Indonesia Menulis

Indonesia Menulis Yang muda yang nyastra!!!

Gumading Peksi KundurLaki-laki itu datang padamu di suatu sore yang bercahaya. Musim kemarau ketika itu, terik kulminasi...
21/10/2020

Gumading Peksi Kundur

Laki-laki itu datang padamu di suatu sore yang bercahaya. Musim kemarau ketika itu, terik kulminasi matahari masih tersisa di sekitarmu. Debu tipis melekat pada reranting dan dedaunan. Saat angin menghampiri, akan kau dengar gemerisik dedaunan yang seolah membisikkan dahaganya kepadamu. Tak hendak kau abaikan bisikan itu, namun kunjungan seorang tamu di beranda rumah tentulah harus dipedulikan terlebih dahulu. Siraman air untuk mereka haruslah menunggu.

Kau letakkan canting dan meredupkan nyala api pada wajan berisi malam cair. Tanpa meneliti ulang, gerak tanganmu telah mengatur nyala sumbu kompor itu pada ukuran yang tepat. Redup yang pas untuk menghangatkan malam dengan titik api yang aman, sekedar untuk menjaganya tetap berupa lelehan tanpa akan membakar apalagi menghanguskan.

Berkepul samar malam cair warna jelaga itu saat kau beranjak. Aromanya melekatimu, menguar kentara serupa jejak pada setiap gerakmu. Kau seka peluh di dahi dengan punggung tangan sesaat sebelum langkahmu menjejak ambang pintu terbuka, menyambut sang tamu. Bergerak lembut tanganmu mempersilahkannya duduk.

“Monggo pinarak.”(1)

Mengangguk laki-laki paruh baya itu membalas salammu. Jalinan rotan pada kursi tua peninggalan orangtuamu, berderak lirih saat menerima beban tubuh sang tamu.

“Kudengar kau pembatik yang mumpuni,” begitu tamu itu mengawali niat kedatangannya. Pujian awal yang tidak membuatmu tersanjung apalagi tersipu. Perjalanan waktu telah membawamu melewati hal-hal semacam itu, tidak membuatmu terbiasa melainkan justru memberimu kemampuan mendeteksi sebagai basa-basi atau umpan tekak.

“Kabar tentang mumpuninya pembatik, acapkali menyesatkan,” katamu santun.

“Memahami batik sebagai karya, tidak serupa mengenakannya. Apa yang tampak hanyalah tampilan, yang justru kerap menjadi ukuran keindahan, sementara makna rohani yang tersirat pada coraknya justru terabaikan.”

“Kuinginkan keduanya. Elok tampilan dan indah rohaninya. Karena itulah aku datang padamu. Wujudkanlah dua keutamaan itu bagiku, maka akan kutahu apakah pilihanku padamu ini karena tersesat atau kaweruh ing panuju.” (2)

Lurus mata laki-laki itu padamu. Tidak demi menelusurimu, melainkan itulah gerak sebuah niat yang tak tergoyahkan. Seketika kau tahu bahwa kau telah terpilih untuk mewujudkan sesuatu. Seringkali langkah awal tetamu baru adalah langkah yang gamang. Beberapa di antaranya berbalik langkah membawa niat yang urung. Sebagian yang lain teryakinkan oleh wastra yang tersimpan di almarimu. Kali ini kau dapati pilihan yang tak goyah kepadamu.

Namun bukan rasa kemenangan yang mengendap di dalammu, melainkan beban yang samar. Akankah ternyatakan nanti bahwa reputasi mumpunimu bukan kabar angin belaka?

Bukan hal mudah mewujudkan keinginan. Tidak selalu tepat melakukan penafsiran dari hasrat tersirat. Perbedaan rasa keindahan selalu bisa terjadi. Ada yang bersimpang jalan untuk kemudian saling menghindar tanpa beban satu sama lain. Beberapa di antaranya memilih untuk menjadikan rasa keindahan pribadi sebagai sesuatu yang sama mutlaknya bagi orang lain. Kini, akankah karya wastramu sanggup menafsir dan memenuhi hasrat keindahan laki-laki itu dengan jitu?

“Wastra apakah yang dikehendaki?” pelan kau bertanya, melangkah awal pada penelusuran sebuah keinginan. Diperlukan kehati-hatian mengungkap pertanyaan demi menjadikannya tidak sebagai penyelidikan yang nyinyir.

“Kukasihi seorang perempuan, baginya ingin kuberikan tanda mata yang akan mengikat hatinya kepadaku.”

“Nuwun sewu, apakah berupa batik sarimbit (3) yang akan dipakai berdua?”

“Tidak,” menjawab laki-laki itu tanpa menggeleng. “Busana sarimbitku dengan yang lain.” Datar suaranya, bernada sangat biasa. Menandakan makna tersirat yang gamblang. Siapa pun mampu menafsirkan dengan persis isyarat itu.

“Kuinginkan sutera terbaik berkualitas utama, dengan serat terlembut yang pernah ada. Harga tidak masalah, berapa pun itu akan kubayar tunai, lunas kapan pun kehendakmu.”

“Maka wujudkanlah dengan sempurna wastra tanda mata itu. Temukanlah corak batik nan elok serta bermakna rohani terindah, yang niscaya sanggup mengikat hati kekasih kepadaku, tanpa hendak berpaling.”

Demikianlah laki-laki itu menitipkan hasrat pemujaannya kepadamu. Diakhirinya kunjungan sembari menaruh harapan seutuh bulan purbani kepadamu untuk mewujudkannya.

Kau bergeming dalam duduk. Tampak tenang serupa permukaan dataran air. Sementara di dalammu ada yang melepuh diam-diam. Itulah hatimu. Sebentuk hati lembut, yang seharusnya terjaga justru diguyur air mendidih pada pada suatu ketika. Didih air itu menggenangimu, melepuhkan hingga serabut saraf tersembunyi di benakmu.

