Harjodowo, Kuwarasan, Kebumen, Jateng

Harjodowo, Kuwarasan, Kebumen, Jateng Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Harjodowo, Kuwarasan, Kebumen, Jateng, Social service, Harjodowo, Kuwarasan, Kebumen.

06/09/2014
Aktifitas sore pemuda Harjodowo
06/09/2014

Aktifitas sore pemuda Harjodowo

07/08/2013

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّا وَمنِْكُمْ صِيَامَنَا وَصِيَامَكُمْ كُلُّ عَامٍ وَ أَنْتُمْ بِخَيْ

Sugeng mangayubagya dinten Riyadi 1434H.
Nyuwun agenging samudra pangaksama tumpramping suba sita ingkang kirang tata.
Nuwun.

18/04/2013

LANTING JADI IDENTITAS KEBUMEN

DARI daftar makanan khas Kabupaten Kebumen, lanting menjadi salah satu yang wajib dicantumkan. Selain sate ambal, soto petanahan, emping mlinjo, lanting sudah identik dengan kabupaten berslogan “Beriman”. Bahkan, seiring dengan meredupnya produksi sarang burung walet, sejumlah pihak mengusulkan untuk mengganti ikon Kebumen yang semula burung walet dengan lanting.

Kebumen Kota Lanting? Ya, lanting merupakan makanan renyah asli Kebumen. Terbuat dari bahan baku singkong. Selain renyah, rasanya juga gurih oleh bumbunya yang telah berkembang menjadi beraneka macam rasa. Umumnya lanting berbentuk serupa angka delapan, namun ada juga yang berbentuk lingkaran seperti angka nol.
Makanan lanting, sangat mudah didapatkan mulai dari dijual pedagang asongan di stasiun, terminal hingga pusat jajanan di sepanjang jalan di Kebumen. Saat ini, lanting tidak hanya bisa dibeli di Kebumen karena produk ini sudah dipasarkan ke kota-kota di seluruh Indonesia. Yang membanggakan, makanan tradisional itu sudah mulai dijual di pasar swalayan.

Memang, bagi masyarakat Kebumen, lanting tidak sekadar makanan tetapi sudah menjadi identitas. Penegasan identitas itu ketika Paguyuban Perajin Lanting Khasanah Desa Lemahduwur, Kecamatan Kuwarasan membuat lanting raksasa. Lanting berukuran 50 cm x 100 cm tersebut tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (Muri) bersamaan dalam acara ìKebumen Moncerî di Benteng Van der Wijck, Gombong pada 2010.

Selama bertahun-tahun lanting telah menopang perekonomian bagi ribuan warga Kebumen. Mulai dari petani singkong di daerah pegunungan, hingga pelaku industri kecil yang menjadi produsen lanting serta tenaga kerja utamanya ibu rumah tangga yang terlibat di dalamnya.

Saat ini, industri kecil lanting terus berkembang dan tersebar di sejumlah kecamatan. Bahkan industri lanting juga sampai di Kecamatan Bonorowo yang meliputi Desa Pujodadi, Bonorowo, Rowosari dan Paturejo. Dari sekitar 20 industri kecil yang tersebar, produksi lanting mencapai lebih dari 2 ton per bulan.

Topang Ekonomi

Merujuk data di Bidang Industri Dinas Perdagangan, Perindustrian dan Koperasi (Disperindagkop­­) Kebumen, sentra lanting terdapat di Kecamatan Adimulyo yakni di Desa Pekuwon dan Meles. Kemudian di Desa Jogomulyo dan Tugu, Kecamatan Buayan. Adapun sentra lanting yang cukup besar terdapat di Desa Harjodowo dan Lemahduwur di Kecamatan Kuwarasan.

Yang terdaftar di Disperindagkop Kebumen, di Desa Harjodowo terdapat 25 unit usaha dengan melibatkan sebanyak 113 tenaga kerja. Adapun nilai produksi ditaksir mencapai Rp 1,8 miliar per tahun. Sedangkan di Desa Lemahduwur terdapat 21 unit usaha produksi lanting dengan melibatkan 86 tenaga. Adapun nilai produksi di desa ini diperkirakan mencapai Rp 1,52 miliar per tahun.

