11/04/2025
*WOLIMOMO*
Pada pelaksanaan upacara kebesaran adat perkawinan Gorontalo dikenal beberapa pakaian
adat pengantin yaitu pakaian yang dipakai saat akad nikah dan pakaian adat yang dipakai saat
sanding pengantin di pelaminan. Jenis pakaian yang digunakan saat akad nikah yang khusus
dipakai oleh pengantin putri dikenal dengan nama wolimomo. Asal usul wolimomo berasal
dari cerita rakyat Gorontalo yaitu seorang pengantin wanita yang dikurung dalam rumah
(kamar) selama 40 hari dan tidak bisa dikunjungi. Seorang pengantin wanita tidak
diperbolehkan keluar kamar ataupun dilihat oleh pihak keluarga pengantin pria, hal ini
dilakukan demi menjaga kesucian diri dari seorang pengantin wanita. Wolimomo sudah ada
sejak Awal abad XVI ketika Gorontalo diperintah oleh seorang raja bernama Amay yang naik
tahta pada tahun 1523. Pakaian ini dikenakan oleh pengantin wanita sebelum duduk bersanding
yang pada saat itu sang pengantin putri harus mengenakan pakaian adat Bili’u setelah prosesi
akad nikah. Pakaian adat wolimomo yang dipakai terdiri dari empat bagian yaitu baju atau
kebaya yang memiliki lidah (tambi’o), bide atau alumbu, wuloto dan sunti. Keempat bagian
pakaian adat wolimomo ini didominasi oleh dua bentuk motif yaitu motif kuncup bunga yang
belum mekar dan daun sukun. Makna bentuk kuncup bunga yang belum mekar adalah kesucian
sedangkan bentuk motif ornament daun sukun bermakna mengayomi atau melindungi. Jadi
perbedaan antara pakaian adat pengantin wanita saat prosesi nikah adalah bahwa saat akan
nikah pengantin menggunakan pakaian adat wolimomo dan bersanding dan setelah akad yang
bersanding dengan pasangannya di peraduan. Sedangkan bili’u digunakan oleh pengantin
wanita setelah akad nikah dan duduk bersanding di kursi adat (pelaminan). Terkadang sebagai
bagian dari prosesi sang pengantin putri dengan menggunakan busana adat bili’u menarikan
tarian Tidi Da’a.
Dalam prosesi adat Gorontalo, pakaian adat wolimomo digunakan oleh wanita pada saat
upacara adat pembaiatan (momeati), kehamilan tujuh bulanan (molonthalo), dan akad nikah
(mongakaji) pada prosesi pernikahan adat Gorontalo. Dalam tata urutan kehidupan masyarakat
Gorontalo, Wolimomo pada prinsipnya digunakan pada 3 (tiga) peristiwa penting dalam
perjalanan hidup perempuan gorontalo, yaitu:
1. Upacara adat Mome'ati (Be'at atau Bai'at atau Baiat), merupakan upacara adat yang
dilaksanakan pada anak perempuan di masa remaja dan saat memasuki usia akil baligh
2. Upacara adat Akaji (ijab kabul pada akad nikah) merupakan rangkaian upacara adat
pernikahan yang dijalani oleh mempelai perempuan saat menikah
3 Upacara adat Molonthalo (Raba Puru atau Menyentuh Perut) merupakan upacara adat yang
dilaksanakan pada perempuan yang memasuki bulan ke- 7 kehamilan.
Pakaian adat wolimomo dalam proses pengembangannya memiliki perbedaan antara
pakaian adat yang lama dengan yang baru. Bentuk wolimomo yang lama belum mengalami
perubahan. pakaian adat wolimomo tersebut masih sama dengan pakaian adat yang digunakan
zaman dahulu ketika upacara adat masyarakat suku Gorontalo, salah satunya pada upacara adat
pernikahan. keaslian bentuk pakaian adat wolimomo ditelusuri dengan menggunakan
pendekatan bahan yang digunakan. Bahan yang digunakan pada ornamen pakaian adat
wolimomo yang asli masih menggunakan pelat tembaga kekuning-kuningan, sedangkan
ornamen pada pakaian adat wolimomo yang baru telah diubah menggunakan bahan jenis
aluminium. Warna pakaian adat wolimomo menggunakan warna-warna yang terang. Yaitu
warna-warna adat Gorontalo ungu, merah, kuning dan hijau (tilabataila).
