14/12/2021
APAKAH ADA RATU HOAX DI PASAR DESA JUNGJANG?
Polemik Pasar Jungjang ternyata masih menjadi isu seksi bagi media Cirebon, terutama bagi Radar Cirebon, padahal sudah banyak keterangan yang membeberkan fakta-fakta seputar Pasar Desa Jungjang. Mungkin karena memang sebenarnya ada dalang dibalik aksi penolakan Revitalisasi Pasar Jungjang sehingga berbagai pihak, termasuk media, mengeksploitasi habis terkait isu pasar. Yeaah.. entahlah..
Kemarin (13/12) Projo deklarasi sikap bahwa akan membela hak pedagang kecil. Kenapa wartawan tidak ada yang menanyakan hak yang dimaksud projo itu apa? Sehingga akan jelas perkaranya. Jangan karena seolah-olah selalu mengatakan membela pedagang cilik, membela rakyat, membela ini dan itu, kemudian menjadi pahlawan yang layak disorot oleh media. Kenapa media seolah berat sebelah?
Projo juga mengatakan akan menempuh jalur hukum terkait pembongkaran paksa pasar. Padahal Pemerintah Desa Jungjang dan PT. Dumib sudah mensosialisasikan pembongkaran pasar jauh jauh hari. Buktinya, 900 lebih kios sudah dikosongkan jauh sebelum pembongkaran dilakukan. Memang ada yang bersisa, yaitu sekira 8 kios yang sengaja tidak dikosongkan oleh penyewanya karena untuk membuat drama pada saat pembongkaran. Media - media lokal Cirebon memang belum bisa investigasi kasus secara kritis. Fenomena ini kok tidak pernah diangkat oleh media, justru yang diangkat oleh media hanya drama termehek-mehek dari 8 orang pedagang yang selalu teriak-teriak "usir DUMIB!".
Kasus ini mengingatkan kita tentang seorang ratu hoax yang pada saat Pilpres lalu telah menghebohkan dunia. Tapi, satyam eva jayate, kebenaran akan menang, ratu hoax terbongkar praktiknya. Dalam kasus ini, ada ratu hoax yang mengeksploitasi perasan ibu-ibu untuk melawan PT. Dumib sebagai pengembang yang sah menurut hukum. Kenapa perasaan yang dieksploitasi oleh ratu hoax? Karena untuk menutup akal agar tidak berfungsi dengan baik.
Ada yang bilang, ini negara hukum, kenapa aparat kepolisian dan TNI cenderung berdiri di tengah? Ya inilah Cirebon, perkara yang sudah jelas hitam dan putih tapi aparat justru memilih berdiri di tengah karena takut kena korban hoax dari aksi-aksi termehek-mehek para superhero yang konon membela wong cilik.
Pengguna sosial media yang budiman, yang teriak-teriak membela hak pedagang itu hanya drama murahan, sebab kalau bicara angka, 900 lebih pedagang menerima dengan sukarela dan berharap agar pembangunan pasar segera selesai. Sampai saat ini, hak yang dimaksud oleh "superhero" juga tidak pernah jelas. Giliran kepepet, teriak-teriak "usir DUMIB!". Makin tidak terarah kan?
Warga Netijen yang baik hati, superhero bersama rombongan termehek-meheknya seringkali teriak "kami mewakili pedagang, kami membela mereka!". Padahal, ketahuilah bahwa justru mayoritas pedagang (99%) menginginkan pembangunan pasar segera rampung agar pedagang bisa berjualan lagi, bahkan dengan kondisi pasar yang jauh lebih baik dari kondisi sebelumnya. Jadi, mereka itu sebenarnya mewakili siapa? Ada slentingan dari pojok-pojok kios, bahwa mereka itu mewakili PERUSAHAAN yang kalah saing dengan Dumib dalam hal pengembangan pasar. Nah, Loh!
Jadi, silahkan netijen mengambil kesimpulan setelah membaca postingan ini sampai selesai. Terima kasih.