Yayasan Al-Hafizh Kota Palopo

Yayasan Al-Hafizh Kota Palopo Yayasan Al-Hafizh Palopo bergerak dibidang: Pendidikan, Sosial & Keagamaan

KETIKA HATI MULAI LELAHBy. Satria Hadi LubisKETIKA hati mulai lelah. Bukan karena tubuh banyak bekerja, tetapi karena pi...
08/09/2026

KETIKA HATI MULAI LELAH

By. Satria Hadi Lubis

KETIKA hati mulai lelah. Bukan karena tubuh banyak bekerja, tetapi karena pikiran terlalu banyak memikirkan, hati terlalu banyak berharap, dan jiwa terlalu lama memikul beban.

Lelah menghadapi masalah.
Lelah menghadapi manusia.
Lelah dengan pekerjaan.
Lelah dengan kegagalan.
Bahkan terkadang kita tersenyum di hadapan orang lain, sementara hati berkata, “Ya Allah, aku sudah tidak kuat.”

Ketika hati mulai lelah, janganlah menjauh dari Allah. Justru kembalilah kepada-Nya.

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra'd: 28)

Nabi saw menjalankan ayat ini. Beliau berkata kepada Bilal ra:

“Wahai Bilal, kumandangkanlah iqamah untuk shalat. Berilah kami ketenangan dengannya.” (HR. Abu Dawud)

Lihat p**a Nabi Yunus as. Ketika beliau berada dalam puncak kelelahan karena ditolak kaumnya. Lalu menjauhi kaumnya sampai akhirnya beliau berada dalam kegelapan laut dan perut ikan. Beliau akhirnya kembali kepada Allah dan berdoa:

لَّا إِلَٰهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

“Tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya': 87). Doa ini amat baik kita lantunkan setiap saat, terutama ketika hati lelah karena sedang banyak masalah.

Nabi Ya'qub as juga pernah mengalami kesedihan yang sangat dalam ketika kehilangan Yusuf as. Beliau tidak curhat kepada siapapun, tapi kembali kepada Allah Ta'ala:

“Sesungguhnya aku hanya mengadukan kesusahan dan kesedihanku kepada Allah.” (QS. Yusuf: 86)

Begitu p**a Rasulullah saw dan para sahabat. Mereka menghadapi penolakan, kehilangan, kemiskinan, peperangan dan berbagai ujian berat. Tetapi mereka tidak menjadikan ujian sebagai alasan untuk meninggalkan Allah.

Rasulullah saw bersabda: “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya baik baginya.” (HR. Muslim)

Ketika mendapat nikmat, ia bersyukur. Ketika mendapat ujian, ia bersabar. Ketika berdosa, ia bertaubat. Ketika bingung, ia berdoa. Ketika lelah, ia kembali kepada Allah.

Maka, jika hari ini hatimu sedang lelah, jangan mencari pelarian. Ambillah wudhu. Shalatlah. Bacalah Al-Qur'an. Perbanyak istighfar. Duduklah sejenak dalam keheningan. Dan ceritakan semuanya kepada Allah.

Tidak perlu kata-kata yang indah. Cukup katakan:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

"Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu."(HR. Tirmidzi)

Bisa juga ditambahkan dengan doa:

اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

"Ya Allah, Dzat yang mengarahkan hati, palingkanlah dan arahkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu." (HR. Muslim)

Sebab mungkin selama ini kita terlalu sibuk mencari ketenangan di luar, padahal Allah telah menunjukkan tempat ketenangan itu ada di hatimu ketika dekat dan mengingat Allah SWT.

Jadi, ketika hatimu mulai lelah...
Jangan menjauh.
Jangan menyerah.
Jangan berputus asa.
Kembalilah kepada Allah.

TARBIYAH BUKAN SEGALANYA, TAPI SEGALANYA BERAWAL DAN BERAKHIR DARI TARBIYAH✍️ By. Satria Hadi LubisBANYAK orang ingin me...
11/08/2026

TARBIYAH BUKAN SEGALANYA, TAPI SEGALANYA BERAWAL DAN BERAKHIR DARI TARBIYAH

✍️ By. Satria Hadi Lubis

BANYAK orang ingin melihat perubahan besar. Ingin lahir pemimpin yang amanah. Ingin masyarakat yang jujur. Ingin keluarga yang sakinah. Ingin dakwah berkembang. Ingin umat kembali berjaya. Namun sering kali kita lupa pada akar dari semua itu. Yaitu TARBIYAH.

Tarbiyah memang bukan segalanya. Sebab setelah dibina, seseorang tetap harus bekerja, berdakwah, berjuang, memimpin, berkorban, dan terus belajar. Tarbiyah bukan tujuan akhir, melainkan proses membentuk manusia agar mampu menjalankan semua amanah itu. Namun, hampir semua kebaikan besar selalu berawal dari tarbiyah.

