Pembebasan-Kolektif Kota Mataram

Pembebasan-Kolektif Kota Mataram Gerakan dan Persatuan Kerakyatan, Mandiri, Demokratis, Ekologis dan Feminis untuk Pembebasan Nasional

Repos from: P E M B E B A S A N Kami mengecam tindakan brutalitas Polisi terhadap massa aksi sejak 25 Agustus-1 Septembe...
04/09/2025

Repos from: P E M B E B A S A N

Kami mengecam tindakan brutalitas Polisi terhadap massa aksi sejak 25 Agustus-1 September, dan segera bebaskan 3.337 massa aksi (yang masih ditahan) tanpa syarat, sekarang juga!

*Salam pembebasan nasional Papua Barat*Berhubungan dengan undangan ini, tadi sekitar pukul 19:00wita kami mendapat kabar...
01/09/2025

*Salam pembebasan nasional Papua Barat*

Berhubungan dengan undangan ini, tadi sekitar pukul 19:00wita kami mendapat kabar bahwa salah satu kawan kami dari FRI-WP telah di culik pada Senin 1 September 2025. Di kota Mataram sekitar pukul 7:20 hingga jam 8 dia di interogasi dan penyiksaan mengunakan arus listrik diancam lempar mengunakan a***k dan Aqua gelas. Untuk itu sebagai bentuk solidaritas kami akan melakukan *"diskusi pembacaan situasi dan menyatakan pernyataan sikap".* Untuk itu kami mengundang kawan kawan semua dan terlebih khususnya bagi kawan kawan internal AMP KK Lombok untuk hadir dalam agenda tersebut.

Demikian informasi ini dapat kami sampaikan sekian dan terimakasih.

Sebuah Roman: 'Yang Ditilang' ke Ranjang Bajingan*"Mengerikan melihat polisi menilang anak perempuan dengan dorongan bir...
28/05/2025

Sebuah Roman: 'Yang Ditilang' ke Ranjang Bajingan*

"Mengerikan melihat polisi menilang anak perempuan dengan dorongan birahi dan ambisi bersetubuh. Hukum baginya tak sekadar dipancang melalui kakunya pasal, tapi juga diperuncing menggunakan kontolnya yang berbisa." (Anonim)

Namanya Susan. Seorang anak perempuan berusia 15 tahun. Dia berstatus sebagai pelajar. Kesehariannya kebanyakan diisi dengan belajar. SMA Harapan Bangsa adalah tempat ia menimbah ilmu. Di sana dirinya diajarkan beragam mata pelajaran: mulai dari matematika, bahasa Indonesia, hingga agama. Maka tugas rumah yang diberikan gurunya begitu rupa. Itulah mengapa hampir tiada waktu untuk bermain s**a-s**a, apalagi merawat badan dan muka.

Hari-harinya sangat-sangat datar: pagi-siang ke sekolah untuk belajar, sep**ang ke rumah makan sebentar, lalu sampai sore kerjakan PR, hingga malamnya baru tidur. Hampir seminggu kegiatan ini dilangsungkan berulang-ulang. Itulah mengapa pendidikan bukan malah membuat hatinya senang, melainkan gamang.

Di sekolah Susan selalu bertemu dengan guru yang kaku, penuh perintah, dan mudah memberi sanksi. Maka siswa-siswanya dibimbing jadi abdi. Mereka jarang diberi kesempatan bertanya, melainkan mengisi soal-soal yang itu-itu saja. Sekolah kemudian bukan sekedar taman melatih pikiran, tapi juga tempat karantina kehidupan bernegara.

Itulah sebabnya guru-guru senang sekali mendikte murid-muridnya buat baris-berbaris. Kegiatan ini wajib dilaksanakan dalam upacara bendera maupun sebelum cek kehadiran sebelum masuk kelas. Walhasil, kehidupan siswa-siswi di sekolah bagai latihan para aparat. Jarang ada guru yang mampu menyulap lingkungan sekolah serupa tempat belajarnya si Unyil: guru sebatas dipahami sebagai fasilitator, bukan pendidik pemaksa aturan.

Guru dalam Film si Unyil begitu menawan, bukan memperlakukan siswa sebagai tawanan. Pengajaran yang dilakukan tak memaksakan, tapi mengasah pikiran, perasaan, dan kehendak penuh kemerdekaan. Makanya pendidikan Unyil serupa yang dijalani Dora dan Nobita: punya kemandirian dalam mengambil pilihan. Secara imajiner film kedua kartun ini menempatkan peta dan Doraemon sebagai guru--peta adalah tempat bertanya Dora ketika tidak tahu jalan saja, sementara Doraemon merupakan sosok pembagi pengalaman--kepada Nobita--lewat alat-alat yang dikeluarkan dari kantong ajaibnya.