Pakaian adat pengantin wanita wolimomo merupakan bagian-bagian terpisah. Bagian-bagian
pakaian tersebut terdiri atas baju yang mempunyai lidah, bide atau alumbu, wulot. Sedangkan
sunthi merupakan bagian pelengkap dari pakaian adat pengantin wanita wolimomo ini
dikenakan sesuai dengan kegunaannya. Disamping itu lidah baju atau tambi'o adalah bagian
perhiasan pada pakaian adat ini. Bagian-bagian pakaian adat wolimomo akan diuraikan sebagai
berikut.
1. Kebaya, jenis pakaian adat ini terbagi atas dua bagian, yaitu baju atau kebaya dan lidah
baju tersebut. Sehingga biasanya disebut baju yang memiliki lidah. Lidah baju ini dalam
bahasa Gorontalo disebut tambi'o. Baju atau kebaya pakaian adat wolimomo digunakan
sebagai pakaian yang menutupi tubuh pengantin wanita yang berada dibagian atas.
Lidah baju atau tambi'o terletak didada dari baju atau kebaya. Bahan Baju terbuat dari
bahan Brokat sedangkan lidahnya terbuat dari kain beludru. Pada Kain lidah terdapat
motif (Tambi’o) daun sukun dan kuncup bunga serta hiasan lainnya seperti bros dan
batu permata. Kuncup bunga mengartikan sebagai gadis yang masih suci Baju memiliki
fungsi untuk menutup tubuh/aurat
2. Bide Atau Alumbu, bentuk motif ornamen yang ada bude atau alumbu dari dahulu
sampai sekarng tidak pernah berubah, hanya penempatan yang berbeda. Ada yang
menempatkan bentuk ornamennya di samping kiri dan kanan, ada p**a yang
menempatkannya di tengah dan bide atau alumbu. motif daun sukun yaitu sifatnya
mengayomi atau melindung Dalam upacara pernikahan, makna yg diingkan kepada
calon meripelas pras, bal sorang ist wajib dilindungi oleh seorang suami. Dalam arti
bahwa seorang sam adalah pemimpin, maka kewajiban seorang suami yaitu wajib
melindungi segenap keluarganya
3. Wuloto (Sarung), digunakan sebagai sarung untuk menyelimuti tubuh pengantin wanita
maknanya sangat lekat dengan kegunaannya, yang bermakna bahwa sang gadis masih
terbungkus (suci) seperti wuloto yang menyelimutinya seperti wideo yang
menyelimutinya. Dalam ajaran Islam menjaga kehormatan diri (s) merupakan hal utama
bagi seorang wanits. Menjaga kehormatan dirinya merupakan cerminan akhlak yang
dimilikinya
4. Baju yang mempunyai lidah, makna bentuk baju yang mempunyai lidah atau tambi'o
yang terdapat didepan dari baju (kebaya) melambangkan kesabaran, lapang dada, dan
ketabahan. Ketiga makna di atas merupakan karakter dari seorang wanita ketika telah
menjadi istri. Sabar dan tabah menghadapi segala rintangan dan ujian dalam kehidupan
rumah tangga. Sedangkan ketika mendapat ujian dari Allah SWT seorang istri
menerima dengan lapang dada. Sedangkan dalam bentuk motif pada lidah baju atau
tambio terdapat kuncup bunga yang belum mekar menandakan seorang gadis yang
menggunakan pakaian adat wolimomo masih suci Makna ini tidak terlepas dari
penggunaan pakaian adat wolimomo setiap upacara adat. Karena pakaian adat
wolimomo dipakai pada saat upacara adat pembaiatan (momiati), antar harta/pinangan
(modepita maharu), kehamilan tujuh bulanan (molondalo), dan akad nikah(mongakaji)
pada prosesi pernikahan adat Gorontalo. pada bagian tengah tambi’o terdepat ornamen
yang bersilang-silang monbentuk bidang jajar genjang bermakna jangan terlalu banyak
berbuat salah, berusahalah untuk banyak berbuat baik
5. Sunthi, bentuk sunthi terdiri dari dua bagian yaitu mahkota dan tusuk konde, sunthi
secara menyeluruh bermakna sifat yang lemah lembut menujukan budi pekerti luhur.
7. sedangkan makna bentuk motif tusuk konde tidak terlepas dari bentuk kuncup bunga
yang belum mekar yaitu seorang anak gadis yang masih terbungkus atau masih suci
sebagaimana kuncup bunga yang belum mekar tersebut.