17/12/2017
TAHUKAH ANDA?
Apa yang perlu diketahui tentang kanker serviks ? Semuanya ! Sebagai penyakit ganas yang hanya menyerang maka informasi tentang jenis kanker ini harus diketahui secara menyeluruh. Tetapi semua informasi tersebut tidak bisa sekaligus dituangkan dalam satu artikel, selain terlalu panjang juga akan membuat pemahaman pembaca menjadi kurang intens sehingga manfaatnya pun menjadi kurang optimal.
Bagaimana keganasan kanker ini akan lebih mudah dimaklumi dengan memperhatikan informasi yang disampaikan oleh WHO. Menurut World Health Organization atau badan kesehatan dunia tersebut setiap tahun terdapat 490.000 wanita didunia yang terkena kanker serviks. Setiap menit seorang wanita terserang kanker serviks dan setiap dua menit seorang wanita meninggal akibat penyakit kanker tersebut.
Masih menurut WHO, jumlah terbanyak penderita kanker leher rahim dengan prosentase sekitar 80 persen berasal dari negara-negara yang sedang berkembang, termasuk Indonesia. Data tersebut mengindikasikan bahwa keberadaan kanker leher rahim yang juga disebut kanker mulut rahim ini memiliki korelasi dengan kondisi negara sedang berkembang.
Baik menyangkut tingkat pendidikan masyarakat terhadap kesadaran tentang kesehatan, kondisi sosial ekonomi yang masih memprihatinkan sampai fasilitas kesehatan di negara-negara sedang berkembang yang umumnya memiliki anggaran masih terbatas. Sehingga strategi pembangunannya lebih diprioritaskan untuk sektor yang bisa secara riel meningkatkan tingkat sosial ekonomi masyarakat.
Di Indonesia diperkirakan setiap hari terdeteksi sekitar 40 wanita yang terserang kanker serviks dan sekitar 20 wanita meninggal dunia. Artinya, setiap bulan rata-rata 600 wanita meninggal akibat serangan kanker serviks. Jumlah itu masih belum termasuk penderita yang tinggal di pelosok dan desa-desa tertinggal yang masih belum memiliki akses pelayanan kesehatan yang layak.
Program pendeteksian kanker serviks di negara-negara berkembang biasanya dilakukan dengan tes Pap smear dan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA). Program ini sangat efektif untuk mendeteksi dini wanita yang terserang kanker serviks sehingga mampun mengurangi mengurangi insiden kanker leher rahim yang invasif sebesar 50% atau lebih.
Masih terbatasnya wanita yang melakukan pendeteksian dini selain karena kurangnya wawasan dan kesadaran terhadap kesehatan juga karena kanker leher rahim pada stadium awal biasanya tanpa gejala apapun. Meskipun sebenarnya telah menderita penyakit kanker serviks stadium awal, biasanya penderita masih merasa baik-baik saja. Tanpa disadari sikap tersebut memberikan kesempatan untuk kanker serviks berkembang ke stadium lanjut.
Salah satu faktor yang membuat angka kematian akibat kanker serviks di Indonesia tergolong tinggi sebagian besar disebabkan oleh keterlambatan dalam diagnosis. Ketika seorang memeriksakan kondisi tubuhnya yang dirasa sakit, biasanya kanker sudah menyebar ke organ lain di dalam tubuh. Sehingga pengobatan yang dilakukan menjadi makin sulit sementara peralatan yang digunakan juga terbatas.
Dampak sosial kanker serviks
Mengingat para wanita yang terserang kanker serviks umumnya mereka yang berusia masih produktif, yakni antara usia 35-54 tahun, dimana peran wanita masih sangat dibutuhkan untuk mengelola rumah tangga, mengasuh dan mendidik anak-anak. Maka kanker serviks juga memiliki dampak sosial yang cukup besar. Akibat ibu yang menderita kanker serviks, bahkan sampai meninggal dunia akan meninggalkan p**a sejumlah masalah bagi keluarganya.
Kanker serviks nyaris tanpa gejala
Salah satu penyebab kanker serviks dinobatkan sebagai pembunuh wanita nomor satu adalah gejala kemunculannya tidak selalu terlihat atau dirasakan penderita dengan jelas. Bandingkan dengan penyakit ringan, misalnya influenza, sejak dini penderita sudah merasa tidak enak badan, bersin atau pusing, sehingga secara naluriah akan berusaha untuk mengembalikan diri ke kondisi semula. Pada beberapa kasus kanker serviks, penderita tidak mengalami gejala apa pun, padahal secara medis sudah memasuki stadium awal.
Sering kali, kemunculan gejala terjadi saat kanker sudah memasuki stadium akhir ketika penderita mengalami pendarahan yang tidak normal dari va**na. biasanya terjadi setelah berhubungan seks, di luar masa menstruasi atau setelah menopause. Kadang-kadang gejala itu pun masih tidak secepatnya diantisipasi oleh penderita.
Penyebab kanker serviks
Kanker serviks kebanyakan disebabkan oleh virus HPV (Human Papilloma Virus). Virus ini terdiri lebih dari 100 tipe, sebagian besar tidak berbahaya dan akan lenyap diantisipasi oleh kekebalan tubuh. Tetapi virus HPV yang paling bandel dan ganas adalah tipe 16 dan 18 karena tipe ini menyebabkan kanker serviks. Sedangkan virus tipe HPV 6 dan 11 menjadi penyebab penyakit kutil kelamin (Condyloma accuminatum).
Virus HPV bisa masuk ke dalam tubuh penderita melalui hubungan seksual, bisa juga melalui penularan dari organ ge***al ke organ ge***al, oral ke ge***al, maupun secara manual ke ge***al. Virus ini menular tidak hanya melalui cairan, tetapi bisa berpindah melalui sentuhan kulit.
Meskipun demikian tidak bisa dipastikan bahwa prioritas penderita Kanker Serviks adalah mereka yang sering berganti pasangan, karena faktanya banyak ibu rumah tangga yang tidak pernah berganti-ganti pasangan juga mengalami serangan kanker serviks. Virus HPV bisa menular dengan cara mencuci pakaian yang mengandung virus dari orang lain yang menderita penyakit kanker serviks.
Di saat seseorang terinfeksi virus HPV tidak menunjukan gejala-gejala sakit atau gangguan kesehatan. Virus HPV yang masuk tersebut akan “mengeram” di lapisan epitel kulit untuk berbiak menjadi semakin banyak. Proses tersebut memerlukan waktu yang berbeda-beda pada setiap individu, bisa dalam hitungan mingguan bahkan sampai tahunan sebelum akhirnya muncul gejala klinis yang disadari oleh penderita.
Untuk itulah, Produk SEVA-7 hadir memberikan solusi untuk anda, Agar terhindar dari penyakit yang mematikan ini.
Kami melayani pengiriman ke berbagai wilayah Nusantara, Tapi karena stok kami sangat terbatas. Jadi jangan tunggu besok ! Order sekarang Juga melalui layanan inbox kami
Kasih