Susan tidak diasuh dalam lingkungan pendidikan seperti Unyil, Dora, dan Nobita. Daripada membangkitkan hasrat dan imajinasi anak-anak, lembaga pendidikan justru menyetelnya seperti domba. Hari-harinya keruh oleh aturan sekolah: mulai tidak boleh datang terlambat, harus memakai seragam rapi, hingga memas**an baju dalam celana. Guru makanya tak pernah mematut dirinya sebagai seniman pendidikan, melainkan aparat pengajar dengan daya paksa.

Dibiasakan melaksanakan aturan maka tumbuhlah anak-anak yang mudah menuruti perintah apa saja. Keterturutannya bahkan bukan sekedar berlaku di sekolah, tapi juga di mana-mana. Pada Minggu (20/9/20), Susan memperlihatkan bentuk kepatuhan di jalan raya: menuruti tilangan polisi hingga tak kuasa menyelamatkan kesuciannya.

Cerita lengkapnya dapat dikategorikan sebagai sebuah afair. Setelah Senin-Sabtu diborgol untuk belajar, maka Minggu Susan dibebaskan menghirup udara segar. Pagi harinya ia putuskan bermain ke rumah Yayan. Sesampai di kediaman temannya banyak hal dibicarakan, termasuk urusan kewanitaan.

Kepada Yanti, Susan berkata, "Yan akhir-akhir aku betul-betul merasakan kejenuhan. Mondar-mandir sekolah dan mengerjakan beragam tugas bukan sekedar membuatku bosan, tapi juga tidak punya waktu melakukan perawatan. Per minggunya, aku tak punya waktu jalan-jalan dan bermain riang dengan teman-teman. Itulah kenapa dig samping pikiranku sumpek, kesehatan tubuhku pun lumayan terabaikan. Kian ke mari struktur gigiku mulai beracakan. Aku ingin sekali memasang behel agar letak gigi ini kembali normal, terutama menampakan keindahan."

Yanti lalu membalas cakap, "San, memang sekolah dan tugas-tugasnya banyak sekali menyita waktu kita. Bahkan lembaga itu juga kerap mengambaikan kepentingan perempuan. Sesekali kupernah menstruasi di ruangan, maka kudengan cekatan meninggalkan pembelajaran. Kepada ketua kelas mula-mula kutitip izin. Tetapi kemudian guru justru mencatakan namaku dalam daftar kehadiran sebagai bolos. Sikap demikian ternyata bukan dialami kusendirian, melainkan p**a oleh beberapa teman-teman gadis. Hanya terkait masalahmu tadi kuturut prihatin. Sebaiknya kamu mesti cepat-cepat berkinjung ke dokter gigi. Kebetulan ini adalah hari Minggu. Maka kubersedia mengantarmu tak cuma pasang behel, bahkan bisa jalan-jalan bila perlu."

Bagi kedua anak perempuan itu, hari libur merupakan hari dimana mereka dapat merayakan kebebasan. Karena segala hasrat dan imajinasi anak-anaknya dapat disalurkan. Jika Senin-Sabtu siswa-siswi sekolah dipenjarakan dalam kubangan pikiran orang dewasa, maka Minggu memberi kesempatan berpikir sendiri tanpa kekangan dan paksaan.

Seperti Unyil, Dora, atau Nobita; kedua anak perempuan tadi mula-mula melewati hari Minggu dengan gembira dan antusias. Di rumah Yanti segala hal-hal yang ditabukan oleh guru dibahas. Belajar kala itu bukan sebatas di ruangan dan lingkungan sekolah melulu, tapi telah merambah ke arena kehidupan luas.

Sebelum ke dokter gigi, keduanya menyempatkan diri berbelanja. Jika di sekolah mereka jarang berkesempatan bertanya, sementara di pasar justru sebaliknya: diposisikannya pedagang sebagai guru sumber pengetahuan tentang sayuran, buah-buahan, hingga jajanan tradional segala. Kepada ibu-ibu dan bapak-bapak kuli angkut barang, bahkan tak ketinggalan diajaknya berbicara. Dari para pekerja itulah ditahunya informasi-informasi yang tak didapat dalam sekolahnya.

