Kalbar Informasi

Kalbar Informasi Kalbar Informasi merupakan Tempat Bisnis, Politik, Ekonomi dan Lain-lain..

Waspada "MONKEY BUSINESS"Suatu hari di sebuah desa, seorang yang kaya raya mengumumkan akan membeli monyet dengan harga ...
27/09/2020

Waspada "MONKEY BUSINESS"

Suatu hari di sebuah desa, seorang yang kaya raya mengumumkan akan membeli monyet dengan harga Rp. 50.000,- per ekor. Padahal monyet disana sama sekali tak ada harganya karena jumlahnya yang banyak dan kerap dianggap sebagai hama pemakan tanaman buah-buahan.

Para penduduk desa yang menyadari bahwa banyak monyet disekitar desa pun kemudian mulai masuk hutan dan menangkapinya satu persatu.

Kemudian si orang kaya membeli ribuan ekor monyet dengan harga Rp 50.000,- . Karena penangkapan secara besar-besaran akhirnya monyet-monyet semakin sulit dicari, penduduk desa pun menghentikan usahanya untuk menangkapi monyet-monyet tersebut..

Maka si orang kaya pun sekali lagi kembali untuk mengumumkan akan membeli monyet dengan harga Rp 100.000 per ekor. Tentu saja hal ini memberi semangat dan "angin segar" bagi penduduk desa untuk kemudian mulai untuk menangkapi monyet lagi. Tak berapa lama, jumlah monyet pun semakin sedikit dari hari ke hari dan semakin sulit dicari, kemudian penduduk pun kembali ke aktifitas seperti biasanya, yaitu bertani.

Karena monyet kini telah langka, harga monyet pun meroket naik hingga Rp 150.000,- / ekornya. Tapi tetap saja monyet sudah sangat sulit dicari.

Sekali lagi si orang kaya mengumumkan kepada penduduk desa bahwa ia akan membeli monyet dengan harga Rp 500.000,- per ekor!

Namun, karena si orang kaya harus pergi ke kota karena urusan bisnis, asisten pribadinya akan menggantikan sementara atas namanya.

Dengan tiada kehadiran si orang kaya, si asisten pun berkata pada penduduk desa: "Lihatlah monyet-monyet yang ada di kurungan besar yang dikumpulkan oleh si orang kaya itu. Saya akan menjual monyet-monyet itu kepada kalian dengan harga Rp 350.000,- / ekor dan saat si orang kaya kembali, kalian bisa menjualnya kembali ke si orang kaya dengan harga Rp 500.000,- . Bagaimana...?".

Akhirnya, penduduk desa pun mengumpulkan uang simpanan mereka dan membeli semua monyet yang ada di kurungan.

Namun...
Kemudian...
Mereka tak pernah lagi melihat si orang kaya maupun si asisten di desa itu!

Selamat datang di Wall Street..!

Inilah yang dikatakan orang "Monkey Bussiness"!

Hati-hati Bro... jangan terjebak oleh "Monkey Business"...
Seperti pohon Anthorium
Seperti ikan Lohan
Seperti semua barang yang kita beli tetapi bukan karena kita membutuhkan nya..


Pilkada Kalbar 2020
26/09/2020

Pilkada Kalbar 2020

23/06/2020

NYARING BUNYI TUDUHAN TAK SETINGGI SUARA KEBENARAN

By: Anshari Dimyati Channel
Ketua Yayasan Sultan Hamid II

Pada Senin 25 November 2019 kami (Yayasan Sultan Hamid II) menerima surat undangan yang disampaikan oleh Kepala Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Barat, Ibu Yuline Marhaeni. Surat ini perihal sosialisasi, koordinasi, dan konsultasi yang dilakukan oleh Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI) di Pontianak, atas pengusulan calon-calon Pahlawan Nasional untuk tahun 2020.

Agenda diskusi tersebut dilakukan pada Rabu kemarin 27 November 2019, dengan mengundang narasumber Prof. Dr. Anhar Gonggong, seorang Sejarawan RI yang dikenal publik dengan kompetensi di bidang sejarah. Dia juga salah seorang yang memiliki kewenangan untuk memilah memilih tokoh-tokoh yang berjasa di negeri ini, layak atau tidak untuk dipertimbangkan sebagai pahlawan nasional. Sebagai orang yang dituakan, suaranya jelas didengar para pengambil keputusan pemberian gelar atau kepahlawanan. Anhar seorang yang duduk di salah satu kursi TP2GP (Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar tingkat Pusat) di Jakarta, yang terdiri atas tiga belas orang. Biasanya mereka disebut dengan sebutan "Tim Tiga Belas".

