik dan Jalur Imam Abu Hanifah.

1. Jalur Imam Malik

Imam Malik bin Anas (w. 179 H, Pendiri Madzhab Malikiyah) berguru kepada
① Ibnu Syihab al-Zuhri (w. 124 H),
② Nafi’ Maula Abdillah bin Umar (w. 117 H),
③ Abu Zunad (w. 136 H),
④ Rabiah al-Ra’y (w. 136H), dan
⑤ Yahya bin Said (w. 143 H)

Kesemuanya berguru kepada
① Abdullah bin Abdullah bin Mas’ud (w. 94 H), ② Urwah bin Zubair (w. 94 H),
③ al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar(w. 106 H),
④ Said bin Musayyab (w. 94 H),
⑤ Sulaiman bin Yasar (w. 107 H),
⑥ Kharihaj bin Zaid bin Tsabit (w.100 H),
⑦dan Salim bin Abdullah bin Umar (w.106H).

Kesemuanya berguru kepada
① Umar bin Khattab (w. 22 H),
② Utsman bin Affan (w. 35 H),
③ Abdullah bin Umar (w.73 H),
④ Abdullah bin Abbas (w. 68 H), dan
⑤ Zaid bin Tsabit (w. 45 H).

Kesemua Sahabat dari Rasulullah Shalla Allahu Alaihi wa Sallama

2. Jalur Imam Abu Hanifah

Imam Syafii :
Berguru kepada Muhammad bin al-Hasan (w. 189 H),
Berguru kepada Abu Hanifah (w. 150 H, Pendiri Madzhab Hanafiyah),
Berguru kepada Hammad bin Abi Sulaiman (w. 120 H).

Berguru kepada
① Ibrahim bin Yazid al-Nakhai (w. 95 H),
② al-Hasan al-Basri (w. 110 H), dan
③ Amir bin Syarahbil (w. 104 H).

Kesemuanya berguru kepada
① Syuraihbin al-Haris al-Kindi (w. 78 H),
② Alqamah bin Qais al-Nakhai (w. 62 H), ③Masruq bin al-Ajda’ al-Hamdani (w. 62 H),
④ al-Aswad bin Yazid bin Qais al-Nakhai (w. 95 H).

Kesemuanya berguru kepada
① Abdullah bin Mas’ud (w. 32 H) dan
② Ali bin Abi Thalib (w. 40 H)Kesemua Sahabat dari Rasulullah Shalla Allahu Alaihi wa Sallama

Madzhab Syafiiyah terdiri dari beberapa generasi (Thabqah).

Thabqah I Murid-Murid Imam Syafi’iAbdullah bin Zubair Abu Bakar al-Humaidi (w. 219 H), Abu Ya’qub Yusuf bin Yahya al-Buwaithi (w. 231 H), Ishaq bin Rahuwaih (w. 238 H), Abu Utsman al-Qadhi Muhammad bin Syafi’i (w. 240 H), Ahmad bin Hanbal (w. 241 H, Pendiri Madzhab Hanbali), Harmalah bin Yahya bin Abdullah al-Tajibi (w. 243 H), Abu Ali al-Husain bin Ali bin Yazid al-Karabisi (w.245 H), Abu Tsaur al-Kulabi al-Baghdadi (w. 246 H), Ahmad bin Yahya bin Wazir bin Sulaiman al-Tajibi (w. 250 H), al-Bukhari (w. 256 H), al-Hasan bin Muhammad bin al-Shabbah al-Za’farani (w. 260 H).

Thabqah II
Abu Ibrahim Ismail bin Yahya al-Muzani (w. 264 H), Ahmad bin al-Sayyar (w. 268 H), al-Rabi’ bin Sulaiman (w. 270 H), Abu Dawud (w. 275 H), Abu Hatim (w. 277 H),al-Darimi (w. 280 H), Ibnu Abi al-Dunya (w. 281 H), Abu Abdillah al-Marwazi (w. 294 H), Abu Ja’far al-Tirmidzi (w. 295 H), Al-Junaid al-Baghdadi (w. 298 H).

Thabqah III
al-Nasai (w. 303 H), Ibnu Suraij (w. 306 H), Ibnu al-Mundzir (w. 318 H), Abu Hasan al-Asy’ari (w. 324 H, Imam Ahlissunah Dalam Aqidah), Ibnu al-Qash(w. 335 H), Abu Ishaq al-Marwazi (w. 340H), al-Mas’udi (w. 346 H), Abu Ali al-Thabari (w. 350 H), al-Qaffal al-Kabir al-Syasyi (w. 366 H), Ibnu Abi Hatim (w. 381 H), Al-Daruquthni (w. 385 H).