Tidak ada bangunan yang kokoh tanpa fondasi. Tidak ada pohon yang rindang tanpa akar yang kuat. Begitu p**a dakwah. Aktivitas yang besar hanya akan bertahan jika ditopang oleh pribadi-pribadi yang telah ditempa melalui proses tarbiyah.

Rasulullah saw tidak langsung membangun peradaban Madinah. Beliau terlebih dahulu membina para sahabat di Makkah selama bertahun-tahun. Mereka ditanamkan tauhid, keikhlasan, kesabaran, ukhuwah, dan ketaatan kepada Allah. Setelah manusianya terbentuk, barulah lahir masyarakat terbaik dalam sejarah. Allah Ta'ala berfirman:

"Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah."
(QS. Al-Jumu'ah: 2)

Perhatikan urutannya. Rasulullah saw membacakan wahyu, menyucikan jiwa, lalu mengajarkan ilmu. Inilah hakikat tarbiyah: membangun hati sebelum membangun organisasi, membangun karakter sebelum membangun peradaban.

Sebaliknya, banyak kegagalan berawal dari kurangnya tarbiyah. Ilmu ada, tetapi tidak amanah. Jabatan tinggi, tetapi lemah integritas. Organisasi besar, tetapi rapuh ukhuwahnya. Semangat tinggi, tetapi mudah futur ketika menghadapi ujian.

Karena itu, ketika sebuah gerakan melemah, jangan hanya mencari strategi baru. Lihat kembali kualitas tarbiyahnya. Ketika kader mulai kehilangan semangat, jangan hanya menambah program. Perkuat kembali pembinaan ruhiyah, ilmu, dan akhlaknya.

Menariknya, bukan hanya awal yang membutuhkan tarbiyah. Akhir perjalanan pun ditentukan oleh tarbiyah.

Istiqamah hingga akhir hayat tidak lahir secara tiba-tiba. Husnul khatimah bukan hadiah bagi orang yang sesekali berbuat baik, melainkan buah dari proses panjang mendidik hati agar selalu dekat kepada Allah.

Karena itu, tarbiyah tidak pernah mengenal kata lulus. Selama hayat masih dikandung badan, selama itu p**a kita membutuhkan tarbiyah untuk memberikan nasihat, muhasabah, berbagi ilmu, sahabat sholih, dan lingkungan yang sehat.

Imam Malik rahimahullah pernah berkata, "Siapa yang tidak dididik oleh orang tuanya, maka akan dididik oleh zaman." Betapa beruntungnya orang yang memilih dididik oleh Al-Qur'an dan Sunnah sebelum kerasnya kehidupan mendidiknya dengan berbagai ujian.

Maka jangan pernah meremehkan sebuah halaqoh kecil, liqo' yang sederhana, nasihat seorang murabbi, atau tilawah yang rutin. Boleh jadi dari situlah lahir pemimpin, ulama, da'i, ayah yang saleh, ibu yang tangguh, dan generasi yang mengubah peradaban.

Tarbiyah memang bukan segalanya. Tetapi jika ingin mencari dari mana semua kebaikan bermula, jawabannya adalah tarbiyah. Dan jika ingin menjaga agar semua kebaikan itu tetap hidup hingga akhir hayat, jawabannya juga tetap sama: Tarbiyah.

11/08/2026

UKURAN ORANG BERILMU: TAKUT KEPADA ALLAH

By. Satria Hadi Lubis

BANYAK orang mengira bahwa ukuran ilmu adalah banyaknya gelar, luasnya wawasan, atau tingginya kecerdasan. Padahal Al-Qur'an memberikan ukuran yang berbeda. Ukuran utama orang berilmu bukanlah seberapa banyak yang ia ketahui, tetapi seberapa besar rasa takutnya kepada Allah.

"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama." (QS. Fathir: 28)

Ayat ini tidak berarti setiap orang yang bergelar ulama pasti takut kepada Allah. Maksudnya, rasa takut yang benar kepada Allah mestinya lahir dari ilmu yang benar. Semakin seseorang mengenal Allah, memahami ayat-ayat-Nya, dan menyaksikan tanda-tanda kebesaran-Nya, semakin tunduk dan takutlah hatinya kepada-Nya.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa orang yang paling mengenal Allah adalah orang yang paling takut kepada-Nya. Karena mereka mengetahui keagungan, kekuasaan, kesempurnaan, dan keadilan-Nya. Ilmu yang benar melahirkan kekhusyukan, bukan kesombongan.

Karena itu, Islam tidak pernah mengajarkan untuk memusuhi akal. Justru akal adalah salah satu nikmat terbesar dari Allah. Dengan akal, manusia berpikir, meneliti, menemukan ilmu pengetahuan, dan membangun peradaban.