Jujur, kami cukup terkejut dengan kehadiran Pak Anhar di Pontianak untuk mengulas soal usulan pahlawan nasional ini. Semua orang tau, bahwa kami bertahun-tahun belakangan, sibuk menggedor pintu pemerintah pusat terkait pengusulan ini. Sejak tahun 2016, 2017, hingga 2019 tiada hasil yang jelas. Apalagi, yang kami dengar kabar angin bahwa salah seorang yang terang menolak pengusulan Sultan Hamid II dari Pontianak - Kalimantan Barat sebagai pahlawan nasional adalah dia, Anhar Gonggong.

Pada pagi Rabu pukul delapan, Anhar tampak hadir di dampingi beberapa orang dari Kemensos RI. Dengan konsep pembicara tunggal, kemudian Kadinsos Kalbar membuka acara sebagai moderator. Anhar berseloroh, "Sekuat apapun anda, kalau tak memenuhi Undang-undang, tak mungkin lolos". Anhar Gonggong menjelaskan secara umum apa saja syarat-syarat umum dan khusus pengusulan calon pahlawan nasional. Sisa waktu 35 menit, kami manfaatkan untuk tanya jawab. Tak ada yang berminat bertanya, saya tunjuk tangan.

Saya mulai dengan menjelaskan tentang apa yang kami perjuangkan, sejak kapan, dan alasan mengapa kami bersikeras mengajukan hal tersebut. Perjuangan ini bagian dari proses advokasi masyarakat Kalimantan Barat. Kami beralasan untuk mengajukan itu. Secara administratif, pengusulan Sultan Hamid II, sang perancang lambang negara, jauh dari cukup. Anhar menggarisbawahi jangan sampai ada cacat, jangan sampai ada cela.

Menurut saya itu tak mungkin. Tak ada manusia sempurna. Kalau dikorek semua pasti ada salah. Ini soal sudut pandang. Kami punya argumentasi. Tapi sayang, Anhar berkeras hati tak menerima argumentasi kami. Kami punya dua pandangan dengan bentangan kutub yang berbeda. Anhar berdiri pada perspektif lama, dia tetap katakan Sultan Hamid II adalah antek belanda, Sultan Hamid II adalah gembong pemberontakan bersama Westerling tahun 1950.

Saya cukup berang. Tapi saya tetap berusaha santun kepadanya sebagai seorang yang sudah tua, lantas apakah saya tak boleh mengemukakan pendapat dan berargumentasi? Saya bicara apa adanya. Dia katakan kami tak berdasar fakta, melainkan hanya interpretasi, asumsi. Saya tegas membantah, soal Westerling itu subyektif dan peradilan politik. Putusan Mahkamah Agung tahun 1953 jelas tidak membuktikan keterlibatan Sultan Hamid II dalam pemberontakan Westerling di Bandung. Sampai hari ini saya satu-satunya orang yang meneliti kasus tersebut secara ilmiah. Saya hendak menguraikan itu, dia tak mau. Dia memilih larut dan lebur dalam sudut pandangnya sendiri.

Celakanya, Anhar mengaitkan pembantaian Westerling di Sulawesi Selatan, kemudian menghubungkan itu dengan pahlawan kami dari Kalimantan Barat. Apakah itu ada kaitannya dengan Sultan Hamid II? Terang tak berhubungan. Bahkan untuk kasus yang disidangkan terhadap Sultan Hamid II itu sendiri, Westerling pelaku utama tak dihadirkan, dia disebut kabur ke Belanda. Bagaimana bisa anda menuduh seseorang melakukan kejahatan yang tak dilakukannya, bila dikaitkan dengan perbuatan orang lain, dan tak dihadirkan untuk didengar keterangannya? Ini tidak fair, ini tidak jujur.

Anhar memahami kemerdekaan negara ini secara kaku, an sich. Dia menganggap bahwa tak ada perjuangan diplomasi selain perang gerilya. Sedangkan faktanya bahwa Indonesia berdaulat penuh pada Konferensi Meja Bundar tahun 1949, dengan jasa Sultan Hamid II yang bertandatangan di dalamnya. Dia ingin melepas sejarah Republik Indonesia Serikat (RIS) dalam mata rantai perjuangan berdaulatnya bangsa ini. Bukankah RIS juga Indonesia? dalam bentuk federal, dia pernah ada dengan Presidennya bernama Soekarno dan Perdana Menteri bernama Moh. Hatta. Sultan Hamid II hanya sebagai Menteri Negara Zonder Portofolio kala itu, walau jasanya begitu besar. Itu bagian yang tak terbantahkan dalam perjalanan negara kita yang hari ini bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Anhar mengutip buku Smit tentang pendapatnya kepada Sultan Hamid II dan Westerling, saya juga mengutip RZ. Leirissa "Kekuatan Ketiga Dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia". Anhar katakan Sultan Hamid II dalang pemberontakan Westerling, saya katakan berpijak pada putusan Mahkamah Agung. Dia bilang Sultan Hamid II adalah Mayor Jenderal KNIL (Tentara Hindia Belanda), saya tegas menyebut AH. Nasution, Suharto, dan banyak pribumi lainnya yang pernah ada di dalamnya. Dia katakan Sultan Hamid II tidak nasionalis, saya mempertegas bahwa apa yang dilakukannya dalam merancang lambang negara Garuda Pancasila adalah bukti kecintaannya kepada bangsa dan negara ini.