Thabqah IV
al-Qadhi Abu Bakar al-Baqillani (w. 403 H), Ibnu al-Mahamili (w. 415 H), Mahmud bin Sabaktakin (w. 422 H), Abu Muhammad al-Juwaini (w. 438 H), al-Mawardi (w. 458 H), Ahmad bin Husain al-Baihaqi (w. 458 H), al-Qadhi al-Marwazi (w. 462 H), Abu al-Qasim al-Qusyairi (w. 465 H), Abu Ishaq al-Syairazi (w. 476 H), Imam al-Haramain (w. 478 H), Al-Karmani (w. 500 H).

Thabqah V
al-Ghazali (w. 505 H), Abu Bakar al-Syasyi (w. 507 H), al-Baghawi (w. 516 H), al-Hamdzani (w. 521 H), al-Syahrastani (w. 548 H), al-Amudi (w. 551 H), Ibnu Asakir (w. 576 H), Ibnu al-Anbari (w. 577 H), Abu Syuja’ al-Ashbihani (w. 593 H).

Thabqah VI
Ibnu al-Atsir (w. 606 H), Fakhruddin al-Razi (w. 606 H), Aminuddin Abu al-Khair al-Tibrizi (w. 621 H), al-Rafii (w. 623 H), Ali al-Sakhawi (w. 643 H), Izzuddin bin Abdissalam (w. 660 H), IbnuMalik (w. 672 H), Muhyiddin Syaraf al-Nawawi (w. 676 H), Al-Baidhawi (w. 691 H).Thabqah

VII
Ibnu Daqiq al-Id (w. 702 H), Quthbuddin al-Syairazi (w. 710 H), Najmuddin al-Qamuli (w. 727 H), Taqiyuddin al-Subki (w. 756 H), Tajuddin al-Subki (w. 771 H), Jamaluddin al-Asnawi (w. 772 H),Ibnu Katsir (w. 774 H), Ibnu al-Mulaqqin (w. 804 H), al-Zarkasyi (w. 780 H).

Thabqah VIII
Sirajuddin al-Bulqini (w. 805 H), Zainuddin al-Iraqi (w. 806 H), Ibnu al-Muqri (w. 837 H), Syihabuddin al-Ramli (w. 844 H), Ibnu Ruslan (w. 844 H), Ibnu Zahrah (w. 848 H), Ibnu Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H), Jalaluddin al-Mahalli (w. 864 H), Kamaluddin Ibnu Imam al-Kamiliyah (w. 874 H).

Thabqah IX
Jalaluddin al-Suyuthi (w. 911 H), al-Qasthalani (w. 923 H), Zakariya al-Anshari (w. 928 H), Zainuddin al-Malibari (w. 972 H), Abdul Wahhab al-Sya’rani (w. 973 H), Ibnu Hajar al-Haitami (w. 974 H), al-Khatib al-Syirbini (w. 977 H), Ibnu al-Qasim al-Ubbadi (w. 994 H).

Thabqah X
Syamsuddin al-Ramli (w. 1004 H), Abu Bakar al-Syinwani (w. 1019 H), Syihabuddin al-Subki (w. 1032 H), Ibnu ‘Alan al-Makki (w. 1057 H), al-Raniri (w. 1068 H), Syihabuddin al-Qulyubi (w. 1070 H), Muhammad al-Kaurani (w. 1078 H), Ibrahim al-Maimuni (w. 1079 H), Ali al-Syibramalisi (w. 1078 H), Abdurrauf al-Fanshuri (w. 1094 H).

Thabqah XI
Najmuddin al-Hifni (w. 1101 H), Ibrahim al-Kaurani (w. 1101 H), Ilyas al-Kurdi (w. 1138 H), Abdul Karim al-Syarabati (w. 1178 H), Jamaluddin al-Hifni (w. 1178 H),Isa al-Barmawi (w. 1178 H), Athiyah al-Ajhuri (w. 1190 H), Ahmad al-Syuja’i (w. 1197 H).

Thabqah XII
Abdushomad al-Palimbani (w. 1203 H), Sulaiman al-Jamal (w. 1204 H), Sulaiman al-Bujairimi (w. 1221 H), Arsyar al-Banjari (w. 1227 H), Muhammad al-Syinwani (w. 1233 H), Muhammad al-Fudhali (w. 1236 H), Khalid al-Naqsyabandi (w. 1242 H), Abdurrahman Ba’alawi al-Hadhrami (w. 1254 H), Khatib al-Sanbasi (w. 1289 H), Ibrahim al-Bajuri (w. 1276 H).