Terjaga utuh dalam ingatanmu yang satu itu.

“Tak kupunya lagi kesetiaan yang utuh kepadamu,” kata suamimu pada suatu hari, “ada padaku seorang perempuan lain, yang kepadanyalah hendaknya kau berbagi hati dan keberadaanku.”

Mendidih darahmu seketika. Meluap didihan itu mengguyur hatimu lengkap dengan uap panas yang melepuhkan.

“Tak hendak aku berbagi,” begitu katamu dengan nada lurus seturut keteguhan hatimu.

“Kalau begitu, aku akan menceraikanmu,” gumam suamimu serupa ancaman.

“Kuterima talakmu,” kau mengangguk tanpa rasa gentar.

Benar kau tak gentar. Serupa burung-burung yang tak pernah kawatir pada hari esok, demikian kau jalani perceraianmu tanpa rasa gamang. Tapi luka itu tak bisa kau ingkari. Bukan karena rapuh hatimu melepuh, melainkan oleh kenyataan bahwa dirimu telah ditinggalkan. Bahwa janji yang seharusnya teguh telah diingkari.

Kini, kau menerima amanah untuk membuat wastra yang akan menjadi ‘perayu’ perempuan lain. Tanda mata yang akan menandai gerak awal terbaginya sebuah kesetiaan…..

Lama kau merenung di beranda. Mengabaikan reranting dan dedaunan yang bergemerisik mengabarkan dahaganya. Tak kau pedulikan p**a semburat matahari sore yang telah meredup dan membuat rumahmu remang tanpa cahaya.

*

Entah berapa hari kemudian¾yang kau lalui dengan perasaan gamang yang menggelisahkan¾kau temukan sebuah pilihan pola batik yang sekiranya tepat untuk tanda mata yang diinginkan laki-laki itu.

Pagi masih muda ketika itu, embun belum mengering dari dedaunan di kebun saat sebuah sarang burung tergeletak di pelataran. Kau letakkan sapu lidi, demi memungut sarang itu dan menduga-duga asal mulanya. Barangkali berasal dari pohon belimbing yang ada di dekatmu. Sarang dari jalinan reranting dan daun kering itu kosong, tak ada telur sebutir pun tertinggal. Sarang yang telah ditinggalkan.

Kau tak hendak membuang sarang itu. Kau membersihkannya dari debu dan sampah yang tak perlu, meletakkannya pada sebuah dahan dengan beberapa tangkai bulir padi. Kau berpikir barangkali burung-burung itu akan memerlukan kembali sarang darimana mereka berasal dan gabah itu akan menjadi santapan yang melegakan, sep**ang mereka dari perjalanan yang melelahkan.

Demikianlah sarang itu mengilhami sebuah corak batik. Teguh pilihanmu, tanpa gamang meski setitik cecek (4). Adalah pola buketan untuk mewujudkan rancanganmu. Setiap buketan terdiri dari seekor burung dengan sayap berlapis. Sebagai klowongan, yaitu ragam hias utama, kau tampakkan detil setiap helai sayap burung-burung itu. Seolah gerak melayang ujung sayap itu berkepak terbang. Sebagai ragam hias latar pola, terpilihlah ceplok bunga seruni yang kau posisikan serupa taman. Sengaja tak kau pilih jenis unggas, entah kupu-kupu atau capung sebagai latar hias, karena kau ingin sosok burung itu menjadi yang utama. Kau tata pola buketan itu dalam satu jajaran, seolah burung-burung itu berbaris menuju pada satu arah.

Gabah sinawur (5) untuk isen-isen (6), pengisi bidang kosong latar pola utama. Tangkai-tangkai padi itu seolah menjadi rangkaian gabah yang saling menyambung. Setiap tangkainya menampakkan bulir-bulir padi perlambang kemakmuran.

Ada ketelatenan yang tidak biasa saat kau mengerjakan wastra pesanan itu. Ketekunanmu menggoreskan canting melukis corak batik itu, tidak demi mengejar tenggat waktu semata-mata. Melainkan lebih karena kesungguhan hatimu yang menjadi penggeraknya. Lincah gerakmu, sesungguhnya karena jemari itu hanyalah perantara dari ungkapan rasa yang mengendap di benak. Sekian lapis endapan tak terungkap, yang nyaris tak tertanggungkan. Ada gelisah yang mereda, ada risau yang menjauh seiring wastra itu menuju pada tahap akhir penyelesaiannya.

*

Laki-laki itu datang menjemput tanda mata pesanannya pada sebuah pagi menjelang siang yang teduh. Pagar bambu yang membatasi kebunmu dengan jalan kampung, berderak pelan saat bergerak terbuka menandakan kedatangannya.

Kau bentangkan wastra kuning lembut sewarna gading. Melayang sesaat sutera itu tanpa suara, sebelum kemudian rebah pada sandaran kursi panjang. Kau temukan sepasang mata yang berpendar takjub. Menampakkan hasrat yang seolah meletup demi menelusuri wastra panjang itu dari ujung ke ujung.

“Lebih indah dari bayanganku semula, ternyatalah reputasi mumpunimu tidak menyesatkan.”

Kau diam, membiarkan udara tak bergerak di sekitarmu. Sama sekali tidak tergesa untuk tersanjung. Sejatinya kau menunggu laki-laki itu menyelesaikan kekagumannya.

“Alangkah tepat corak pilihanmu. Kuingat kekasihku pernah menginginkan batik bercorak burung hong.”

“Burung-burung itu sedang terbang menuju p**ang,” katamu pelan dengan nada yang sangat terjaga.

Laki-laki itu menoleh padamu.

