PADANGLAWAS CENTER

PADANGLAWAS CENTER salak-lak sasikkoru, sasanggar saria-ria. saank saboru songon namarsad ina. dan jadi tukkot dilandit

merupakan sarana perjuangan mahasiswa Padang lawas yang ada dijakarta.

*Somasi Hukum Dilayangkan, Mitra Pengemudi Online Tempuh Jalur Hukum Atas Suspensi Sepihak GreenSM*
17/06/2025

*Somasi Hukum Dilayangkan, Mitra Pengemudi Online Tempuh Jalur Hukum Atas Suspensi Sepihak GreenSM*

Monwnews.com, Kuasa hukum Dodi Ilham, seorang pengemudi aktif Taksi Listrik GreenSM, secara resmi telah melayangkan Somasi I kepada Manajemen PT XANHSM Green and Smart Mobility Indonesia (GreenSM)…

14/05/2025

Ijazah, Kekuasaan, dan Politik Ketidakpastian

Oleh: [ALI]

Isu keaslian ijazah Presiden Joko Widodo kembali mencuat, bukan semata sebagai kontroversi administratif, tetapi sebagai dinamika politik yang menyimpan intensitas tinggi. Di negara ini, selembar ijazah dapat berubah menjadi senjata politik, bukan karena bobot akademisnya, tetapi karena kemampuannya untuk meretakkan fondasi legitimasi kekuasaan.

Sejak pertama kali muncul, isu ijazah ini tak pernah benar-benar diselesaikan. Negara bersikap ambigu. Hukum diam. Elit politik menahan nafas. Seolah-olah kejelasan bukanlah tujuan, tetapi justru ancaman. Dan dalam lanskap kekuasaan hari ini, ketidakpastian adalah strategi, bukan kelemahan.

Isu ini tidak hidup sendiri. Ia berada dalam pusaran arus konsolidasi kekuatan politik pasca-Jokowi. Konsolidasi ini tidak lagi digerakkan oleh partai semata, melainkan oleh jaringan relawan dan figur-figur non-partai. Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Bahlil Lahadalia. Keduanya adalah ketua umum partai, tetapi menjadi opsi menarik sebagai figur Wapres dalam konfigurasi politik mendatang. Justru karena tidak terikat oleh ideologi atau struktur partai, mereka dianggap lebih lentur dan mudah diposisikan dalam skema loyalitas kekuasaan.

Untuk menopang ini, kekuatan relawan dijaga tetap aktif. Bukan hanya untuk memenangkan pemilu, tetapi untuk menjaga warisan pengaruh. Di sinilah isu ijazah menjadi semacam alat tekan terhadap partai, dan alat legitimasi bagi kekuatan non-partai. Relawan diberi panggung, partai ditekan untuk tunduk, dan figur Wapres alternatif diberi ruang untuk tumbuh.

Namun manuver ini mulai menimbulkan kemarahan publik. Salah satu manifestasi paling nyata adalah mulai munculnya wacana pemakzulan Wakil Presiden secara konstitusional. Wacana ini, walau belum menemukan saluran hukum yang solid, menjadi indikator bahwa publik mulai gerah dengan permainan ambigu elite kekuasaan. Di saat Presiden dibiarkan berada dalam kabut isu ijazah, justru Wapres yang kini digiring ke arah pembusukan politik. Sebuah ironi yang mencerminkan bagaimana ketidakjelasan digunakan secara selektif, tergantung siapa yang sedang dibutuhkan atau dikorbankan.

Dalam situasi ini, ada satu tokoh yang sikap diamnya justru penuh makna: Pratikno, mantan Rektor UGM, Ia bukan hanya saksi sejarah atas era akademik Jokowi, tetapi juga birokrat kunci dalam stabilitas pemerintahan. Diamnya Pratikno—yang dulunya bagian dari dunia intelektual kampus dan kini bagian dari dapur kekuasaan—menjadi simbol dari kompromi elite terhadap kebenaran. Ia tak bicara membela, tak juga menyangkal. Tapi justru dari diam itulah ia menjaga posisinya tetap aman, mungkin juga strategis. Dalam kekuasaan yang dibangun di atas ketidakpastian, mereka yang mampu menahan diri dari bersuara adalah yang paling tahu kapan harus mengambil keuntungan.

Lebih dari sekadar persoalan dokumen, isu ijazah ini telah menjelma menjadi cermin karakter kekuasaan Jokowi: lentur, senyap, penuh manuver, dan seringkali membiarkan keadaan menggantung. Ia memimpin lewat tafsir, bukan lewat kejelasan. Dalam sistem seperti ini, loyalitas lebih penting dari logika, dan politik lebih diutamakan daripada kebenaran.

