Kegiatan Belajar Mengajar SD 3 Megawon

Kegiatan Belajar Mengajar SD 3 Megawon Mendidik Sepenuh Hati, Bergegas Meraih Prestasi. Visit my blog : http://sd3megawon.blogspot.com

Menciptakan peserta didik yang cerdas, terampil, sehat, berbudi pekerti luhur, berdasarkan iman dan taqwa serta berwawasan lingkungan

7 Cara Guru Mengubah Hidup Murid Tanpa Disadari1. Memberi motivasi kecil yang menumbuhkan semangat besar.  2. Menjadi te...
25/09/2025

7 Cara Guru Mengubah Hidup Murid Tanpa Disadari

1. Memberi motivasi kecil yang menumbuhkan semangat besar.

2. Menjadi teladan dalam sikap, tutur kata, dan perilaku.

3. Memberi kesempatan murid untuk percaya diri dan berani mencoba.

4. Menanamkan nilai kejujuran dan tanggung jawab.

5. Membimbing dengan kesabaran di saat murid kesulitan.

6. Menyampaikan ilmu yang bermanfaat untuk masa depan.

7. Doa guru yang tulus tanpa pernah diminta.

Guru sering kali tidak menyadari betapa besar pengaruhnya,
namun bagi murid, setiap kata dan teladan guru bisa menjadi cahaya hidup.

25/09/2025

Sastra, Pasar, dan Bahaya Elitisme

Oleh Muhammad Subhan

ESAI saya berjudul "Benarkah Buku Sastra Susah Laku?" (Majalahelipsis.id, 22 September 2025) yang dibagikan pianis dan komponis Ananda Sukarlan di laman Facebook-nya kembali mendapat respons menarik dari penyair Tan Lioe Ie.

Saya juga membaca esai Fileski Walidha Tanjung berjudul "Sastra, Echo Chamber, dan Krisis Representasi Publik" (Negerikertas.com, 22 September 2025) dan esai Denni Meilizon di laman Facebook-nya berjudul “Buku Sastra yang Susah Laku dan Kucing Berpakaian Manusia”, tetapi saya lebih tertarik menanggapi catatan Tan Lioe Ie.

Di kolom komentar, Tan Lioe Ie menulis panjang. Intinya, ia mengatakan bahwa penyair jangan terlalu larut dalam “mimpi idealis” seperti pasar yang luas.

Menurutnya, yang penting adalah berkarya dengan otentik, menoleh ke luar diri, berinovasi dengan bentuk baru, bereksperimen, dan terus bergerak meski hanya sedikit yang mengapresiasi.

Ia juga menyebut contoh sejarah seni (Ezra Pound, Hemingway, Picasso, Chairil, Rendra, dan lain-lain) untuk mendukung gagasannya.

Secara umum saya sepakat. Catatannya sangat bergizi, cerdas, tentu didukung sumber bacaan yang kuat, meski beberapa bagian masih perlu didiskusikan.

Sebuah pertanyaan: apakah benar sastra cukup hidup dari “otentisitas” dan eksperimen, tanpa sungguh-sungguh memikirkan relasi dengan khalayak yang lebih luas?

Sering kali, untuk menghibur diri, sastrawan—dalam hal ini penyair—beretorika “yang penting tetap berkarya.” Namun, sikap seperti ini kerap berujung pada romantisme steril.

Tan Lioe Ie mengutip Sutardji agar tidak terjebak dalam “mannerism,” tapi lupa bahwa Sutardji sendiri bukan hanya eksperimentalis, melainkan juga figur publik yang menumbuhkan pembacanya lewat forum-forum, buku, dan media.

Tanpa pembaca yang terhubung, “otentisitas” hanya akan menjadi gema di ruang hampa.

Mengatakan “pasar bukan ukuran” memang terdengar heroik. Tapi bukankah pasar, dalam pengertian khalayak pembaca, adalah syarat agar sastra hidup?

Apa arti buku puisi yang terbit kalau hanya menumpuk di gudang penerbit, tanpa pernah menyapa pembaca yang lebih luas?

Otentisitas tanpa komunikasi hanyalah kesunyian yang dipelihara.

