Windo Putra Wijaya

Windo Putra Wijaya Khadim al-Ummah. Berbagi dan melayani. Mengajak dan saling menasehati. Windo Putra Wijaya (Ketua DPD PKS Kota Palembang 2025-2030)

Dua Tahun Taufan Al Aqsho: Refleksi Diri di Tengah Ujian KehidupanOleh: Windo Putra Wijaya Dua tahun sudah berlalu sejak...
07/10/2025

Dua Tahun Taufan Al Aqsho: Refleksi Diri di Tengah Ujian Kehidupan
Oleh: Windo Putra Wijaya

Dua tahun sudah berlalu sejak dentuman pertama Taufan Al Aqsho menggema di langit Gaza. Dua tahun sejak bumi para nabi kembali diselimuti debu, darah, dan doa. Dua tahun sejak dunia menyaksikan, bahwa di balik reruntuhan dan kesunyian, masih ada hati yang tak pernah padam cintanya kepada Allah dan tanah suci-Nya.

Dua tahun berlalu, namun luka itu belum kering. Anak-anak yang kehilangan orang tua, ibu-ibu yang merelakan buah hatinya syahid di pelukan tanah, dan para ayah yang tetap tersenyum meski rumah mereka tinggal puing. Semua itu menjadi saksi bahwa iman tidak pernah mati, bahkan di tengah api dan kehancuran.

Tapi peringatan ini bukan hanya tentang mereka. Ini juga tentang kita. Tentang bagaimana Allah sedang mengajarkan, melalui kisah saudara-saudara kita di Palestina, bahwa setiap kita juga punya Taufan Al Aqsho dalam hidup masing-masing.

Ada yang berperang melawan amarah dan kesedihan, ada yang berjuang di medan ujian keluarga dan kehilangan, ada yang bertahan di tengah godaan dunia yang terus memikat dan mematikan hati.

Kita semua sedang diuji dalam bentuk yang berbeda, tapi dengan makna yang sama; apakah kita tetap berpegang teguh pada Allah, atau tergelincir oleh keadaan.

Kadang kita merasa ujian kita berat. Tapi jika kita menoleh ke Gaza, kita akan belajar arti sabar yang sejati. Mereka kehilangan segalanya, tapi tidak kehilangan harapan.
Mereka dikepung dari segala arah, tapi hati mereka tetap lapang. Mereka dipaksa tunduk, tapi justru semakin tegak dalam sujud.

Dari sana kita belajar, bahwa sabar bukan berarti diam, tapi terus melangkah meski perih. Bahwa tawakal bukan berarti menyerah, tapi tetap berjuang dengan keyakinan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.

Dua tahun Taufan Al Aqsho adalah panggilan untuk membersihkan hati kita dari kelalaian, untuk menundukkan ego, dan menata kembali arah hidup. Sudahkah kita menjadi bagian dari perjuangan itu; dengan doa, dengan kepedulian, dengan istiqamah? Ataukah kita masih sibuk dengan taufan kecil dalam diri yang kita biarkan menghancurkan iman perlahan-lahan?

Hidup memang tidak selalu tenang. Kadang Allah kirimkan badai agar kita kembali berpegang pada-Nya.
Kadang Allah hancurkan sandaran kita, agar kita hanya bersandar pada-Nya. Dan kadang Allah biarkan kita menangis, agar air mata itu membersihkan hati yang lama berdebu.

Maka saat kita memperingati dua tahun Taufan Al Aqsho, marilah kita tidak hanya mengenang luka Palestina, tetapi juga membangkitkan kesadaran untuk memperjuangkan Al Aqsho dalam diri kita, yakni hati yang tetap kokoh dalam iman, meski dunia berusaha meruntuhkannya.

"Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka hidup di sisi Tuhan mereka, mendapat rezeki." (QS. Ali Imran: 169)

Semoga Allah meneguhkan hati para pejuang di bumi suci, dan meneguhkan p**a hati kita dalam menghadapi setiap ujian kehidupan. Karena pada akhirnya, kemenangan bukan hanya milik mereka yang bertempur dengan senjata, tetapi juga milik mereka yang bertempur melawan hawa nafsu dan tetap sabar dalam ketaatan.[]

Letnan Murad, Palembang.
07.10.2025

Aku dan Sepakbola(Catatan HAORNAS 2025)Takdir itu harus kita terima. Timnas U-23 Indonesia tak lolos untuk gelaran AFC U...
10/09/2025

Aku dan Sepakbola
(Catatan HAORNAS 2025)

Takdir itu harus kita terima. Timnas U-23 Indonesia tak lolos untuk gelaran AFC U-23 2026 di Arab Saudi. Rasanya baru kemaren, euforia Timnas U-23. Dibawah asuhan pelatih sebelumnya, STY, Garuda Muda terbang gagah melaju sampai fase semifinal di gelaran yang sama 2024. Pencapaian yang bahkan hampir menghantarkan ke Olimpiade 2024 di Paris, kalau saja tak dihadang oleh timnas Guinea di babak play off. Namun, tak lolosnya timnas U-23 ke AFC Cup tahun depan itu, harus diterima dengan lapang dada, walaupun sedikit pahit, karena bertepatan di Hari Olahraga Nasional. Qaddarallahu.

Mengamati perkembangan sepakbola kita akhir-akhir ini memang menarik. Selain masuknya secara beruntun pemain-pemain diaspora dan pergantian pelatih timnas senior, dari STY ke PK menjadi sesuatu yang ditunggu. Progresnya.

Bab bola ini, memang tak bisa disalahkan kalau aku begitu menggandrungi olahraga terpopuler sejagat itu. Sejak kecil, layaknya anak-anak kampung lainnya, bersama teman-teman, seakan tak mengizinkan ada lapangan kosong, kecuali kami jadikan arena untuk bermain bola. Tanpa beralas kaki, dengan bola plastik kecil, lapangan yang kadang lebih banyak coklat berdebu daripada menghampar hijau adalah sepak bola ala kami, anak kampung, yang masih di usia sekolah dasar.

Pun begitu, saat dunia perantauanku di pesantren dimulai, hobby ini tak bisa dihilangkan. Masih jelas kuingat, tak mesti lapangan luas, kelas pun bisa disulap sebagai arena permainan. Kelas berukuran 8×8 meter itu, seringkali alih fungsi menjadi tempatku dan teman-teman menunjukkan keahlian masing-masing dalam mengolah si kulit bundar. Bangku (kursi) yang menjadi gawang, bola yang kadang terbuat dari beberapa pasang kaos kaki yang dibuntal (dibuat bundar), sekarang menjadi memori yang indah bila dikenang.

Puncaknya, hobi sepakbolaku kian terasah kala menjadi mahasiswa. Negara Mesir dan rakyatnya yang begitu maniak bola seakan turut menyetrumku untuk ikut menjadi bagian darinya. Tanpa membuat studi menjadi nomor dua tentunya, sepakbola menjadi salah satu kegiatan pilihan diluar belajar.

Sudah menjadi rahasia umum bagi teman-teman yang pernah merasakan hidup di negeri Nabi Musa, bahwa di sana sangat mudah menemukan lapangan untuk bermain bola. Bagi mereka yang tinggal di Madinah el-Buuts el Islamiyyah (Asrama Internasional Mahasiswa Asing) ada lapangan bola berukuran internasional & semi internasional yang bisa dipakai, ini belum termasuk dua lapangan futsal berikut jalan-jalan di dalam asrama yang juga dapat disulap jadi tempat bermain. Bagi yang tinggal di luar asrama, tak perlu khawatir, Stadiun Suq el-Sayyarat adalah tempat populer sejagat Kairo untuk bermain mengolah sikulit bundar. Bila di hari Jumat dan Ahad, lapangan sangat luas itu digunakan masyarakat setempat untuk negoisasi mobil bekas. Namanya saja Suq el-Sayyarat (pasar mobil). Tapi lain dari hari itu, tidak pagi, siang, sore bahkan malam, seringkali dengan mudah didapatkan ada yang bermain bola.

Dan tidak perlu kaget, saking luasnya, tempat ini bisa menampung lebih dari 4 pertandingan dalam waktu yang bersamaan. Sayang info yang saya dengar, pasar mobil ini sudah berganti jalan tol/jembatan layang.

Kalaupun tak mau bermain ditempat yang ramai seperti itu, lapangan futsal sewaan tersebar dimana-mana, dengan harga yang relatif terjangkau oleh kantong para mahasiswa.