“Industri kecil lanting sangat menopang perekonomian masyarakat karena menyerap banyak tenaga kerja,” ujar ujar Kepala Bidang (Kabid) Perindustrian Disperindagkop Kebumen Maryoto SH kepada Suara Merdeka.
Bisa dipastikan bahwa masih banyak lagi industri rumah tangga yang memproduksi makanan lanting. Pasalnya belum semua perajin telah mengajukan izin usahanya ke Disperindagkop.­­ Lihat saja, di Desa Lemahduwur, Kuwarasan hampir setengah warganya ekonomi keluarganya bertumpu pada usaha lanting. Di sentra lanting tersebut, dari 720 keluarga ada lebih dari 300 keluarga yang menekuni usaha lanting.

Diakui bahwa awal mula lanting berasal dari Desa Lemahduwur. Industri itu mereka tekuni secara turun-temurun hingga sekarang. Saat ini industri lanting menyebar ke desa sekitarnya seperti Desa Madureso dan Harjodowo. Perajin di Desa Madureso dan di Harjodowo umumnya pernah bekerja di Lemahduwur. Mereka kemudian mandiri dengan memproduksi lanting sendiri.

Dituntut Inovatif

Untuk mengolah singkong menjadi lanting yang siap dipasarkan membutuhkan waktu sekitar dua hari. Singkong yang sudah dikupas dan dibersihkan kemudian digiling hingga lembut. Singkong hasil gilingan yang masih mengandung kadar air itu lalu diperas kemudian kembali digiling untuk kedua kalinya. Setelah itu proses berikutnya adalah pengukusan hingga setengah matang.

Proses berikutnya, adonan bahan baku singkong tersebut dimolen dan masukkan ke wadah untuk dipres. Hasilnya muncul adonan berbentuk panjang menyerupai mi dengan ukuran yang lebih besar. Setelah itu, adonan tersebut dicampur tepung singkong sebelum dibentuk sesuai yang dikehendaki.

Setelah kering, tahap selanjutnya ialah penggorengan. Setelah itu, untuk jenis lanting bumbu, proses selanjutnya adalah diberi bumbu sesuai dengan rasa yang diinginkan. Setelah dikemas, lanting bumbu pun siap dipasarkan. Namun banyak juga perajin yang menjual lanting dengan sistem curah yang masih belum diberi bumbu.

Semakin ketatnya persaingan di bidang industri dan perdagang membuat para pelaku usaha termasuk industri lanting dituntut kreatif dan inovatif. Sebab, tanpa adanya inovasi dari tahap produksi hingga pemasarannya, bisa dipastikan lambat laun bisnis tersebut akan meredup sebelum akhirnya bangkrut.

Realitas itu disadari oleh pemilik usaha lanting bumbu Mas Wi, Kasiman Iska Sumarto (68). Untuk itu dia terus berkreasi meski usaha yang dikelolanya bisa dibilang sudah mapan. Tak sekadar berinovasi pada soal rasa dan jaminan tanpa bahan pengawet, Kasiman pun mencoba berbagai kemasan untuk memasarkan lanting produksinya. Sampai saat ini kemasan lanting yang dipasarkan masih memakai wadah plastik dengan dua ukuran yakni 4 ons dan 2 ons.

Pihaknya juga mengembangkan kemasan yang lebih modern yakni menggunakan wadah toples. Kemasaan itu sangat cocok untuk dibuat oleh-oleh ataupun teman di perjalanan termasuk hidangan di rumah.

