Badan Kebudayaan Nasional - BKN Lumajang

Badan Kebudayaan Nasional - BKN Lumajang Badan Kebudayaan PDI Perjuangan Kabupaten Lumajang

Bagaimana tindak lanjut terkait pertambangan di lumajang? Bagaimana isu terkait penambangan batu yang dikatakan ilegal i...
29/06/2021

Bagaimana tindak lanjut terkait pertambangan di lumajang? Bagaimana isu terkait penambangan batu yang dikatakan ilegal ini?
Adakah tindak lanjut dari pemerintah kabupaten lumajang maupun aparat penegak hukum lainnya?

Jangan lupa saksikan "Njagong Lumajang" diskusi panas terkait pertambangan di lumajang minggu ini di awal bulan Juli 2021

Dengan Tema :
"Penambang Tradisional Dikekang, Penggilingan Batu Melenggang???"

Jumat, 02 Juli 2021
Pukul : 19.30 WIB
Live Streaming di FB Akun Fanpage
Badan Kebudayaan Nasional - BKN Lumajang

Host
(Kepala BKN Lumajang)


Halal bihalal di DPC PDIP LUMAJANGDihadiri bapak DPR RI
19/05/2021

Halal bihalal di DPC PDIP LUMAJANG
Dihadiri bapak DPR RI

Di Asian Games 2018, nomor ganda beregu putra dan quadrant putra ditambahkan. Indonesia kemudian mendapat medali emas di...
04/09/2020

Di Asian Games 2018, nomor ganda beregu putra dan quadrant putra ditambahkan. Indonesia kemudian mendapat medali emas di Quadrant putra dengan mengalahkan Jepang dan kebetulan Kapten regu tim Indonesia adalah Saiful Rizal berasal dari Kabupaten Lumajang.

Kabupaten Lumajang sendiri dikenal sebagai salah satu lumbung atlit Sepak Takraw. Sejak awal tahun 1980-an tim Sepak Takraw di Lumajang sudah disegani. Saat itu ada nama Agus dan Siyarno (sampai saat ini masih aktif melatih) yang berasal dari Desa Karangsari Kecamatan Sukodono. Sepak Takraw kemudian tumbuh dimana-mana dan berdiri banyak klub seperti di Kecamatan Randu Agung, Tempeh dan Klakah dengan kompetisi yang tumbuh subur. Kemudian di awal tahun 1980-an dunia Sepak Takraw Lumajang mati suri dan namun bangkit lagi di pertengahan tahun 1990-an yang kemudian muncul nama-nama seperti Abdul Aziz dan Heri. Pada tahun 2000-an ada nama Aman Samboja mewarnai dunia olah raga ini yang kemudian mulai tumbuh dengan cepat di Kecamatan Pronojiwo. Pada awal tahun 2000-an muncul klub-klub Sepak Takraw terkenal seperti Walet Putih dari Kecamatan Pronojiwo ada nama trio yang sangat disegani seperti Jhon Ripin, Yudi dan Taufik Hidayat, Petras di Kecamatan Tempeh dengan nama-nama seperti Muhammad Hayul (pindah ke Klub Armada Bangkit), Rudi (pindah ke Klub Armada Bangkit) dan Nur Kholis, Disamping itu ada klub-klub yang juga saling bersaing seperti Jago Putra dari Kecamatan Pasirian maupun Arsem dari Kecamatan Pasru.

Namun olah raga rakyat ini seolah datang dan pergi. Ketika prestasi puncak didapatkan oleh Saiful Rizal yang merupakan putra daerah Pronojiwo, kompetisi Sepak Takraw sendiri sedang timbul tenggelam. Nah, bagaimana perkembangan olah raga asli Nusantara yang telah mengharumkan nama Kabupaten Lumajang ini ke depannya?.

RAKYAT VERSUS PT LUIS DI PESISIR LUMAJANGPasca kisruh Salim Kancil pada 27 September 2015. Pesisir selatan  sering digun...
28/08/2020

RAKYAT VERSUS PT LUIS DI PESISIR LUMAJANG

Pasca kisruh Salim Kancil pada 27 September 2015. Pesisir selatan sering digunakan dalam aktifitas lingkungan oleh berbagai kalangan seperti para aktifis masyarakat di Wotgalih, Gerakan Masyarakat Pesisir (GEMPAR) maupun Laskar Samudra. Dalam perkembangannya berbagai elemen masyarakat kemudian menginginkan pariwisata untuk memulihkan alam yang rusak maupun adanya geliat ekonomi yang berkelanjutan.