Dengan banyaknya lapangan yang tersedia, hobbyku pun tersalurkan. Permainan ini betul-betul kunikmati. Tercatat beberapa turnamen pernah diikuti. Jauh sebelum daerah asalku, Sumatera Selatan, mempunyai tim Sriwijaya FC. Kami, mahasiswa asal SUMBAGSEL di Mesir sudah mengusung bendera Sriwijaya. Tercatat dari 3 kali perhelatan selama masa studi disana, walau belum berhasil menjadi yang terbaik, Sriwijaya FC dua kali finish sebagai runner up dan tempat ketiga di ajang Sumatera Cup. Posisi gelandang bertahan yang tak jarang menghasilkan gol berkat ikut membantu serangan, adalah pahatan kenangan indahku bersama tim Sriwijaya FC Mesir.

Kini, saat sudah berada dalam ranah pengabdian ke masyarakat, hobi ini terasa begitu berguna. Tipologi masyarakat yang berbeda-beda, seperti ada yang betah di masjid, ada yang kerja orientedd; kantor-jalan-kamar, begitu seterusnya, pun ada juga yang maujud nya selalu dilapangan. So, memperbanyak kenalan di lapangan bukanlah pilihan yang buruk.

Selagi badan sehat walfiat, mudah-mudahan semua aktifitas, termasuk dilapangan ini menjadi perantara penambah semangat untuk beraktifitas di medan-medan laga lainnya. Salam olahraga.[]

WPW | Plaju, 10.09.25

Unit BPI & Al-Quran SIT Al Furqan Palembang Gelar TFT Bertema "Menjadi Murabbi yang Dirindui"Unit BPI & Al-Quran Sekolah...
06/09/2025

Unit BPI & Al-Quran SIT Al Furqan Palembang Gelar TFT Bertema "Menjadi Murabbi yang Dirindui"

Unit BPI & Al-Quran Sekolah Islam Terpadu (SIT) Al Furqan Palembang menyelenggarakan kegiatan Training for Trainer (TFT) Bina Pribadi Islami (BPI) pada Sabtu (6/9), mengusung tema "Menjadi Murabbi yang Dirindui". Kegiatan ini diikuti 30-an guru ikhwan dan akhwat dari tenaga kependidikan SIT Al Furqan Palembang yang tergabung sebagai pembina atau murabbi.

TFT kali ini menghadirkan narasumber utama, Ust. H. Windo Putra Wijaya, Lc., M.Ag, seorang da'i muda, pendidik, dan trainer yang banyak mengisi kajian para guru dan aktivis pendidikan Islam di Palembang, seperti SIT Auladi, SIT Izzuddin dll.

Dalam pemaparannya, Ustadz Windo menyampaikan bahwa seorang murabbi bukan hanya pengajar, tetapi sosok pembina ruhiyah, akhlak, dan karakter yang mampu menjadi teladan dan tempat kembali bagi peserta yang dibina (mutarabbi) dalam s**a dan duka.

“Menjadi murabbi yang dirindui bukan hanya soal kepandaian menyampaikan materi, tapi tentang bagaimana kita menanamkan nilai, menunjukkan cinta, dan membangun ikatan hati dengan yang dibina,” ungkap Ust. Windo.

Acara ini dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan diakhiri foto bersama. Dengan semangat tarbiyah dan pembinaan karakter Islami, SIT Al Furqan Palembang berkomitmen untuk terus mencetak para pendidik yang tak hanya mengajar, tapi juga menginspirasi, membina, dan menggerakkan hati generasi masa depan.

PKS Kota Palembang resmi menggelar Musda VI sebagai ajang konsolidasi kepemimpinan, regenerasi struktur, dan peneguhan i...
06/09/2025

PKS Kota Palembang resmi menggelar Musda VI sebagai ajang konsolidasi kepemimpinan, regenerasi struktur, dan peneguhan integritas perjuangan politik. Dari pelantikan DPTD hingga orasi politik, seluruh rangkaian menjadi pijakan baru untuk terus hadir melayani masyarakat Palembang dengan komitmen yang kokoh dan berkelanjutan.