Thabqah XIII
Zaini Dahlan (w. 1303 H), al-Bakri Muhammad Syatha (w. 1310 H), Nawawi al-Bantani (w. 1315 H), Shalih Darat (w. 1321 H), Muhammad Amin al-Kurdi (w. 1332 H), Ahmad Khatib al-Minangkabawi (w. 1334 H), Mahfudz al-Tarmasi (w. 1338 H), Ahmad Khalil al-Bangkalani (w. 1345 H), Yusuf bin Ismail al-Nabhani (w. 1350 H).

Thabqah XIV
KH Hasyim Asy’ari (w. 1367 H), Pendiri Jamiyah Nahdlatul Ulama

Ditandatangani Oleh:

Rais Am
Dr. KH. Muhammad Ahmad Sahal Mahfudz
Ketua Umum
Dr. KH. Said Aqil Siroj

Diterbitkan Oleh Pengurus Pusat Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama

Referensi:
1. Muhammad Abu Zahrah “al-Syafi’i”
2. Hadlari Bik “Tarikh Tasyri”
3. Sirajuddin Abbas “Tabaqat al-Syafi’iyah”

Ini bukan sekadar pengakuan. Ini semacam “terlambat jujur” dari seorang Mohammed bin Salman tentang sebuah proyek besar ...
24/03/2026

Ini bukan sekadar pengakuan. Ini semacam “terlambat jujur” dari seorang Mohammed bin Salman tentang sebuah proyek besar yang selama ini diselimuti narasi suci.

Mari kita telanjangi pelan-pelan.

Selama puluhan tahun, apa yang disebut “pemurnian agama” itu dijual ke umat sebagai jalan kembali ke tauhid yang bersih. Wahabi-Salafi dipresentasikan sebagai cahaya yang mengusir bid’ah, menghapus syirik, dan menyelamatkan akidah. Tapi sekarang, dari mulut kekuasaan sendiri, kita dengar sesuatu yang pahit: itu juga proyek geopolitik.

Bukan murni dakwah.
Bukan sekadar ijtihad.
Tapi bagian dari strategi perang dingin melawan Uni Soviet.

Di titik ini, kita harus berani jujur:
agama pernah—dan mungkin masih—dipakai sebagai alat.
---

Wahabi sebagai ajaran spiritual tidak lahir sebagai monster. Ia lahir sebagai gerakan purifikasi—upaya membersihkan praktik yang dianggap menyimpang. Dalam kerangka teologis, itu sah-sah saja. Banyak gerakan reformasi dalam sejarah Islam melakukan hal yang sama.

Masalahnya bukan di niat awal.
Masalahnya adalah ketika ajaran itu diberi “bensin politik”.

Ketika kekayaan minyak Arab Saudi mengalir ke masjid, madrasah, buku, dan dai di seluruh dunia—yang tersebar bukan cuma tauhid, tapi juga cara pandang yang kaku, hitam-putih, dan sering kali anti terhadap keragaman lokal.

Di Indonesia, ini terasa jelas. Tradisi yang sudah berabad-abad hidup—tahlilan, maulid, ziarah—tiba-tiba divonis sesat. Masyarakat yang tadinya damai jadi saling curiga. Agama yang harusnya menenangkan justru berubah jadi alat menghakimi.

Dan kita sering lupa: ini bukan terjadi di ruang hampa. Ini bagian dari distribusi pengaruh global.
---

Masuk ke level geopolitik, ceritanya makin telanjang.

Saat Perang Dingin memanas, dunia Islam menjadi medan perebutan pengaruh. Barat butuh benteng ideologis untuk melawan komunisme. Dan Saudi—dengan Wahabinya—menjadi alat yang “sempurna”.

Hasilnya?

Wahabi tidak hanya jadi mazhab.
Ia jadi instrumen.

Instrumen untuk melawan komunisme.
Instrumen untuk menahan pengaruh Iran.
Instrumen untuk membentuk “blok Sunni” versi tertentu.

Di titik ini, kita harus berani bilang:
ini bukan lagi soal agama, ini soal kekuasaan.
---

Lalu datang era modern. Tragedi seperti Serangan 11 September 2001 mengguncang dunia. Nama Wahabi ikut terseret dalam diskursus global tentang radikalisme.

Apakah semua Wahabi radikal? Tidak.
Apakah ajarannya otomatis melahirkan kekerasan? Tidak sesederhana itu.

