25/11/2025
Catatan Swasembada:
*Super Komputer Bermerek AAS Dibalik Kebangkitan Pangan Indonesia*
Pada Oktober 2023, di tengah kecemasan nasional atas ancaman El Niño, turunnya produksi beras, serta gelombang persoalan hukum yang mengguncang Kementerian Pertanian, seorang pria kembali melangkah masuk ke gedung itu dengan wajah tenang namun mata yang jelas menyimpan banyak beban: Andi Amran Sulaiman.
Ia datang ketika anggaran Kementan hampir habis, pegawai terpecah perhatian akibat tekanan kasus hukum, dan motivasi birokrasi berada di titik terendah. Produksi beras diprediksi terus merosot. Sementara rakyat, mau tidak mau, tetap harus makan.
Dalam kondisi seperti itu, pilihan yang tersedia hanyalah dua: menyerah pada keadaan atau bertarung melawan semuanya sekaligus. Amran pun memilih yang kedua.
Awal 2024 adalah masa kelam. Antrean pembelian beras mulai tampak di mana-mana. Impor sudah menembus 3 juta ton. Bahkan di sebuah rapat beredar rumor angka menyeramkan: rencana impor berjaga-jaga hingga 10 juta ton.
Namun alih-alih pasrah, Amran mengeluarkan langkah-langkah tak terduga. Ia melakukan realokasi anggaran di kantor Kementerian hingga Rp1,7 triliun, mengalihkan dana dari renovasi gedung, seremonial, dan perjalanan dinas menjadi p***a, alsintan, dan benih.
“Yang tidak terkait langsung dengan produksi beras dan jagung, olahraga saja dulu di kantor masing-masing!” serunya. Kalimat yang terdengar kejam, tetapi situasi memang tidak menyediakan ruang untuk pilihan manis.
Ketika ada usulan renovasi gedung kantor, ia berkata pendek:
“Selama gedungnya tidak roboh, tidak perlu direnovasi. Kita butuh uang untuk petani!”
*Berburu Air, Menghidupkan Lahan-Lahan Tidur*
Dengan ancaman El Niño di depan mata, Amran menyusuri Pulau Jawa, menggandeng TNI memasang ribuan p***a air. Perintahnya sederhana: di mana ada air, wajib mengalirkannya ke sawah.
“Kita butuh makan. Tidak boleh rakyat kelaparan!”
Pejabat Kementan pun diwajibkan turun langsung ke sawah, tak boleh pulang ke Jakarta tanpa izin menteri. Kebijakan keras itu justru menghidupkan kembali semangat para aparat di lapangan.
Ia juga meminta presiden mengembalikan kuota pupuk maksimal 9,55 juta ton, cukup ditebus dengan KTP, serta menghidupkan lahan-lahan tidur agar bisa panen 2–3 kali setahun. Langkah-langkah yang tampak mustahil, namun hasilnya mulai terasa memasuki Agustus 2024: produksi perlahan melampaui tahun sebelumnya.
Defisit nasional memang masih ada, tetapi tinggal kurang dari 500 ribu ton—jauh dari bayangan shortage besar yang sempat memunculkan skenario impor 10 juta ton.
Namun ada kisah yang hanya sedikit orang tahu. Sebuah foto sederhana, diambil 23 November 2024, di dalam pesawat kecil dalam penerbangan Jakarta–Merauke selama lima jam. Foto itu tampak biasa: menteri dan staf duduk santai, berfoto bersama. Tidak istimewa.
Padahal di dalam pesawat itulah, rencana swasembada pangan Indonesia untuk 2025 mulai dirumuskan.
Di tengah penerbangan panjang ini, Amran tiba-tiba bangun dari tidurnya dan berteriak:
“Ambil bolpen, kertas, dan kalkulator! Ayo hitung produksi kita ke depan!”
Semua terkejut. Entah mimpi apa yang membangunkan dirinya. Seorang staf bahkan terlihat panik mengikuti alur pikirannya yang kompleks. Amran menatap deretan angka di ponselnya sambil memberikan perhitungan cepat untuk stafnya. Entah apa yang diucapkan. Angka demi angka yang hingga mereka tiba di Merauke tak satu pun paham rumusnya. Bahkan salah seorang profesor yang mendampingi menggeleng ketika penumpang lainnya bertanya.
Kini terungkap bahwa ia menghitung jumlah pertanaman padi harian, mencocokkannya dengan volume pupuk yang digunakan, lalu menginterpolasi data deret waktu produksi untuk merumuskan prediksi 2025 dengan ketelitian luar biasa.
Tidak seorang pun dalam pesawat itu mampu mengikuti kecepatan logikanya. Pantas saja ia meraih IPK 4,0 dan nilai statistik sempurna semasa kuliah doktoralnya. Perhitungan itu bukan sekadar matematika; itu adalah naluri seorang petarung yang memahami tanah, air, dan ritme petani.
Hitungan Amran bukan berhenti di pesawat itu. Ia menghitung setiap hari, setiap pekan, setiap bulan. Tidak ada satu pun wilayah yang ditugaskan menanam padi luput dari pengawasannya.
Hal menarik terjadi pada April 2024:
USDA memprediksi produksi beras Indonesia akan mencapai 34,6 juta ton. Lalu seakan tak mau kalah FAO menyusul pada Juli 2024, dengan prediksi 35,4 juta ton.
Angka-angka itu mengejutkan banyak pihak. Namun bagi Amran, prediksi itu justru membangkitkan keyakinan terdalamnya: angka itu mungkin dicapai.
Dan kini, prediksi itu semakin nyata.
BPS memproyeksikan produksi beras Indonesia di akhir 2025 akan mencapai 34,77 juta ton.
Ya! Angka ini nyaris presisi dengan prediksi USDA. Dengan teknologi satelit, artificial intelligence, big data, dan sistem pemantauan modern, lembaga pertanian Amerika Serikat itu mampu menghitung dengan akurasi tinggi.
Tapi ada satu hal yang jangan dilupakan:
Di Indonesia, prediksi itu pertama kali muncul bukan dari satelit, bukan dari superkomputer, tetapi dari otak seorang putra bangsa yang lahir di pedalaman Bone Sulawesi Selatan bernama Andi Amran Sulaiman.
Sebuah kecerdasan yang sulit dipercaya. lahir bukan dari laboratorium teknologi, melainkan dari kombinasi intuisi ilmiah, pengalaman lapangan, dan dedikasi yang nyaris tanpa henti.
Catatan perjalanan ini adalah dokumenter tentang bagaimana krisis bisa diubah menjadi kebangkitan. Tentang bagaimana seorang menteri bekerja melawan anggaran minim, birokrasi melemah, ancaman El Niño, dan tekanan publik.
Ini bukan hanya cerita angka; ini cerita manusia. Tentang p***a yang berdengung siang malam. Tentang lahan tidur yang kembali bernafas. Tentang petani yang kembali tersenyum. Tentang perhitungan di atas pesawat yang kemudian memvalidasi prediksi lembaga dunia. Dan tentang swasembada yang kini bukan lagi mimpi samar.
Dalam sejarah pertanian Indonesia, mungkin kelak ada satu kalimat yang tetap dikenang:
“Ketika segalanya terlihat mustahil, ada seorang menteri yang percaya bahwa bangsa ini bisa. Dan ia menghitung sendiri jalannya menuju itu.”