Bergelut dengan realitas sosial, maka empatinya menyambar secepat kilat. Melihat keringat bercucuran dari buruh pasar, persaannya bangkit. Mereka sepertinya ikut merasakan susahnya hidup rakyat kecil di sekelilingnya. Maka dengan harapan dapat meringankan beban kaum miskin--uang dikantong dua-duanya bukan hanya dibelanjakan untuk melariskan dagangan-dagangan pedagang kecil, tapi juga disedakahkan pada buruh gendong hingga pengemis.

Puas mencari pengalaman baru di pasar, maka menjelang Dzuhur keduanya balik ke rumah. Bersama ibunya Yanti, dua anak perempuan itu mencoba membuat makanan yang lezat dan indah-indah. Di situlah belajar lagi-lagi dilakukan. Seumpa bermain proses menyerap pengetahuan berlangsung dalam kesenangan. Tidak ada aturan, apalagi mesti berpayah dengan disiplin.

Makanan kemudian berhasil tersaji. Setelah menyantap makan siang, Yanti dan Susan lalu membereskan segala peralan dapur dan meja makan untuk dicuci. Baru kemudian keduanya beristrahat sebentar. Di luar rumah sinar mentari sudah mulai meredup. Teriknya semakin kurang menyengat. Maka Ba'da Ashar diputuskan untuk star ke dokter gigi. Hanya diperjalanan mereka dihadang polisi.

Di Polresta Pontoanak, polisi yang menghadangnya ternyata baru berpangkat Brigadir. Namanya Dz***r. Usianya tergolong belum tua-tua amat. Makanya bukan hanya insting tilang yang masih berapi-api, tapi juga naluri-syahwat. Yanti dan Susan kemudian disasar. Dua-dua gadis muda ini ditahan secara kurang ajar: motornya distop mendadak hingga nyaris jatuh, lalu kunci kontaknya dirampas paksa, dan keduanya dibentak kasar-kasar.

Hanya kemudian Polantas brengsek menunjukan gelagat tak wajar. Sejalur dengan namanya Dz***r: pikiran Brigadir pun ikut kotor. Sekejap bertatap muka dengan gadis cantik maka dorongan seksualnya meronta vulgar. Kebetulan Susan dan Yanti merupakan perempuan Anggun. Hanya nafsu polisi bajingan itu tertambat pada Susan: yang dilihatnya tidak sekedar dari ukuran, tapi juga tampilan badannya.

Memandang tubuh Susan, Dz***r menilainya seksi. Maka seksisme menyambar keluar dari pikiran polisi ini. Kontolnya yang sering kali diasahnya kontan bereaksi seperti mau berdiri. Mengikuti naluri kebinatangan, selanjutnya dicari-carilah kesalahan calon mangsanya. Itulah mengapa setelah menyeret motor sasaran ke pos kepolisian, lalu kepada dua perempuan dua perempuan di hadapannya ditanyakan: 'kenapa kalian tidak pakai helm belakang'. Yanti cekatan menjawab: 'tidak ada helm, memang'.

Merasa tertantang, Dz***r tambah menekan: 'pemakaian helm ganda itu diatur dalam aturan. Jika tidak dikenakan berarti kalian melakukan pelanggaran'. Bahkan saking ingin melumpuhkan sasarannya, Susan dan Yanti didalihkan telah membuat seabrek kesalahan. Sesudah dibanduli memakai pasal yang mempersoalkan helm, mereka dibanduli tiga tambahan langgaran: tak bermasker, STNK mati, dan tanpa plat nomor kepolisian.

Per pelanggarannnya dikenai denda sekitar Rp 225.000, maka dengan empat pelanggaran diwajibkan membayar Rp 900.000. Susan dan Yanti kontan terperangah. Polisi bagi mereka bukansedang berusaha menegakan aturan tapi memeras perempuan-perempuan lemah.

Hanya kesimp**an itu sebatas terbetik dalam hati. Mulutnya tidak berani bergerak mengatai. Soalnya sistem pendidikan yang selama ini membesarkan mereka tidak mengajarkan untuk bertanya apalagi membantah, melainkan bungkam seribu bahasa. Maka dihadapinya polisi-bajingan seperti gurunya di sekolah: siap mengerjakan tugas dan dihukum bila bersalah.

Sementara keparat berseragam itu sedari awal memang telah mempunyai niat busuk. Pikiran cabul mendorongnya untuk terus-menerus mencari-cari kesalahan korban sampai berada dalam posisi tercekik. Walhasil, hukum berjalan dengan kantuk bahkan sempoyongan menabrak-nabrak. Pasal-pasalnya diotak-atik hingga dapat membuat mangsa kikuk.

