Gema Pembebasan Malang

Gema Pembebasan Malang Fanspage Resmi Gerakan Mahasiswa Pembebasan (GP) Malang Raya

09/04/2020

Suarakan Kebenaran
Meski Tangan Diikat dan Mulut Dibungkam
Tegakkan Kepala Busungkan Dada
Meski Harus Berhadapan Dengan Senjata
Tetap Bersama Pejuang Syariah
Meski Nama Hancur Karena Difitnah




Suarakan KebenaranMeski Tangan Diikat dan Mulut DibungkamTegakkan Kepala Busungkan DadaMeski Harus Berhadapan Dengan Sen...
09/04/2020

Suarakan Kebenaran
Meski Tangan Diikat dan Mulut Dibungkam
Tegakkan Kepala Busungkan Dada
Meski Harus Berhadapan Dengan Senjata
Tetap Bersama Pejuang Syariah
Meski Nama Hancur Karena Difitnah




*RAPORT MERAH UNTUK KAPOLRI DAN PRESIDEN* _KHILAFAH MAKAR? "ULAMA DAN HABAIB NASEHATI KERAS KAPOLRI DAN PRESIDEN JOKOWI"_ ================================== ...

Suarakan KebenaranMeski Tangan Diikat dan Mulut DibungkamTegakkan Kepala Busungkan DadaMeski Harus Berhadapan Dengan Sen...
08/04/2020

Suarakan Kebenaran
Meski Tangan Diikat dan Mulut Dibungkam
Tegakkan Kepala Busungkan Dada
Meski Harus Berhadapan Dengan Senjata
Tetap Bersama Pejuang Syariah
Meski Nama Hancur Karena Difitnah




QIEM INSPIRASI - Qolam Islamic Education Method Dukung & Support Channel kami dengan Share Channel ini. Kami juga menyedi...

Penanganan Wabah, Islam Vis a Vis KapitalismeFarid Syahbana (Ketum PP GEMA Pembebasan)Polanya masih sama, korban meningg...
29/03/2020

Penanganan Wabah, Islam Vis a Vis Kapitalisme

Farid Syahbana (Ketum PP GEMA Pembebasan)

Polanya masih sama, korban meninggal atau Death Rate yang di bawa oleh Virus corona di Indonesia masih di atas 8 persen, presentase yang sama dengan beberapa hari kemarin. Pertumbuhan pasien positif covid-19 di Indonesia sudah mencapai ribuan orang (28/03). Tercatat ada 27 provinsi di Indonesia yang telah melaporkan kasus virus Corona dan masih didominasi oleh DKI Jakarta.

Beberapa wilayah di Indonesia sudah menetapkan kewaspadaan yang sangat tinggi, terlihat masing-masing kepala daerah inisiatif secara sendiri melalui berbagai kebijakannya, bahkan ada daerah yang sudah menetapkan wilayahnya untuk dilakukan Isolasi terbatas - Local Lockdown (Tegal ,Jawa Tengah, dan Puncak Jaya,Papua). Meskipun hal ini menandakan persoalan serius dalam kepemimpinan, seolah dan terkesan negara ini berjalan secara autopilot.

Peningkatan kasus pandemi Covid-19 dan desakan dari berbagai pihak untuk segera melakukan karantina wilayah (Lockdown) demi menghentikan transmisi virus corona, akhirnya direspon pemerintah pusat dengan menjanjikan Peraturan Pemerintah (PP), pemerintah yang di wakilkan oleh Mahfud MD mengatakan sedang menyiapkan PP untuk melakukan karantina wilayah terkait mewabahnya virus Corona di Indonesia.

Yang jadi catatan, Isi dan rincian dari PP nantinya mesti harus terus dipantau dan dicermati, karena sudah jadi tanggungjawab pemerintah pusat untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat ketika karantina wilayah dilakukan sesuai dengan amanat UU No.6 Tahun 2018.

Kelambanan pemerintah dalam penanganan wabah Corona mulai mendapat sorotan tajam, seperti yang disampaikan oleh Organisasi profesi tenaga medis (termasuk IDI) yang menuntut Pemerintah dan fasilitas kesehatan menjamin ketersediaan Alat Pelindung Diri (APD) dalam penanganan Covid-19 (27/03). Jika tidak tersedia, tenaga medis diminta tak menangani pasien kasus tersebut.