Tapi kita juga tidak bisa pura-pura buta:
doktrin yang eksklusif, mudah mengklaim kebenaran tunggal, dan gemar melabeli “sesat”—itu adalah tanah subur bagi ekstremisme jika disalahgunakan.

Dan ketika negara pernah mendanai penyebaran ideologi itu secara masif, lalu sekarang berkata “itu dulu, sekarang kita mau kembali ke jalan yang benar”… pertanyaannya sederhana:

Siapa yang menanggung dampaknya?

Jawabannya: umat.
---

Yang lebih ironis, di saat retorika keagamaan masih bicara tentang Al-Aqsa, tentang solidaritas umat, di belakang layar kita melihat permainan lain.

Relasi diam-diam Saudi dengan Israel, koordinasi keamanan, kepentingan bersama melawan musuh yang sama—semuanya menunjukkan satu hal:

politik tidak pernah benar-benar suci.

Dan di sinilah kita harus tegas membedakan:

Wahabi sebagai ajaran ≠ kebijakan Saudi sebagai negara.

Tapi masalahnya, selama puluhan tahun keduanya dikemas jadi satu paket. Jadi ketika politiknya berubah arah, umat ikut bingung.
---

Jadi kritiknya harus jelas dan jujur:

Wahabi-Salafi sebagai ajaran spiritual punya basis teologis yang sah dalam Islam Sunni. Tapi ketika ia dijadikan alat ekspansi, alat hegemoni, alat perang ideologi—ia kehilangan kemurniannya.

Dan Wahabi-Salafi dalam konteks geopolitik global?
Itu bukan lagi sekadar agama. Itu adalah soft power.

Soft power yang dibiayai minyak.
Didorong ketakutan Barat terhadap komunisme.
Dan dimainkan dalam rivalitas kawasan.
---

Yang paling menyakitkan bukan pengakuannya.
Yang paling menyakitkan adalah fakta bahwa umat selama ini diseret masuk ke dalam permainan itu—tanpa pernah benar-benar diberi tahu.

Dan sekarang, setelah puluhan tahun, ketika semuanya mulai diakui…

kita baru sadar:
ternyata yang selama ini kita anggap “perang akidah”…
sebagian di antaranya adalah “perang kepentingan”.

Zionisme di Tubuh WahabiWahabi yang didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab merupakan wujud protestantisme Islam.Muhamm...
20/03/2026

Zionisme di Tubuh Wahabi

Wahabi yang didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab merupakan wujud protestantisme Islam.

Muhammad bin Abdul Wahhab menganggap Al-Qur’an tidak bersifat Ilahi. Ia juga tidak percaya bahwa Muhammad adalah seorang nabi—dan menganggapnya ulama besar belaka.

Wahabi pun mulai melakukan pembantaian sesama Muslim pada masa pemerintahan Abdulaziz bin Muhammad al-Saud.

Kerajaan Inggris telah mengikuti gerakan Wahabi sejak awal. Wahabi adalah sekutu potensial Inggris melawan Turki Utsmani yang notabene Sunni. Menurut Bulut (2021), mata-mata Inggris Jesuit Gifford Palgrave, Wilfrid S. Blunt, dan petugas British East India Company Lewis Pelly dari British Royal Geographical Society berhasil menjalin komunikasi dengan Saudi dan menandatangani perjanjian aliansi.

Setelah Turki Utsmani runtuh, Inggris bahkan mempersiapkan keluarga al-Saud untuk berkuasa di Arab Saudi sebagaimana rencana membuat zionis Israel berkuasa di Palestina. Ibnu Saud yang merebut Makkah dan Madinah dari Turki Utsmani atas dukungan Inggris pun diproklamasikan sebagai Raja Arab Saudi pada 1926. John Philby, agen intelijen Inggris yang ditunjuk menjadi penasihat keluarga Ibnu Saud pun memainkan perannya.

The New York Times pada 1929 melaporkan, Philby dan rezim Ibnu Saud berkompromi dengan zionisme: mengokupasi Palestina untuk Israel. Selain itu, Philby sebagai penasihat Raja Abdulaziz juga dihargai atas jasanya dalam perang dengan melayani sebagai perantara perusahaan minyak dan mobil Amerika. Ia menjadi sosok kunci koalisi Arab Saudi dengan Inggris, Amerika, serta zionis Israel.