“Gumading Peksi Kundur, (7) demikianlah kunamakan wastra ini.”

“Apa maknanya?”

“Burung-burung yang terbang menuju p**ang pada sarangnya, itulah Peksi Kundur. Akan melambangkan makna yang berbeda andai diserahkan pada dua orang yang tak sama.”

“Maksudmu?”

Kau berhenti sejenak. Seolah jeda sebelum melanjutkan sesuatu.

“Dia akan menjadi tanda mata pamit untuk mengakhiri sesuatu. Telah selesai persinggahan sang burung, dan inilah tanda mata untuk melepaskan kep**angannya menuju sarang bermulanya. Pada pihak lain, ia adalah perlambang yang menandai sebuah kep**angan dari perjalanan panjang. Entah sejauh apa perjalanan itu, namun inilah saatnya untuk menemukan kembali sarang yang ditinggalkan. Adalah gabah sinawur yang menjadi isen-isen, itulah tebaran biji padi di masa awal musim tanam, menandakan bermulanya sebuah musim baru. Demikianlah sebuah musim dimulai, dengan taburan benih untuk menumbuhkan kehidupan baru menggantikan apa yang telah terlalui.”

Lurus mata laki-laki itu padamu. Pendar takjubnya telah berubah menjadi kilauan tajam serupa kelewang terasah. Kau tak gentar, apalagi terhenti.

“Mengapa kuning?”

“Gumading, itulah warna kuning selembut gading. Dengan teknik pewarnaan batik wonogiren, warna dasarnya seolah retak, terkena rembesan warna soga. Karena serupa itulah gading, senantiasa retak. Demikian juga kehidupan, terutama kasih sayang, selalu tak sempurna. Namun selama tak patah, yang retak itu tetaplah berharga.”

Kau berhenti kemudian. Lalu menunggu. Tak ada debaran tak normal di dalammu, melainkan ketenangan yang teguh. Seteguh pilihan-pilihanmu sejauh ini.

Di hadapanmu, laki-laki itu bergeming dalam hening yang panjang. Entah sedang menjalani masa suwung, demi menelusuri ulang jejak terlalui untuk menemukan jalan kembali. Ataukah tak hendak beralih dari lorong-lorong labirin, yang setiap lekuk kelokannya menjanjikan adrenalin nan menggairahkan?

Kau tak hendak bertanya.

***

Keterangan

Monggo pinarak : silahkan duduk
Kaweruh ing panuju : memahami tujuan
Sarimbit : berpasangan, busana bercorak sama yg dipakai suami istri.
Cecek : ragam hias berupa titik-titik pada pola batik.
Gabah sinawur : taburan gabah
Isen-isen : ragam hias yg terletak di dalam latar pola batik
Gumading : kuning gading
Peksi : burung

Kundur : p**ang

Hi, Sahabat Literasi Muda! Yuk ikuti Workshop Menulis untuk Remaja dan Mahasiswa.
13/02/2020

Hi, Sahabat Literasi Muda! Yuk ikuti Workshop Menulis untuk Remaja dan Mahasiswa.

TIBA GOTHONGMeskipun aku memutuskan untuk tidak mempercayai mitos tiba gothong ¹ itu, entah kenapa hari-hariku semakin g...
25/01/2020