Wajar tenaga kesehatan menuntut demikian, karena ketidaklengkapan APD dapat berakibat fatal bagi tenaga kesehatan yang berpotensi terpapar virus Corona. Bidang kesehatan menderita pukulan paling hebat. Banyak data yang terungkap bahwa wabah covid-19 menyerang tidak pandang bulu, mulai rakyat biasa, dokter, sampai pejabat negara. Dengan kesadaran yang rendah, terdapat beberapa pasien positif yang masih berbaur dengan penduduk yang sehat di beberapa kota.

Pada ujungnya, serangan wabah ini membuat setiap kita bertanya-tanya, Sampai kapan wabah ini berlalu? bukan hanya di Indonesia, bahkan diseluruh dunia. Dan tidak ada satu pun pihak yang bisa memastikan, kapan wabah corona ini akan berakhir.

Bagaimana Komparasi sistem Islam Vis a Vis Kapitalisme dalam mengatasi Wabah?
Negara-negara yang mengemban Ideologi Kapitalisme hari ini, terlihat gagal dalam menangani penyebaran wabah yang melanda dunia.

Pada saat awal kemunculannya di Wuhan, China, Desember tahun lalu hingga kini menyebar lebih ke-120 negara, virus Corona telah menelan korban 27.215 nyawa, dan 593.656 kasus di seluruh dunia (Kompas, 28/03). Kapitalisme telah gagal menghentikan transmisi virus corona. Kegagalannya ditinjau dari beberapa aspek, diantaranya ialah:

Pertama, China sebagai Negara yang terpapar pertama kali virus Corona tidak transaparan dalam memberikan informasi, otoritas China menyembunyikan dari orang-orang China dan belahan dunia, terkait hakikat penyakit mematikan yang penyebarannya telah diketahui oleh otoritas China sebelum pertengahan bulan Desember 2019, namun otoritas terkesan menutupi perkara tersebut hingga akhir tahun pasca meningkatnya sejumlah kasus.

Para pejabat China tidak memperingatkan rakyat dari bahaya krisis pada Desember, hingga pada tanggal 31 Desember Beijing memberitahu WHO terkait adanya wabah mematikan yang menyerang pernafasan.
Pemerintah China baru menutup pasar makanan laut di kota Wuhan pada Januari dan menutup total kota yang berpenduduk 11 juta jiwa pada 23 Januari, sebelumnya lalu-lintas warga China cukup padat karena ingin menyambut perayaan imlek, tahun baru China.

Beberapa jurnalis menerbitkan pemberitaan yang berisi kritikan terhadap otoritas China dalam penanganan Covid-19, hasilnya tiga orang jurnalis dari Wall Street Journal (WSJ) harus di usir oleh otoritas China, ketika menerbitkan artikel yang berjudul “China The Real Sick Man Of Asia”, artikel tersebut berisi kritikan kepada otoritas Pemerintah China dalam menangani Covid-19. Ada juga Chen Qiushi, seorang jurnalis warga yang kerap mengunggah laporan dan video terkait situasi dan kondisi di Wuhan, kota sumber penyebaran virus corona di China, Chen malah dilaporkan hilang oleh kerabat dan keluarga. Chen sering menyampaikan laporan terkait perkembangan penyebaran virus corona di Wuhan melalui akun media sosial (10/02). Sikap kontraproduktif justru ditampilkan oleh otoritas China dengan gaya otoriter dan berusaha menutupi informasi yang sebenarnya kepada khalayak dunia.

Kemudian terkonfirmasi kasus Corona Virus menyebar diluar China seketika pada bulan yang sama, yakni di Thailand Pada 13 Januari 2020, Jepang (15 Januari), Korea Selatan (20 Januari), Amerika Serikat (21 Januari), dan Italia (31 Januari).

Kedua; Isolasi parsial, total dan lambatnya penanganan. mayoritas Negara yang terpapar virus corona cenderung lambat dalam merespon transmisi Covid-19, Pada Jumat (27/03/2020), data dari Worldometer menyebutkan jumlah kasus di AS sebanyak 85.377. Angka ini jauh melampaui China dengan jumlah 81.340 kasus, juga Italia dengan jumlah 80.589 kasus. Dan lebih dari 1.296 warga AS meninggal dunia karena Covid-19 (Kompas, 27/03).

Jeffrey Sachs, profesor sekaligus direktur dari Center of Sustainable Development di Columbia University mengatakan bahwa tingginya angka Covid-19 di AS karena kebijakan Trump yang terlambat.