Namun demikian, zionisme di tubuh Wahabi tidak hanya menyasar kepentingan politik Saudi, melainkan doktrin keberislaman Wahabi itu sendiri. Maka tidak heran jika ajaran Wahabi berusaha menentang ulama yang sahih, yang kredibel, melalui tuduhan-tuduhan yang radikal. Ulama Al-Azhar dikafirkan semua, keturunan Nabi dilabeli Syiah, ulama Indonesia dianggap pelaku syubhat, dan lainnya.

05/03/2026
Kayaknya wahabi mengira Syiah itu cuma satu. Pokoknya kalau Syiah, sudah pasti rafidhoh, sudah pasti mencela Aisyah, Uma...
05/03/2026

Kayaknya wahabi mengira Syiah itu cuma satu. Pokoknya kalau Syiah, sudah pasti rafidhoh, sudah pasti mencela Aisyah, Umar, Usman, Kafir!

Padahal faktanya tidak begitu. Syiah memiliki banyak sekte berbeda.

Ulama kami Ahlussunah waljamaah Asy'ariyyah Maturidiyyah Mazhab Asy Syafiiyah tidak serta merta mengatakan Syiah itu kafir.

Mereka membedakan antara sekte-sekte Syiah dan menilai berdasarkan keyakinan masing-masing.

Dalam manhaj teologi Imam Abul Hasan al-Asy'ari, vonis kafir tidak dijatuhkan hanya karena bid‘ah atau penyimpangan suatu kelompok, kecuali jika mengandung pengingkaran perkara yang ma‘lum minaddin bidhdharuroh (pokok agama yang pasti).

Artinya tidak semua yang menyimpang otomatis kafir. Harus dilihat keyakinan spesifiknya.

Ada Imam Ghazali yang terkenal sangat keras dalam prinsip, berani debat melawan siapapun, termasuk mengkritisi pemikiran para filsuf, baik dari dunia Islam maupun Yunani. Ketegasannya ini paling fenomenal terlihat dalam karya monumentalnya, Tahafut al-Falasifah.

Dalam kitab tersebut, beliau dengan berani menghajar pemikiran para filsuf besar Yunani seperti Aristoteles dan Plato

Tetapi Imam Ghazali sangat berhati-hati dalam mengeluarkan vonis kafir (takfir) terhadap seorang Muslim. Karakter inilah yang menjadikannya layak menyandang gelar agung Hujjatul Islam.

Dalam kitabnya Fashlut Tafriqah, ia berpesan agar kita berusaha menahan lisan untuk tidak mengafirkan ahlul qiblah (mereka yang shalat menghadap kiblat) selama mereka masih mengucapkan dua kalimat syahadat.

Menurut beliau "Attakfiru khothorun, wassukuutu 'anhu laaa khathoro fiih (pengafiran itu berbahaya, sedangkan diam itu tidak berbahaya)

Imam Ghazali tidak mengkafirkan kelompok-kelompok yang masih mengakui rukun iman dan Islam, meski sesat dalam sebagian perkara.

Selain Imam Ghazali, ada juga Imam Nawawi.

Salah satu raja hadits ini dalam berbagai karyanya seperti Al-Majmu' atau syarah-syarah hadis, memandang kelompok yang menyimpang dari akidah Ahlussunnah sebagai ahlul ahwa' atau ahli bid'ah. Rafidhah sering dikategorikan ke dalam kelompok ini karena pandangan ekstrem mereka, terutama terkait pencelaan terhadap sahabat Nabi (terutama Abu Bakar dan Umar) dan konsep Imamah.

Tetapi Imam Nawawi membedakan antara "bid'ah yang menjatuhkan pada kekufuran" dan "bid'ah yang sesat namun belum keluar dari Islam".

Beliau tidak mengkafirkan seluruh pengikut Rafidhah secara pukul rata (takfir 'am) selama mereka masih memegang prinsip dasar keislaman (syahadat) dan tidak jatuh pada kekufuran yang nyata (kufur sharih), seperti keyakinan bahwa sahabat nabi kafir secara keseluruhan atau al-Qur'an telah diubah.

Ini sesuai dengan prinsip beliau dalam Arba'in Nawawi dan syarahnya, di mana beliau sangat berhati-hati dalam memvonis kafir sesama Muslim (hadis "orang yang berkata pada saudaranya, 'Wahai kafir...'"). Beliau mendahulukan sikap waspada agar tidak mudah menjatuhkan tuduhan kafir pada orang yang masih menghadap kiblat.

Selama penyimpangan tersebut dianggap bid'ah dhalalah (sesat) tetapi tidak sampai pada derajat bid'ah mukaffirah (bid'ah yang mengkafirkan), mereka tetap diperlakukan sebagai Muslim dalam hukum fiqih.