Tan Lioe Ie memuji Ezra Pound yang belajar dari haiku Jepang, Picasso dari seni Afrika, atau Pujangga Baru dari soneta Italia. Ia mengajak sastrawan Indonesia untuk “menoleh keluar diri.” Tetapi ia lupa menekankan hal yang lebih penting: menoleh ke dalam masyarakat sendiri.

Sastra Nusantara, dari pantun, syair, gurindam, hingga kaba, bukan hanya bentuk formal, tapi jembatan sosial budaya. Jika kita sibuk menoleh keluar, mengagung-agungkan dunia luar—menyerap Afrika, Jepang, atau Barat—sementara lupa mendengar denyut pembaca sendiri, sastra hanya akan berputar di lingkaran festival eksklusif, tidak pernah kembali ke kampung, pasar, atau ruang publik yang lebih luas.

Dalam komentarnya itu, Tan Lioe Ie mengakui bahwa pembaca puisi di Indonesia sangat kecil jumlahnya. Namun, ia berdalih bahwa yang sedikit itu “umumnya cerdas,” sehingga bisa diharapkan terjadi “multiplier effect”. Inilah logika nyaman yang justru berbahaya.

Kalau penyair hanya puas dengan audiens segelintir orang “cerdas”—seperti yang sering hadir di festival-festival sastra—bukankah itu sama dengan menyerahkan sastra kepada elitisme? Bukankah ini justru pengkhianatan terhadap fungsi sosial sastra yang pernah dijunjung W.S. Rendra, Wiji Tukul, Taufiq Ismail, dan penyair-penyair perlawanan? Sastra yang hidup hanya di ruang eksklusif adalah sastra yang kehilangan denyut kebangsaan.

Tan Lioe Ie menyebutkan perlunya bentuk alternatif: audiobook, audiovisual, dan sebagainya. Di sini saya sepakat, dan beberapa esai saya juga menawarkan hal serupa. Tetapi sekali lagi, ini hanya solusi teknis. Masalah utama sastra bukan sekadar bentuk buku, melainkan bagaimana ia hadir sebagai kebutuhan kultural masyarakat.

Audiobook bisa diproduksi, video puisi bisa disebar, tetapi kalau penyair tidak membangun jembatan emosional dan relevansi sosial dengan masyarakat, teknologi hanya akan mempercepat keterasingan.

Mari lihat contoh yang ia sebut sendiri: Chairil Anwar. Benar, Chairil tidak langsung diterima. Tapi pada akhirnya ia diakui justru karena puisinya mewakili keresahan dan suara kolektif bangsanya di tengah revolusi. Ia bukan hanya bereksperimen, tapi juga menyalurkan gairah zaman. Begitu p**a Rendra, keberaniannya di era represif relevan karena publik membutuhkannya sebagai cermin.

Dengan kata lain, karya besar tidak lahir semata dari otentisitas individual, melainkan dari interaksi dengan kebutuhan sosial dan kultural masyarakatnya.

Tanpa konteks sosial, otentisitas hanyalah kepuasan diri.

Sastra tidak cukup sekadar bergerak, bereksperimen, dan otentik. Ia harus mencari jalan agar bisa dipahami, dirasakan, dan dimiliki masyarakat luas. Bukan berarti mengejar pasar secara vulgar—semuanya mesti mengikuti pasar, tidak!—, tetapi membangun pasar kultural, yaitu pasar yang lahir dari kebutuhan akan makna, bukan sekadar konsumsi.

Sastra harus kembali ke fungsinya sebagai ruang refleksi kolektif. Bila penyair hanya berpuas diri dengan segelintir pembaca “cerdas,” ia sedang menutup pintu pada kemungkinan besar: sastra yang kembali menjadi detak jantung bangsa.

Saya sepakat bahwa kita, sebagai masyarakat sastra, tidak boleh patah semangat. Tapi keliru jika menganggap “otentisitas dan eksperimen” cukup sebagai pembenaran. Justru karena tantangan besar—minat baca rendah, distribusi lemah, dominasi media sosial, dan lain-lain—sastrawan harus lebih berani membangun strategi keterhubungan dengan publik.