“Cahaya Rasul menerangi hati, akhlaknya jadi teladan sejati. Selamat Maulid Nabi Muhammad SAW.”
06/09/2025

“Cahaya Rasul menerangi hati, akhlaknya jadi teladan sejati. Selamat Maulid Nabi Muhammad SAW.”

Why (Always) Me?23 Oktober 2011 menjadi saksi. Derbi terpanas di Britania saat itu menjadi panggungnya Balotelli. Gol me...
06/09/2025

Why (Always) Me?

23 Oktober 2011 menjadi saksi. Derbi terpanas di Britania saat itu menjadi panggungnya Balotelli. Gol menyusur tanah dari dalam kotak pinalti. Tapi bukan gol pembuka kemenangan City itu yang jadi berita seksi. Tapi aksi Balotelli sendiri dengan selebrasi membuka jersey-nya, menampilkan tulisan why (always) me?

Sebuah selebrasi yang tak biasa. Dalam diamnya, kalimat itu menggema lebih lantang dari sorakan stadion. Sebagian orang menilainya sebagai bentuk keangkuhan, namun bagi sebagian lainnya, itu adalah ungkapan jujur dari seorang manusia yang kelelahan menjadi pusat perhatian dan tekanan.

Pun begitu p**a dengan kehidupan kita. Ungkapan ini seringkali terlintas dalam benak dan terucap dalam kalimat saat takdir atau ketetapan datang kepada diri. Bahkan kalau tak hati-hati, nada protes akan kentara terhadap takdir dan ketetapan itu. Kalimat yang ternyata juga mewakili banyak dari kita: “Kenapa selalu aku, atau bisa juga kenapa harus aku?”

Persis kejadian terbaru pada diri. Bak sebuah frasa populer dalam bahasa Arab, “la salam, wala kalam.” Mirip-mirip seperti ungkapan dalam bahasa kita, tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba batu besar itu datang menghimpit. Pengumuman (baca: penunjukkan) itu tiba. Tanpa pernah mencalonkan diri, tanpa kampanye, tanpa ambisi jabatan. Dalam gerbong ini, diri hanya berniat membersamai, membantu, dan berkontribusi semampunya.

Momen hidup yang bahkan terlintas pun tak pernah sebelumnya. Tapi nyatanya, takdir punya rencana berbeda. Dan ketika nama itu disebut bersama nama-nama lainnya, diri terpaku, lalu terisak. Posisi berdiri seketika terduduk.

Di dalam hati, gema pertanyaan itu pun muncul: “Kenapa (selalu) aku?” Bukankah ada yang lebih berpengalaman? Bukankah ada yang lebih layak? Perlu waktu beberapa saat, ditengah persiapan city tour kota Madinah saat itu, untuk kemudian mengingat-ingat, ini bukan tentang siapa yang mau. Bukan tentang ambisi, tapi tentang amanah. Bukan tentang merasa mampu, tapi tentang kesediaan untuk belajar dan tumbuh dalam peran yang dititipkan.

Dalam kajiannya, Ustadz Hanan Attaki selalu berkata: “Kalimat why (always) me?' bisa terdengar seperti keluhan, tapi bisa juga menjadi bentuk penghambaan… Tergantung dari mana kita memaknainya.”

Kuteringat senarai majelisku, usaha yang baru dirintis, anak-anak kecil dirumah yang kalau ini berjalan sehingga selesai mereka sudah menjadi besar. Belum lagi sejati diri yang Allah tutupi. Mungkin amanah ini seolah beban. Tapi ruang hati yang lain berusaha menghadirkan rasa bahwa ini adalah bentuk cinta. Boleh jadi, ketika Allah menaruh amanah berat di pundak, itu bukan karena kita paling kuat. Tapi karena Dia tahu kita mau belajar kuat. Bukan karena paling pintar, paling populer, atau paling siap. Tapi karena dia yang siap untuk dibentuk. Dan amanah adalah salah satu cara terbaik Allah membentuk diri kita; memaksa keluar potensi, mengikis ego, menumbuhkan kerendahan hati. Karena itu, segera menghadirkan rasa yang lain, amanah ini sekali-kali bukanlah pencapaian, tapi awal dari perjuangan baru.

Kisah Balotelli mungkin sudah usai tersorot media. Tapi kisah kita, para nama yang dipilih dan dititipkan amanah, akan terus berlanjut dalam sepi dan kerja-kerja panjang yang sering tak terlihat.