Pada sekitar tahun 2017 muncul PT Lautan Udang Indonesia Sejahtera (PT LUIS) yang bergerak dalam usaha tambak udang. Pada awal kemunculannya, perusahaan tersebut berjalan dengan lancar tanpa ada permasalahan dengan masyarakat sekitarnya.

Aktifitas pemulihan lingkungan dengan adanya tanaman cemara berjalan normal dan bahkan menarik minat wisata bagi masyarakat Lumajang dengan adanya “Wisata Cemoro Sewu” yang sangat fantastik dan menjadi idola baru. Demikian juga dunia pertanian yang dikelola masyarakat berjalan seperti biasa.

Pada akhir 2019 mulai ramai di beritakan di media massa setelah kunjungan Bupati Lumajang di wilayah Desa Selok Awar Awar dan kemudian semakin pro dan kontra setelah kunjungan kedua sampai berujung ke ranah Kepolisian Jawa Timur.

Pada akhir 2019 mulai ramai di beritakan di media massa setelah kunjungan Bupati Lumajang di wilayah Desa Selok Awar Awar dan kemudian semakin pro dan kontra setelah kunjungan kedua sampai berujung ke ranah Kepolisian Jawa Timur.

Pada Rabu 19 Agustus 2020 ratusan masyarakat mendatangi kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Lumajang minta pencabutan Hak Guna Usaha (HGU) PT LUIS , namun selang sehari kemudian muncul pernyataan pro dan kontra di kalangan pendemo. Apa dan bagaimana sebenarnya yang terjadi di pesisir selatan?...

Untuk lebih lengkapnya saksikan diskusi di “Njagong Lumajang”.






Memasuki musim kemarau di Kab. Lumajang banyak beberapa daerah yang mengalami kekeringan, sehingga kami dari Njagong Lum...
20/08/2020

Memasuki musim kemarau di Kab. Lumajang banyak beberapa daerah yang mengalami kekeringan, sehingga kami dari Njagong Lumajang mencoba mengangkat situasi ini dalam dialog diskusi untuk mencari solusi dengan pihak pihak terkait. Untuk lebih lengkapnya.
Saksikan Njagong Lumajang dengan Tema "Krisis Air Bersih di Lumajang"
Hari Jum'at, 21 Agustus 2020 live langsung di FB Njagong Lumajang








Keluarga Besar BKN Cabang PDI Perjuangan Lumajang mengucapkan Selamat atas Penganugerahan Tanda Jasa Medali Pelopor kepa...
15/08/2020

Keluarga Besar BKN Cabang PDI Perjuangan Lumajang mengucapkan Selamat atas Penganugerahan Tanda Jasa Medali Pelopor kepada Ibu .soekarnoputri Presiden Ke 5 Republik Indonesia dan Ketua Umum PDI Perjuangan.
Merdeka !!!

Njagong Lumajang Tema Sekolah Daring " Sudahkah Menjangkau Kita Semua ?"Kami ucapkan terimakasih kepada seluruh Narasumb...
14/08/2020

Njagong Lumajang
Tema Sekolah Daring " Sudahkah Menjangkau Kita Semua ?"

Kami ucapkan terimakasih kepada seluruh Narasumber, antara lain :
1. Drs. KH. Muhammad Fahrur Rozi, M.HI (Kementrian Agama Depag Lumajang)
2. Iskandar Syaifudin, S.Psi, S.Pd, M.M (Cabang Lumajang Dinas Pendidikan Prov. Jatim)
3. Dr. HK. Luluk Masluhah, S.HI, M.Pdi (Dosen Universitas Islam Jember/ Praktisi Pendidikan)
4. H. Bukasan, S. Pd, M.Pd (Wakil Ketua DPRD Lumajang)
5. Drs. Yudha Siswanto, M.Pd (Pengawas SMP)

Moderator :
MC :

Serta kami ucapkan kepada seluruh Kru Njagong Lumajang yang telah dengan Ikhlas bekerja kerja dan loyalitas yang luar biasa totalitas tanpa batas.

Merdeka !!!





Adaptasi Dunia Seni Menghadapi Pandemi Covid 19Industri seni pertunjukan Indonesia mengalami guncangan hebat akibat damp...
05/08/2020

Adaptasi Dunia Seni Menghadapi Pandemi Covid 19

Industri seni pertunjukan Indonesia mengalami guncangan hebat akibat dampak global pandemi corona. Tercatat sekitar 40.081 seniman tergerus Covid-19 akibat pembatalan pertunjukan dan festival seni. Daerah-daerah episentrum pekerja seni mayoritas didominasi Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Koalisi Seni pada 25 Maret 2020 menyebutkan jumlah acara seni yang dibatalkan atau ditunda akibat efek Corona di Indonesia cukup signifikan.

