19/08/2026
Strategi Mitigasi dan Adaptasi Hadapi Risiko Karhutla
Memasuki periode kekeringan yang lebih panjang, Indonesia menghadapi peningkatan potensi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi cuaca yang lebih kering, berkurangnya curah hujan, serta meningkatnya suhu dan kekeringan vegetasi dapat membuat hutan dan lahan semakin mudah terbakar. Karena itu, kesiapsiagaan dan langkah pencegahan menjadi kunci untuk menekan risiko karhutla.
Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan, Ir. Thomas Nifinluri, M.Sc., menjelaskan bahwa Kementerian Kehutanan terus memperkuat strategi mitigasi dan adaptasi melalui pendekatan yang lebih cepat, terintegrasi, dan berbasis data.
Salah satunya melalui pemanfaatan API (Application Programming Interface) yang memungkinkan pertukaran dan integrasi data antarsistem secara lebih cepat. Dukungan teknologi ini menjadi bagian penting dalam memperkuat pemantauan kondisi lapangan, penyampaian informasi, serta pengambilan keputusan dalam pengendalian karhutla.
Selain itu, SISDALKARHUT (Sistem Pengendalian Kebakaran Hutan) menjadi salah satu instrumen dalam mendukung pengendalian karhutla secara terpadu. Sistem ini membantu mengintegrasikan informasi dan mendukung koordinasi dalam upaya pencegahan hingga penanganan kebakaran.
Strategi mitigasi dilakukan dengan memperkuat deteksi dini, patroli dan pemantauan wilayah rawan, kesiapsiagaan personel dan sarana prasarana, serta peningkatan peran masyarakat. Sementara itu, langkah adaptasi diarahkan agar seluruh pihak mampu merespons perubahan kondisi iklim dan potensi kebakaran dengan lebih cepat dan tepat.
Karhutla bukan hanya persoalan ketika api sudah muncul. Pencegahan harus dimulai sebelum api terjadi. Dengan dukungan teknologi, data yang terintegrasi, kesiapsiagaan lapangan, serta kolaborasi pemerintah dan masyarakat, risiko karhutla dapat ditekan dan hutan Indonesia dapat terus terlindungi.