12/10/2021
Selaras dengan kebijakan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) yang mengarusutamakan (mainstreaming) kajian/riset pada setiap agenda kebijakan, maka tahap awal, akan dilakukan kajian rantai nilai komoditas talas Jepang (satoimo) (Colocasia esculenta).
Talas Jepang (satoimo) merupakan komoditas baru, dengan prospek ekonomi tinggi yang memiliki peluang pasar ekspor yang jelas dan kajiannya masih terbatas secara lokal.
Direktur NGO PINUS Sulsel, Syamsuddin Awing, dalam siaran persnya, Sabtu (9/10) mengakui, tanaman talas jepang sudah familiar di tingkat petani/kelompok tani dibeberapa daerah yang dikunjungi, namun masih membutuhkan pola pengelolaan budi daya yang lebih komprehensif.
“Masih perlu jaminan pemasaran menjadi kunci utama untuk pengembangan budi daya. Peluang pasar ekspor juga sangat terbuka peluangnya namun yang perlu dipertimbangkan yakni pasar lokal atau indstri lokal yang berbahan baku talas satoimo,” ungkapa Syamsuddin Awing.
Menurutnya, dengan dukungan program bantuan/hibah modal penanaman talas satoimo kepada petani yang meliputi 178 hektare di sepuluh kabupaten di Sulawesi Selatan sepanjang tahun 2019 dan menyiapkan industri pengolahannya secara lokal. Namun ketersediaan industri pengolahan belum menjadi solusi atas permintaan pasar.
“Oleh karena itu, Bidang Litbang Provinsi Sulawesi Selatan menginginkan adanya kajian secara komprehensif dari hulu ke hilir, guna mengidentifikasi titik lemahnya, peluang pengembangannya dalam rangka memudahkan intervensi kebijakan secara akurat,” ungkap Syamsuddin Awing.
Melalui kajian yang berkolaborasi dari unsur pemerintah, akademisi, dan NGO diharapkan mampu menemukan banyak informasi dan data terkait kendala dan tantangan baik pada sektor hulu, manufaktur, dan sektor hilir, serta peluang dan rekomendasi yang akan menjadi rujukan bersama di dalam pengembangan komoditas talas jepang ke depan.
Sumber Informasi Lengkap : https://koran.fajar.co.id/2021/10/10/bappelitbangda-sulsel-kerja-sama-pinus-riset-rantai-nilai-talas-jepang/