TIBA GOTHONG
Meskipun aku memutuskan untuk tidak mempercayai mitos tiba gothong ¹ itu, entah kenapa hari-hariku semakin gelisah. Bukan karena sehari lagi aku akan menikah dengan Mas Seno. Namun lebih karena pohon pisang yang ditanam Bu’e pada hari Sabtu Kliwon itu kini semakin menjulang tinggi. Aku takut jika harus kehilangan Bu’e.
Dulu aku masih ingat betapa Bu’e membenci pohon itu, dan betapa ia tak bisa tenang sebelum induk pohon dan anak-anaknya itu ditebang habis hingga akarnya. Namun, sekarang aku lebih sering melihat ia berdiam diri di sana dengan wajah sumringah. Rupanya kepergian Pak’e telah merubah sikap Bu’e terhadap pohon pisang di halaman rumah. Barangkali dulu Bu’e merasa cemburu dengan keberadaan pohon pisang yang begitu dekat dengan Pak’e.
Sementara saat ini mungkin Bu’e merasa bahwa pohon pisang itu adalah peninggalan Pak’e yang harus ia rawat dengan baik. Kini pohon pisang yang kian hari kian banyak bermunculan tunas-tunas baru itu telah menjadi tanaman istimewa di hati Bu’e. Barangkali melalui pohon itu ia teringat tiap langkah yang dilalui bersama Pak’e, juga tiap waktu yang ia selalu sediakan untuk Pak’e. Meskipun hatinya sudah ikhlas atas kepergian Pak’e, aku bisa merasa ia masih selalu merindukan Pak’e.
Langit sudah memerah. Matahari yang gagah nyaris muspra tertelan bumi. Aku mempercepat laju mobil. Sesekali aku mengatur napas agar tetap konsentrasi di jalan yang penuh sesak. Kabar tentang menghilangnya Bu’e hari ini sangat mengganggu konsentrasiku menyetir. Lembayung semakin pekat saat aku tiba di rumah. Kedua mataku berkeliling ke seluruh penjuru. Kosong. Ia tidak ada di mana-mana.
Di kejauhan, justru kulihat Yu Nartih lari tergopoh-gopoh mendekatiku.
“Terakhir Bu’e ada di rumah jam berapa, Yu?” tanyaku tergesa. Tidak biasanya Bu’e menghilang seperti ini.
“Seperti biasanya, Non. Sehabis ashar Ibu masih berdiri di samping pohon-pohon pisang itu. Tadi saya tinggal sebentar untuk mengangkat telepon. Saat saya kembali tiba-tiba Ibu sudah tidak ada” jawab Yu Nartih ketakutan dan merasa bersalah.
Aku tidak mungkin menyalahkan Yu Nartih begitu saja. Selama ini dengan alasan menghormati Pak’e, Bu’e memang memilih untuk membatasi diri keluar rumah selama 3 bulan. Apa mungkin Bu’e ke makam Pak’e karena kemarin ia telah menyelesaikan masa iddah? ² Tapi hari sudah terlalu sore bagi seseorang untuk mengunjungi sebuah makam. Lagip**a mana mungkin Bu’e pergi ke makam sendirian.
Tiba-tiba pintu gerbang berderit, dadaku berharap cemas jika yang masuk halaman rumah itu adalah Bu’e. Dan ternyata dugaanku benar, Bu’e akhirnya p**ang.
***
Aku tidak percaya waktu Bu’e mengatakan, pohon-pohon pisang itu besok akan ditebang. Malam ini juga Bu’e menelepon Mas Seno anak teman Bu’e. Ia meminta tolong supaya besok pagi datang ke rumah untuk membantu memusnahkan pohon-pohon pisang itu. Malam ini setidaknya aku lega, semoga besok menjadi awal yang baik bagi Bu’e untuk mengakhiri masa berkabungnya. Cepat atau lambat ia pasti bisa melupakan kepergian Pak’e.
Pagi harinya aku melihat Bu’e berkebaya enim hijau lumut bermotif kembang sepatu. Kebaya itu tampak bersinar di kulitnya yang rajin dibalur mangir. Kain sarungnya bermotif pesisir dengan kombinasi warna cerah. Aku yakin, Bu’e benar-benar telah mengakhiri masa berkabungnya. Tiga bulan yang lalu, ketika Pak’e meninggal, Bu’e memutuskan untuk mengenakan kebaya hitam setiap harinya. Pasangannya adalah sarung batik yang biasa dipakai oleh Bu’e saat menghadiri upacara kepaten. ³
Lamunanku terusik saat Mas Seno datang menyalami Bu’e yang tengah menikmati teh di beranda. Aku pun segera masuk ke ruang makan untuk menyelesaikan penataan hidangan. Setelah Mas Seno menyelesaikan permintaan Bu’e untuk membersihkan pohon-pohon pisang itu. Bu’e menyuruh Mas Seno membawaku menikmati udara luar.
“Ajaklah Mita main, No. Sampai sekarang dia tidak pernah mau diajak pria keluar. Barangkali dia menunggu kamu…”
Aku terpaksa mengikuti rencana Bu’e yang tanpa pembicaraan sebelumnya itu. Pipiku mendadak memerah manakala Mas Seno menawariku beberapa nama pantai romantis di kota ini. Mengahadapi suasana tanpa persiapan seperti ini membuatku gugup. Akhirnya segalanya kuserahkan kepada Mas Seno. Sepanjang perjalanan, aku yang lebih banyak diam. Dengan beberapa terror pertanyaan dari Mas Seno, akhirnya aku mulai mencairkan kekakuan yang terjadi
“Sudah sampai, Mit. Bagaimana kalau sebelum turun ke pantai kita menikmati es kelapa muda dulu. Setidaknya kita menunggu waktu yang pas biar tidak kepanasan,” ajak Mas Seno sambil menggamit tanganku.
Belum sempat aku menyeka keringat dingin, sebelum selesai aku menata hati yang porak-poranda, ia semakin menggenggam erat tanganku menuju pusat kuliner sekitar pantai.
“Aku ingin bicara sesuatu tentang hubungan kita”
“Hubungan kita?” Tubuhku seperti terlempar mendengar perkataan Mas Seno. Air kelapa muda yang baru kunikmati membuatku nyaris tersedak. Aku bahkan tidak bisa menggambarkan seperti apa mukaku saat ini.
“Bu’e belum cerita soal perjodohan kita? Atau karena kamu…” Mas Seno tidak melanjutkan kata-katanya. Atau karena memang dia sengaja menggantung kalimatnya agar aku mati berdiri?
“Atau karena kamu sudah punya kekasih?” lanjut Mas Seno pada akhirnya.
Entah kenapa mulutku mendadak terkunci di hadapannya. Melihat sorot mata Mas Seno yang menunggu sebuah jawaban, pada akhirnya aku hanya bisa menggelengkan kepala dengan rasa malu yang luar biasa.