Imam Ibnu Hajar al-Haytami dalam al-Sawa'iq al-Muhriqah membedakan antara Syiah ghulat yang menuhankan Ali dengan syiah yang mencela sahabat.

Beliau mengategorikan kelompok yang menuhankan Ali bin Abi Thalib, atau meyakini Ali sebagai nabi, atau meyakini Jibril salah menurunkan wahyu (seharusnya ke Ali bukan Nabi Muhammad) sebagai kelompok yang kafir dan keluar dari Islam.

Imam Ibnu Hajar membedakan kelompok ini dengan mereka yang mencela dan menghina para sahabat (seperti Abu Bakar dan Umar) namun tidak sampai pada tingkat keyakinan ghuluw (ketuhanan Ali) dikategorikan sebagai kelompok yang sesat, ahli bid'ah, dan fasik.

Meskipun sesat, mereka tidak secara otomatis divonis kafir oleh beliau, melainkan dianggap sebagai Rafidah yang menyimpang.

Ada juga Imam Taqiyuddin As Subki, seorang Mujtahid dan pemimpin mazhab Syafi'i di zamannya yang dikenal sangat hati-hati dalam urusan takfir (mengkafirkan kelompok lain).

Dalam kitab Fatawa fi Furu' al-Fiqh al-Syafi'i, Imam Taqiyuddin As Subki menegaskan pentingnya kehati-hatian dalam mengkafirkan kaum muslimin. Beliau membedakan antara kelompok Syiah yang ekstrem (yang menghina sahabat atau meyakini Ali bin Abi Thalib sebagai Tuhan/Nabi) dengan kelompok Syiah "Rafiḍah" yang hanya melebihkan Ali bin Abi Thalib (tafdhil) namun tidak sampai derajat mengkafirkan sahabat secara keseluruhan atau merusak pokok akidah.

Beliau tidak mengkafirkan seluruh Syiah secara umum. Beliau menekankan bahwa selama seseorang masih menghadap kiblat yang sama dan mengakui keesaan Allah serta kerasulan Muhammad, takfir tidak boleh dilakukan serampangan.

Imam As Subki cenderung fokus pada apa yang diyakini, bukan sekadar "apa nama kelompoknya". Takfir hanya diberlakukan jika kelompok tersebut meyakini hal yang secara jelas membatalkan keislaman (kufur sharih).

Kapan Syiah Dikafirkan?

Secara umum, Ulama Syafi‘i Asy‘ari mengkafirkan keyakinan tertentu, bukan karena labelnya, bukan karena nama mereka "Syiah" lantas kafir, atau label apapun, tetapi ketika mereka "berbuat apa"

Seperti menganggap Ali adalah Tuhan, Jibril salah menurunkan wahyu, Al-Qur’an telah berubah, Mengingkari kenabian Muhammad ﷺ, Ini biasanya dinisbatkan kepada Syiah Ghulat, bukan kepada seluruh Syiah.

Bagaimana dengan Syiah Zaidiyah?

Mazhab Zaidiyah umumnya tidak mengkafirkan sahabat. Tidak menuhankan Ali. Tidak meyakini tahrif Qur'an

Karena itu banyak ulama Ahlusunah tidak mengkafirkan mereka.

Syaikh Al Karim Al Habib Umar bin Hafidh berpandangan Zaidiyah sebagai sekte Syiah yang dekat dengan Sunni, dan perbedaan antara keduanya umumnya masih dalam tataran furu'iyyah (cabang/fiqih), bukan akidah pokok yang ekstrem.

Grand Syekh Al-Azhar Ahmad al-Tayyeb beliau secara konsisten menolak takfir antarmazhab. Menyerukan persatuan Sunni–Syiah. Mendukung dialog intra-Islam

Beliau tidak pernah mengkafirkan Zaidiyah.

Pendekatannya adalah menjaga batas akidah Ahlusunah tanpa membuka pintu konflik sektarian.

Inilah pandangan ulama kami, Ahlussunah waljamaah Asy'ariyyah Maturidiyyah Mazhab Asy Syafiiyah.

Kami mengikuti pandangan guru-guru kami, ulama-ulama kami, yang sangat berhati-hati dalam menjatuhkan vonis kafir terhadap sesama ahlul qiblah (mereka yang shalat menghadap kiblat).