Di seluruh daerah di Tanah Air ada 10 proses produksi dan rilis film tertunda, begitu p**a 40 konser, tur, dan festival musik; delapan pameran pada museum seni rupa; tiga pertunjukan tari; serta sembilan pentas teater, pantomim, dan boneka. Nampaknya data tersebut akan terus bertambah hingga waktu yang tidak dapat dipastikan. Dengan sebaran data tersebut, potensi kehilangan dapat diprediksi menyentuh angka puluhan dan bahkan ratusan miliaran rupiah. Kehilangan di sini termasuk mata pencaharian maupun karier.

Setelah berlangsung 3 bulan lamanya ternyata pandemi Covid 19 ini bisa dikendalikan namun tak kunjung mereda, oleh karenanya pemerintah Republik Indonesia kemudian menggagas suatu kebijakan baru yaitu “New Normal” atau yang kemudian di perbarui istilahnya menjadi “Adaptasi Kebiasaan Baru” yang kemudian melandasi berbagai kebijakan pemerintah untuk melonggarkan berbagai pengetatan aktifitas sosial kemasyarakatan dengan tetap menggunakan protokol kesehatan yang ketat.

Komando pemerintahan pusat ini kemudian diterjemahkan oleh berbagai jajaran pemerintahan di bawahnya seperti yang dilaksanakan oleh pemerintah Kabupaten Lumajang yang mengeluarkan Peraturan Bupati No.31 Tahun 2020 tentang Pedoman Kegiatan Kemasyarakatan pada Kondisi Pandemi Covid 19. Peraturan ini juga memberikan kelonggaran tentang kegiatan kemasyarakatan, seperti kegiatan keagamaan, seni, budaya dan olahraga.

Oleh karena itu beberapa waktu belakangan sudah nampak berbagai aktifitas kemasyarakatan meskipun tetap dengan protokol kesehatan yang ketat. Namun demikian dikarenakan Kabupaten Lumajang masih belum sepenuhnya terbebas dari pandemi Corona maka berbagai persyaratan mesti penuhi termasuk dari segi perizinan yang di sesuaikan dengan keadaan wilayah masing-masing.



Gerakan Pro DemokrasiMelawan Rezim Orde Baru:Tragedi 27 Juli 1996P***a 1965 nasib Partai Na''sional Indonesia (PNI) part...
22/07/2020

Gerakan Pro DemokrasiMelawan Rezim Orde Baru:
Tragedi 27 Juli 1996

P***a 1965 nasib Partai Na''sional Indonesia (PNI) partai terbesar yang merupakan pemenang Pemilu tahun 1955 nasibnya serba tidak jelas. Partai yang dipimpin oleh Ali Sastroamijoyo dan Surahman tersebut menjadi pendukung B**g Karno dalam berbagai kebijakannya yang bersifat revolusioner tersebut kemudian terpecah dengan muncul kepemimpinan Osa Maliki dan Usep Raniwijaya yang didukung oleh rezim Orde Baru yang kemudian merebut kepemimpinan partai dalam Kongres Persatuan tahun 1966. Setelah memimpin selama 3 tahun, Osa Maliki kemudian meninggal dunia pada September 1966 dan kepemimpinan Partai jatuh ke tangan Hadisubeno. Pada masa Hadisubeno ini Partai Nasional Indonesia (PNI) menghadapi Pemilihan Umum 1971 dan sebagai Ketua Partai ia kemudian berusaha mengembalikan suara partai dengan mengingatkan para pendukungnya untuk semakin mencintai sosok B**g Karno. Namun kampanye Hadisubeno ini tidak bisa diteruskan karena ia meninggal pada bulan April 1971 sebeum Pemilihan Umum dilaksanakan pada bulan Juli tahun 1971.

MH Isnaeni yang menggantikan Hadisubeno dan memimpin Partai Nasional Indonesia (PNI) guna menghadapi Pemilihan Umum 1971 menghadapi persaingan dari kelompok baru bernama Golongan Karya yang di desain rezim Orde Baru untuk menang. Berbagai kebijakan dilakukan mulai dari adanya mono loyalitas kepada Golkar dengan Inpres No. 6 tahun 1970. Regulasi tersebut menyatakan, pegawai negeri hanya menyalurkan aspirasi politik melalui Golkar. Demikian juga kekuatan militer saat itu berada untuk mem-back up kemenangan Golkar. Akhirnya dalam Pemilu 1971 Golkar menjadi peringkat pertama dengan 62,8 persen suara (236 kursi DPR), Nahdlatul Ulama (NU) dengan 18,6 persen suara (58 kursi) dan Parmusi dengan 5,3 persen suara (24 kursi) dan Partai Nasional Indonesia sebagai pemenang Pemilu tahun 1955 berada di urutan keempat dengan memperoleh 20 kursi (6,9%).