“Trump punya tanggungjawab langsung terhadap ketidaksiapan Amerika dan kegagalannya menghadapi pandemi. Begitu virus corona masuk Trump mengindahkannya,” tutur Sachs seperti dikutip dari artikelnya di CNN, Jumat (27/03).

Di Indonesia, pemerintah justru terkesan abai, pasca kasus Corona merebak di Wuhan. Pemerintah tidak membatasi ketat pergerakan wisatawan mancanegara, awalnya bahkan pejabat pemerintah ada yang menjadikan Corona sebagai bahan candaan, dan Presiden Jokowi mengalokasikan dana untuk Influencer, hotel dan restoran, agar wisatawan mancanegara dapat meramaikan kembali sektor pariwisata. Tercatat pada januari, turis China yang masuk Indonesia 113.646 orang (Kompas, 04/03). Kini transmisi virus corona sudah meluas, baik pemerintah maupun rakyat harus menanggung akibatnya.

Pada akhirnya, ketika penyebaran virus mulai tak terkendali, beberapa Negara menerapkan strategi bertahap yang justru memungkinkan transimisi virus ini berkembang secara eksponensial, himbauan untuk melakukan Social Distancing di area public, kemudian melakukan Lockdown mandiri - mengkarantina diri sendiri, Isolasi semacam ini sebut saja parsial, dan ketika sudah menyebar tak terkendali sebagaimana di Italia dan Spanyol baru dilakukan Total Lockdown.

Ratusan juta orang di dunia diisolasi di rumah mereka dengan harapan bisa menghentikan penyebaran virus Corona, sekitar 160 juta warga Amerika mulai dari California hingga New York dihimbau untuk tinggal di rumah. Sekolah, restoran, dan bar pun ditutup.

Perkara yang sangat ketat ini belum pernah terjadi dalam sejarah umat manusia yang dijalankan dengan tingkat yang berbeda-beda, menurut aturan di masing –masing Negara. Lebih dari 800 juta orang di lebih dari 30 negara diserukan untuk tetap tinggal di dalam rumah. Baik hal itu disebabkan keputusan karantina umum, rekomendasi atau larangan berkeliaran di luar. Masyarakat dan wilayah yang tidak terdampak di sebuah negara mesti juga melakukan karantina umum, sehingga produktivitas menurun dan menciptakan persoalan baru.

Penanganan Negara kapitalis menjadi jelas bahwa itu tidak mengatasi persoalan, tetapi akan meningkatkan kegagalan ekonomi (Coronavirus is first a health problem, second an economic one) dan kegagalan lainnya. Karena terbukti dibeberapa Negara, pertumbuhan penyakit malah berlipatganda, ditambah masalah sosial, kebosanan dan kejemuan yang menimpa masyarakat di negara kapitalis karena diberlakukan isolasi secara umum.

Sementara Islam punya solusi atas setiap persoalan, termasuk solusi Islam dalam mengatasi wabah, yakni;

1. Menelusuri penyakit dan membatasi wabah di tempat awal kemunculannya.
Tipe karantina di dalam sejarah Khilafah Islam telah mendahului semua Negara yang mengklaim sebagai Negara maju. Hal ini bertujuan agar dapat menekan penyebaran transmisi wabah/virus.

Imam al-Bukhari telah meriwayatkan di dalam Shahih-nya dari Usamah bin Zaid dari Nabi saw, beliau bersabda:
«إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا«
Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.
Dan di dalam hadits yang lain riwayat imam al-Bukhari dan Muslim dan lafazh Muslim dari Usamah bin Zaid, ia berkata: Rasul saw bersabda:
«الطَّاعُونُ رِجْزٌ أَوْ عَذَابٌ أُرْسِلَ عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَوْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا فِرَاراً مِنْهُ»
Tha’un itu azab yang dikirimkan Allah terhadap Bani Israel atau orang sebelum kalian. Maka jika kalian mendengar Tha’un menimpa suatu negeri maka jangan kalian mendatanginya dan jika Tha’un itu terjadi di negeri dan kalian ada di situ maka janganlah kalian keluar lari darinya.
Dan di dalam riwayat lainnya oleh imam al-Bukhari dari Aisyah ra. isteri Nabi saw , ia berkata: aku bertanya kepada Rasulullah saw tentang Tha’un lalu beliau memberitahuku:
«أَنَّهُ عَذَابٌ يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ وَأَنَّ اللَّهَ جَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ لَيْسَ مِنْ أَحَدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِراً مُحْتَسِباً يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يُصِيبُهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيدٍ»
“Tha’un itu merupakan azab yang Allah turunkan terhadap siapa yang Dia kehendaki, dan Allah jadikan sebagai rahmat untuk orang-orang mukmin. Maka tidak ada seorang hamba pun yang tha’un menimpa, lalu dia berdiam di negerinya seraya bersabar mengharp ridha Allah, dia tahu bahwa tidak ada yang akan menimpanya kecuali apa yang telah Allah tuliskan untuknya, kecuali untuknya semisal pahala syahid.”

Berdasarkan hal tersebut, maka negara di dalam Islam membatasi penyakit di tempatnya dan penduduk wilayah terjangkit wabah tetap tinggal di situ dan penduduk lainnya tidak diperkenankan masuk ke tempat yang terjangkit wabah.

2. Negara menjamin kebutuhan dasar rakyatnya ketika daerah yang terjangkit di Isolasi (Lockdown), Pemimpinnya mempunyai dimensi spiritualitas, sehingga rakyat tidak ditinggalkan berjibaku sendirian dalam menghadapi wabah corona, pendanaan atas pangan di backup full oleh Negara melalui kas Negara (Baitul Mal).
Ketika kas Negara mencukupi, Tidak dibenarkan rakyat ujug-ujug disuruh patungan/donasi oleh penguasanya. Tanpa disuruh oleh penguasa pun sebetulnya konsep saling membantu sudah tercakup dalam hukum syara’. Sehingga rakyat dengan sukarela didorong atas dimensi spiritual bahu membahu untuk saling membantu disaat kesulitan.

3. Negara juga menjamin pelayanan kesehatan berupa pengobatan dan obat secara gratis untuk seluruh rakyat, mendirikan rumah sakit dan laboratorium pengobatan. Penelusuran penyakit dilakukan oleh para ahli kesehatan dan didukung infrastruktur yang memadai untuk segera dilakukan penelitian atas virus wabah tersebut, sehingga didapatkan penindakan dan rekomendasi terbaik untuk pengobatan. dan aspek lainnya yang termasuk kebutuhan asasi rakyat di dalam daulah seperti halnya pendidikan dan keamanan, Negara bertanggungjawab penuh.

4. Orang-orang yang sehat tetap melanjutkan kerja mereka. Kehidupan sosial dan ekonomi tetap berlanjut sebagaimana sebelumnya ketika penyakit menular belum mewabah, tidak menghentikan kehidupan masyarakat secara umum dan mengisolasi mereka di rumah, yang akan menambah persoalan berikutnya, yakni melumpuhkan kehidupan ekonomi atau hampir lumpuh sehingga dapat menuai krisis.

5. Dalam merealisir Kebijakan-kebijakan yang Prinsip-prinsip pengaturannya didasarkan pada syariat Islam, dan ditujukan untuk kemashlahatan rakyat. Maka, Manajemen bencana meliputi penanganan pra bencana, ketika, dan sesudah bencana yang sesuai rambu - rambu Islam baru dapat terlaksana secara komprehensif oleh manajemen bencana model Khilafah Islamiyah yang tegak di atas akidah Islamiyah.







Yuk langsung tonton Live Streaming   Indonesia Berkah dengan Syariah.Jangan lupa Like, Comment, Share, and Subscribe
25/03/2020

Yuk langsung tonton Live Streaming Indonesia Berkah dengan Syariah.

Jangan lupa Like, Comment, Share, and Subscribe

Luangkan waktu untuk mengirim pesan ini hingga umat Islam bersama-sama sadar bahwa negeri ini harus diatur dengan Syariat Islam. Jika video ini bagus, silahk...

*Indonesia Lockdown Now! Berkaca Kepada Peristiwa Black Death Eropa* PP GEMA PembebasanAngka kasus Covid-19 di Indonesia...
21/03/2020

*Indonesia Lockdown Now! Berkaca Kepada Peristiwa Black Death Eropa*

PP GEMA Pembebasan

Angka kasus Covid-19 di Indonesia semakin mengalami peningkatan yang signifikan, bahkan mengalami kenaikan drastis dari hari ke hari, yakni hampir mencapai empat ratus kasus. Angka-angka ini merupakan yang terlaporkan dan terdeteksi di laboratorium. Artinya, masyarakat sendiri yang mendatangi tenaga kesehatan. Data juga mencatat Case Fatality Rate atau angka kematian akibat penyakit sebesar 8,67 persen (20/03), merupakan salah satu yang tertinggi di dunia, bahkan China hanya sebesar 4 persen.

Angka-angka penularan Covid-19 berpotensi bertambah secara eksponensial sehingga pada akhir April 2020 diprediksi menembus angka 10.000 hingga 70.000. Ironisnya, pemerintah hingga saat ini baru menghimbau masyarakatnya (social distancing) tanpa adanya tindakan yang tegas dan konkrit sebagaimana Lockdown. Menjadi pertanyaan serius, Apakah keselamatan warga benar-benar prioritas utama dari Negara saat ini? Apakah kita tidak belajar dari peristiwa BLACK DEATH yang hampir memusnahkan Eropa pada tahun 1300-an ?

Pada pertengahan abad ke-14, hampir setengah pop**asi Eropa mengalami kematian karena kasus Black Death. Nicholas Le Pen, kolumnis di Visualcapitalist.com mencatat tak kurang 200 juta orang meninggal karena wabah yang disebabkan oleh kutu pada tikus. Di Inggris pop**asi manusia berkurang dari 3,7jutamenjadi 2,2 juta akibat wabah mematikan tersebut. Di bulan Oktober 1520 ketika kapal-kapal Spanyol tiba, wabah memasuki Tenochtitlan, ibu kota bangsa Aztek yang berkapasitas 250.000 jiwa. Sepertiga penduduk Tenochtitlan tewas, tak terkecuali raja Aztek, Cuitlahuac. Begitu p**a ketika kapal Inggris pimpinan Kapten James Cook mencapai Hawaii pada Januari 1778. Sekitar 500.000 penduduk Hawaii yang tidak pernah bersentuhan dengan dunia luar harus menerima pop**asi pribumi yang masih hidup tersisa 70.000 jiwa. (Harari, 2018: 10).

Ketika Black Death menyerang, orang-orang Eropa tidak tahu bagaimana mencegah penyebaran wabah tersebut. Mereka hanya bisa berdoa massal, berharap penyakit mematikan itu berakhir. Mereka menganggap wabah pes tersebut sebagai kutukan. Akibatnya, beberapa kelompok seperti yahudi didiskriminasi hingga dibunuh karena dianggap sebagai sumber kutukan Black Death. Tidak pernah ada yang menyampaikan kepada mereka sebagaimana Rasulullah SAW menyampaikan kepada umatnya terkait antisipasi wabah menular. Kalau pun mereka mendengar sabda Rasulullah, orang-orang Eropa belum tentu meyakini dan melaksanakannya. Ditambah lagi, waktuitu, Eropa sangat jauh tertinggal oleh negeri Khilafah dari segi ilmu dan pengetahuan, terkhusus bidang kedokteran. Akibatnya, mereka pun hanya berpasrah dan system imun mereka p**alah yang menjadi benteng terakhir.

Memori kelam Black Death yang pernah melanda Eropa bisa menjadi dasar sebagian Negara Eropa melakukan Lockdown ketika wBh Covid-19 memasuki Eropa. Italia, Prancis, Irlandia, Belgia, Polandia, dan Spanyol pun menutup pintu masuk dan keluar negaranya untuk mencegah penyebaran virus corona yang semakin masif.

Bagaimana dengan Indonesia ?

Hingga saat ini, Indonesia belum menerapkan lockdown secara menyeluruh. Bahkan, Indonesia belum lama ini mengizinkan 49 WNA asal China masuk ke Indonesia (baca: Kendari, Sulawesi Tenggara). Padahal, China mencatat 1 warganya terinfeksi positif Corona setelah berkunjung dari Indonesia.Seolah-olah gayuh bersambung, per tanggal 19 Maret 2020, tercatat tiga orang terpapar virus corona di Kendari. Belum lagi minimnya informasi lokasi penderita dan informasi lokasi yang perlu dihindari masyarakat membuat banyak pihak menjadi khawatir. Bahkan, dugaan atas fasilitas medis yang tidak memadai bukan isapan jempol karena hanya sebagian kecil rumah sakit yang memiliki perangkat tes Corona.

Sejumlah ahli seperti Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit dalam Indonesia, menyarankan Indonesia dilockdown. Lockdown sendiri bukanlah hal baru. Dalam sejarah peradaban. Lockdown pernah diterapkan pada masa Khalifah Umar. Saat itu masyarakat di dalam area yang terjangkit wabahTha’un dilarang keluar dan masyarakat di area luar dilarang masuk. Selain itu, Negara Khilafah menyediakan fasilitas medis dan kesehatan bagi rakyat, bahkan secara gratis. Begitu pun, interaksi antar masyarakat saling menjaga jarak, ini yang sekarang dikenal sebagai social distancing. Dalam praktik Lockdown oleh beberapa Negara dunia, hal yang paling berbeda dari konsep Islam adalah peran negara yang begitu sentral dalam menyediakan kebutuhan masyarakatnya, terutama kebutuhan kesehatan.

Selain itu, rakyat dan Negara melaksanakan lockdown dengan ikhlas karena aktivitas tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan syariat Islam yang kedudukannya sama dengan pelaksanaan syariat lainnya.

"Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamuberada, maka jangan tinggalkan tempat itu." (HR Bukhari)

Inilah pembeda aktivitas lockdown oleh negara-negara dunia hariini,kehilangan aspek spiritual sebagai bagian dari syariat. Begitu pun jika menganalisis,penyebab utama lockdown dilakukanketika Corona mulai mewabah dan tidak terkontrol. Apakah lockdown akan diterapkan ketika korbansudah massif dan sulit terkontrol ? Na’udzubillah. Padahal, jika Islam dijadikan sebagai ideology negara, pemerintah dan rakyat menganggapnya sebagai bagian syariat yang harus segera ditunaikan dan tidak boleh ditunda-tunda, bukan menjadikan faktor ekonomi sebagai alasan menunda pelaksanaan syariat untuk lockdown.

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang beriman dan tidak (p**a) perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat, sesat yang nyata. (TQS. Al Ahzab [33]: 36)

DIALOGIKA Gema Pembebasan Malang Raya: Saatnya Mahasiswa Bersatu, Wujudkan Persatuan UmatMalang (22/12). Gerakan Mahasis...
22/12/2019

DIALOGIKA Gema Pembebasan Malang Raya: Saatnya Mahasiswa Bersatu, Wujudkan Persatuan Umat

Malang (22/12). Gerakan Mahasiswa (Gema) Pembebasan Malang Raya mengadakan DIALOGIKA (Dialog Intelektual Mahasiswa) pada Sabtu (21/12) dengan mengangkat tema "Resolusi Mahasiswa 2020: Saatnya Mahasiswa Bersatu, Wujudkan Persatuan Umat". DIALOGIKA kali ini mengundang beberapa pemateri sebagai pemantik diskusi dari berbagai pergerakan mahasiswa yang ada di Malang, di antaranya adalah Rio Candra, perwakilan Badan Koordinator Lembaga Dakwah Kampus (BKLDK) Malang, Arif Pianto, perwakilan Forum Mahasiswa Muslim Peduli Bangsa (FMM-PB) wilayah Malang, dan Khotibul Umam yang mewakili Gema Pembebasan Malang Raya.

Berbicara tentang kondisi mahasiswa, Rio (BKLDK Malang) menyatakan bahwa mahasiswa hari ini dalam kondisi memprihatinkan karena terlibat berbagai problem.

"Mahasiswa hari ini sejatinya berada pada kondisi memprihatinkan terutama pada pergaulan dan moral. Banyak problem yang terjadi di kalangan mahasiswa, mulai miras, narkoba sampai s*x bebas yang berujung pada aborsi," ungkapnya.

Adapun Arif (FMM-PB) menyinggung bahwa masalah mahasiswa hari ini adalah munculnya kesibukan lain saat ada ajakan untuk memikirkan problem bangsa.

"Mahasiswa kebanyakan ketika diajak diskusi tentang problem bangsa hari ini banyak yang mengatakan sibuk, diskusi saja sibuk apalagi aksi? Entah sibuk tugas, penelitian dan sebagainya. Padahal tidak sedikit dari mereka yang juga aktif terlibat organisasi baik intra maupun ekstra. Maka yang mengatakan sibuk ini memang benar-benar sibuk atau memang dibuat sibuk?" Tanyanya retoris.

Umam (Gema Pembebasan Malang Raya) dalam kesempatannya menyampaikan pemaparan menyayangkan sikap organisasi mahasiswa hari ini yang mirip seperti EO (Event Organizer). Menurutnya organisasi mahasiswa hanya disibukkan dengan program yang kurang signifikan untuk umat.

"Organisasi mahasiswa hari ini baik intra maupun ekstra, mereka hanya disibukkan dengan program-program dan laporan tahunan yang tidak memiliki arah dan dampak untuk umat," terangnya.

Menurutnya, organisasi mahasiswa hari yang terpenting LPJ kepengurusan beres, maka organisasi aman, nyaman dan seolah-olah urusan sudah selesai. Padahal salah satu fungsi mahasiswa adalah agent of social control.

"Maka kita harus berada di garda terdepan ketika kebijakan rezim jelas-jelas tidak berpihak kepada rakyat, bukan sibuk ngurusin proker yang udah deadline, kalo pergerakan mahasiswa seperti itu, rezim semena-mena mendzalimi rakyat, lantas kepada siapa rakyat berharap?" Paparnya.

Berbicara resolusi 2020, Rio mengatakan bahwa BKLDK pada 2020 akan terus berdakwah, mensolidkan gerak antar LDK (Lembaga Dakwah Kampus) dan bersama-sama mengopinikan Islam sebagai ajaran mulia. “Sebagai Way of Life yang harus menjadi pegangan hidup bagi mahasiswa," terangnya.

Adapun Arif menyatakan FMM-PB akan terus bergerak dan tidak akan bungkam.

"Apapun organisasimu, apapun posisimu, teruslah bergerak dan jangan diam saja. Kita adalah mahasiswa. Mahasiswa memiliki DNA pergerakan, perjuangan dan perubahan. Kalo kita hanya diam, lantas buat apa kita menjadi mahasiswa?" Tanyanya retoris.

Umam di penghujung diskusi menyatakan, "Alhamdulillah 2019 banyak pergerakan mahasiswa yang bergerak, meski kemudian tidak jelas kemana sekarang pergerakan itu, tapi kami 2020 dari Gema Pembebasan akan senantiasa bergerak melawan kedzaliman, bukan karena lapar atau tertekan, karena pergerakan ini sudah kami landasi dengan Islam sebagai ideologi yang kami emban. Maka mau tidak mau kami akan terus bergerak, bersatu melawan segala bentuk kedzaliman dan menjadikan Islam sebagai solusi atas problematika umat yang terjadi di negeri ini." Pungkasnya.

DIALOGIKA malam itu ditutup dengan kesimp**an ringkas yang disampaikan oleh moderator; bahwa Resolusi Mahasiswa 2020 adalah terus bergerak, wujudkan persatuan umat. (csh/ard)

Salam Pergerakan! ✊🏻Isu tentang peran mahasiswa di tengah hiruk pikuk permasalahan negeri selalu saja menarik untuk dipe...
19/12/2019

Salam Pergerakan! ✊🏻

Isu tentang peran mahasiswa di tengah hiruk pikuk permasalahan negeri selalu saja menarik untuk diperbincangkan. Terlebih lagi di penghujung tahun ini nampaknya kesemrawutan negeri ini semakin parah.

Solusi apalagi yang akan ditawarkan mahasiswa dengan pergerakannya???

Untuk itu, kami mengundang semua mahasiswa dan para aktivis pergerakan mahasiswa untuk hadir dan berdiskusi dalam

Dialog Intelektual Mahasiwa
(DIALOGIKA)

dengan tema
Resolusi Mahasiswa 2020, Saatnya Gerakan Mahasiswa Bersatu Wujudkan Persatuan Umat✊🏻

yang akan dilaksanakan pada:
🗓 Sabtu, 21 Desember 2019
🕖 20.00 WIB - selesai
🏪 Toeman Cafe
Jl. Joyo Tambaksari No.89, Merjosari
https://goo.gl/maps/KPzcn8XobxHAq6ny6

🧏🏻‍♂Panelis Dialog:
1. Rio Candra Purwita Putra
(Aktivis BKLDK Malang Raya)
2. Arif Pianto
(Aktivis Forum Mahasiswa Muslim Peduli Bangsa Chapter Malang)
3. Khotibul Umam
(Aktivis Gema Pembebasan Malang Raya)

Kuy merapat, mari ngopi, mari berdialog, mari berpikir, mari berdiskusi, mari beraksi dan berdedikasi😎

Nb: Bro Only 🙎🏻‍♂
Konfirmasi kehadiran 0877-6414-7782

Gerakan Mahasiswa Pembebasan Malang Raya
Bersatu, Bergerak, Tegakkan Ideologi Islam☝🏻