Namun Islam juga mengajarkan bahwa akal bukanlah tuhan. Sebab akal memiliki batas. Ia hanya mampu menjangkau apa yang dapat diindra, dihitung, diamati, dan dianalisis. Sementara ada banyak hakikat yang berada di luar jangkauan akal manusia, seperti perkara gaib, hakikat ruh, kehidupan setelah mati, misteri alam semesta yang sangat luas dan hikmah Allah yang tidak selalu dapat dipahami saat ini.

Di sinilah letak kekeliruan sebagian paham ateisme. Mereka menjadikan akal sebagai hakim tertinggi. Sesuatu dianggap benar hanya jika dapat dipahami sepenuhnya oleh akal. Padahal akal manusia sendiri terbatas, sering keliru, bahkan para ilmuwan pun terus merevisi teori-teori yang dahulu dianggap pasti.

Bagaimana mungkin sesuatu yang terbatas dijadikan ukuran mutlak bagi seluruh kebenaran?

Seorang mukmin menggunakan akalnya semaksimal mungkin, tetapi tidak mengagungkan akalnya di atas wahyu. Akal dipakai untuk memahami ayat-ayat Allah, bukan untuk menghakimi Allah Ta'ala. Ketika akal telah sampai pada batas kemampuannya, iman melanjutkan perjalanan.

Inilah hakikat ilmu dalam Islam. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin ia menyadari betapa sedikit yang diketahuinya dibanding ilmu Allah. Semakin luas pengetahuannya, semakin besar rasa takzimnya kepada Sang Pencipta.

Ilmu yang tidak melahirkan ketundukan bisa berubah menjadi kesombongan. Sebaliknya, ilmu yang benar akan melahirkan rasa takut kepada Allah, kerendahan hati, dan ketaatan.

Maka, jika ingin mengukur diri apakah ilmu kita bertambah, jangan hanya bertanya, "Sudah berapa banyak yang saya ketahui?" Tetapi bertanyalah, "Apakah hati saya semakin takut kepada Allah? Apakah saya semakin taat kepada-Nya?" Karena itulah ukuran ilmu yang sesungguhnya.

09/08/2026

TENGGELAMNYA SEORANG PEMBOHONG

By. Satria Hadi Lubis

SEORANG pemuda sangat mahir berenang. Ia begitu bangga dengan kemampuannya. Hampir setiap hari ia berenang di sungai yang membelah desanya.

Suatu hari, ketika sebuah perahu penuh penumpang melintas, tiba-tiba ia berteriak sekuat tenaga,

"Tolong...! Aku tenggelam!"

Mendengar teriakan itu, beberapa penumpang tanpa ragu melompat ke sungai. Dengan pakaian yang masih melekat di badan, mereka berenang sekuat tenaga demi menyelamatkan nyawa seseorang.

Namun, sesampainya di dekat pemuda itu, ia justru tertawa terbahak-bahak.

"Aku hanya bercanda. Aku ahli berenang!"

Orang-orang yang telah basah kuyup itu p**ang dengan kecewa dan marah. Anehnya, pemuda itu mengulangi perbuatan yang sama berkali-kali kepada perahu-perahu lain. Baginya, melihat orang tertipu adalah hiburan.

Hingga suatu hari, hujan deras menyebabkan sungai meluap. Arus menjadi sangat deras. Dengan rasa percaya diri, ia kembali berenang seperti biasa.

Kali ini ia benar-benar terseret pusaran air.

Ia berteriak meminta tolong. Sebuah perahu mendekat. Semua mendengar jeritannya. Namun tidak ada yang melompat.

Mereka mengira, "Itu hanya tipuan lagi."

Perahu terus berlalu.

Tak lama kemudian, pemuda itu tenggelam. Keesokan harinya, jasadnya ditemukan mengapung di sungai.

Betapa mahal harga sebuah kebohongan.

Allah Ta'ala juga berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang jujur."
(QS. At-Taubah: 119)

Rasulullah saw bersabda:

"Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga. Seseorang yang terus berkata jujur akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur. Dan jauhilah dusta, karena dusta membawa kepada kefajiran, dan kefajiran membawa ke neraka. Seseorang yang terus berdusta akan dicatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta." (HR. Bukhari no. 6094 dan Muslim no. 2607)

Imam An-Nawawi ketika menjelaskan hadis di atas menerangkan bahwa kejujuran adalah jalan menuju seluruh kebaikan, sedangkan dusta adalah pintu menuju berbagai dosa dan kebinasaan.

Hikmah :

1. Jangan pernah menjadikan kebohongan sebagai candaan. Sekali orang kehilangan kepercayaan kepada kita, sangat sulit mengembalikannya.

