22/10/2019
HARI SANTRI, PENGINGAT BELAJAR SEUMUR HIDUP
Apa yang kamu bayangkan kalau seseorang menyebut kata ‘Santri’ ?
Sekumpulan anak berpeci dan bersarung yang sedang mengaji?
Itu tidak salah. Dalam banyak tempat, atribut khas peci dan sarung memang selalu melekat pada entitas yang kita sebut santri.
Ngomong-ngomong tentang makna santri. Ternyata asal kata dan makna santri itu beragam.
Pertama, konon santri berasal dari bahasa sanskerta “sastri” yang artinya melek huruf atau mampu membaca.
Kedua, santri juga berasal dari bahasa India “Shastri” yang atinya orang yang mempelajari kitab suci.
Ketiga, santri berasal dari bahasa Jawa “Cantrik” yang berarti orang yang belajar dan mengabdi kepada guru.
Keempat, santri itu dari gabungan kata “San” yang berarti ‘pesan’ dan “tri” yang berarti ‘tiga’. Maksudnya adalah anak-anak yang sedang menjalani tiga pesan mulia yaitu “Taat kepada Allah, Taat kepada rasul, dan Taat kepada pemimpin”
Kelima, santri itu berasal dari lima huruf Arab ‘sin’-‘ nun’-‘ta’-‘ra’- dan ‘ya’. Sin adalah singkatan untuk ‘Sabiqun bil khairat’ yang artinya berlomba dalam kebaikan. Nun singkatan untuk ‘naasibul ulama’, yang artinya mengikuti kearifan ulama. Huruf ‘ta’ adalah singkatan untuk ‘taarikul ma’ashi’ yang artinya meninggalkan maksiat. Huruf ‘ra’ merupakan singkatan untuk ‘Ridha’ atau mengikhlaskan amal-amalnya. Sedangkan huruf ‘ya’ adalah singkatan untuk ‘yakin’ terhadap apa yang dilakukannya.
Kamu percaya definisi yang mana aja terserah. Yang jelas, santri mencerminkan seseorang yang bersedia untuk belajar menjadi lebih baik. Jadi, setiap pembelajar adalah santri. Setiap mendengar kata santri, kita hidupkan semangat untuk belajar dan belajar. Belajar apa saja yang baik-baik, seumur hidup. Makanya di jaman kekinian ini, yang namanya pesantren bukan cuma belajar Al-Quran dan hadits saja. Sekarang ada Pesantren Entrepreneur, Pesantren Leader, Pesantren IT, macem-macem pokoknya.
Kita dulu juga pernah masuk ‘Pesantren Kilat’, yaitu pesantren yang wajib diikuti meskipun kilat menyambar-nyambar, hehe. Terpaksa ikut, karena takut nilai pelajaran Agama bermasalah. Hahaha…
IKA’91