Dalam Menghadapi Pemilu 1977 pemerintah rezim Orde Baru kemudian melakukan penyederhanaan Partai menjadi kelompok yaitu kelompok agama yang difusikan menjadi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada 5 Januari 1953 dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yang merupakan fusi 4 partai yaitu Partai Nasional Indonesia (PNI), Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI), Partai Katolik, Partai Kristen Indonesia (Parkindo) dan Partai Murba. Kepemimpinan MH Isnaeni sendiri tidak berlangsung lama karena adanya persaingan dengan Sunawar Sukowati maka Rezim Orde Baru kemudian menunjuk Sanusi Hardjadinata sebagai Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia (PDI) pada 20 Pebruari 1975 untuk mempersiapkan Kongres I pada 12-13 April 1976. Karena Sanusi Hardjadinata dianggap bersungguh-sungguh maka ia terpilih pada Kongres tersebut. Rezim Orde Baru yang merasa kecolongan kemudian berusaha menggantinya dengan memanfaatkan konflik internal dimana MH Isnaeni dan Sunawar Sukowati terus melakukan perlawanan. Pada 16 Oktober 1980 Sanusi Hardjadinata mengumumkan pengunduran dirinya dan kemudian digantikan oleh Sunawar Sukowati yang ditunjuk Rezim Orde Baru pada Kongres II pada 13-17 Januari 1981. Kepemimpinan Sunawar Sukowati meninggal pada 12 Januari 1986 dan kemudian diadakan Kongres III Partai pada 15-18 April 1986 yang hasilnya menyerahkan pada pemerintah kemudian muncullah Suryadi menjadi Ketua Umum. Dalam masa kepemimpinan Suryadi inilah Ibu Megawati Sukarnoputri dan Guruh Sukarnoputra di rayu untuk masuk partai dan kemudian berhasil mendongkrak perolehan suara partai.

Pada 21 Juli 1993, Suryadi terpilih kembali pada Kongres IV Medan namun kemudian terjadi kemelut sehingga pemerintah tidak mengakuinya. Rezim Orde Baru menilai Suryadi tidak loyal kepada pemerintah Orde Baru dengan mengusung putri-putri B**g Karno masuk partai sehingga mendorong suara signifikan. Pemerintah Orde Baru kemudian memutuskan mengadakan Kongres Luar Biasa (KLB) di Surabaya pada 2-6 Desember dengan calonnya yang bernama Budi Harjono, namun kali ini suara dari bawah menentang dengan memilih Megawati Sukarnoputri menjadi Ketua Umum. Upaya rezim Orde Baru untuk mengganti Megawati sebagai Ketua umum kemudian dilakukan dengan mengadakan Kongres Medan dengan cara melakukan pemaksaan kepada seluruh cabang untuk mengikuti Kongres Medan pada 22 Juni 1996.

Upaya yang dilakukan rezim Orde Baru ini kemudian mendapat perlawanan dari Grass partai dan bahkan kelompok-kelompok Pro Demokrasi. Perlawanan grass root terhadap Kongres Medan dilakukan di berbagai daerah seperti DKI Jakarta dipimpin Roy BB Janis, Jawa Tengah, Jawa Timur yang di pimpin Ir Sucipto maupun di Bali yang dipimpin oleh Ida Bagus Wesnawa. Perlawanan elemen Pro Demokrasi ini di dukung oleh beberapa elemen seperti Forum Demokrasi yang di pimpin oleh KH Abdurrahman Wahid, Marsilam Simanjuntak, Bondan Gunawan maupun Todung Mulya Lubis. Demikian juga kelompok buruh seperti Serikat Buruh Sejahtera Indonesia yang dipimpin oleh Mukhtar Pakpahan, elemen Partai Rakyat Demokratik (PRD) pimpinan Budiman Sujatmiko, elemen jurnalis yang tergabung dalam Pusat Informasi dan Jaringan Aksi Reformasi (PIJAR), elemen Mahasiswa seperti Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) maupun Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Serikat Mahasiswa Indonesia Untuk Demokrasi (SMID). Dukungan ini memuncak secara formal dalam bentuk “Gerakan Nasional Kembali Ke Cita- Cita Luhur Bangsa” pada 1 Juli 1996 yang di tanda tangani oleh puluhan tokoh.