GELAP TANPA CAHAYAOleh : K.H. Hafidz AbdurrahmanTragedi Wamena membuka mata semua orang. Papua yang mayoritas non Muslim...
30/09/2019

GELAP TANPA CAHAYA

Oleh : K.H. Hafidz Abdurrahman

Tragedi Wamena membuka mata semua orang. Papua yang mayoritas non Muslim, dan memilih incumben, ternyata setelah incumben dinyatakan menang bukan membaik. Justru bergolak. Pembakaran dan pembantaian terjadi. Korban sudah bergelimpangan

Apakah ini karena Islam? Bukan. Apakah ini karena Khilafah? Bukan. Apakah karena HTI? Bukan. Selama ini, narasi yang dibangun menyudutkan Islam, Khilafah dan HTI. Narasi, "Jangan suriahkan Indonesia." Maka, Allah membungkam mulut culas mereka dengan Tragedi Wamena

Ketika mereka membangun narasi, "Khilafah Barbar." Sekarang Allah bungkam mulut clupar mereka dengan pembantaian demonstran yang menyarakan aspirasinya. Mana yang barbar? Bukan Khilafah, tapi Demokrasi. Setelah tragedi 22-23 Mei, dan matinya lebih dari 700 anggota KPPS. Inilah wajah Demokrasi Barbar

Ketika dimenangkan bukan membaik, justru banyak RUU bermasalah disahkan DPR dan Pemerintah

NKRI benar-benar gelap. Karena Islam, cahaya kehidupan itu, dicampakkan. Bahkan, dituduh dengan berbagai tuduhan keji dan biadab. Kini Allah bungkam mulut mereka yang kurang ajar kepada Islam, dan kurang ajar kepada Allah itu

Iya, kegelapan tengah menyelimuti negeri Muslim terbesar ini. Semoga Fajar segera terbit. Kesadaran semua pihak, hanya Islamlah cahaya penerang kegelapan negeri ini

From

24/09/2019

Untuk Apa®
Adik-adik mahasiswa yang tengah berjuang, tanpa mengurangi rasa hormat akan semangat juang yang kalian miliki, izinkan saya sedikit memberi pandangan, agar perjuangan kalian abadi hingga akhirat
Ditengah hiruk pikuk perjuangan kalian yang turun ke jalan, cobalah berhenti sejenak, lalu tanyakan pada diri kalian satu pertanyaan saja, UNTUK APA PERJUANGAN INI?
Jangan sampai perjuangan kalian justru ditunggangi nilai-nilai liberal sebagaimana poster SAHKAN RUU PKS yang ku lihat
Jangan sampai p**a perjuangan kalian kering dari nilai-nilai islam, nilai-nilai yang sejatinya abadi kekal hingga kita mati kelak
Sebagai penutup captionku ini, cermatilah hadits tentang perjuangan yang beda nilai karena beda tujuan dan niat dalam berjuang
Dari Abu Musa, ia berkata bahwa ada seseorang yang pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas ia berkata, ada seseorang yang berperang (berjihad) untuk membela sukunya (tanah airnya); ada p**a yang berperang supaya disebut pemberani (pahlawan); ada p**a yang berperang dalam rangka riya’ (cari pujian), lalu manakah yang disebut jihad di jalan Allah? Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Siapa yang berperang supaya kalimat Allah itu mulia (tinggi) itulah yang disebut jihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari no. 7458 dan Muslim no. 1904).
Dari aktivis era 2000-an yang pernah menyuarakan penerapan syariah khilafah dengan almamater kampus di depan DPR MPR dan Istana Negara |

18/09/2019

HT1®
Meski bukan penyebab hilangnya sumber daya alam negeri, pokoknya tetap salah HT1
Meski bukan penyebeb kebakaran hutan yang ngeri sekali, pokoknya tetap salah HT1
Meski bukan penyebeb hutang negara bertumpuk makin tinggi, pokoknya tetap salah HT1
Meski bukan pelaku korupsi, sekali lagi pokoknya tetap salah HT1
Oiya... untuk pak Imam Nahrawi, semoga musibah ini tak lagi membuat benci pada khilafah dan HT1, saya muslim anda muslim, mari perjuangkan syariah khilafah untuk kebaikan negeri
Saudaramu

Address

Malang

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Gema Pembebasan Malang posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share