Baguskan baik sangka terhadap-Nya, persis seperti ungkapan seorang guru, “Allah, jika mencintai seorang hamba, ista’malahu (akan diberdayakan-Nya).” Menumbuhkan keyakinan langit, bahwa Allah tidak akan pernah membebani sesuatu yang kita tak sanggup memikulnya.

Maka bukan lagi tentang “Kenapa (harus) aku?” Tapi “Apa yang Allah ingin aku pelajari dan lakukan dari semua ini?”[]

WPW | Plaju, 02.09.25

Pisah sambut bukanlah perpisahan, melainkan estafet perjuangan. Terima kasih atas pengabdian pengurus sebelumnya, selama...
06/09/2025

Pisah sambut bukanlah perpisahan, melainkan estafet perjuangan. Terima kasih atas pengabdian pengurus sebelumnya, selamat mengemban amanah baru untuk DPTD PKS Palembang. Semoga Allah senantiasa mudahkan langkah kita dalam melayani umat dan bangsa.

Selamat & Sukses atas terselenggaranya Musyawarah Wilayah VI PKS Sumatera Selatan .Semoga Muswil ini menjadi langkah bes...
06/09/2025

Selamat & Sukses atas terselenggaranya Musyawarah Wilayah VI PKS Sumatera Selatan .

Semoga Muswil ini menjadi langkah besar dalam memperkuat semangat pelayanan, memperluas kebaikan, serta menghadirkan karya terbaik untuk masyarakat Sumsel.

PKS Kota Palembang Gelar Rapat Perdana DPTDPalembang, 18 Agustus 2025 — Dewan Pengurus Tingkat Daerah (DPTD) PKS Kota Pa...
06/09/2025

PKS Kota Palembang Gelar Rapat Perdana DPTD

Palembang, 18 Agustus 2025 — Dewan Pengurus Tingkat Daerah (DPTD) PKS Kota Palembang melaksanakan rapat perdana di ruang rapat DPD PKS Palembang. Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam menyusun arah kerja dan memperkuat koordinasi internal.

Rapat perdana ini dihadiri oleh BPH DPD, DED, dan MPD PKS Kota Palembang, yang bersama-sama membahas strategi pelaksanaan program kerja serta penguatan sinergi struktur. Kehadiran ketiga elemen tersebut mencerminkan komitmen kolektif dalam menjalankan amanah organisasi secara terarah dan terukur.

Agenda rapat mencakup penataan bidang kerja, pembagian peran, serta penguatan komunikasi lintas struktur. Diskusi berlangsung konstruktif dan terbuka, dengan semangat kolaboratif dari seluruh peserta.

PKS Kota Palembang berharap melalui konsolidasi awal ini, seluruh elemen kepartaian dapat bergerak selaras dalam menghadapi tantangan ke depan, baik dalam bidang kaderisasi, pelayanan publik, maupun penguatan struktur internal.

Untuk informasi lebih lanjut,
silakan hubungi:

📞 Humas PKS Kota Palembang
📧 [email protected]

Dirgahayu Republik Indonesia ke-80. Delapan puluh tahun sudah bangsa ini berdiri tegak, melewati gelombang perjuangan, p...
06/09/2025

Dirgahayu Republik Indonesia ke-80. Delapan puluh tahun sudah bangsa ini berdiri tegak, melewati gelombang perjuangan, pembangunan, dan perubahan zaman. Kemerdekaan bukan sekadar sejarah, tetapi warisan yang harus kita jaga dengan persatuan, kerja nyata, dan semangat untuk terus membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih gemilang.

Memaknai AmanahAku telah dipercaya,Tapi kepercayaan bukan kehormatan,Ia adalah amanah—yang kelak akan ditanya,Di hadapan...
06/09/2025

Memaknai Amanah

Aku telah dipercaya,
Tapi kepercayaan bukan kehormatan,
Ia adalah amanah—yang kelak akan ditanya,
Di hadapan Tuhan yang Maha Menyaksikan.

Yang kupahami, amanah ini bukan kemewahan
Tapi awal dari perjalanan panjang,
Yang menuntut ikhlash tanpa pamrih,
Dan keteguhan untuk tetap lurus di jalan yang sering kali sunyi.