Anhar begitu memuji Sultan Hamengkubuwono IX yang menyerahkan wilayahnya pada awal kemerdekaan, maka dari itu kemudian diberikan keistimewaan. Bukankah keistimewaan itu telah dulu ada di Kalimantan Barat, tahun 1947? Dia bernama Daerah Istimewa Kalimantan Barat/DIKB (Pasal 2 Konstitusi RIS). Yang bubar dengan sendirinya setelah Sultan Hamid II ditangkap dan dipenjarakan tahun 1950.

Unsur subjektivitas dan berat sebelah berada tegas pada diri Anhar, dia mengaitkan terbunuhnya keluarga-keluarganya terkait tuduhan pembantaian Westerling di Sulawesi Selatan, yang jelas tak ada kaitannya dengan Sultan Hamid II. Saya begitu kecewa kepadanya sebagai seorang yang sepatutnya dihormati dan terbuka menilai kebenaran. Adil dalam memutuskan.

Tanya jawab pada diskusi tempo hari, Anhar menerangkan tegasnya pemberlakuan Undang-undang Kepahlawanan (Pro Justicia). Saya menyela, bahwa ada konsepsi yang lebih relatif adil bernama Restorative Justice. Pemerintah dapat memberlakukan diskresi. Maka kalau peran kepahlawanannya lebih besar daripada kesalahannya yang kecil, dia patut diakui sebagai seorang pahlawan. Mentor dan ilmuwan senior seperti Anhar sudah sepatutnya bijak dan memberikan keteladanan pada generasi muda dengan tak menyimpan dendam.

Dia lupa bahwa perilaku generasinya sudah melampaui masa, melewati zaman. Hari ini dan masa depan milik pemuda, milik milenial. Mereka melakukan penilaian terhadap sejarah Sultan Hamid II yang menjadi korban ketidakadilan negara dalam mengambil keputusan. Barangkali sebagian dari mereka bungkam hari ini. Tapi ingat! Ke depan merekalah yang menjalankan negara, dan mencatat sejarah buruk perlakuan sebagian orang terhadap perancang simbol atau lambang negara ini.

Hangat suara perdebatan berhenti pukul sepuluh. Kami semua diundang oleh Gubernur Kalimantan Barat, H. Sutarmidji, SH, M.Hum., yang kerap disapa oleh masyarakat dengan sebutan Bang Midji. Pertemuan beralih dari Aula Dinsos Kalbar ke Ruang Kerja Gubernur Kalbar. Bang Midji khusus mengundang Anhar p**a untuk mendengarkan pendapatnya terkait pengusulan calon pahlawan nasional asal Kalimantan Barat.

Ada kalimat yang membuat saya bangga akan keberadaan Gubernur kita dalam konstelasi dan rekonsiliasi ini. Bang Midji katakan "Beliau perancang lambang negara, sumbangsihnya begitu besar, banyak p**a peran lainnya. Dikira bila ada kesalahan yang begitu kecil tak mungkin mampu menutup besar jasa beliau (Sultan Hamid II) kepada negara ini. Maka sudah semestinya pertimbangan yang besar p**a oleh negara memberikan penghargaan kepadanya".

Saya baru pertama mendengar beliau membela pahlawan kita secara langsung seperti itu. Maka dari itu saya bangga sebagai warga Kalbar, punya seorang Gubernur seperti Bang Midji. Dia berperan sebagaimana mestinya, dia membela hak Kalimantan Barat untuk dipandang tegak oleh daerah lain, oleh nasional, pun dunia internasional.

Pada akhirnya Anhar juga mengangguk-angguk sepakat bahwa semua itu bersifat subyektif. Namun, tetap berdiri tegak dengan perspektifnya sendiri. Saya hanya berharap beliau lebih jernih berpikir dan bertindak untuk kemaslahatan bersama dan persatuan Indonesia. Kami tetap berpijak pada pendirian dan perjuangan yang telah lama kami lakukan. Tetap tak bosan, tetap tak berhenti melakukan sosialisasi. Tak henti membentangkan dan memperjuangkan keadilan. Karena nyaring bunyi tuduhan, tak mungkin lebih tinggi dari suara kebenaran.

Terima kasih kepada dukungan semua kawan, Terima kasih kepada Gubernur kami atas pembelaan yang disampaikan.