Tapi harga dari strategi ini tinggi. Negara kehilangan kredibilitas. Publik kehilangan kepercayaan. Dan elite politik mulai bertarung dalam ruang penuh kecurigaan. Politik yang dibangun di atas ketidakpastian, cepat atau lambat, akan runtuh oleh sesuatu yang paling pasti: kemarahan rakyat.

10/05/2025

Saatnya Mantan Presiden Menjadi Negarawan, Bukan Kompetitor Bayangan.

Oleh :{ALI}

Enam bulan sudah Presiden baru resmi dilantik, namun bayang-bayang kekuasaan masa lalu tampaknya enggan benar-benar pergi. Mantan Presiden yang baru pensiun tampak terus aktif menyuarakan pendapatnya di media, seolah-olah panggung kepemimpinan belum berganti. Komunikasi politik semacam ini bukan sekadar kebebasan berpendapat; ini adalah sinyal kuat bahwa sang mantan tengah membangun ulang kekuatan politiknya. Pertanyaannya: untuk apa?

Dalam etika demokrasi, seorang mantan presiden sejatinya menjelma menjadi negarawan. Ia melepaskan ego kekuasaan, memberi ruang bagi kepemimpinan baru untuk berlayar dengan tenang. Bukan malah melempar pernyataan demi pernyataan yang menggiring opini, menciptakan kegaduhan politik, bahkan membuka peluang konflik di lingkaran kekuasaan yang baru berjalan setengah tahun.

Wajar bila publik kemudian mengaitkan kemunculan isu pemakzulan Wakil Presiden dengan manuver komunikasi ini. Terlepas dari siapa yang mengajukan usulan tersebut, narasi besar yang sedang dibangun memperlihatkan upaya menciptakan ketidakstabilan. Dalam politik, pesan yang dikirim mantan pemimpin tak pernah netral. Ketika ia terus bersuara tanpa henti, publik bisa menilai: ini bukan sekadar nasihat, tapi bentuk kompetisi dalam bayang-bayang.

Mantan Presiden seharusnya mencontoh para negarawan dunia yang memilih diam penuh wibawa, atau bicara hanya saat benar-benar dibutuhkan demi kepentingan bangsa, bukan kepentingan kelompok. Publik tidak butuh pertunjukan kekuasaan jilid dua. Yang dibutuhkan saat ini adalah stabilitas nasional, dukungan moril terhadap pemerintahan baru, serta transisi damai dari satu era ke era berikutnya.

Biarkan Presiden baru bekerja. Biarkan rakyat menilai tanpa dibayang-bayangi narasi masa lalu. Dan biarkan sejarah mencatat siapa yang benar-benar tulus membangun negeri, dan siapa yang masih sibuk membangun kekuatan pribadi.

10/05/2025

Preman Berkedok Civil Society dan Tantangan Kehadiran Negara

Oleh: [ALI)

Di balik narasi indah tentang pemberdayaan masyarakat sipil, kita menyaksikan ironi yang mengkhawatirkan: maraknya premanisme yang menyusup dan menyaru sebagai bagian dari civil society. Mereka memakai baju ormas, mengusung jargon kebangsaan, kadang membawa lambang-lambang keagamaan, namun dalam praktiknya menjalankan kekuasaan jalanan yang mencederai hukum dan etika publik.

Fenomena ini bukan hal baru. Pasca-reformasi, ketika militer ditarik ke barak dan kekuatan negara direformasi, muncul kekosongan kuasa di banyak ruang sipil. Premanisme modern masuk dengan wajah baru—terorganisir, berseragam, bahkan berizin. Mereka bukan hanya menguasai pasar tradisional dan terminal, tetapi juga masuk ke proyek pemerintah, konflik agraria, bahkan menjadi aktor dalam pengamanan swasta dan tekanan politik lokal.

Yang lebih mencemaskan adalah keterkaitan mereka dengan aparat yang “dilepaskan” dari kedinasan secara administratif, tetapi tidak pernah benar-benar kembali sebagai warga biasa. Identitas baru disematkan, tapi jejaring dan strategi lama tetap dijalankan. Mereka bukan sekadar mantan prajurit atau pensiunan aparat; mereka adalah representasi dari kekuasaan lama yang belum benar-benar tercerabut.

Lalu, di mana negara?

Kehadiran negara tidak cukup hanya dalam bentuk baliho program bantuan sosial atau seremoni seremonial. Negara harus hadir sebagai pelindung hukum dan penjamin keadilan. Jika negara membiarkan ruang-ruang sipil diisi oleh preman berkedok masyarakat, maka yang dirampas bukan hanya hak rakyat kecil, tetapi juga martabat konstitusi.