Dengan pikiran seksisnya polisi menunggangi aturan. Ditambah piciknya sistem pendidikan yang telah membentuk korban, maka bajingan kemudian berhasil memenangkan pertarungan. Susan dan temannya tak berani membantah apa-apa yang dikatakan bajingan. Itulah mengapa ketika mudah saja Yanti diusir meninggalkan Dz***r yang sedang asik mengobrol dengan pujaan kontolnya. Lalu di tengah posisi berdua dengan mangsanya, ia kemudian berkata: 'kalau tidak mau ditilang ayo ikut abang'.

Kala itu suasan berubah, polisi tidak lagi mencerminkan seorang aparat tapi buaya jalanan. Setelah dijerat dengan aturan, maka tangkapannya dibuyarkan menggunakan rayu dan tipuan. Kepada Susan lagi-lagi ditegaskan: 'adek tidak akan ditilang bila mau pergi keluar bersama abang'.

Dengan perasaan takut dan pikiran yang agak bingung, Susan mula-mula menolak bujukan. Tapi polisi tak henti-hentinya memaksa. Bahkan saat perempuan ini menyanggupi untuk membayar denda, aparat keparat itu justru menampiknya. Kepada sasarannya lantas diberi jaminan: 'adek tidak akan abang apa-apain. Pokoknya, permintaanku mesti diturutin. Tenang: aman, aman'.

Maka dengan menggunakan kendaraan korban, perjalanan pun dilakukan. Sementara Susan sama sekali tidak tahu ke mana tempat tujuan. Hanya dia sedikit coba menerka-nerka tempat yang dituju. Maka dirinya kira: sebatas akan dilarikan meninggalkan lokasi tilang untuk kemudian dilepaskan. Makanya sejenak kekhawatiran bisa ditahan. Tapi firasat buruk itu pecah ketika Dz***r bersamanya sampai pada kawasan hotel hiburan malam.

Hotel tersebut namanya Kontol Durjana. Tiba di area parkir sekelebat sperma bajingan mulai mendidih saja. Susan lantas diminta naik ke lantai atas. Siswi sekolah yang terbiasa menerima perintah ini pun meneruti tapi dengan suasana hati bertambah was-was.

Sesudah mengambil kunci kamar, Dz***r pun melangkah ke atas. Setiba di hadapan Susan, diterbitkannya pandangan dengan tatapan penuh gairah. Bola matanya disesaki nafsu. Kelaminnya sudah siap melepaskan tembakan salvo ke bilik va**na mangsanya. Sementara gadis sekolahan itu keadaannya sudah betul-betul diselimuti ketakutan.

Dalam hati ia berontak penuh protes, teriakan, dan kutukan. Maka sesekali dirinya coba kabur. Tapi perlawanan mudah sekali diruntuhkan. Dirinya didekap keras. Tangannya tak mau dilepas. Dari mulutnya mengalir liris: 'adek jangan tak, abang tidak mungkin melukaimu. Sekarang tenanglah. Minum dululah air ini supaya dirimu kembali fresh'.

Sebelum minun ditawarkan. Mula-mula untuk meyakinkan bahwa tidak ada racun, maka lebih minumannya diseruputnya duluan. Susan kemudian menerima sisanya. Tapi ternyata air itu telah dicampur obat penenang. Maka kepala korban pusing tak karuan. Dz***r lalu mengambil langkah cekatan: pintu kamar dibuka lalu bersama masuk ruangan.

Saklar kamar yang semula on kemudian ditekan off: maka terangnnya lampu kontan terganti gulita. Susan dibaringkan diranjangkan. Kerudung, baju, bra, celana, dan cawat korban dilepas sembarangan. Lalu Dz***r membuka pakaiannya sendiri. Kontolnya semula berdiri tegak bagai pedang tajam sekali. Ketika hendak memas**annya ke lorong kewanitaan korban menolaknya. Tapi birahi terlanjut berkibar gegap gempita. Tidak ada lagi yang namanya polisi; penegak hukum; pelindung, pengayom, pelayan masyarakat. Yang ada tinggalah: lelaki berstatus aparat dengan keinginan menembakan sperma pada yang lemah.

Maka kala itu kontolnya bukan sekedar pedang, tapi sudah menjelma jadi pistol. Beragam gaya seks digunakannya untuk membuat tembakan jadil lebih optimal. Pose bebek, kuda, anjing, bahkan babi semuanya dicoba. Itulah mengapa korban didatangi dari segala sisi secara perkasa. Maka ranjang hotel disulap semacam padang pertempuran. Susan berada di tengah, sementara pemangsa datang dari semua penjuru mata angin.

