23/05/2026
Ia hanya seorang pedagang kecil.
Dagangnya sederhana.
Musim hujan jual gorengan, Bulan puasa jual es campur, Kadang jualan keliling kopi sachet dan es teh dengan motor tuanya sering mogok. Kardus dagangannya diikat pakai tali rafia.
Hidupnya juga ga pernah benar2 tenang.
Hari ini ngontrak di rumah kecil diujung gang sempit.
Beberapa bulan kemudian pindah lagi karena belum kuat bayar sewa.
Pindah lagi.
Dan pindah lagi.
Anaknya tumbuh sambil melihat bapaknya ngangkut kompor, galon, kasur tipis, dan etalase kecil dari satu kontrakan ke kontrakan lain.
Orang seperti beliau biasanya sibuk bertahan hidup.
Tapi entah kenapa… setiap musim pemilu datang, beliau selalu hadir paling awal.
Datang ke pelatihan saksi.
Datang ke konsolidasi.
Datang dengan sandal lusuh dan wajah lelah habis jualan seharian.
Ga pernah minta uang bensin,
Apalagi minta jabatan.
Dan yang paling membuat sesak…
selama hidupnya berpindah-pindah rumah kontrakan, beliau ga pernah berpindah keyakinan perjuangan.
Tetap jadi saksi PKS.
Suatu malam setelah acara kecil di posko selesai, ada yang iseng bercanda nanya,
“Pak de, capek ga sih? Hidup susah terus, jualan juga pas-pasan, dan kenapa masih mau jadi saksi?”
Beliau cuma tersenyum kecil.
“Saya ini orang kecil mas…”
“Ga punya harta.”
“Ga punya jabatan.”
“Yang saya punya cuma tenaga dan keyakinan.”
Lalu beliau melanjutkan pelan,
“Saya yakin sama PKS dan saya akan tetap bantu PKS jadi saksi… sampai saya sudah ga mampu lagi.”
“Dan kalau saya sudah ga mampu…,nanti anak saya yang gantiin.”
Hening.
Ga ada yang langsung bicara.
Karena kalimat itu bukan sekadar loyalitas politik.
Itu cinta.
Itu kepercayaan.
Itu perjuangan yg dijaga bahkan saat hidupnya sendiri belum pernah benar2 mudah.
Kadang kita lupa…
Partai ini bukan cuma berdiri karena orang2 besar dan pintar.
Tapi karena doa ibu2 yang masak buat relawan.
Karena bapak2 yang tetap datang jadi saksi meski besok belum tahu dagangannya laku atau tidak.
Karena orang-orang sederhana yang mungkin namanya ga pernah masuk berita, tapi dalam sunyu menjaga perjuangan ini tetap hidup.
Dan malam itu…
sesak dada rasanya mendengar kalimat seorang pedagang kecil yang hidupnya berpindah lagi kontrakan, tapi hatinya tak pernah berpindah perjuangan.
Bangjian, temen ngopi tanpa gula.
Yuk ikutan update Cerita Bang Jian di WhatsApp channel : https://whatsapp.com/channel/0029VbCixIgBA1eturEzCQ2x