10/02/2021
๐ฆ๐ฟ๐ถ๐ธ๐ฎ๐ป๐ฑ๐ถ ๐๐ถ๐ฟ๐ ๐๐ผ๐ป๐ด๐ธ๐ฒ๐ฟ
Katanya, politik ditangan perempuan, akan lebih beradab. Lebih membumi. Karena ada kelembutan dan feminitas di dalamnya.
Memang, ini hanya "katanya". Tapi banyak yang percaya. Banyak sekali, malah. Saya termasuk salah satunya.
Ada banyak riset yang mendukung "katanya" itu. Ambil contoh Eagly dan Johnson. Dibukunya Steers & Porter (1996), Motivation and Leadhership at Work, dorang simpulkan begini:
Bahwa gaya kepemimpinan perempuan itu lebih feminim dan transformasional. Beda dengan laki-laki yang maskulin dan cenderung transaksional.
Tapi dorang akui juga, itu tidak pukul rata. Ada juga yang kombinasi keduanya. Hanya memang dominannya, ya... gaya kepemimpinan feminim dan transformasional itu.
Cirinya: Lebih mengedepankan kolaborasi dan kerjasama; penuh intuisi dan sarat empati; pola hubungan kepemimpinan didasarkan pada nilai, keyakinan dan visi bersama; terus, lebih demokratis dalam pengambilan keputusan.
Ya, begitulah kira-kira kesimpulan si Eagly dan Johnson. Boleh percaya, boleh tidak.
Saya sendiri merasa ada benarnya kesimpulan itu. Apalagi kalo mengamati kepemimpinan Dr. Hj. Nilam Sari Lawira, Ketua Tim Koalisi Cudi-Ma'mun, dalam Pilgub 2020 kemarin. Itu "sesuatu banget", menurut saya.
"Sesuatu banget" bukan karena hasilnya: Rusdi Mastura-Ma'mun Amir menang 60 persen. Itu "sesuatu saja". Karena bisa jadi memang ada faktor persona Cudi yang turut berpengaruh.
Menjadi "sesuatu banget" karena kemampuan seorang Nilam Sari Lawira mengkolaborasikan 10 Parpol anggota koalisi dalam kerjasama tim yang kompak. Yang bergerak penuh semangat ke pelosok-pelosok, mengkampanyekan Rusdi Mastura-Ma'mun Amir.
Nah, semua itu hanya dimungkinkan oleh kualitas kepemimpinan yang dua jempol. Di situlah letak "sesuatu bangetnya". Tidak semua orang bisa.
Terlepas dari sejumlah kelemahan, dengar-dengar kunci suksesnya dipengaruhi oleh 3 faktor: Tegas dan detail dalam alokasi sumberdaya; keterbukaan terhadap saran dan masukan semua pihak; serta sikap empatinya terhadap masalah dan kepentingan anggota tim, bahkan konstituen.
Yang disebut terakhir, terlihat pada spanduk yang menyebar sampai ke pelosok-pelosok. Isinya, ucapan terimakasih kepada masyarakat Sulteng karena telah memberikan suaranya untuk kemenangan Rusdi Mastura - Ma'mum Amir.
Perempuan pertama yang menjabat Ketua DPRD Sulteng ini nampak paham betul, sekecil apapun peran seseorang, mesti dipresiasi. Dan rakyat butuh itu dari seorang pemimpin.
Ini pertanda, Sulteng kedepan tidak kekurangan sosok pemimpin perempuan potensial. Dr. Hj. Nilam Sari Lawira, salah satunya. Srikandi dari Partai Biru Dongker. Insya Allah.* (๐ต๐ช๐ฐ๐ฏ๐ค๐ข๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ)