24/07/2014
6 Kebodohan yang bikin pendaki
meninggal/ celaka di gunung.
1. Sok jagoan
Merdeka.com - Sikap sok jagoan ini
nyaris selalu menjadi penyebab
utama musibah pada pendaki pemula.
Dengan alasan mencari tantangan,
para pendaki pemula ini mencari jalur di luar jalur resmi. Parahnya, seringkali mereka melakukannya tanpa kemampuan navigasi yang baik. Jangankan GPS dan peta topografi, sekadar kompas pun tak bawa. Lalu apa yang diandalkan? Maka petualangan mereka pun biasanya berakhir di dasar jurang, mati kedinginan di lembah atau ditandu Tim SAR ke rumah sakit. Membuka jalur baru juga berarti merusak konservasi. Mengganggu kehhidupan liar dan ekosistem. Para pendaki berpengalaman tak akan melakukannya selain untuk kepentingan penelitian dan ilmu pengetahuan.
2. Buruknya manajemen logistik
Merdeka.com - Salah satu masalah
pendaki pemula adalah buruknya
manajemen logistik. Dalam pikiran
mereka, mendaki gunung identik dengan mie instan. Hal ini salah besar. Mendaki gunung adalah kegiatan berat. Butuh kalori hingga 4.000 kkal per hari. Bayangkan dengan aktivitas sehari-hari yang rata-rata hanya
membutuhkan 2.000 kkal per hari. Kebutuhan kalori yang besar ini
didapat dari daging-dagingan
berlemak, coklat dan karbohidrat.
Tentu bukan mie instan yang sulit
dicerna tubuh dan menyerap air
dalam tubuh. Seringkali para pemula mendapati nasi yang ditanak tak matang sempurna. Maka kombinasi makanan mereka jadi nasi keras, mie instan dan ikan asin. Karena tak nikmat, napsu makan pun berkurang. Padahal tubuh butuh banyak mas**an untuk tenaga dan menjaga suhu agar tetap hangat. Dalam kondisi lemas dan lapar inilah sering terjadi kecelakaan. Kurangnya konsentrasi, pingsan hingga
kematian.
3. Buruknya pengepakan barang
Merdeka.com - Packing atau mengepak barang dalam ransel
adalah seni yang harus dikuasai
pendaki gunung. Seluruh barang
bawaan harus masuk ke dalam
ransel. Karena medan sulit, tak boleh
ada yang tergantung di luar ransel selain botol air minum. Tangan harus
bebas karena memegang walking
stick atau berpegangan meniti akar-
akar pohon jika dibutuhkan. Maka lihatlah para pendaki pemula.
Dengan panci digantung ke ransel.
Tangan menenteng sleeping bag atau
jaket. Ransel mereka tak dilapisi lagi
dengan cover bag. Pakaian di dalam
ransel tak dilapis plastik. Jika hujan, semua pakaian, jaket dan
sleeping basah. Padahal sangat
penting menjaga pakaian ganti tetap
kering. Tidur dengan keadaan basah
bisa mengakibatkan hipotermia.
Inilah penyebab utama kematian seorang pendaki gunung. Suhu tubuh
turun karena kedinginan. Jangan pernah anggap enteng
mengepak barang. Ini yang sering
dimasabodohkan pendaki pemula.
4. Pergi dalam rombongan besar
Merdeka.com - Shizuko Rizmadhani
berangkat bersama rekan-rekan pecinta alam di sekolahnya.
Jumlahnya 27 orang. Jumlah yang
sangat besar untuk pendakian
gunung. Kemungkinan orang tua mudah memberikan izin jika pergi dalam rombongan besar. Orang tua merasa anaknya lebih aman karena banyak yang menjaga. Padahal salah besar. Rombongan besar justru merepotkan. Makin sulit membagi logistik dan mengatur manajemen perjalanan. Bayangkan butuh berapa kompor lapangan untuk memberi makan 27 orang itu? Lalu perlengkapan P3K? Siapa ketuanya? Apakah dia benar-benar berwibawa untuk mengatur 27 orang itu? Masalah yang sering muncul adalah banyaknya konflik. Keinginan anggota yang beraneka ragam dan sikap intoleransi. Lihatlah kasus Shizuko, kemana saja teman-temannya yang banyak itu? Pendakian ideal, beranggotakan 4
sampai 6 orang pendaki. Pilihlah satu
orang untuk memimpin pendakian.
Bukan karena dia ketua, tapi memang
memiliki watak bisa diandalkan dan
leadership
5. Hipotermia disangka kesurupan
Merdeka.com - Pendaki pemula
mendaki tanpa ilmu. Berbekal
semangat dan tanpa perlengkapan
memadai mereka nekat mendaki
gunung. Karena tidak tahu ilmu P3K, maka sering terjadi salah kaprah. Pada
penderita hipotermia, korban akan
menggigil dan kehilangan kesadaran.
Lalu mulai bicara melantur. Karena nyerocos tak karuan dan s**ar diajak komunikasi, teman-temannya menyangka si korban kesurupan. Mereka malah membacakan doa untuk mengusir setan. Inilah yang mungkin terjadi pada Shizuko. Seharusnya, segera lakukan pertolongan. Ganti pakaiannya dengan pakaian kering. Masukkan dalam sleeping bag yang sudah dihangatkan. Taruh juga beberapa botol air panas di dalam sleeping bag itu. Jaga kondisi lingkungan tetap hangat. Jika sudah membaik beri makanan hangat sedikit demi sedikit. Hindari memberi kopi atau minuman keras.
6. Aku si cepat
Merdeka.com - Ciri khas pendaki
pemula, apalagi yang masih berusia muda adalah selalu bergerak dengan
cepat. Mereka selalu tergesa-gesa,
menjadikan naik gunung seolah
lomba lari ke puncak. Malu menjadi
yang paling belakang, karena sering
dianggap sebagai yang terlemah. Karena itu biasanya waktu tempuh ke
puncak lebih singkat. Baru setelah
perjalanan turun, aneka masalah
datang. Kehabisan tenaga, cidera otot
hingga kecelakaan dan kehilangan
arah menjadi ancaman. Idealnya, ada seorang sweeper yangberjalan paling belakang. Biasanya orang ini yang paling kuat dan bisa diandalkan. Tugasnya menyapu seluruh anggota tim. Memastikan tak ada yang keteteran atau tertinggal di belakang. Namun dalam rombongan pendaki
pemula, tak ada yang mau menerima
tugas ini. Jadi sweeper dianggap hina.
Menjadi paling pertama sampai
puncak dan pertama turun ke kaki
gunung jadi tujuan utama.
"Aku si cepat. Tanpa sadar kutinggalkan sahabatku yang kelelahan mati di gunung."
Mari, jadi pendaki yang sadar diri.~