2. Berbohong bisa seperti narkoba, menagih dan membuat pelakunya tidak lagi merasa bersalah untuk berbohong.

3. Orang yang s**a berbohong akan sulit mendapatkan kepercayaan walau saat itu sebenarnya ia sedang tidak berbohong.

4. Kita tidak harus berbohong, meski mengatakan kebenaran dapat menyebabkan kerugian, penderitaan, atau sakit. Kita tidak harus berbohong jika berbohong mungkin memberi kita uang, kekuasaan, atau kesenangan.

5. Kejujuran adalah modal terbesar dalam kehidupan. Harta bisa dicari, jabatan bisa diraih, tetapi kepercayaan membutuhkan waktu yang panjang untuk dibangun.

6. Kebohongan sering kali terasa menguntungkan sesaat, tetapi merugikan di kemudian hari. Banyak orang jatuh bukan karena kurang cerdas, tetapi karena kehilangan kepercayaan.

7. Seorang mukmin memilih jujur meski pahit. Sebab ia yakin bahwa pertolongan Allah datang bersama kejujuran, bukan bersama kebohongan.

Ingatlah, bukan karena sungai yang membunuh pemuda itu. Yang menenggelamkannya adalah kebohongan yang selama ini ia pelihara.

07/08/2026

NGAPAIN KAMU MENCARI CINTA DAN PERHATIAN MANUSIA?

By. Satria hadi lubis

CAPEK tidak, kalau hidup terus-menerus berusaha agar manusia mencintaimu? Berusaha menyenangkan orang. Takut dikritik. Sedih ketika tidak dihargai. Kecewa ketika kebaikanmu tidak dibalas. Lelah mengejar pengakuan yang tidak pernah ada habisnya.

Padahal, sejak kapan tujuan hidup kita adalah mendapatkan cinta manusia?

Manusia memiliki hati yang berubah-ubah. Hari ini memuji, besok bisa mencela. Hari ini mendukung, besok bisa meninggalkan. Jika kebahagiaanmu bergantung pada perhatian manusia, maka hatimu tidak akan pernah benar-benar tenang.

Karena itu, berhentilah menjadikan manusia sebagai pusat perhatianmu. Fokuslah berbuat baik sesuai syariat Allah.

Jika ada yang mencintaimu, bersyukurlah. Jika ada yang tidak menyukaimu, bersabarlah. Jika ada yang menghargaimu, jangan terbang. Jika ada yang meremehkanmu, jangan tumbang.

Kamu tidak akan mudah baper, tidak mudah sakit hati, dan tidak mudah kecewa, karena tujuanmu bukan mengambil hati manusia, tetapi mencari ridho Allah Ta'ala.

Biarlah manusia menilai ses**a mereka. Tugasmu bukan mengendalikan penilaian manusia. Tugasmu adalah memperbaiki amalmu di hadapan Allah.

Dicintai atau tidak dicintai manusia bukanlah fokus hidupmu. Yang menjadi fokus adalah: apakah Allah mencintaimu?

Sebab, jika Allah sudah mencintaimu, itulah keberuntungan terbesar. Bahkan bila seluruh dunia tidak mengenalmu, engkau tetap menjadi orang yang mulia di sisi-Nya.

Maka sibukkanlah dirimu mengejar tanda-tanda cinta Allah.
Apakah hari ini kamu semakin mudah bertaubat?
Apakah shalatmu semakin khusyuk?
Apakah hatimu semakin mencintai Al-Qur'an?
Apakah maksiat semakin kamu benci?
Apakah akhlakmu semakin baik?
Apakah kamu semakin ikhlas dalam beramal?
Apakah kamu semakin ringan melakukan kebaikan meskipun tidak ada yang melihat?
Semua itu jauh lebih penting daripada berapa banyak orang yang menyukaimu.

Rasulullah saw bersabda dalam hadits riwayat Bukhari-Muslim bahwa apabila Allah mencintai seorang hamba, Allah memanggil Jibril dan berfirman, "Sesungguhnya Aku mencintai si fulan, maka cintailah dia." Kemudian kecintaan itu disebarkan kepada penduduk langit, lalu Allah menjadikan hamba tersebut diterima di muka bumi.

Jangan habiskan umurmu mengejar perhatian manusia. Habiskan umurmu mengejar cinta Allah.

Sibuklah berbuat baik. Sibuklah memperbaiki diri. Sibuklah mengejar ridho-Nya. Sebab ketika Allah mencintaimu, kamu tidak lagi gelisah dengan penilaian manusia. Dan ketika Allah ridho kepadamu, itulah kemenangan yang sesungguhnya.

"Kamu tidak akan mudah baper, tidak mudah sakit hati, dan tidak mudah kecewa, jika tujuan hidupmu bukan mengambil hati manusia, tetapi mencari ridho Allah SWT."