***
Ketika aku dan Mas Seno kembali, mata kami dikejutkan oleh sesuatu yang tengah dibawa Bu’e. Tangan kanan Bu’e terlihat sedang memegang sekop, sementara tangan kirinya membawa satu anakan pohon pisang. Bukankah semalam Bu’e mengatakan bahwa ia akan menghancurkan semua pohon pisang itu. Rasa penasaranku memancing untuk menanyakan langsung kepada Bu’e. Namun Mas Seno memberi isyarat agar aku tidak mempermasalahkan kejadian itu. Dia takut hal itu akan membuat hati Bu’e tersinggung.
“Mit, tolong kamu lihat tanggalan di ruang tamu. Apakah hari ini hari Sabtu Kliwon?” kata Bu’e terlihat mengalihkan perhatian.
Mas Seno yang akhirnya masuk ke dalam untuk melihat kalender, karena aku enggan memenuhi permintaan itu. Setelah mendapat pembenaran dari Mas Seno, Bu’e pun membuat lubang berdekatan dengan pohon pisang yang ditebang pagi tadi. Entah kenapa Bu’e menolak saat Mas Seno berniat menanamkan pohon pisang itu. Bu’e juga terlihat bersemangat dan bahagia menanam pohon pisang itu. Setelah itu tiba-tiba hujan turun, tepat saat Bu’e menyelesaikan penanaman pohon itu.
“Kali ini biarlah pohon pisang itu tumbuh dewasa untuk Bu’e. Bu’e hanya ingin melakukan apa yang dulu telah Pak’e lakukan untuk lari dari rasa kehilangan atas kepergian Wanda. Begitu juga kini Bu’e melakukan hal yang sama untuk lari dari rasa kehilangan atas kepergian Pak’e. Hanya inilah satu-satunya cara yang paling cepat untuk lari dari rasa kehilangan orang yang kita cintai. Suatu hari kalian akan mengerti kenapa Bu’e menyisakan satu anakan pohon pisang itu” ucap Bu’e lirih, nyaris tak terdengar. Hal itu justru membuat aku dan Mas Seno semakin bertanya-tanya.
***
Suatu kali pertemuan, Mas Seno berbicara serius mengenai Bu’e. Setelah mencari informasi dari banyak sumber akhirnya ia perlahan mulai menjelaskan sesuatu.
“Mit, kamu percaya mitos?” Tanya Mas Seno membuatku terbahak. Dengan tegas aku pun menggelengkan kepala. Tidak biasanya dia bicara soal mitos. Biasanya dia akan bercerita mengenai traveling yang menjadi hobinya.
“Menurut kakek dari temanku, ada cerita mistis mengenai pohon pisang. Kamu tahu mitos tiba gothong?” Hatiku terkesiap. Karena persoalan ini menyangkut Bu’e, membuatku tertarik untuk mendengarkan kelanjutan cerita Mas Seno lebih serius.
“Seseorang dilarang menanam pohon pisang pada hari Sabtu Kliwon. Jika ada yang tetap melakukan penanaman pohon pisang di hari itu, maka ketika pohon itu sudah dewasa sang penanam akan meninggal dunia. Dan pohon pisang yang ditanamnya itu wajib ditebang untuk bantalan saat memandikan jenazahnya”
“Aku jadi teringat Pak’e, Mas” kenangku sedih.
Aku pun akhirnya menceritakan masa lalu keluarga yang aku yakini jika Mas Seno sudah mengetahui dari ibunya. Masalah itu bermula saat Mbak Wanda kakak kandungku lebih memilih melepaskan diri dari keluarga. Dia memilih ikut agama suaminya. Sejak saat itu Pak’e merasa malu dan terpukul. Pernah suatu kali ia ketahuan ingin mengakhiri hidupnya.
Entah bagaimana mulanya semenjak kejadian itu Pak’e mulai mencintai pohon pisang yang dulu sangat ia benci. Bahkan Pak’e mulai sering melamun di hadapan pohon pisang yang kian hari kian rimbun dengan tumbuhnya tunas-tunas baru itu. Pernah suatu kali Mbak Nartih memergoki Pak’e bicara dengan pohon-pohon pisang itu. Pak’e bilang supaya pohon-pohon itu segera tumbuh dewasa agar dapat digunakan sebagai bantalan mayatnya ketika dimandikan.
Apakah Pak’e menanam pohon pisang itu di hari Sabtu Kliwon? Tapi akhirnya aku memilih cuek dan masa bodoh dengan mitos tiba gothong tersebut. Bukankah jodoh dan kematian seseorang sudah ditentukan oleh Tuhan?
***
Meskipun aku memutuskan untuk tidak mempercayai mitos itu, entah kenapa hari-hariku semakin gelisah. Bukan karena sehari lagi aku akan menikah dengan Mas Seno. Namun lebih karena pohon pisang yang ditanam Bu’e pada hari Sabtu Kliwon itu kini semakin menjulang tinggi. Aku takut jika harus kehilangan Bu’e.
“Mit, sudah Bu’e persiapkan sejak lama. Pakailah kebaya ini besok saat kamu resepsi. Ini adalah kebaya Bu’e yang diberikan oleh Pak’e. Tenang saja, kebaya ini sudah Bu’e modifikasi sesuai zaman sekarang” Bu’e mengusik lamunanku. Aku dengan cepat menyembunyikan air mata yang keluar. Aku pun memeluk Bu’e dengan perasaan sangat emosional. Tidak terasa, mulai besok aku sudah menjadi milik Mas Seno seutuhnya.
***
Waktu begitu cepat. Aku dan Mas Seno akhirnya resmi menikah. Setelah selesai resepsi, tiba-tiba hujan lebat datang. Kami pun bersyukur karena menurut para tamu hujan akan menjadi pertanda yang baik. Hujan melambangkan kemakmuran dan kebahagiaan sang pengantin. Namun yang terjadi justru sebalikanya. Hujan itu ternyata membuat pohon pisang yang Bu’e tanam ambruk. Entah kenapa pada saat yang sama Bu’e jatuh dari kamar mandi.
Kami ingin segera membawa Bu’e ke rumah sakit, namun dengan keras Bu’e menolaknya. Tuhan punya rencana lain. Senja itu Bu’e pergi untuk selama-lamanya. Terkadang kenyataan membuat kita harus meyakini adanya mitos. ■
CATATAN
¹ mitos tiba gothong adalah mitos kepercayaan masyarakat Jawa tentang larangan menanam pohon pisang dan pohon bambu di hari Sabtu Kliwon.
² masa iddah adalah waktu yang diperlukan untuk menunggu bagi wanita yang ditinggal oleh suaminya baik karena perceraian maupun meninggal dunia.
³ upacara kepaten adalah upacara kematian