Premanisme bukan bagian dari civil society. Ia adalah parasit yang membajak ruang publik untuk kepentingan kelompok, dan ironisnya sering kali dibiarkan tumbuh karena ada simbiosis diam-diam dengan kekuasaan. Negara harus berani membongkar ini. Harus ada pemutusan tegas antara struktur resmi dengan kekuasaan bayangan. Tak boleh ada impunitas bagi mereka yang menggunakan kedekatan dengan aparat atau nama organisasi masyarakat untuk melakukan tekanan, pemerasan, dan kekerasan.

Tugas negara hari ini bukan hanya memberantas kejahatan, tapi juga memulihkan kepercayaan. Kepercayaan bahwa negara tidak tunduk pada premanisme, bahwa hukum berdiri untuk semua, dan bahwa masyarakat sipil yang sejati tetap punya tempat yang aman untuk bersuara dan bekerja demi perubahan.

Kita butuh negara yang tidak takut pada preman, dan masyarakat yang tidak diam pada ketidakadilan.

https://fnn.co.id/post/debat-reforma-agraria-jokowi-pernah-jadi-karyawan-prabowo https://rmol.id/politik/read/2019/02/18...
26/04/2025

https://fnn.co.id/post/debat-reforma-agraria-jokowi-pernah-jadi-karyawan-prabowo

https://rmol.id/politik/read/2019/02/18/379096/siapa-taipan-yang-menguasai-kelompok-perusahaan-sawit-di-indonesia

Perdebatan Sengit dimasanya, sampai status Karyawan jadi Presiden pun Keluar.

Menentang karena berujung ya di Pagarlaut. 😂😂😂😂😂

Oleh Mochamad Toha (Jurnalis) Jakarta, FNN - Reforma agraria seakan menjadi pekerjaan rumah abadi bagi siapa pun yang terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI pada Pilpres, 17 April 2019. Apak

https://gitamedia.com/ketua-lbh-r-tika-nusantara-desak-kapolsek-cisauk-tingkatkan-profesionalisme-dan-pengawasan-interna...
13/04/2025

https://gitamedia.com/ketua-lbh-r-tika-nusantara-desak-kapolsek-cisauk-tingkatkan-profesionalisme-dan-pengawasan-internal/
https://parlemenbanten.com/2025/04/13/ketua-lbh-r-tika-nusantara-desak-kapolsek-cisauk-tingkatkan-profesionalisme-dan-pengawasan-internal/

berat

Tangerang Selatan (gitamedia.com)-Ketua LBH Relawan Teman Ibu Kawan Anak Nusantara Desak Kapolsek Cisauk Tingkatkan Profesionalisme dan Pengawasan Internal. Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Relawan Teman Ibu Kawan Anak Nusantara, Ali Zubeir Hasibuan, SH, menyampaikan keprihatinan mendalam atas beru...

26/03/2025

kata-kata bijak dalam Bahasa Padanglawas khusus untuk mahasiswa perantau ke Jawa, agar tetap semangat

1. Motivasi untuk Mahasiswa Perantau

"Ulang sai terlena di tano na asing, Ulang mate di adat, sampai tu pangomoan na sukses dohot perjuangan."

(Jangan terlena di tanah rantau, jangan lupakan adat, capailah kesuksesan dengan penuh perjuangan.)

"Di tano na asing, ulang sai lungun, unang sai merasa Sada iba, hara na hita di dibimbing hata ni natobang"

(Di tanah rantau, jangan merasa sendiri, jangan sedih, karena kita dibimbing oleh petuah orang tua.)

"Ulang sai malungun tu tano asal, ulang magian roha, di tano na asing do hita merancang masa depan."

(Jangan selalu rindu kampung halaman hingga lalai, jangan kehilangan semangat, karena di tanah rantau kita merancang masa depan.)

2. Menjaga Identitas dan Adat di Tanah Rantau

"Ulang pailahon iba niba, unang mate adat, na haropan do hamu di huta."

(Jangan mempermalukan diri, jangan melupakan adat, karena kalian adalah harapan kampung halaman.)

"Di tano Jawa sai patuduhon ma roha na tolu, unang sai marhobol hata, unang manjalahi angka na niambaton."

(Di tanah Jawa, tunjukkan sikap baik, jangan berbicara kasar, dan jangan membuat malu kampung halaman.)

"Tano na asing ulang jadi asing, angka dohot na pinompar siparibanua."

(Di tanah orang, jangan merasa asing, karena perantau tetap punya saudara sebudaya.)

3. Menghadapi Tantangan dan Rindu Kampung Halaman

"Ulang sai manaru roha, unang sai somang, di angka godang do hamu disuru tu tano na asing."

(Jangan putus asa, jangan sombong, karena orang tua mengirim kalian ke tanah rantau untuk sukses.)