04/08/2026

TAUBATAN NASUHA ADALAH REZEKI TERBAIK

By. Satria Hadi Lubis

DI ANTARA doa yang indah untuk kita panjatkan setiap hari adalah:

"Allahumma rozaqtana taubatan nasuha (Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami rezeki berupa taubatan nasuha)."

Mengapa kita meminta taubat sebagai rezeki?

Karena tidak semua orang diberi hidayah untuk bertaubat. Banyak orang yang diberi harta, jabatan, kesehatan, bahkan umur panjang, tetapi tidak diberi hati yang mau kembali kepada Allah. Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana, namun Allah membukakan pintu taubat sehingga dosanya diampuni dan derajatnya ditinggikan.

Itulah sebabnya, taubatan nasuha adalah rezeki yang lebih berharga daripada kekayaan dunia. Allah Ta'ala berfirman,

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya (taubatan nasuha)." (QS. At-Tahrim: 8)»

Taubatan nasuha adalah taubat yang lahir dari hati yang ikhlas; menyesali dosa, segera meninggalkannya, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya, dan mengembalikan hak orang lain bila berkaitan dengan sesama manusia. Allah SWT berfirman,

"Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung." (QS. An-Nur: 31)

Perhatikan, Allah menggantungkan keberuntungan kepada taubat. Ini menunjukkan bahwa keberuntungan sejati bukanlah banyaknya harta, tetapi bersihnya hati dari dosa. Rasulullah saw bersabda:

"Demi Allah, sungguh aku beristighfar dan bertaubat kepada Allah lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari." (HR. Al-Bukhari)

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau bertaubat seratus kali sehari. Padahal beliau adalah manusia yang telah diampuni dosanya. Lalu bagaimana dengan kita yang penuh kekurangan?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,

"Taubat adalah awal perjalanan, pertengahan perjalanan, dan akhir perjalanan seorang hamba kepada Allah."

Artinya, seorang mukmin tidak pernah berhenti bertaubat. Semakin tinggi keimanannya, semakin besar rasa butuhnya kepada ampunan Allah.

Ibnul Qoyyim al Jauziyyah menjelaskan bahwa di antara tanda kebahagiaan seorang hamba adalah ketika Allah membukakan pintu taubat baginya. Sebab taubat membersihkan hati, menghapus dosa, mendatangkan cinta Allah, dan membuka pintu-pintu kebaikan lainnya. Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri." (QS. Al-Baqarah: 222)

Betapa mulianya rezeki ini. Harta hanya menyenangkan dunia. Jabatan hanya bertahan sementara. Kesehatanpun suatu saat akan berkurang. Namun taubatan nasuha menghadirkan ketenangan hati, menghapus dosa, mendatangkan cinta Allah, serta menjadi bekal menuju surga.

Karena itu, jangan hanya berdoa,

"Ya Allah, lapangkan rezekiku."

Tambahkan p**a doa yang jauh lebih agung,

"Ya Allah, berikanlah aku rezeki berupa taubatan nasuha. Lembutkan hatiku untuk menyesali dosa, mudahkan lisanku beristighfar, kuatkan diriku meninggalkan maksiat, dan istiqamahkan aku hingga akhir hayat."

Sebab, tidak ada rezeki yang lebih baik daripada hati yang selalu kembali kepada Allah. Orang yang memperoleh taubatan nasuha sesungguhnya telah memperoleh salah satu karunia terbesar yang mengantarkannya kepada kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat.

03/08/2026

PUNCAK KEBAHAGIAAN BUKAN KELUARGA DAN HARTA

By. Satria Hadi Lubis

BANYAK orang mengira bahwa puncak kebahagiaan adalah memiliki keluarga yang harmonis, anak-anak yang membanggakan, dan harta yang melimpah. Karena itu, sebagian besar energi hidup dihabiskan untuk mengejar semua itu.

Tidak ada yang salah dengan keluarga. Tidak ada yang salah dengan harta. Bahkan keduanya termasuk nikmat besar yang Allah anugerahkan kepada manusia. Namun masalah muncul ketika kita menganggap bahwa keluarga dan harta adalah tujuan akhir kehidupan.

Islam mengajarkan bahwa keluarga dan harta bukanlah tujuan, melainkan sarana. Bukan puncak kebahagiaan, melainkan ujian yang Allah titipkan kepada kita. Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (ujian) bagimu, dan di sisi Allah-lah pahala yang besar." (QS. At-Taghabun: 15)

Ayat ini sangat menarik. Allah tidak mengatakan bahwa harta dan anak adalah puncak kebahagiaan. Allah justru menyebutnya sebagai fitnah, yaitu ujian.