Rasulullah SAW bersabda:

"Barangsiapa yang berkata kepada saudaranya: 'Hai kafir,' maka perkataan itu akan menimpa salah satu dari mereka berdua. Jika benar apa yang diucapkannya (orang yang dituduh memang kafir), maka kekafiran itu pada dirinya. Jika tidak benar, maka tuduhan kafir itu akan kembali kepada orang yang mengucapkannya." (HR. Muslim)

Hadits ini dengan jelas menunjukkan bahwa tindakan mengkafirkan sesama muslim adalah sebuah "senjata makan tuan". Resikonya sangat besar, jika tuduhan itu tidak benar, maka orang yang menuduh itulah yang terjerumus dalam kekafiran.

Jika wahabi menganggap Syiah kafir, itu sih terserah lo.

Yang jelas kami punya ulama sendiri, sudah ada cara pandang sendiri, dan kami mengikuti mereka, bukan mengikuti ulama2 Wahabi.

Wallahu a'lam bishshawwab

Ilmu Ijtihad Ulama Dirobohkan Dengan Tuduhan Bidah Kami di pesantren sebagaimana lembaga pendidikan Islam di berbagai ne...
16/02/2026

Ilmu Ijtihad Ulama Dirobohkan Dengan Tuduhan Bidah

Kami di pesantren sebagaimana lembaga pendidikan Islam di berbagai negara mempelajari Islam dari bawah sejak usia belasan tahun. Fikih yang saya pelajari mulai dari Fikih praktek yang paling bawah, naik ke kitab Fikih menengah hingga yang tertinggi, memuat dalil dan metode pengambilan hukum (Ushul Fiqh).

Tidak cukup di situ, kami belajar ilmu Nahwu (gramatika) dan ilmu Sharaf (morfologi), ditambah Sastra Arab (Balaghah). Karena ini sebagai ilmu perangkat untuk memahami dalil Qur'an dan Hadis. Sebab kedua dalil ini berbahasa Arab.

Ketika belajar Qur'an, kami berangkat dari kitab Tafsir paling basic, hingga kitab Tafsir dengan berbagai varian, ditambah lagi Ulum At-Tafsir. Demikian p**a Ilmu Hadis kami lewati sesuai tahapan yang semestinya dilalui (lihat bagan, meski simpel tapi ketika dilewati memerlukan waktu yang lama).

Tiba-tiba ada orang yang menuduh semua yang telah berjalan ribuan tahun dan diamalkan miliaran umat Islam sebagai perbuatan bidah. Kata bidah cukup diucapkan dan anda akan terlihat lebih pandai dari orang-orang yang belajar puluhan tahun di atas.

Sama seperti Ilmu Kedokteran.

Ilmu kedokteran adalah bidang luas yang mempelajari tubuh manusia, penyakit, dan pengobatan untuk meningkatkan kesehatan. Lingkupnya mencakup ilmu dasar (anatomi, fisiologi, biokimia, farmakologi), ilmu klinis (penyakit dalam, bedah, anak, kandungan), hingga kedokteran komunitas dan preventif. Tujuannya meliputi diagnosis, terapi, dan pencegahan penyakit.

Lalu ada orang yang tidak belajar ilmu kedokteran, hanya hasil lihat di google lalu menuduh "Itu konspirasi".

Cara terbaik menghadapi orang seperti ini adalah dengan firman Allah Al-Furqon 63:

وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

"... dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan (tidak menggubrisnya)."

Ungkapan Imam al-Ghazali ini perlu dipahami dengan kacamata hikmah dan konteks spiritual, bukan secara sempit atau meren...
01/02/2026

Ungkapan Imam al-Ghazali ini perlu dipahami dengan kacamata hikmah dan konteks spiritual, bukan secara sempit atau merendahkan. Ia tidak sedang menyudutkan perempuan, melainkan menjelaskan jenis ujian batin yang sering hadir dalam kehidupan para pencari kedekatan dengan Allah.

Dalam kehidupan rumah tangga dan relasi dekat, lisan—baik dari perempuan maupun laki-laki—bisa menjadi sumber ujian yang paling halus sekaligus paling berat. Kata-kata mampu melukai tanpa bekas fisik, menguji kesabaran, menyingkap ego, dan memancing amarah. Karena itulah Imam al-Ghazali menempatkan kesabaran dalam menghadapi lisan sebagai latihan pengendalian diri tingkat tinggi.

Para wali Allah tidak diuji dengan perkara yang luar biasa di mata manusia, melainkan dengan hal-hal sehari-hari yang mengusik jiwa: nada bicara, keluhan, kritik, atau ucapan yang menyentuh harga diri. Mampu bersabar di titik ini menandakan kemenangan atas nafsu, bukan kelemahan. Kesabaran semacam ini justru melahirkan kelembutan, kebijaksanaan, dan kedewasaan ruhani.