BIOGRAFI PENULIS
R. MASYAHID adalah nama pena dari Sahidunzuhri. Mahasiswa Manajemen Universitas Negeri Yogyakarta (2014). Karyanya berupa cerita pendek, essai, dan artikel telah dimuat di media lokal maupun nasional. Cerpen Tiba Gothong ini masuk nominasi sepuluh besar lomba menulis cerita pendek Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (2016) Saat ini penulis tinggal di Jakarta.

Jejak Hati di TobeloMenembus malam yang bergelayut hujan ditemani gedung-gedung angkuh berdiri menantang di rimba Jakart...
05/01/2020

Jejak Hati di Tobelo
Menembus malam yang bergelayut hujan ditemani gedung-gedung angkuh berdiri menantang di rimba Jakarta, sebelum akhirnya menginjak bandar udara internasional ini. Penerbangan tengah malam ini akan berlangsung selama tujuh jam, dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Sultan Baabulah, Ternate.

Gerimis masih membasahi tanah Ternate ketika aku kembali berlabuh di bumi cengkih ini. Lelah dan penat setelah menembus perjalanan malam belum berakhir, karena aku masih harus menyambung perjalanan darat menuju pelabuhan Ternate sebelum akhirnya menyeberang laut ke Pulau Halmahera dengan kapal cepat menuju pelabuhan Tobelo, Sofifi yang menggantikan pelabuhan kecil Sidangoli.

Mendung menggantung menggantikan gerimis, aku beranjak masuk ke sebuah hotel sederhana, atau penginapan kecil tepatnya. Dulu aku selalu mampir ke tempat ini sebelum melanjutkan perjalanan ke Desa Gorua di Tobelo. Dulu masih ada Hety yang menyapaku, anak pemilik penginapan ini dan melayani semua kebutuhanku selama berada di Ternate. Tapi setelah beberapa masa aku tinggalkan kota ini dan tanpa pemberitahuan kedatanganku kali ini, aku tidak berharap banyak Hety masih ada di kota ini, setidaknya mengenaliku.

“Ibu Ava!” Perempuan di hadapanku terkejut dan tak berkutik, seperti baru saja melihat hantu di siang hari. Tak perlu ada kata yang diucapkan, tak perlu ada basa-basi yang dilontarkan. Kami saling peluk untuk beberapa saat. Begitu banyak cerita, begitu banyak kenangan yang akan kami ulang.
Hety melarangku melanjutkan perjalanan ke pelabuhan Sofifi siang itu karena gelombang besar masih mengamuk di lautan. Ah, seperti mengulang masa sepuluh tahun lalu. Meski ada sedikit kelegaan di hatiku karena aku bisa beristirahat sambil memulihkan tulang-tulangku yang kurasa hampir remuk, namun kegelisahan pun melanda karena aku menunda kembali pertemuanku dengan Kev.

Sepuluh tahun yang lalu...
Bandar Udara Sultan Baabulah, Ternate. 13.50.
Gerimis membasahi tanah Ternate, aku menginjakkan kaki kembali di bumi cengkih ini untuk yang kedua kali. Namun, aku tidak dapat melanjutkan perjalanan ke Tobelo karena gelombang laut yang tinggi dan hujan bulan ini memang tidak bisa diprediksi. Badan Meteorologi dan Geofisika pun masih sangat hati-hati untuk memutuskan apakah badai yang melanda Australia akan menghantam p**au-p**au di Indonesia, belum lagi masalah pemanasan global yang meningkat hampir lima puluh persen selama sepuluh tahun belakangan ini. Kupaksakan mataku untuk istirahat karena esok aku masih harus menembus ganasnya gelombang laut Ternate-Sidangoli. Apalagi aku masih harus mampir ke Kao untuk memeriksa persediaan obat-obatan yang mulai menipis dan mengontak Jakarta untuk mengirim stok baru.

Sidangoli–Kao memerlukan waktu sekitar dua setengah jam perjalanan dengan mobil, melewati perbukitan, pohon-pohon sepanjang jalan yang masih perawan, serta kompleks pemakaman sisa-sisa sejarah kelam konflik berdarah, dan tentunya p**a tidak ada sinyal ponsel, sampai akhirnya berlabuh di kota kecil Tobelo. Kota yang sempat porak-poranda beberapa tahun lalu akibat konflik horizontal. Kota penghasil kopra, cokelat, dan hasil laut ini begitu kecil di dalam peta, mungkin aku tidak akan tahu bahwa aku punya saudara setanah air di ujung Indonesia ini seandainya konflik agama tidak melanda kota ini.

Peristiwa kemanusiaan yang paling menyedihkan untuk negeri ini, sebuah kota begitu tiba-tiba sangat terkenal karena melahirkan perang saudara bukan karena hasil buminya.
Tobelo. Sebuah kota di Maluku Utara, tepatnya Halmahera Utara yang hampir pernah menjadi kota mati tercabik-cabik perang saudara karena sentimen agama. Kota kecil ini dibangunkan dengan gelegar isu agama dan menyisakan kebencian meradang dan dendam yang kian lama menjadi laten.

Dan Kev, laki-laki asal Tobelo yang sudah dua tahun bekerja pada lembaga Peace Education di Tobelo, menyeruak lagi di hatiku. Aku rindu padanya untuk berbagi ilmu tentang perjuangan kemanusian dan keberpihakannya pada pendidikan masyarakat desa. Terakhir pertemuanku dengannya sekitar dua bulan yang lalu ketika aku, Dokter Ava, berada di Pulau Halmahera untuk memetakan desa-desa terpencil yang memerlukan peningkatan kesehatan dan bantuan obat-obatan.

***

“Tobelo?” suara serak Rino memulai perdebatan panjangku dengannya. Ya, Tobelo kota berikutnya yang akan aku singgahi setelah sebelumnya tiga minggu di Wamena, dan pedalaman Papua, Kecamatan Tiom dan Pirime di Pegunungan Jayawijaya. Tiga minggu tanpa kabar, tiga minggu tanpa SMS, tiga minggu cukup membuat kulitku berubah hitam legam karena kondisi pegunungan yang sangat dingin di siang hari yang panas terik.
Aku tahu, Rino akan menghela napas berulang-ulang untuk menerima keputusanku pergi ke Tobelo. Rino, kekasih yang dua tahun ini masih setia mengerti kegilaanku menembus hutan belantara dan desa terpencil untuk menunaikan tugas kemanusiaan.