Salam hormat.
Yayasan Sultan Hamid II.

21/06/2020

Berhati-hatilah di Jalan Raya...

WEBINAR (VIRTUAL MEETING)Apakah Sultan Hamid II seorang pengkhianat, atau pahlawan bangsa? Apa peran Sultan Hamid II ter...
20/06/2020

WEBINAR (VIRTUAL MEETING)

Apakah Sultan Hamid II seorang pengkhianat, atau pahlawan bangsa? Apa peran Sultan Hamid II terhadap sejarah perjuangan bangsa di Indonesia? Bagaimana soal pengusulan Sultan Hamid II sebagai calon Pahlawan Nasional Republik Indonesia?

Daftar dan ikuti webinar atau virtual meetingnya! via Aplikasi ZOOM Meeting, pada:

🗓 Minggu, 21 Juni 2020
🕙 15:30 - 17.00 WIB
💻 SULTAN HAMID II, PENGKHIANAT ATAU PAHLAWAN?

Narasumber:
☑️ Dr. HM. Hidayat Nur Wahid, M.A.
Ketua MPR RI 2004-2009
Anggota DPR RI Dapil DKI
☑️ H. Sutarmidji, S.H., M.Hum.
Gubernur Kalimantan Barat
☑️ H. Syarif Abdullah Alkadrie, S.H., M.H.
Anggota DPR RI Dapil Kalbar
☑️ Anshari Dimyati, S.H., M.H.
Ketua Yayasan Sultan Hamid II
☑️ JJ. Rizal, S.S.
Pengamat Sejarah Nasional - Peraih Jakarta Book Award IKAPI

MC (Prolog & Epilog):
H. Nur Iskandar, S.P.
Pemred teraju.id

Moderator:
Dr. Syarifah Ema Rahmaniar, M.Si.
Dosen Pascasarjana Fisip UNTAN

Host/IT:
Yaser Saifuddin, S.T.

Perangkat: Aplikasi ZOOM Meeting
Registrasi (Gratis): https://bit.ly/sultanhamid-II
Kuota Terbatas untuk 100 Orang Peserta

Live Streaming/Live Report (Youtube Channel): teraju.id

=======================

By: Yayasan Sultan Hamid II (Sultan Hamid II Foundation) | teraju.id | TOP Indonesia | KEP (Kampoeng English Poernama) | Bina Antarbudaya Chapter Pontianak | IKAPI Kalbar

*SULTAN HAMID II ORANG BAIK, BUKAN PENJAHAT NEGARA!*(Memoar Para Tokoh Bangsa, Kepada Sultan Hamid II)Oleh: *Anshari Dim...
19/06/2020

*SULTAN HAMID II ORANG BAIK, BUKAN PENJAHAT NEGARA!*
(Memoar Para Tokoh Bangsa, Kepada Sultan Hamid II)

Oleh: *Anshari Dimyati*
_Ketua Yayasan Sultan Hamid II_

Banyak yang mempertanyakan bagaimana karakter seorang Sultan Hamid II, Sang Perancang Lambang Negara Garuda Pancasila. Apakah memang seorang yang jahat wataknya? buruk perangainya? atau buruk tindak tanduknya?. Saya memang tak begitu berminat merespon soal perseteruan antara Sultan Hamid II dan Sultan Hamengkubuwono IX, karena sudah seringkali saya jelaskan dalam tulisan saya. Itu soal politik, atau sentimen politik. Dulu dia berkawan lama, sejak sekolah dasar, lalu, siapa yang mengkhianati siapa?.

Lawan politik, bukan musuh politik. Toh, tak ada dendam lama antara mereka. Yang memelihara dendam, saya kira, adalah manusia-manusia hari ini yang mempunyai tendensi terhadap sejarah bangsa kita. Kalaupun ada yang bersedia secara live untuk memperdebatkan hal tersebut. Saya selalu terbuka untuk melayani perdebatan itu. Kami menunggu itu sejak lama!

Sultan Hamid II bukan penjahat, dia orang baik. Dia seorang yang berpendidikan, bertutur santun, formal, dan tak menghiraukan cemoohan orang disekitarnya. Barangkali, diasuh oleh orang berkebangsaan asing itu memang benar. Karena hal itulah, dia menguasai banyak bahasa asing di dunia. Sultan Hamid II dikenal dekat dengan barat (Belanda), tak dapat dinafikan bahwa dulu, raja-raja di Kep**auan Melayu (The Malay Archipelago) ini juga dekat dengan barat. Menggunakan baju aLa barat, seringkali menggunakan bahasanya, bahkan perangkat-perangkat hidup sehari-hari difasilitasi oleh barat.