Sastra tidak boleh berhenti sebagai ruang eksperimen individual. Ia harus hadir sebagai ruang bersama, tempat masyarakat menemukan dirinya kembali. Hadirnya festival-festival sastra yang tidak ekslusif bisa menjadi jembatan ke arah itu.

Inilah ideal yang sesungguhnya: sastrawan bukan sekadar menulis demi cinta, tetapi menulis demi manusia.

Sastra mesti berpihak pada kemanusiaan, menjadi ruang bersama tempat nilai-nilai lahir dan tumbuh, sekaligus menyejahterakan sastrawannya agar ia tidak sekadar menjadi hamba kata-kata, melainkan juga penggerak hidup yang nyata. []

Baca juga di https://majalahelipsis.id/sastra-pasar-dan-bahaya-elitisme/

21/12/2024
Kegemaran impor pangan itu sangat berbahaya. Akan menjadi ketergantungan dan bisa mematikan saat terjadi bencana alam at...
26/11/2024

Kegemaran impor pangan itu sangat berbahaya. Akan menjadi ketergantungan dan bisa mematikan saat terjadi bencana alam atau konfrontasi. Swasembada pangan harus ditekankan apalagi Indonesia ini negeri kaya raya gemah ripah loh jinawi.

Pasangan di Klaten Kembangkan Gaya Hidup Swasembada Pangan

• Sri Widodo dan Nurul Fitri Hidayati, pasangan suami istri di Klaten, Jawa Tengah, menerapkan gaya hidup homestead, yaitu hidup mandiri dan swasembada pangan.

• Mereka memanfaatkan pekarangan rumah seluas 500 meter persegi untuk berkebun dan beternak.

• Berbagai jenis tanaman buah, sayur, dan ternak dibudidayakan di Yoso Farm Homestead, nama yang mereka berikan untuk kebun mereka.

• Pasangan ini tidak membeli pakan ternak dan pupuk, melainkan memanfaatkan limbah rumah tangga dan bahan-bahan alami.

• Konsep homestead yang mereka jalankan menarik perhatian banyak orang, mulai dari pejabat hingga sekolah, yang datang belajar tentang pertanian terintegrasi.

Sumber : kabarklaten
Sorot Gunungkidul
SOROTAN PUBLIK
Follower Reel

Baru tau sampah ginian ternyata bisa jadi duit 😁. Namanya ecobrick, harganya mahal 8rb/botol. Ini botol bekas di isi sam...
24/11/2024

Baru tau sampah ginian ternyata bisa jadi duit 😁. Namanya ecobrick, harganya mahal 8rb/botol. Ini botol bekas di isi sama plastik-plastik bungkus makanan. Iseng check di marketplace ternyata banyak toko yang udah ngejual diatas 10rb unit. Yang produksi di deket rumah karyawannya sampai 10 orang.

Saya sering bilang sama temen-temen, kalau di zaman sekarang sampai susah makan itu agak aneh. Asal mau gerak dan berteman aja udah bisa makan. Jangan s**a menyalahkan dunia atas kesulitan-kesulitan yang kita ciptakan sendiri, gitu sih.

Sumber : Ranggie Ragatha
https://www.facebook.com/share/p/129RRt8Mtmq/

22/11/2024

Marsekal Muda Dr. Agustinus Adisutjipto adalah pilot pesawat tempur pertama yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.

Pria kelahiran Salatiga 4 Juli 1916 ini juga adalah seorang dokter karena pernah menempuh pendidikan tinggi Kedokteran Geneeskundige Hoge School di Batavia.
Pada tahun 1937 Adisutjipto diterima di Militaire Luchtvaart-Koninklijk Nederlands Indische Leger atau ML-KNIL Angkatan Udara Hindia Belanda.

Pada masa pendudukan Jepang Adisutjipto dan para penerbang KNIL dari pribumi lainnya dibebas tugaskan dari militer.

Adisutjipto memilih bekerja di perusahaan Angkutan Umum sebagai juru tulis.
Kiprahnya sebagai penerbang dimulai setelah Jepang menyerah oleh tentara Sekutu.
Pada masa revolusi Adisutjipto bergabung dengan pejuang Indonesia dan diminta untuk menerbangkan pesawat tempur hasil rampasan dari tentara Jepang.