Mengapa? Karena melalui harta, Allah menguji apakah kita bersyukur atau kufur. Melalui kekayaan, Allah menguji apakah kita dermawan atau kikir. Melalui jabatan, Allah menguji apakah kita amanah atau khianat. Melalui anak-anak, Allah menguji apakah kita mampu mendidik mereka menuju surga atau justru membiarkan mereka menjauh dari agama.

Banyak orang bahagia ketika memiliki harta, tetapi lupa bahwa setiap rupiah akan dimintai pertanggungjawaban.
Banyak orang bangga memiliki anak yang sukses di dunia, tetapi lupa bertanya apakah anak tersebut juga sukses dalam ketaatan kepada Allah.

Karena itu, ukuran kebahagiaan seorang muslim berbeda dengan ukuran kebahagiaan kebanyakan manusia. Bagi seorang muslim, kebahagiaan tertinggi bukanlah banyaknya harta yang dimiliki. Bukan p**a banyaknya anak yang dimiliki. Bukan p**a megahnya rumah atau tingginya jabatan.

PUNCAK KEBAHAGIAAN ADALAH KETIKA ALLAH RIDHO KEPADA KITA.

Apa artinya memiliki keluarga yang lengkap jika akhirnya keluarga itu tidak membawa kita semakin dekat kepada Allah?
Apa artinya memiliki harta berlimpah jika harta itu justru menyeret kita kepada kesombongan dan kelalaian?
Apa artinya kekurangan harta dan kemiskinan jika itu membuat kita berputus asa dan hilang harapan terhadap pertolongan Allah?
Apa artinya memiliki anak-anak yang sukses jika mereka tumbuh jauh dari petunjuk Allah?

Semua itu hanyalah kesenangan sementara. Allah Ta'ala berfirman:

"Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia..." (QS. Al-Kahfi: 46)

Perhatikan, Allah menyebutnya perhiasan, bukan tujuan hidup. Perhiasan memang indah. Tetapi nilai manusia tidak ditentukan oleh perhiasannya. Demikian p**a harta dan anak. Keduanya adalah nikmat yang patut disyukuri, tetapi tidak boleh menjadi pusat kehidupan.

Seorang mukmin mencintai keluarganya, tetapi cintanya kepada Allah lebih besar. Ia bekerja mencari harta, tetapi tidak menjadikan harta sebagai sesembahan. Ia mendidik anak-anaknya, tetapi tidak menggantungkan seluruh kebahagiaannya kepada mereka. Karena ia sadar bahwa semua yang ada di dunia ini bersifat sementara.

Hari ini ada, besok bisa tiada.
Hari ini bersama kita, besok bisa dipanggil oleh Allah.
Maka puncak kebahagiaan bukanlah memiliki harta dan keluarga semata.

Puncak kebahagiaan adalah ketika harta dan keluarga menjadi jalan untuk mendapatkan ridha Allah dan mengantarkan kita menuju surga-Nya.

Sebab pada akhirnya, yang paling membahagiakan bukanlah apa yang kita miliki di dunia. Yang paling membahagiakan adalah ketika Allah menerima kita sebagai hamba-Nya yang dicintai dan memasukkan kita ke dalam surga-Nya.

PUNCAK PENDIDIKAN ADALAH TAUHIDBy. Satria hadi lubisBANYAK orang menganggap tujuan pendidikan adalah menjadi pintar, kay...
27/07/2026

PUNCAK PENDIDIKAN ADALAH TAUHID

By. Satria hadi lubis

BANYAK orang menganggap tujuan pendidikan adalah menjadi pintar, kaya, sukses, atau memiliki jabatan tinggi. Semua itu memang baik, tetapi bukan itu tujuan tertinggi.

Dalam Islam, puncak pendidikan bukan sekadar melahirkan orang yang cerdas, melainkan melahirkan manusia yang mengenal Rabb-nya, mengagungkan-Nya, dan hanya beribadah kepada-Nya. Itulah Tauhid.

Ilmu yang tidak mengantarkan seseorang kepada Tauhid hanyalah menambah informasi, tetapi belum tentu menambah hidayah. Sebaliknya, Tauhid menjadikan setiap ilmu memiliki arah, nilai, dan keberkahan.

Karena itulah, nasihat pertama seorang ayah yang Allah abadikan dalam Al-Qur'an bukan tentang bisnis, karir, atau prestasi akademik, melainkan tentang Tauhid.

"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, 'Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang sangat besar.'" (QS. Luqman: 13)

Inilah fondasi seluruh pendidikan Islam. Sebelum mengajarkan banyak hal, tanamkan terlebih dahulu siapa yang harus disembah, dicintai, ditakuti, dan diharapkan.

Rasulullah saw juga memulai dakwah selama bertahun-tahun dengan membangun Tauhid sebelum hukum-hukum Islam diturunkan secara sempurna. Sebab hati yang telah bertauhid akan lebih mudah menerima seluruh perintah Allah. Allah SWT berfirman,

"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Jika tujuan hidup manusia adalah ibadah. Maka pendidikan yang benar adalah pendidikan yang mempersiapkan manusia untuk menjalankan tujuan penciptaannya (yaitu ibadah).

Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa seluruh amal, akhlak, dan ibadah tidak akan diterima tanpa Tauhid. Tauhid adalah pondasi, sedangkan amal-amal yang lain adalah bangunannya.

Karena itu, orang tua jangan hanya bangga ketika anaknya menjadi juara kelas, tetapi lebih bangga ketika anaknya menjaga salat, mencintai Al-Qur'an, jujur, dan takut kepada Allah.

Guru jangan hanya mengejar nilai ujian, tetapi juga menanamkan keimanan.
Lembaga pendidikan jangan hanya menghasilkan lulusan yang kompeten, tetapi juga lulusan yang bertauhid.
Sebab kecerdasan tanpa Tauhid bisa melahirkan kesombongan. Kekuasaan tanpa Tauhid bisa melahirkan kezaliman. Kekayaan tanpa Tauhid bisa melahirkan kerusakan.

Namun ketika Tauhid menjadi pusat pendidikan, ilmu akan melahirkan ketakwaan, akhlak akan semakin mulia, dan keberhasilan dunia menjadi jalan menuju kebahagiaan akhirat.

Puncak pendidikan bukanlah gelar yang tinggi, tetapi Tauhid yang tertanam kuat di dalam hati. Sebab manusia yang paling terdidik adalah manusia yang paling mengenal Allah dan paling taat kepada-Nya.

Di Rumah Nabi ﷺDIALOG SUAMI-ISTRI: DUA SUARA, SATU HATIOleh: Adham SyarqawiDialog yang tenang dan penuh kehangatan antar...
26/07/2026

Di Rumah Nabi ﷺ
DIALOG SUAMI-ISTRI: DUA SUARA, SATU HATI

Oleh: Adham Syarqawi

Dialog yang tenang dan penuh kehangatan antara suami dan istri adalah fondasi tersembunyi yang menopang sebuah rumah tangga. Jika fondasi ini kokoh, maka seluruh bangunan keluarga akan kokoh. Namun jika ia retak, maka rumah tangga dapat runtuh, meskipun cinta di antara keduanya masih besar.

Dialog yang baik adalah ketika masing-masing berbicara dengan perasaan tenang, yakin bahwa suaranya tidak akan dihakimi, perasaannya tidak akan diejek, dan kelemahannya tidak akan dimanfaatkan.

Percakapan menjadi ruang yang aman, bukan arena untuk menang; menjadi jembatan yang mendekatkan, bukan gelanggang pertarungan. Tidak ada yang meninggikan suara agar didengar, dan tidak ada yang merendahkan suaranya karena takut. Keduanya bertemu di tengah jalan: jujur tanpa menyakiti, jelas tanpa melukai.

Dialog yang hangat tidak bermula dari lisan, melainkan dari hati; dari keinginan yang tulus untuk memahami, bukan untuk mengalahkan; untuk merangkul, bukan terus-menerus mengoreksi. Kalimat diucapkan dengan mempertimbangkan waktu yang tepat, dan kata-kata dipilih sebagaimana seseorang memilih hadiah: dengan penuh perhatian yang mencerminkan cinta. Betapa banyak kebenaran yang hilang karena disampaikan dengan kasar, dan betapa banyak kesalahan yang sirna karena disampaikan dengan kelembutan.

Dialog sangat penting karena ia mampu memadamkan api sebelum berkobar, dan menyembuhkan luka sebelum bernanah. Ia mencegah persoalan-persoalan kecil menumpuk hingga berubah menjadi tembok sunyi yang memisahkan dua jiwa yang dahulu begitu dekat.

Dengan dialog, perselisihan dapat diselesaikan, perbedaan dapat dipahami, dan masing-masing merasa sebagai pasangan, bukan lawan; sebagai sahabat, bukan beban.

Rumah tangga umumnya tidaklah hancur karena satu masalah besar, melainkan karena percakapan-percakapan kecil yang diabaikan; karena kata-kata yang seharusnya bisa diucapkan dengan lembut tetapi justru disampaikan dengan dingin, atau bahkan tidak pernah diucapkan sama sekali.

Karena itu, dialog yang tenang dan hangat bukan sekadar sarana komunikasi, melainkan wujud cinta yang dipraktikkan setiap hari, perawatan yang terus-menerus bagi kehidupan rumah tangga, dan tanda kedewasaan yang menyadari bahwa menjaga hati jauh lebih penting daripada memenangkan perdebatan.

Apabila suami dan istri menguasai seni ini, rumah akan menjadi tempat beristirahat dari hiruk-pikuk dunia.