Hal itu, bukankah kita alami hari ini? Bahkan, anak-anak muda kita, sudah kebarat-baratan. Baik pola pikirnya, maupun gaya hidupnya. Sultan Hamid II tidak, dia memang bolak balik hindia-belanda - Eropa. Sekolah di sana, hingga p**ang kampung, memodernisasi kehidupan, dan kemudian ikut p**a memikirkan kemerdekaan bangsa, dalam perspektif dia. Banyak tokoh memandang miring soal peran Sultan Hamid II yang terjun berbalik arah menentang belanda, untuk ikut merebut kedaulatan tersebut secara bersama.

Namun, tak sedikit yang memanfaatkan kebesarannya sebagai seorang Sultan, kedekatannya bersama petinggi-petinggi Eropa, maupun PBB, untuk meloloskan kedaulatan kita. Sultan Hamid II orang baik, kalau memang tidak, mengapa tak direalisasikan saja niat membunuh Ali Budiarjo, Hamengkubuwono IX, TB Simatupang? Saya kira Sultan Hamid II kala itu masih punya banyak kantong-kantong kekuatan militer. Yang terjadi, bahkan niat saja itu, dia batalkan.

Kala ditangkap oleh Sultan Hamengkubuwono IX (Menteri Pertahanan RIS) pada 5 April 1950, Sultan Hamid II tak melawan. Dia tak mengerahkan masyarakatnya di Pontianak, di Kalimantan Barat, untuk memberontak. Sedangkan dia seorang Kepala Daerah Istimewa Kalimantan Barat (DIKB). Dia tidak mengerahkan ex-KNIL (Koninklijk Nederlands Indische Leger) untuk melakukan perlawanan atau penyerangan kepada APRIS dan TNI saat itu. Dia memilih diam. Dia terlalu mencintai Indonesia, dia memendam amarahnya, ketika dibohongi dan dizalimi oleh lawan politiknya. Hingga ditahan selama tiga tahun lamanya tanpa proses hukum yang jelas. Westerling lari entah kemana, dia tak diadili sebagai pelaku utama. Bahkan, bukankah saat itu militer sudah menjaga perbatasan darat, laut, dan udara kita? Bagaimana dia bisa disebut lolos kembali ke eropa?

Sultan Hamid II sangat bisa menjadi Presiden RIS, bila berkehendak. Toh, dia Ketua BFO (Bijeenkomst Voor Federale Overleg), Majelis Permusyawaratan Negara-negara Federal, yang memimpin 15 (lima belas) negara-negara bagian di bawahnya. Minus Republik Indonesia berkedudukan di Yogyakarta. Tapi, sekali lagi, dia mencintai Indonesia. Sultan Hamid II lebih memilih ingin menjadi Menteri Pertahanan RIS. Yang mana juga tertolak oleh formatur kabinet, yang dia ikut terlibat di dalamnya.

Dia tak melawan, hanya menghela nafas, ketika cuma diberikan jabatan Menteri Negara Zonderportofolio. Jabatan tanpa tugas khusus. Tugasnya hanya menyiapkan Lambang Negara, dan menyiapkan rumah kabinet. Namun, jabatannya sebagai koordinator panitia lambang negara, dijalaninya dengan baik. Hasilnya adalah lambang Garuda Pancasila yang ada di setiap ijazah-ijazah sekolah kita, di dinding-dinding institusi negara dan swasta, dimanapun ada lambang negara. Sebuah karya luar biasa seseorang yang dianggap pengkhianat oleh sebagian orang di negara kita. Lambang negara yang dirancang oleh si "pengkhianat" itu, masih kita gunakan berpuluh-puluh tahun lamanya, sampai dengan sekarang.

Sultan Hamid II, orang baik. Dia sampaikan dalam Pledoi-nya tahun 1953 bahwa "..saya tetap merasa berbahagia sebagai putera Indonesia, yang telah mendapat kehormatan sebesar-besarnya untuk dapat turut serta di dalam perjuangan mencapai kemerdekaan bagi nusa dan bangsa. Bagaimanapun bunyinya putusan Mahkamah Agung nanti, apakah saya akan bebas ataupun akan dijatuhi hukuman, tenaga saya tetap saya sediakan, apabila kelak negara membutuhkannya..". Seorang patriot bangsa, tak mungkin membahasakan keinginannya untuk tetap berkontribusi, bila sudah terzalimi oleh negeri yang dia cintai.

Sultan Hamid II orang baik. Kalau tidak, tak mungkin banyak orang yang berinteraksi dengannya, kemudian memuji tindak, sikap, dan tuturnya selama berjalannya sejarah bangsa ini. Kita lihat pandangan Sutan Sjahrir dalam Memoar Mr. Hamid Algadri tentang Sultan Hamid II, dalam buku berjudul "Mengarungi Indonesia, Memoar Perintis Kemerdekaan" yang dibuat oleh Mr. Hamid Algadri, Kakek dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI saat ini, Nadiem Makarim.