Di kalangan grass root, gerakan melawan Kongres Medan di lakukan di berbagai Daerah maupun Cabang dan beberapa pucuk pimpinan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) seperti Arif Wibowo (sekarang Wakil Sekretaris jenderal) menggalang perlawanan baik di Jakarta maupun turun daerah sedang Alit Kelakan menggalang perlawanan di p**au Dewata dengan membentuk Gerakan Rakyat Bali (GRB) Pendukung Megawati. Berbagai perlawanan ini kemudian memanfaatkan adanya “Mimbar Demokrasi” di halaman kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Jalan Diponegoro. P***a Konggres Medan yang memilih Suryadi, kantor DPP PDI Jalan Diponegoro kemudian direbut paksa oleh pendukung Suryadi yang di back up oleh pihak militer atas perintah Rezim Orde Baru sehingga menimbulkan korban jiwa dari pendukung Megawati yang kemudian dikenal dengan nama Sabtu Kelabu 27 Juli 1996. Disamping perebutan kantor Dewan Pimpinan Pusat di Jakarta, di berbagai daerah maupun cabang juga terjadi perebutan paksa kantor-kantor partai. Hal ini terus berlangsung sampai Suharto dilengserkan dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yang di pimpin Ibu Megawati melaksanakan Kongres di Bali untuk membentuk Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan pada 8-10 Oktober 1998.

Di Kabupaten Lumajang, Partai Demokrasi Indonesia (PDI) sebelum Kongres Medan dipimpin oleh Sumirmo. Namun keberpihakannya kepada Kongres Medan yang menghasilkan pimpinan Suryadi membuatnya dijauhi para kader grass root dan setelah Suharto lengser Sumirmo pun dilengserkan. Nah, bagaimana yang terjadi berikutnya di Kabupaten Lumajang yang sejak Pemilihan Umum Tahun 1955 merupakan kandang banteng dimana Partai Nasional Indonesia (PNI) meraih urutan pertama dengan perolehan suara 119.747 yang disusul Nahdlatur Ulama (NU) myang mendapatkan suara 84.505.

BKN Cabang PDI Perjuangan Kabupaten Lumajang saat mengikuti Rakor DPD BKN Jatim, Sabtu 18 Juli 2020 diwakili Kepala, Sek...
18/07/2020

BKN Cabang PDI Perjuangan Kabupaten Lumajang saat mengikuti Rakor DPD BKN Jatim, Sabtu 18 Juli 2020 diwakili Kepala, Sekretaris, Bendahara dan beberapa pengurus.

Pada Rakor yang digelar secara online ini, BKN Lumajang menyampaikan sejumlah program yang telah terselenggara dan rencana program ke depan.



@ Dpc Pdi Perjuangan Kabupaten Lumajang

Selamat dan sukses terselenggaranya Rakor BKN DPD PDI Perjuangan Jatim secara online, Sabtu 18 Juli 2020 diikuti oleh pe...
18/07/2020

Selamat dan sukses terselenggaranya Rakor BKN DPD PDI Perjuangan Jatim secara online, Sabtu 18 Juli 2020 diikuti oleh perwakilan pengurus BKN tingkat DPC se-Jatim.

Pada Rakor ini, sekaligus penyampaian laporan dan rencana program masing-masing BKN Cabang se-Jatim.



Selamat kepada Mbak Indah Nada dari BKN Lumajang yang berhasil meraih Juara Harapan 2 Lomba Pidato dengan tema Pancasila...
18/07/2020

Selamat kepada Mbak Indah Nada dari BKN Lumajang yang berhasil meraih Juara Harapan 2 Lomba Pidato dengan tema Pancasila, B**g Karno dan Ideologi Bangsa.

Lomba ini diselenggarakan oleh DPC PDI Perjuangan Kabupaten Lumajang dalam rangka Hari Lahir Pancasila dan Bulan B**g Karno, digelar untuk Umum dan Pelajar bekerjasama dengan Radio Semeru FM.

Pengumuman pemenang sekaligus penyerahan hadiah oleh Pengurus DPC dan Dewan Fraksi PDI Perjuangan dilaksanakan di Kantor DPC PDI Perjuangan Kabupaten Lumajang, Sabtu 18 Juli 2020.

Address

Jalan Soekarno Hatta
Lumajang
67352

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Badan Kebudayaan Nasional - BKN Lumajang posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Badan Kebudayaan Nasional - BKN Lumajang:

Share