Kata-kata yang baik menjadi sedekah, percakapan yang jujur menjadi ibadah, dan cinta pun terus bertumbuh—bukan karena tidak pernah ada perselisihan, tetapi karena keduanya tahu bagaimana melewati perbedaan tanpa melukai satu sama lain.

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya dari Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau berkata:

"Suatu malam aku kehilangan Rasulullah ﷺ yang sebelumnya berada bersamaku di tempat tidur. Aku mendapatinya sedang sujud, kedua tumitnya dirapatkan dan ujung-ujung jari kakinya menghadap kiblat. Aku mendengar beliau berdoa:

'Aku berlindung kepada keridaan-Mu dari kemurkaan-Mu, kepada ampunan-Mu dari hukuman-Mu, dan kepada-Mu dari (azab)-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian kepada-Mu. Engkau sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri.'

Setelah selesai, Nabi saw bersabda, 'Wahai Aisyah, apakah setanmu telah datang kepadamu?' Maksudnya, apakah rasa cemburu membuatmu mengira aku pergi menemui istri-istriku yang lain?

Aku bertanya, 'Apakah engkau juga memiliki setan, wahai Rasulullah?'

Beliau menjawab, 'Tidak ada seorang manusia pun kecuali memiliki setan.'

Aku bertanya lagi, 'Termasuk engkau, wahai Rasulullah?'

Beliau menjawab, 'Ya, termasuk aku. Namun aku berdoa kepada Allah, lalu Dia menolongku sehingga setanku tunduk.'"

Ibadah adalah kejujuran, bukan pertunjukan. Tidak semua amal yang dilakukan untuk Allah dimaksudkan agar dilihat orang, dan tidak semua doa dalam ibadah ditujukan agar didengar manusia.

Keindahan peristiwa ini terletak pada kenyataan bahwa ia terjadi hanya antara seorang hamba dengan Rabb-nya, tanpa penonton dan tanpa tepuk tangan. Ibadah yang murni lahir dari hati yang yakin bahwa Allah melihat sebelum manusia melihat. Demikianlah amal dipelihara dalam kesunyian, tempat keikhlasan mencapai puncaknya dan ibadah terbebas dari kepentingan diri.

Adab dalam berdoa lebih mulia daripada panjangnya doa. Nilai doa bukan pada banyaknya kata, melainkan pada ketulusan hati. Kalimat-kalimat yang singkat, bila keluar dari hati yang hadir, dapat mengangkat seorang hamba ke derajat penghambaan yang tertinggi.

Doa bukan sekadar teriakan meminta kebutuhan, melainkan ketundukan yang lahir dari pengenalan kepada Allah; berdiri di hadapan-Nya dengan keyakinan bahwa hanya kepada-Nya tempat berlindung, hanya rahmat-Nya sumber keselamatan, dan keridaan-Nya lebih luas daripada semua yang diharapkan.

Mengakui kelemahan adalah puncak kekuatan. Ketika seorang hamba berkata, "Aku tidak mampu menghitung pujian kepada-Mu," berarti ia telah mencapai puncak kejujuran di hadapan Allah.

Siapa yang mengenal kebesaran Rabb-nya akan merasa kecil di hadapan-Nya, dan siapa yang merendahkan diri di hadapan Allah akan diangkat derajatnya oleh-Nya. Kekuatan bukanlah mengaku sempurna, melainkan jujur kepada diri sendiri dan tunduk dengan penuh kerendahan hati yang membuka pintu-pintu diterimanya amal.

Rasa cemburu adalah perasaan manusiawi yang tidak layak dicela atau dipatahkan, melainkan dipahami dan dirangkul. Betapa indah jika perasaan dibalas dengan kelembutan, bukan dengan celaan; dengan pengertian, bukan dengan tuduhan. Hati yang dipahami akan menjadi tenang, sedangkan hati yang dihina akan memberontak.

Merangkul perasaan pasangan bukanlah kelemahan, tetapi kebijaksanaan yang menjaga kasih sayang, memelihara keharmonisan, dan memenuhi rumah dengan ketenangan.

Pada hakikatnya, pernikahan adalah dialog sebelum menjadi kebersamaan, dan kata-kata yang jujur sebelum menjadi kesabaran yang panjang. Rumah yang tidak dikelola dengan komunikasi yang tenang akan dipenuhi prasangka dan dibebani oleh diam.

Sebaliknya, apabila percakapan disampaikan pada waktu yang tepat dengan nada yang hangat, banyak perselisihan akan berakhir bahkan sebelum sempat muncul, dan hati tetap saling dekat meskipun pendapat berbeda. (ars)

Address

Jalan Merpati 5, Perumnas
Palopo
91914

Telephone

+6282259934322

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Yayasan Al-Hafizh Kota Palopo posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Yayasan Al-Hafizh Kota Palopo:

Shortcuts

Share

Category