11/03/2026
Orang Tua Kerap Salah Memahami Tangisan Anak, Psikolog Sekolah Abata Lombok: Jangan Langsung Melarang
Mataram — Banyak orang tua masih menganggap tangisan anak sebagai tanda perilaku buruk yang harus segera dihentikan. Padahal, menurut tim psikolog Sekolah Abata Lombok, tangisan justru merupakan cara alami anak mengekspresikan emosi yang belum mampu mereka ungkapkan dengan kata-kata.
Salah satu tim psikolog Sekolah Abata Lombok, Bunda Dita, mengatakan selama ini banyak orang tua keliru ketika langsung melarang anak menangis.
“Sering kali orang tua panik ketika anak menangis, apalagi di tempat umum. Ada yang takut dianggap gagal mendidik, khawatir anak menjadi manja, atau merasa malu dengan orang sekitar. Padahal menahan tangisan anak justru bisa membuat emosi mereka tertekan,” ujarnya.
Menurutnya, anak yang dilarang menangis tanpa dipahami emosinya berpotensi menyimpan perasaan yang tidak tersalurkan dengan baik. Dalam jangka panjang, hal ini bisa memengaruhi kemampuan anak mengelola emosi dan berkomunikasi.
Melalui pendekatan pendidikan yang diterapkan di Sekolah Abata Lombok, orang tua didorong untuk memahami cara mendampingi anak secara lebih empatik. Sekolah juga memberikan berbagai pendampingan kepada orang tua agar pola pengasuhan menjadi lebih sehat.
Beberapa hal yang didorong kepada orang tua antara lain mengubah cara mendidik anak dengan pendekatan yang lebih nyaman, membangun komunikasi yang tepat dengan anak, memahami teknik menegur tanpa membentak, serta mempelajari cara mengurangi tantrum yang berulang.
Pendekatan ini diharapkan membantu orang tua tidak lagi mendidik anak dengan perasaan bersalah, melainkan dengan pemahaman psikologis yang lebih baik.
Penasehat Konsorsium Yayasan Pengelola Pendidikan Abata Lombok, Dr. Saharjo, SH., MKn., MH., yang juga dikenal sebagai pakar hipnoterapi, menyatakan dukungannya terhadap langkah tim psikolog sekolah dalam memberikan layanan pendampingan kepada siswa dan orang tua.
Menurut Saharjo, memahami emosi anak sejak dini sangat penting karena cara anak merespons perasaan pada masa kecil akan membentuk pola pikir dan karakter mereka di masa depan.
“Anak yang dipahami emosinya akan tumbuh dengan rasa aman dan percaya diri. Karena itu pendekatan psikologis dan komunikasi yang tepat dari orang tua menjadi sangat penting,” ujarnya.
Ia menambahkan, Sekolah Abata Lombok terus berkomitmen menghadirkan layanan pendidikan yang tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga memperhatikan kesehatan emosional anak dan kualitas hubungan antara orang tua dan anak.
Saharjo berharap layanan psikologi pendidikan di Sekolah Abata Lombok dapat membantu semakin banyak keluarga memahami cara mendidik anak secara lebih bijak, tenang, dan penuh empati.