Walhasil, badan Susan digerayangi: mulutnya dikecup, puting teteknya digigit, va**nanya dijilat, dan tubuhnya dipagut erat-erat. Ketika klimaks peluru-peluru sperma menyalak: menerabas kemaluan hingga mengecat dinding rahim dengan tetesan-tetasan hasil muncrat. Darah keluar berlinang. Keprawanan anak sekolahan itu melayang. Tapi Dz***r berhasil mendapat orgasme secara gandrung.

Dalam peristiwa itulah Dz***r lagi-lagi mendapatkan kemenangan telak-telakan: Susan dilemahkan bukan saja di jalan saat penilangan, tapi juga dikalahkan di ranjang ketika dilecehkan. Hanya ketika berhasil meretakkan kehormatan korban, polisi bajingan itu terberit-berit pergi. Dengan keadaan bugil sekaligus pendarahan bekas tus**an pedang warisan nenek moyang, korbannya tega ditinggalkan sendiri.

Di kawasan perhotelan, Susan terlantar. Walau lampu telah meneranginya, tapi dunia terasa gelap dan hidupnya seakan hampa. Pengalaman perkosaan membuatnya mengalami tekanan batin. Dia sekarang butuh teman. Maka Yanti ditelepon, "Yan, di mana kamu. Aku barusan dicabuli polisi di hotel Kontol Durjana. Kumohon jemput aku sekarang juga." Yanti menjawab, "Aku di rumah, San. Astaga (sontaknya).. bejat sekali aparat kepolisian. Dasar bajingan. Tunggu. Tunggu, sebentar lagi aku tiba dilokasimu." Dengan menghela nafas sedikit. ia pun pergi menjemput temannya.

Hari kebacut malam, maka suasana kota agak temaram, hening, dan dingin. Tapi Yanti berteguh menghampiri sang teman. Persahabatan lama dengan Susan telah menumbuhkan, memperkuat, dan merawat solidaritas di antara keduanya. Kesolidan itu tak melulu didapatkan dari lingkungan sekolah, melainkan pergaulan di luarnya. Sebagai sahabat dua-duanya belajar saling mendahulukan kepentingan-persahabatan. Itulah yang mengikat mereka buat berbalas melindungi, memperbaiki, menghormati, mengingatkan, dan berkorban.

Maka jalinan persahabatan keduanya seperti koherensi antara anggota tubuh: bila tangan atau kaki terluka, maka mata menangis-sedih. Persis seperti itulah yang dirasakan Yanti ketika mengetahui Susan telah dikerasi dan dilecehkan polisi. Air matanya tumpah pas bertemu sahabatnya. Kala itu Susan berada di kamar hotel dengan keadaan memilukan: gantai pilu bersembunyi di balik selimut dengan beragam pikiran negatif yang membuatnya seperti putus asa hingga mau bunuh diri.

Kondisi Susan setelah diperkosa begitu mengenaskan. Sebagai sahabat, Yanti tiba bukan sekedar untuk menenangkan. Tapi terutama memberikannya harapan. Mula-mula korban pelecehan diberi peluk hangat. Sambil membisikan nada-nada penyemangat, temannya lalu dipakaikan cawat, bra, celana, baju, dan kerudung. Air mata orang terkasihnya lalu diseka lembut sampai kering.

Susan lalu terbatah-batah berucap, "Kehormatanku telah hilang, Yan. Dz***r telah menanggalkannya dengan penuh paksaan. Aku malu, takut, dan merasa berada dalam kubangangan kehinaan. Diriku lebih baik mati, ketimbang menanggung sakit dan aib sebagai korban perkosaan."

Yanti membalas, "San, kuatkan dirimu. Tataplah mataku. Aku berada di sampingmu untuk menjagamu. Karena kita sahabat, masalahmu adalah juga masalahku. Bersama, kita akan melalui masa suram itu. Tapi kuingin sekali berdua kira ikrarkan: jangan pernah katakan kepada kehidupan kita punya persoalan, malainkan katakan pada persoalan bahwa kita mempunyai kehidupan."

Kepada Susan diberitahukan: hanya keberanianlah yang membesarkan hidup, teeutama berani meng-iya-kan kehidupan. Memang dunia penuh ketidakadilan, namun tak sepatutnya kita menyerahkan kehidupan kepada kematian. Maka kepada sahabatnya, Yanti membisikan ucapan pepatah: 'kita semua adalah benang yang rapuh, tapi bisa membuat permadani yang indah'.