Ungkapan ini juga mengajarkan bahwa kedekatan dengan Allah sering ditempa melalui hubungan terdekat, bukan melalui pengasingan diri semata. Siapa yang mampu menjaga adab, kasih, dan kesabaran dalam relasi rumah tangga, maka ia sedang menapaki jalan para wali—jalan sunyi yang tidak selalu terlihat mulia di mata manusia, tetapi sangat bernilai di sisi Allah. Wallahu 'alam

Diuraikan oleh:

Follow:



KHODAM JIN HANYALAH WASILAHDalam pandangan ahli ilmu hikmah klasik, istilah khodam bukanlah jenis makhluk, melainkan fun...
21/12/2025

KHODAM JIN HANYALAH WASILAH

Dalam pandangan ahli ilmu hikmah klasik, istilah khodam bukanlah jenis makhluk, melainkan fungsi. Ia menunjuk pada sesuatu yang melayani atau membantu jalannya suatu amalan—bukan sumber kekuatan itu sendiri.

1. Hakikat Kekuatan Bukan Pada Khodam

Para ulama hikmah sepakat pada kaidah besar:

“Al-mu’atsir fil-ḥaqīqah huwa Allāh.”
Yang memberi pengaruh secara hakikat hanyalah Allah.

Rujukan:
• Imam Al-Ghazali – Iḥyā’ ‘Ulūmiddīn
• Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani – Sirr al-Asrār

Maka:
• rezeki bukan dari jin
• keberhasilan bukan dari khodam
• hasil bukan dari makhluk

Jika ada bantuan makhluk, itu hanyalah sebab lahiriah yang bergerak setelah Allah mengizinkan.



2. Jin Tidak Pernah Menjadi Penentu Takdir

Dalam Shams al-Ma‘ārif disebutkan bahwa:
• jin hanya mampu bergerak dalam batas alam sebab
• tidak bisa memaksa kehendak manusia
• tidak bisa melampaui qadar Allah

Rujukan:
• Ahmad al-Buni – Shams al-Ma‘ārif al-Kubrā
• Al-Qur’an: QS. Saba’ : 14
Jin tidak mengetahui perkara ghaib

Artinya:

Jin tidak tahu hasil akhir.
Mereka hanya bergerak di permukaan sebab, bukan di inti takdir.



3. Mengapa Disebut “Khodam Jin”?

Karena dalam beberapa amalan:
• ada jin muslim
• ada jin taat
• ada jin yang membantu amal tertentu

Namun para ahli hikmah menegaskan:

Yang membantu adalah amalan,
bukan jin secara personal.

Rujukan:
• Imam Al-Suyuthi – Luqath al-Marjān fī Aḥkām al-Jān
• Ibn Taymiyyah – Majmū‘ al-Fatāwā

Maka yang benar:
• khidmah jin pada amal
• bukan jin sebagai penguasa amal



4. Bahaya Menggantungkan Ilmu pada Khodam

Para masyayikh hikmah memberi peringatan keras:

“Man ta‘allaqa bi al-wasīlah ḥujiba ‘an al-Musabbib.”
Siapa yang bergantung pada perantara, akan terhijab dari Sang Penentu.

Rujukan:
• Ibn ‘Athaillah – Al-Ḥikam al-‘Aṭā’iyyah

Ciri ilmu yang rusak:
• takut jika “khodam pergi”
• sombong karena merasa “punya pendamping”
• panik jika amalan terasa kosong

Ciri ilmu yang sehat:
• tetap stabil
• tenang
• hasil datang alami



5. Posisi Khodam Jin Menurut Hikmah

✔ Ada
✔ Bisa membantu
❌ Bukan tujuan
❌ Bukan sandaran
❌ Bukan sumber kekuatan

Ahli hikmah sejati tidak mengejar khodam,
karena mereka tahu:

Semakin tinggi ilmu, semakin kecil peran makhluk.



KESIMPULAN

Khodam jin hanyalah wasilah.
Ia tidak menentukan hasil, tidak mengatur takdir, dan tidak pantas dijadikan sandaran hati.

Ilmu hikmah yang lurus selalu berujung pada tauhid,
bukan pada ketergantungan kepada makhluk.

Address

Alamat: Sungai Ambawang
Pontianak
KODEPOS:78393

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Suhairi sps 5: Catatan Ilmiah "Aswaja" vs "Wahhabi". posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category