Aku tahu, jabatan ini bukan tempat berlindung,
Ia ladang ujian—tempat jatuhnya banyak hati yang tergelincir,
Di sanalah kejujuran diuji, niat disaring,
Dan kesetiaan pada anggota dan organisasi ditimbang setiap hari.

Mungkin ramai yang mengucap selamat,
Tapi sedikit yang tahu resah dalam dada,
Tentang kapasitas diri yang tak mumpuni,
Tentang keputusan yang harus adil,
Tentang langkah yang harus lurus,
Meski dikelilingi bujukan dan godaan.

Maka, memohon kepada-Mu, duhai Dzat Yang Maha Kuasa, agar…
Jangan biarkan aku tersesat dalam perjalanan,
Jadikan amanah ini sarana untuk menebar kebaikan,
Bukan alat untuk memupuk rasa jumawa dan kesombongan.

Berilah padaku hati yang takut kepada-Mu,
Telinga yang mendengar jerit sahabat dan handai taulan,
Mata yang jeli melihat ketidak adilan,
Dan tangan yang ringan membela kebenaran dan memberikan bantuan.

Karena sesungguhnya,
Lebih baik tak dikenal tapi selamat,
Daripada terkenal tapi celaka dalam hisab-Mu.[]

WPW I Plaju, 24 Agustus 2025

Doa Kemerdekaan: Dari Madinah untuk IndonesiaBa’da tahmid…Ba’da taslim…Ya Allah…Dzat Yang Maha Perkasa, Maha Pencipta. P...
06/09/2025

Doa Kemerdekaan: Dari Madinah untuk Indonesia

Ba’da tahmid…
Ba’da taslim…

Ya Allah…
Dzat Yang Maha Perkasa, Maha Pencipta. Pengampun dosa, Pelebur nista.
Di hari nan penuh berkah ini, dalam nuansa keakraban yang terasa di hati
Kami bersimpuh menengadahkan tangan, mengakui kelemahan, kelalaian dan kesalahan.

Ya Allah…
Kami ini lemah, tak berdaya di hadapan Maha Keperkasaan-Mu
Sering kami tak kuasa menanggung ujian kecil-Mu
Selalu kami tak mampu menahan sakit siksa ringan-Mu
Tak jarang kami terkulai lemas menerima dera tak seberapa-Mu
Acap kali kami kehilangan akal dan tertekan serius akibat sedikit jeweran-Mu
Sungguh kami tak pantas memperoleh surga-Mu
Namun kami juga takkan pernah tahan menanggung neraka-Mu
Karena itu Ya Allah, ampuni kami, maafkan kami, para hamba-Mu
Siramkan untuk kami rahmat-Mu
Sebagaimana Kau sirami semesta ini dengan derai hujan-Mu
Menjadi sumber kehidupan dan kebahagiaan hamba-Mu

Ya Allah…
Jadikan semarak hari kemerdekaan ini, sebagai wahana bagi kami untuk:
Menjalin keakraban…
Merekatkan persaudaraan…
Mengukuhkan kebersamaan…
Menguatkan kedekatan…
Mengekalkan kekeluargaan…
Mengabadikan kemesraan…

Tautkan hati hati kami untuk:
Saling membahu menuju kemajuan…
Saling berpadu mengentaskan kemiskinan..
Saling membantu menuju kekayaan…
Saling bersatu mencapai kejayaan…

Ya Allah…
Tuntun kami masyarakat Indonesia ini, para pemimpin kami, pemimpin bangsa ini dan rakyat negeri ini

Meniti jalan selamat…
Jauhkan kami dari maksiat…
Selamatkan kami dari zhulumat…
Ruahkan kami berlaksa nikmat…
Limpahkan kami rezeki halal, lagi thayyibat…
Jadikan kami generasi yang salih dan salihat…
Teladan dan uswah umat…
Pembawa manfaat, penebar rahmat, pengabdi rakyat…
Anugerahi kami kebahagiaan dunia akhirat…

Amin Ya Allah Ya Mujibat du’at.
Walhamdullillahirabbil ‘alamin.

Madinah, 17 Agustus 2025

Address

Palembang

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Windo Putra Wijaya posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share