Lalu kepada Susan juga diceritakan berpenggal-penggal kisah perempuan-perempuan yang bernasib serupa dengannya: diperkosa polisi tanpa pacaran, hingga mendapatkan kekerasan dan pelecehan seksual dari aparat saat menjalin asmara. Tujuan ceritanya tidak hanya untuk menjelaskan bahwa semua aparatus represif negara itu bajingan. Melainkan p**a mendorong untuk bangkit melawan.

Dalam deskripsi Yanti: semua perempuan yang pernah menjadi korban pelecehan dan kekerasan dikabarkannya tetap mencoba bertahan hidup dan menuntut balas, bukan bunuh diri. Bahkan ketika banyak di antara mereka melahirkan anak hasil perkosaan maupun aborsi sekalipun, tak pernah perempuan-perempuan itu mencoba mengakhiri kehidupan.

Kepada Susan diingatkan p**a. Bahwa roman perlawanan memang tak kita pernah dapati di mulut guru-guru di sekolah. Melainkan dari lingkungan sosial yang luas, juga novel-novel sejarah. Kini akan kuceritakan sedikit padamu tulisan Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia: tentang perjuangan Sanikem alias Nyai Ontosoroh. Perjuangannya berlangsung di zaman kolonial. Kala itu masih seiras hari-hari ini: aparatus represif negara tidak sekedar menjajah dengan bedil, tapi juga kontol.

Maka banyak perempuan yang menjadi korban kekerasan dan pelecahan. Mereka ditempatkan cuma sebagai pelayan z***r kelompok dominan. Sanikem adalah salah satu korban penjajahan. Dirinya tidak ijinkan memperoleh pendidikan di bangkuk sekolahan. Tetapi hanya mengurus rumah tangga, terutama melayani siapa-siapa yang menjadi suaminya. Bagi kaum wanita: tidak bersekolah di masa penjajahan, mungkin dalam kadar tertentu: serupa dengan bersekolah hari-hari ini. Persamaannya sederhana: mendorong langgengnya penindasan.

Kala itu sekolah memang memberikan pencerdasan, tapi sekarang sekolah justru berkebalikan: menyuburkan perbudakan. Itulah mengapa lakon perempuan antara dulu dengan sekarang nyaris tiada perbedaan. Hanya Sanikem memberi tauladan: jangan menyerah terhadap keadaan. Maka setelah dijual ayahnya ke tangan aparat kolonial; dirinya bukan malah mengakui kekalahan, melainkan berusaha untuk tidak ditundukan.

Keyakinannya begitu kokoh: kelak di masa-masa selanjutnya, aku dan kaumku pasti dapat mengalahkan musuh-musuh--kelompok dominan. Gejolak batin yang dirasakan bukan membuatnya tertumbangkan, melainkan kebangkitan dan pencerahan. Tubuh, va**na dan keperawanannya boleh saja diperdagangkan, tapi tidak untuk kamanusiaan dan mimpi-mimpinya tentang pembebasan.

Meski dijadikan gundik oleh penjajah tapi tak membuatnya berputus asa. Modernisasi kapitalisme dalam menggantikan feodalisme pun ikut memberi angin segar bagi pemberontakan wanita. Itulah kenapa dari rumah aparat kolonial kelak mencetuskan penghianatan terencana. Pengalaman bergelut dengan tindasan-tindasan kuasa--yang ditambah membaca buku-buku di kediaman barunya--berhasil membangun karakter dalam perjuangannya.

Dalam lingkungan keluarga Sanikem mendidik anaknya Annelies bersama kekasih--Minke--untuk membangkang terhadap kelas penguasa. Sementara pada spektrum publik; statusnya sebagai gadis yang terjual (Nyai) terus-menerus berusaha dihapuskannya. Prinsip hidupnya lugas, tegas, bahkan keras: kehormatan bukan diberikan cuma-cuma atau ditanggalkan oleh tembakan-tembakan sperma, melainkan diperjuangkan sekuat tenaga.

Di kamar hotel Kontol Durjana, cerita tentang Nyai Ontosoroh disuntikan Yanti dalam jiwa sahabatnya. Kepada Susan bahkan ditegaskan p**a: kehormatan yang ditajuk cuma dari kemaluan wanita merupakan pandangan lelaki semata. Dengan mengamini cara pandang itu maka kita akan semakin tersubordinasi oleh kuasa-kuasa patriarki.