Buku ini diterbitkan oleh Lentera, Jakarta, tahun 1999. Dalam memoar tersebut, halaman 82 s/d 86, Hamid menulis sub judul tulisan "Dilema Sultan Hamid Al Qadri". Yang menarik adalah, ceritanya tentang perjumpaan antara Sutan Sjahrir dengan Sultan Hamid II ketika di dalam penjara. Memang, setelah bebas dari penjara (tuduhan berkaitan dengan Westerling) pada tahun 1958, Sultan Hamid II tak lagi berpolitik. Namun, empat tahun menghirup udara bebas, dia kembali ditangkap dan dijebloskan ke Rumah Tahanan Militer (RTM) Madiun, Jawa Timur, pada Maret 1962.

Tuduhannya adalah melakukan kegiatan makar dan membentuk organisasi illegal bernama Vrijwillige Ondergrondsche Corps (VOC). Dikabarkan, persiapannya dilakukan bersama sejumlah tokoh saat mereka berada di Gianyar, Bali, untuk menghadiri upacara ngaben (pembakaran jenazah) ayah dari Ide Anak Agung Gde Agung. Dalam upacara tersebut hadir sejumlah tokoh-tokoh oposisi pemerintah, Moh. Natsir, Sjafruddin Prawiranegara, Buya Hamka, Mochtae Lubis. Terutama dari dua partai yang sudah dibubarkan, Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia (PSI), seperti Mohamad Roem (Masyumi), Sutan Sjahrir (PSI), dan Subadio Sastrosatomo (PSI). Mohammad Hatta hadir, begitu juga Hamid yang notabene kawan lama Ide Anak Agung Gde Agung. Selama empat tahun mereka ditahan tanpa proses pengadilan, tanpa diadili. Dia baru dibebaskan pada 1966 setelah era Soekarno berakhir. (Sultan Hamid II, Meneroka Akar Perkara Makar, 2012 - Lentera Timur)

Dalam tahanan di Madiun itu, interaksi Sultan Hamid II dengan para tokoh bangsa, cukup lama. Bagaimana tidak, selama empat tahun bersama-sama melakukan aktifitas dalam jeruji besi. Sultan Hamid II, kabarnya, memang tak begitu disukai karena sikapnya yang formal, tegas, dan cukup emosional. Di sisi lain, terlalu disiplin (aLa militer), dan serius. Tokoh republik tak banyak yang menyukainya, termasuk Sutan Sjahrir. Dalam memoar itu, Hamid menyebut bahwa "..pertemuan Sutan Sjahrir bersama Sultan Hamid II kurang menyenangkan, dipenuhi suasana formal.. Ketika saya menanyakan pertemuan Sjahrir bersama Sultan Hamid II, tampak kurang terkesan..". Tapi belakangan pendapat Sjahrir terhadap Sultan Hamid II sangat berubah, kata Hamid.

"Itu terjadi ketika Sjahrir ditahan bersama Sultan Hamid dan beberapa orang pimpinan Masyumi. Selama dalam tahanan, Sjahrir menderita sakit darah tinggi. Pada suatu hari, ketika berada di kamar kecil, ia jatuh pingsan. Satu-satunya orang yang melihat kejadian ini lewat jendela kamar tahanan Sjahrir adalah Sultan Hamid. Ia masuk ke kamar Sjahrir dan mengangkatnya dari atas kloset ke tempat tidurnya, dan kemudian membersihkan badannya dari semua kotoran yang melekat. Cerita ini saya dengar dari Sjahrir sendiri ketika saya mengunjunginya di tempat tahanan.", ujar Hamid.

Lanjutnya, "..setelah meceritakan semua itu, Sjahrir berkata, "Mid, kamu ingat pendapat saya tentang Sultan Hamid di masa lalu? Sejak peristiwa kepingsanan saya itu, saya perlu mengoreksi pendapat saya. Dia orang yang baik hati." Ketika Sjahrir meninggal dunia dan Sultan Hamid hadir untuk mengangkat jenazahnya, saya merasa berkewajiban untuk menyampaikan pendapat Almarhum tentang dirinya, dan menyampaikan padanya penghargaan Sjahrir yang tinggi atas pertolongannya di tahanan yang diberikan secara spontan. Sultan Hamid tampak sangat terharu mendengarnya..".

Kesan Hamid Algadri, ayah dari Nono Anwar Makarim ini, kemudian tak berpunggung badan dengan apa yang disampaikan oleh Sutan Sjahrir. Menurutnya, di buku yang ditulisnya tersebut, bahwa Sultan Hamid II adalah orang yang baik, bahkan seorang patriot. "..Ia seorang yang berani mengambil risiko, tapi karena latar belakangnya, ia selalu menghadapi dilema dalam mengambil keputusan politik, yakni dilema antara sumpah setianya pada Ratu Belanda dan kepatriotannya yang memang alami. Dalam rapat-rapat gabungan komisi-komisi militer, ia tak jarang memihak sepenuhnya pada Republik, untuk kemudian dalam rapat yang lain menentang keras pendapat Republik..", tandas Hamid.