"Lungun ni roha ulang sai jadi boban, angka dohot angka dongan Kahanggi do sipatolongon."

(Kesepian jangan jadi beban, karena saudara seperjuangan selalu ada untuk membantu.)

"Tano asal ulang lupa, ulang sai malungun di tano na asing, di huta do angka natobang manyampehon Do'a"

(Jangan lupakan kampung halaman, jangan terlalu larut dalam kesedihan, karena di sana orang tua selalu mendoakanmu.)

4. Sukses dalam Pendidikan dan Masa Depan

"Sai patuduhon ma roha na tabo, unang sai tongtong maradoh, sahat ma tu pamasumasuon na torop."

(Tunjukkan hati yang baik, jangan hanya bermalas-malasan, capailah kesuksesan dengan sungguh-sungguh.)

"Ulang mate ma ho di pagomoan, unang sai marambung hata, sahalak-sahalak ma rohana."

(Jangan menyerah dalam perjuangan, jangan sombong, tetaplah rendah hati.)

"Di tano na asing sai mangkuling ma roha, unang sai pangalaho na jahat, unang sai mate tu pangomoan."

(Di tanah rantau, kendalikan hati, jangan berbuat buruk, dan jangan kehilangan semangat untuk sukses.)

26/03/2025

kata-kata bijak dalam Bahasa Padanglawas yang spesifik untuk mahasiswa, berdasarkan peran dalam Dalihan Na Tolu dan nilai-nilai pendidikan:

1. Untuk Mora (Pemberi Ilmu, Pemimpin dalam Ilmu)

"Mahasiswa na ro di angka-angka, unang sai tarsuruk di alaman, sai marsomba tu na pinompar dohot roha na tolu."

(Mahasiswa yang datang menuntut ilmu, jangan hanya berdiam diri, hormati yang lebih tua dan tunjukkan kebijaksanaan.)

"Mora do pangujian ni angka-angka, unang sai mate adat, unang sai malo maradat."

(Mora adalah pemberi petunjuk dalam kehidupan, jangan melupakan adat, jangan malas memegang nilai-nilai adat.)

"Poda ni Mora do sipanonggomi, unang sai mangulahi hata, sai pature ma ho di rohana."

(Petuah Mora adalah pedoman kehidupan, jangan melawan nasihat, selalu luruskan niat dalam hati.)

2. Untuk Kahanggi (Sesama Mahasiswa, Saudara Satu Perjuangan)

"Kahanggi do marsada, unang sai mardongan musuh, ai dongan tubu do sahat tu julu."

(Kahanggi harus bersatu, jangan bermusuhan, karena saudara sejalanlah yang akan sampai ke tujuan.)

"Unang sai pangalaho na jahat, unang sai mate adat, sahalak-sahalak ma rohana."

(Jangan berbuat jahat, jangan lupakan adat, selalu jaga kebersamaan dalam hati.)

"Kahanggi do daging ni roha, unang marsihohomi, unang mangarogoti sada hita."

(Saudara seperjuangan adalah bagian dari hati, jangan saling menyakiti, jangan saling menjatuhkan.)

3. Untuk Anak Boru (Pelayan Ilmu, yang Menuntut Ilmu dengan Kerendahan Hati)

"Anak boru do sipaingot ni angka, unang sai marsiahaan, unang sai matua di hata."

(Anak boru adalah yang menuntut ilmu, jangan angkuh, jangan merasa lebih tahu dari yang seharusnya.)

"Sai marsomba tu guru, unang sai palanggar hata, sahat ma tu pangomoan na tabo."

(Hormati guru, jangan melawan kata-katanya, agar ilmu bisa menjadi berkah.)

"Anak boru do sipaingot ni huta, unang sai mangadu adat, unang sai manumpal janji."

(Anak boru adalah penjaga kebaikan, jangan melawan adat, jangan mengingkari janji.)

4. Motivasi Umum untuk Mahasiswa dalam Meraih Kesuksesan

"Pangomoan na torop do asal na tabo, unang sai marsahala, unang sai marohop di roha."

(Kesuksesan penuh berasal dari kerja keras yang baik, jangan malas, jangan cepat menyerah.)

"Unang mate ma ho di pagomoan, unang sai maradophon, sahalak-sahalak ma rohana."
(Jangan mati dalam perjuangan, jangan sombong, selalu rendah hati.)

"Sahat ma tu roha na dob, unang sai marambung hata, unang sai marbada di angka."

(Capai cita-cita dengan benar, jangan bicara sombong, jangan membeda-bedakan sesama.)

Address

Jalan Lintas
Poken Ujung Batu
22765

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when PADANGLAWAS CENTER posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to PADANGLAWAS CENTER:

Share