Pada 27 Oktober 1945, Adisucipto menerbangkan pesawat Cureng berbendera merah putih di sekitar Yogyakarta untuk membakar semangat rakyat Indonesia bahwa bangsa Indonesia juga mempunyai mesin tempur udara untuk melawan penjajahan.

Pada 15 November 1945, Adisucipto mendirikan Sekolah Penerbang di Lapangan Udara Maguwo, Yogyakarta.

Adisucipto gugur bersama Abdulrachman Saleh saat menembus blokade udara Belanda pada 29 Juli 1947.

Dari ulasan ini bisa diterangkan bahwa mantan anggota KNIL tidak semuanya dicap sebagai penghianat seperti dinaifkan oleh sebagian pihak.

Thomas Fuller, yang dikenal juga sebagai "Negro Tom" atau "Virginia Calculator," adalah seorang Afrika yang diperbudak d...
22/11/2024

Thomas Fuller, yang dikenal juga sebagai "Negro Tom" atau "Virginia Calculator," adalah seorang Afrika yang diperbudak dan lahir di Benin pada tahun 1710. Fuller, yang dibawa ke Amerika sebagai budak pada tahun 1724, dikenal karena kemampuan kalkulasi mentalnya yang luar biasa dan kemampuannya yang luar biasa dalam matematika. Dalam kehidupan akhirnya, ia ditemukan oleh aktivis anti-perbudakan yang menjadikannya contoh untuk menunjukkan bahwa orang kulit hitam sama sekali tidak kalah cerdas dibandingkan orang kulit putih, terutama dalam kemampuan akademik.
Kemampuan Fuller menjadi terkenal ketika dua pria, Hartshorne dan Coates, mengujinya dengan beberapa pertanyaan matematika yang rumit.
Pertanyaan pertama adalah menghitung jumlah detik dalam satu setengah tahun. Fuller memberikan jawaban yang akurat, yaitu 47.304.000 detik, hanya dalam waktu sekitar dua menit.
Pertanyaan kedua adalah menghitung jumlah detik dalam kehidupan seseorang yang berumur 70 tahun, 17 hari, dan 12 jam. Fuller menjawab 2.210.500.800 detik hanya dalam satu setengah menit. Ketika salah seorang pria tersebut menuduhnya keliru, Fuller dengan cepat mengoreksi mereka dengan mengingatkan tentang tahun kabisat, yang menunjukkan keakuratan perhitungannya.
Pertanyaan ketiga lebih kompleks: jika seorang petani memiliki enam ekor babi betina, dan setiap babi betina memiliki enam anak babi betina per tahun, serta semuanya terus berkembang biak dengan cara yang sama hingga delapan tahun, berapa jumlah total babi? Fuller menjawab 34.588.806 dalam waktu sepuluh menit. Meskipun membutuhkan waktu lebih lama, jawaban tersebut benar, hanya sedikit tertunda karena kesalahpahaman awal tentang pertanyaannya.
Meskipun berusia lanjut, Fuller tetap menunjukkan kecerdasannya meskipun hidup sebagai seorang budak dan bekerja keras di pertanian. Ia tidak pernah tergoda dengan minuman keras dan selalu berbicara dengan hormat kepada tuannya, yang menolak menjualnya meskipun ditawarkan uang dalam jumlah besar. Ketika seorang pria berkomentar bahwa Fuller akan jauh lebih hebat jika dididik, Fuller merespons dengan rendah hati, mengatakan, "Tidak, Massa, yang terbaik saya tidak belajar, karena banyak orang yang belajar menjadi orang bodoh yang hebat."
Kisah Thomas Fuller merupakan bukti kemampuan matematika yang luar biasa dan menjadi pengingat bahwa bakat sejati dapat ditemukan di mana saja, terlepas dari latar belakang atau status sosial.

Selamat bertugas ya pak. Semoga sukses menjalankan tugas 🤲
22/10/2024

Selamat bertugas ya pak. Semoga sukses menjalankan tugas 🤲

Address

Jalan Lingkar Ngembal
Kudus
59342

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kegiatan Belajar Mengajar SD 3 Megawon posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Kegiatan Belajar Mengajar SD 3 Megawon:

Share

Category