Hal di atas jelas, menggambarkan bagaimana patriotnya seorang Sultan Hamid II. Tegas berprinsip, namun humanis dalam interaksi bersama para bapak bangsa. Kalau dianggap tak berprikemanusiaan, tak mungkin Sultan Hamid II menolong Sutan Sjahrir ketika terkapar sakit seperti yang dijelaskan Hamid Algadri dalam memoarnnya itu. Sultan Hamid II memang memiliki kekurangan-kekurangan dalam dirinya sebagai manusia. Tapi, itu juga dimiliki oleh pahlawan-pahlawan bangsa lainnya di Indonesia. Tak ada manusia sempurna. Tapi yang utama, Sultan Hamid II bukanlah seorang yang keji seperti diceritakan oleh para pendendam-pendendam yang ada di negara kita saat ini. Sultan Hamid II berhati besar, walaupun dijungkirbalikkan pihak-pihak yang menstereotipekan karakternya sebagai seorang yang buruk.

Sultan Hamid II, bukan p**a seorang pendendam. Walaupun beberapa kali dijebloskan ke penjara oleh Rezim kala itu, dia ikhlas menjalankannya. Dia tak mengambil hati semua keadaan yang ada.
Sikap ini dibuktikan pada tulisan HM. Max Yusuf Alkadrie, seorang mantan Sekretaris Pribadi Sultan Hamid II dalam buku bunga rampai berjudul "B**g Karno Bapakku Guruku Sahabatku Pemimpinku (Kenangan 100 Tahun B**g Karno), oleh penerbit Grasindo Jakarta tahun 2001. Max menulis artikel di buku tersebut dengan sub judul "Teladan Generasi B**g Karno-Saling Hormat dan Santun Dalam Berpolitik".

Max menyebut kala itu Sukarno sakit keras. "Pertama kali bertemu dengan B**g Karno pada hari Jum'at, tanggal 19 Juni 1970 jam 10.30 di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD)-sekarang Rumah Sakit Gatot Soebroto. Dalam kesempatan mendampingi Sultan Hamid II yang akan bezook sekaligus minta maaf atas kekhilafan di masa lalu. Saat membesuk, kami mendapat halangan dari Polisi Militer yang berjaga-jaga di depan. Kami sempat bertikai, karena kami tidak diizinkan masuk walau kami sudah mengatakan, cuma lima menit saja. Akhirnya, setelah debat panjang, saya dan Sultan Hamid II diperbolehkan masuk".

Lanjut penuturan Max pada tulisan tersebut, "Kondisi B**g Karno sudah sangat memprihatinkan karena benar-benar menderita lahir batin yang mengenaskan. Sultan Hamid II berucap: "Saya Hamid, B**g. Maafkan kesalahan saya, dan kesalahan B**g, saya maafkan." B**g Karno hanya mengenal suara saja, tidak pada wajah. Tak terasa, air mata jatuh dari mata Sultan Hamid II dan B**g Karno. Tidak sampai lima menit, Sultan Hamid II langsung keluar karena tidak tahan melihat kondisi B**g Karno. Hubungan seterusnya tidak berlanjut setelah B**g Karno wafat pada hari Minggu tanggal 21 Juni 1970 jam 10 pagi."

Max menyebut hal itu merupakan pengalaman paling berkesan di antara dua tokoh yang berlawanan politik ini, tidak ada dendam di antara mereka. Bahkan walaupun berseberangan secara politik tidak membuat keadaan sebagai masalah lama yang tak terpecahkan. Sultan Hamid II juga tak memelihara kekecewaannya tersebut kepada penguasa hari itu, bahkan ikhlas menerima perlakuan tidak adil yang dilakukan oleh sebagian bangsanya sendiri.

Hal itu sepatutnya kita lakukan hari ini. Tidak memelihara dendam lama. Melakukan rekonsiliasi bangsa, merekonstruksi sejarah negara. Dan meresolusi semua keadaan yang ada. Kami tak memiliki tendensi apa-apa, melainkan, sekali lagi kami sebutkan bahwa kami ingin meluruskan sejarah bangsa kita. Agar generasi penerus, ke depannya, tidak lagi memelihara sentimen sejarah politik negara. Persatuan akan terpelihara, bila semua memahami perbedaan-perbedaan yang sudah ada, sejak dahulu kala.