“Tapi kamu baru dari Papua, ‘kan? Sebulan yang lalu kamu di Sanggau!” Keberatan yang dilontarkannya cukup jelas tanpa kata ‘tidak boleh’. Selalu begini tiap kali aku memberi tahu tugas kedokteranku kepadanya. Aku bisa maklum. Berapa banyak, sih, laki-laki di dunia ini yang rela membiarkan kekasihnya bertualang ke pedalaman yang terkadang harus dibayar dengan taruhan nyawa. Apalagi, gaji yang diterima tidak seberapa.

“Aku enggak tega melihat kamu harus melintasi laut dengan gelombang yang ganas, belum lagi perjalananmu ditemani tebing-tebing dan hutan.” Aku bisa maklum juga ketakutannya, karena Rino tidak pernah pergi ke bekas daerah-daerah konflik. Tapi, ini keputusanku. Hasil rapat kantor menawariku untuk tinggal di Tobelo selama satu tahun mengikuti program kesehatan masyarakat. Aku menerimanya dengan konsekuensi yang cukup mahal bagi masa depanku.

Aku, Dokter Ava, memilih bekerja di kantor lembaga swadaya masyarakat yang selalu mengirim relawannya ke daerah rawan konflik daripada membuka praktik sendiri.
“Aku sangat mendukungmu, Va. Berhati-hatilah selalu. Semoga kau menemukan kebahagiaan yang kau inginkan.”

Di sinilah aku. Menanti hari berganti menuju kota kecil di bagian utara Halmahera. Aku pun tidak memaksakan Rino untuk menungguku, aku tidak ingin Rino tersiksa sepanjang waktu memikirkan keselamatanku. Aku tidak meminta Rino untuk memahami kecintaanku pada tugas kemanusiaan ini. Aku yakin, di hatinya yang terdalam dia sangat memahami kegilaanku. Dan dia pun hanya manusia yang membutuhkan seseorang yang selalu berada di sisinya tiap saat. Kulepas Rino dengan kebulatan tekadku menuju Tobelo.

“Selamat datang lagi di Tobelo, Bu Dokter,” sambut staf lokal yang bertugas.
Seperti dua bulan yang lalu, kantor pusat menyediakan rumah yang disewakan untuk para dokter yang dikirim. Sebuah rumah kecil, sekitar dua ratus meter dari pantai Tanjung Pilawang dengan lima kamar untuk dua laki-laki dan tiga perempuan, termasuk aku. Dua kawan perempuan lain, Dani, seorang akuntan, dan Ranca bertugas di program pendampingan anak. Mereka berdua juga ditugaskan dari kantor pusat kami di Jakarta. Kami sudah memiliki tugas masing-masing dan tentunya kami tidak bisa bersama-sama sepanjang hari.

Aku serta para relawan lokal, termasuk Kev yang direkrut lembaga ini, biasanya pergi ke desa-desa terpencil, seperti Gamsungi, Sosol, Bobawa hingga desa-desa di pinggiran pantai seperti Tutumaleo, Maloleo, dan Saluta yang hanya bisa dilalui dengan perahu. Program Kev di Peace Education adalah membagi-bagikan majalah yang diterbitkan oleh lembaga ini ke sekolah-sekolah serta pertemuan-pertemuan guru. Sedangkan aku, pastinya memeriksa kesehatan anak-anak. Kadang-kadang kami harus pergi dengan perahu hingga ke Bere-bere di ujung Pulau Morotai. Gelombang yang tidak dapat diprediksi membuat kami harus siap menghadapi kemungkinan yang terburuk sekalipun. Mengapa aku melakukan pekerjaan ini? Demi kepuasan batin ataukah demi pencarian jawaban atas diri Kev?

Aku merindukan laki-laki ini setelah aku kembali ke Jakarta. Memang baru sebulan aku mengenalnya dan hanya sekelumit kisah tentang dirinya bergulir: cincin emas yang melingkar di jari manis kirinya mengatakan dia sudah bertunangan, selebihnya bahwa dia mengizinkan Dea, tunangannya, melanjutkan kuliahnya di Yogya dan ia menunggunya di Tobelo. Sudah hampir dua tahun dia tidak bertemu tunangannya, bahwa foto perempuan itu menghiasi laptop yang dibawa ke mana pun dia pergi, dan bahwa aku tidak boleh bermain-main dengan kisah kasih terlarang.

Kev, pria tinggi, sedikit pendiam, agak gemuk, dengan suara berat, kadang-kadang hanya tersenyum bila diajak bercanda oleh teman-teman, tidak mudah tersinggung dan hanya kadang-kadang membalas candaan mereka. Dori, teman kami menggambarkan, Kev cenderung tertutup tentang masalah pribadi, namun bila ada yang mengajak curhat tentang apa saja, dia tidak keberatan.

“Kalau Dea ada di posisimu, dia pasti akan melakukan hal yang sama denganmu,” katanya siang itu di air terjun Popilo, dua minggu setelah keberadaanku di Tobelo.
Dan siang itu, kami beramai-ramai sedang melepas kebosanan rutinitas kerja. Ada banyak yang dapat dilihat di Tobelo. Selain air terjun kecil Popilo yang sering kami jadikan tempat rekreasi alternatif, ada juga pantai di Pulau Tagalaya, tempat kami bisa menangkap ikan, langsung membakar dan memakannya. Atau menyeberang sepuluh menit ke Pulau Kumo, untuk menikmati segarnya air kelapa yang langsung dipetik dari pohonnya.