Kepada sahabatnya lagi-lagi dipeluk lalu dibisiki, "Jika engkau ingin menegakan kehormatanmu. Maka pertahankalah rasa hormatmu terhadap diri-sendiri. Setetes cinta-kasih tak akan pernah mampu terhapus oleh sejuta kekerasan dan pelecehan dari lelaki. Karena kebenaran akan abadi, meski berada di tengah belantara dan rimba raya. Hiduplah bersama hal-hal yang kau yakini benar walau para pria tidak s**a; daripada membuat mereka menyukaimu dengan sesuatu yang dirimu tahu salah."

Mungkin sejak kejadian yang menimpah sahabatnya, Yanti marah besar. Maka bara amarah dan gelora semangatnya sudah tidak lagi mencerminkan anak-anak hasil didikan guru-guru kurang ajar. Karena kala itu pengalaman bergelut dengan penindasan bersama empati terhadap sahabat mengajarinya untuk mulai bertanya.

Hanya pertanyaannya tidak langsung kepada guru atau polisi, melainkan diri sendiri. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itulah yang sebelumnya menjadi bahan bicara dengan korban apartus represif negara. Bahkan keberangan terhadap polisi bajingan mengharuskannya untuk mendorong Susan terus bersuara. Perempuan baginya tidak boleh lagi bergeming. Saatnya dipancang nada-nada menerjang.

Maka Susan tergerak hatinya untuk menuntut keadilan: Dz***r harus diadili mulai dicopoti jabatan, dihantami pemecatan, hingga dipenjarakan. Walhasil, kasusnya kemudian dilaporkan kepada Polresta Pontoanak. Hanya kapolresta-nya merespon dengan pernyataan agak picik: disinggapinya cuma memberikan hukuman disiplin, belum ada jaminan sampai pemenjaraan.

Belum adanya putusan hakim dijadikannya alasan kenapa belum dapat dipenjarakan. Hanya korban dan seluruh pendukingnya agak ragu dengan sistem peradilan. Operasi para bedebah soalnya gampang membeli aturan. Itulah mengapa jual-beli vonis jadi parodi ketika mencari keadilan. Maka yang adil-adil tidak ditemukan dalam pengadilan, melainkan tiba-tiba keluar sebagai putusan persidangan.

Tapi di sela waktu sebelum keluarnya selalu terdapat cela untuk membelokan keadilan. Kala itu pasal bukan sekedar bisa ditebus tapi juga dipesan. Realitas berhukum negeri ini menjelaskan demikian. Karena apa yang adil menurut hakim, belum tentu bagi korban. Makanya dalam penegakan hukum tak saja memanjakan peran pemodal, melainkan p**a pemilik jabatan hingga mereka yang dekat dengan kekuasaan.

Didesain dalam ikatan patron, maka arena penegakan hukum tak ubahnya wilayah para mafia: penjahat bukan cuma dilindungi, tapi juga berusaha putihkan segala kejahatannya. Walhasil, hukum ditegakkan searah plot sinetron: yang jahat-jahat diungkap tidak lantaran kebutuhan keadilan, tapi keinginan-keinginan naif memberikan sensasi pada penonton. Itulah kenapa suara korban kebanyakan tak menjadi bahan pertimbangan, karena sebatas dijadikan tontonan kesedihan hingga sumber pemberitaan.

Hukum kemudian disulap sebagai ladang periklanan. Daya pikat utamanya adalah kemampuan mendorong rasa penasaran. Maka hakim, jaksa, polisi, bahkan pengacara--kini lebih mirip artis ketimbang penegak hukum. Kepada mereka, pengusaha-pengusaha pertelevisian dan periklanan memberikan tugas sama: mula-mula tampilkan adegan dramatik lalu lanjutkan dan akhiri dengan dugaan-dugaan semata.

Jika pada Dz***r tak diberikan hukuman setimpal, maka penegakan hukum ditampilkan sebagai tontonan saja. Maka korban kala itu kembali dianiaya: hukum ditegakkan bukan untuk memenuhi keadilan, melainkan memberikan pemodal semakin banyak keuntungan: untung berita maupun iklan. Semakin alot penyelesaian masalah, dipastikan laba pengusaha ikut berkelimpahan. Bahkan ketika ketidakadilan ditorehkan, lagi-lagi para bos perusahaan mampu meraup keuntungan lewat pemberitaan dan periklanan.

* Diangkat dari kisah nyata yang terjadi di Pontianak pada September 2020 silam. Tulisan ini dirancang untuk melancarkan Program 'Agitasi dan Propaganda Politik' PEMBEBASAN Kolektif Kota Mataram.