Salam takzim kami, untuk masyarakat Indonesia, Kalimantan Barat, Pontianak, yang terus mendukung perjuangan pelurusan sejarah bangsa kita. Untuk meletakkan penghormatan setinggi-tingginya kepada Pahlawan Kita, Perancang Lambang Negara – Garuda Pancasila, Sultan Hamid II.

_Pontianak, 18 Juni 2020._
*Yayasan Sultan Hamid II.*
*AD.*

Bantu Like dan Commentnya Gaess
18/06/2020

Bantu Like dan Commentnya Gaess

Video dari MK ANDY

Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) tahun akademik 2020/2021 masih dibuka. Gelombang ke-2 dibuka pada 01 Juni s/d 31 Agustus...
08/06/2020

Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) tahun akademik 2020/2021 masih dibuka. Gelombang ke-2 dibuka pada 01 Juni s/d 31 Agustus 2020.

Dengan merebaknya kasus pandemi Covid-19, yang berdampak pada kemampuan ekonomi dan mobilitas masyarakat, dan sebagai wujud kepedulian Universitas Muhammadiyah Pontianak. Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Muhammadiyah Pontianak tidak dipungut biaya pendaftaran (gratis) dan tanpa tes akademik.

Daftarkan segera diri anda, rekan, atau keluarga di: Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Pontianak (FH UM Pontianak).

Fakultas Hukum UM Pontianak membuka kelas Reguler A & Reguler B (bagi anda yang ingin kuliah sambil bekerja).

Pendaftaran dapat dilakukan melalui Website kami: http://pmb.unmuhpnk.ac.id

Informasi pendaftaran, hubungi INFOKOM UM Pontianak: 08115661990.

Atau kunjungi kampus Universitas Muhammadiyah Pontianak Jl. A. Yani, No. 111, Pontianak, Telp/Fax: (0561) 764571.

Jaga selalu kesehatan, tetap semangat menggapai impian dan masa depan. Bersama keluarga besar Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Pontianak.

..Menyikapi terus merebaknya kasus Covid-19, yang berdampak kepada kemampuan ekonomi dan mobilitas masyarakat, dan sebag...
01/06/2020

..
Menyikapi terus merebaknya kasus Covid-19, yang berdampak kepada kemampuan ekonomi dan mobilitas masyarakat, dan sebagai wujud kepedulian Universitas Muhammadiyah Pontianak, maka khusus Penerimaan Mahasiswa Baru untuk Tahun Akademik 2020/2021, bagi calon mahasiswa baru dibebaskan dari biaya pendaftaran dan tes masuk

Prodi yang tersedia di UM Pontianak :
S1 Teknik Mesin
S1 Teknik Informatika
S1 Sistem Informasi
S1 Manajemen
S1 Kesehatan Masyarakat
S1 Psikologi
S1 Hukum
S1 Budidaya Perairan
S1 Pendidikan Agama Islam
S1 Manajemen Bisnis Syariah
S1 PG Paud
S1 Pendidikan Biologi
S1 Pendidikan Kimia

formulir pendaftaran, tata cara pendaftaran & rincian biaya semester 1 bisa di cek melalui website pmb.unmuhpnk.ac.id

Info selengkapnya Whatsapp ke 0811-566-1990, .official

KITA BERADA DI BADAI YANG SAMA NAMUN BELUM TENTU ADA DI KAPAL YANG SAMA ...Kita tidak bisa marah dengan mereka yg masih ...
29/05/2020

KITA BERADA DI BADAI YANG SAMA NAMUN BELUM TENTU ADA DI KAPAL YANG SAMA ...

Kita tidak bisa marah dengan mereka yg masih harus keluar rumah utk bekerja karena kebutuhan hidup.

Kita juga tidak bisa iri dengan mereka yg bisa dengan NYAMANnya, karena perjuangan tiap orang dalam masa Covid-19 ini tidaklah sama..

Ada yang diberi KELEBIHAN MATERI untuk bisa ..
Ada juga yang TERSEOK-SEOK dgn segala kesulitan untuk bertahan hidup jika hanya ..

Yang bisa kita lakukan adalah MENJAGA DIRI masing² sebaik mungkin dan tetap mengikuti anjuran memakai masker, minum Vit, rajin mencuci tangan n menjaga jarak dg orang lain, BUKAN MENJADI HAKIM bagi satu sama lain..

Sadarlah kita berada di BADAI YANG SAMA, tapi TIDAK DIKAPAL YANG SAMA...

Biarlah masing² kapal mencari jalan keluar dari badai ini...
Berdoa dan berharaplah yang terbaik untuk setiap kapal, tanpa saling menghakimi...

Tetaplah kuat iman dan imun, semangat menjalani hidup....Badai pasti berlalu, tetapi pastikan Allah ada dalam kapal anda dan memegang kendali atas kapal anda. Jangan menyerah 🙏👏

Address

Jalan H. Abbas No. 1
Pontianak
78122

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kalbar Informasi posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category