Melancong ke Pulau Morotai, berbelanja besi putih yang diambil dari bekas-bekas pesawat terbang sekutu yang dulu ditinggalkan, juga mengasyikkan. Atau pergi ke Teluk Kao, menikmati pemandangan peninggalan kapal perang sekutu yang ditenggelamkan oleh pesawat terbang Amerika, yang sebagian besar terdampar di pantai dan ada beberapa bekas haluan kapal masih terlihat di Teluk Kao. Jika ada yang ingin memancing, kami biasa pergi ke Telaga Paca di Desa Paca. Naik perahu dan menangkap ikan cakalang di tengah laut Halmahera pun menjadi aktivitas yang menyenangkan.
Dan siang itu aku mencoba mengakrabkan diri dengan Kev, mencoba untuk melepaskan masalahku.
“Maksudmu? Meninggalkanmu?”
“Bukan meninggalkan, tapi memutuskan untuk menjalankan tugas kemanusiaan.”
“Kau bisa terima itu?”
“Dia bisa lebih gila dari kamu kalau dia diberi kesempatan yang sama. Mungkin Rino-mu takut kehilanganmu sebab takdir lain. Tapi, hebat juga kamu sanggup meninggalkannya. Sisi kemanusiaanmu patut diacungi jempol! Semoga masih banyak dokter di negeri ini yang masih punya rasa kemanusiaan. Itulah risiko perjuangan,” pujinya.
Dua bulan bersamanya masih saja aku belum merasa cukup untuk mengenalnya. Kev memperlakukan teman-teman perempuannya dengan kadar yang sama. Kadang-kadang dia rela menunggui Dani potong rambut di salon selama dua jam atau mengantar Ranca menyeberangi laut untuk membeli durian. Kadang-kadang menemani aku ke Galela untuk bertemu bidan-bidan yang praktik di sana dan memberikan penyuluhan. Ada sesuatu dalam dirinya yang belum bisa aku ungkap.

Hingga kabar itu datang dari mulutnya sendiri,
“Bulan depan aku selesai, menjemput Dea di Jawa, mungkin menikah dan meneruskan usaha ayahku di perkebunan kelapa. Kontrak kerjaku juga sudah selesai dan tidak diperpanjang. Ada pengganti dari Jakarta yang akan menggantikan posisiku di sini.”
Aku akan merindukan laki-laki ini.

“Sebenarnya masih banyak tugas yang belum selesai di sini. Pendidikan penduduk yang masih rendah akan mudah tersulut jika ada isu yang tidak bertanggung jawab. Ekonomi masyarakatnya seharusnya bisa lebih diaktifkan. Masih banyak pemilik perkebunan kelapa yang belum bisa mengolah kelapa-kelapa itu menjadi aset ekonomi, pemilik perkebunan durian juga sama saja. Semestinya, kota ini bisa jadi penghasil selai durian terbesar atau keripik pisang yang enak. Seharusnya Peace Education mau membuka program baru untuk peningkatan ekonomi di kota ini. Masyarakat angkatan mudanya masih sangat konsumtif terhadap hal-hal yang tidak penting. Coba lihat ketika pertama kali jaringan telepon seluler merambah kota ini. Tiba-tiba begitu menjamurnya toko-toko yang menawarkan voucher dan model ponsel terbaru dibanding membuka perpustakaan keliling.”

Ya, aku baru sadar bahwa sisi yang selama ini kucari adalah rasa rendah hati dan kepeduliannya yang tinggi pada kemanusiaan. Begitu banyak pemikirannya yang belum terwujud untuk masyarakat kota ini. Mengapa aku baru menemukan sosok ini dua bulan yang lalu?
Ketika kutanyakan mengapa dia berhenti jika merasa pekerjaannya belum tuntas, dia pun berujar, “Harus ada regenerasi. Harus banyak pencinta kemanusiaan membagi ilmunya untuk kota ini. Masih banyak tugas kemanusiaan yang belum selesai. Kuharap masih ada orang yang ingin menjadi manusia.”
Aku merindukan laki-laki ini berbicara panjang lebar tentang tugas sebagai manusia.

Saat ini…
Aku berdiri kaku di bawah pohon tua yang menghitam. Tak ada yang tersisa. Pusaranya mulai rusak oleh rayap. Tak ada perbaikan untuk peristirahatan terakhirnya. Mengapa orang yang begitu cerdas selalu harus pergi begitu cepat?

Sejak sepuluh tahun yang lalu, aku mulai mencintainya hingga detik ini, meski tak ada jalan bagiku untuk merengkuhnya. Dia begitu jauh dan harus sudah terlupakan, hingga beberapa minggu ke belakang tiba-tiba aku mengingatnya kembali.

Program kami sudah selesai beberapa tahun yang lalu. Tak ada kabar tentang Kev dan teman-teman Tobelo lain. Kemudian bahwa Kev tidak jadi menikah dengan Dea, bahwa Kev pergi meninggalkan Tobelo untuk waktu yang lama, bahwa Kev menungguku kembali ke Tobelo, kuketahui dari Hety dan Joseph, mantan relawan lain.

Kusibak rumput alang-alang yang mulai menutupi gundukan tanah yang menghitam. Kev Ray Ray, namanya tertulis pada nisan yang mulai melapuk. Parasit plasmodium telah berkembang biak dalam organ hati dan menginfeksi sel darah merahnya selama bertahun-tahun. Malaria pun merenggut jiwanya, dan jejak itu telah punah. Selamat tinggal, Terkasih. Maaf, aku datang terlambat.(f)

*****************
Lovie Lenny Gunansyah
(FEMINA)

Address

Magelang
56553

Telephone

+6282137652754

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Indonesia Menulis posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Indonesia Menulis:

Share

Category