28/05/2025
Foto: Aktivis Suara Ibu Indonesia, Avianti Armand mendatangi Polda Metro Jaya untuk menyerahkan surat kepada Kapolda Met...
27/05/2025

Foto: Aktivis Suara Ibu Indonesia, Avianti Armand mendatangi Polda Metro Jaya untuk menyerahkan surat kepada Kapolda Metro Jaya di Jakarta, 27 Mei 2025. Dalam surat itu, Suara Ibu Indonesia meminta agar ke-13 mahasiswa Universitas Trisakti yang ditahan karena turut dalam aksi Peringatan Reformasi dibebaskan. FOTO : Dok SII

Bagi kawan-kawan yang muak melihat penindasan dan mau berjuang. Ayo berjuang bersama di Pusat Perjuangan Mahasiswa untuk...
23/05/2025

Bagi kawan-kawan yang muak melihat penindasan dan mau berjuang. Ayo berjuang bersama di Pusat Perjuangan Mahasiswa untuk Pembebasan Nasional (PEMBEBASAN) Kolektif Kota Mataram.

Ayo beroganisasi, berpropanganda dan berlawan untuk pembebasan nasional.

Mari bergabung bersama kami.

BEBASKAN 11ORANG TAHANAN MABA SANGAJI MELAWAN!!!TORANG BUKAN PREMAN!!!TORANG MASYARAKAT ADAT MABA SANGAJI YANG JAGA TONG...
22/05/2025

BEBASKAN 11ORANG TAHANAN MABA SANGAJI MELAWAN!!!

TORANG BUKAN PREMAN!!!
TORANG MASYARAKAT ADAT MABA SANGAJI YANG JAGA TONG PUNG HUTAN!!!





poster: kolektif

[MATARAM] Seruan Pembacaan Situasi Umum Kamisan MataramDalam melihat bagaimana persoalan yang terjadi, mulai dari pelang...
10/11/2024

[MATARAM] Seruan Pembacaan Situasi Umum Kamisan Mataram

Dalam melihat bagaimana persoalan yang terjadi, mulai dari pelanggaran HAM yang tidak pernah di selesaikan, perampasan lahan, tindakan kekerasan seksual, hingga mundurnya demokrasi. Maka kami mengundang kawan-kawan seperjuangan, kawan-kawan seluruh elemen prodem untuk ikut terlibat dalam Pembacaan Situasi Umum Kamisan yang akan dilaksanakan pada:

Hari/Tgl: Senin, 11 November 2020
Pukul: 18.00 Wita
Lokasi: Aula Asrama Unram
Kontak: 085338503487

Demikian undangan ini kami sampaikan. Sekian dan terima kasih

Bagi kawan-kawan yang kebingungan dan tidak ingin kehidupan menjadi lebih baik. Kita butuh organisasi revolusioner untuk...
07/09/2024

Bagi kawan-kawan yang kebingungan dan tidak ingin kehidupan menjadi lebih baik. Kita butuh organisasi revolusioner untuk melawan. Sudah saatnya kaum muda bergabung dan belajar bersama di Pusat Perjuangan Mahasiswa untuk Pembebasan Nasional Kolektif Kota Mataram.

Kepada mahasiswa yang muak dengan senioritas, kepada mahasiswa yang membenci ketidakadilan dan kepada mahasiswa yang resah dengan persoalan rakyat miskin.

Serta untuk mahasiswa yang mengutuk momentum Pilkada sebagai panggung Borjuis saatnya untuk melawan.

Saatnya untuk bergabung bersama kami.

16/07/2024

PERNYATAAN SIKAP BERSAMA

KAMI KEMBALI MELAWANPerguruan Tinggi Negeri berusaha sedemikian rupa mencari cara agar menaikkan UKT, hal di buka dengan...
15/07/2024

KAMI KEMBALI MELAWAN

Perguruan Tinggi Negeri berusaha sedemikian rupa mencari cara agar menaikkan UKT, hal di buka dengan menghadirkan regulasi sebagai alasan awal.

Kawan-kawan bisa terlibat semua!Hubungi kontak yang tertera di pamflet untuk mendapatkan link.
29/01/2024

Kawan-kawan bisa terlibat semua!
Hubungi kontak yang tertera di pamflet untuk mendapatkan link.

Address

Mataram

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Pembebasan-Kolektif Kota Mataram posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Pembebasan-Kolektif Kota Mataram:

Share