16/04/2013

LEGENDA DAN SEJARAH DESA HARJODOWO
KECAMATAN KUWARASAN KABUPATEN KEBUMEN


Desa Harjodowo berasal dari suku kata Harjo (berarti Makmur), dan Dowo (berarti langgeng). Dalam pengertian istilah dari nama tersebut adalah bahwa Harjodowo adalah desa yang diharapkan makmur sepanjang masa.
Desa Harjodowo merupakan Desa Blengketan (Bahasa Jawa) yang artinya gabungan dari dua dusun/ dukuh, yakni Dusun Luangandawa dan Dusun/ Dukuh Arnan. Antara dua dusun/ dukuh tersebut dibatasi oleh area persawahan.
Nama Dukuh Luangandawa dinamai demikian konon dahulu ada sebuah luangan (sungai kecil) yang memotong desa memanjang sampai perbatasan Kalipurwo, luangan tersebut terdapat di sebelah selatan desa. Dan sampai sekarang bekas sungai tersebut masih kelihatan, utamanya kalau musim penghujan terlihat jalur dalam merupakan genangan air, sedangkan musim kemarau tanah terlihat ada jalur yang lebih dalam (lekukan) memanjang menyerupai sungai. Dan daerah tersebut merupakan tanah yang subur utamanya kalau musim kemarau untuk ditanami palawija, sedangkan pada musim penghujan sering terendam banjir dan bahkan daerah lekukannya tidak bisa ditanami, dan menurut legenda di daerah tersebut ada ikan gabus besar sebagai penunggu kawasan tersebut.

Di area persawahan Desa Harjodowo utamanya di daerah/ kawasan Luangandawa dikenal beberapa nama kawasan atau daerah, yang menurut lagendanya adalah sebagai baerikut:

Sibokong.
Daerah ini merupakan daerah persawahan. Dinamai Sibokong karena daerah tersebut pada musim hujan cukup dalam mencapai bokong (pantat) orang dewasa. Sehingga daerah tersebut diberi nama sibokong. Dan daerah ini banyak lintahnya karena selalu tergenang air.

Siadem.
Dulu kawasan persawahan ini sangat subur dan panennya sangat baik, namun di daerah ini ada areal persawahan yang sangat jelek hasil panennya (sering gagal panen). Untuk mengatasi masalah tersebut pemilik sawah daerah itu mengadakan semedi, dan dari hasil semedinya tersebut memperoleh petunjuk bahwa untuk menggarap sawah di daerah itu harus menggunakan sesaji yang disebut sesaji adem. Sesaji adem dimaksud adalah makanan yang adem (Bahasa Jawa) anyep/ hambar tanpa bumbu dan garam. Sesaji tersebut berupa ketan, ikan lele, srundeng, pisang ambon, degan ijo (kelapa muda yang berwarna hijau), sesaji komplit.

Sijeruk.
Legenda lokasi persawahan ini berasal dari legenda yang konon dahulu ada pohon jeruk yang kemudian berubah menjadi pohon kemuning, dan pohon kemuning tersebut berubah menjadi pohon asem, dan sampai sekarang pohon asem tersebut masih ada dan diyakini sebagai jelmaan dari pohon jeruk, sehingga daerah tersebut diberi nama Sijeruk. Kawasan ini terkenal dengan jangkrik yang berwarna hitam (Jangkrik Jalitheng). Dalam musim panen sesaji yang dibuat penduduk adalah sambal ikan bethik, pepes bekatul dengan kelapa hijau komplit.

Pacor (Setapak, Ngecor).
Lagenda lokasi persawahan ini berasal dari ditemukannya sumber air yang muncul pada tapak kaki orang berjalan. Kajadian tersebut adalah pada musim kemarau, ada seorang bernama Ramjani yang menemukan air di bekas telapak kaki, air tersebut ngecor (Bahasa Jawa) dipergunakan untuk menyirami sawah yang luas tidak pernah habis. Dengan demikian kawasan ini diberi nama Pacor.
Sesuai dengan adat Jawa sesajen untuk daerah ini adalah kebo singkuling, yang menurut kepercayaan penduduk bila pada saat mau tanam atau mau panen bila tidak dilakukan sesaji selalu memakan korban yakni ada orang yang meninggal.

Disamping legenda kawasan persawahan tersebut ada beberapa legenda yang sampai saat ini dipercai oleh masyarakat lainnya yakni:

Legenda Samir.
Konon dahulu ada seorang simbah yang pekerjaannya mengembala kerbau, dan simbah tersebut bernama Samir. Mbah Samir ini dalam melakukan pekerjaannya selalu berangkat pagi dan biasanya kurang lebih setiap jam 11.00 siang dikirim makanan ke ladang gembalanya. Suatu waktu entah lupa atau bagaimana kejadiannya Mbah Samir tidak dikirim makanan, karena merasa jengkel dia menghilang sampai sekarang.
Menurut legenda beliau masih sering terlihat di malam hari ikut bermain dengan anak-anak pada saat bermain jonjangan (permainan Jawa). Sebelumnya Mbah Samir berpesan bahwa sawah di daerah gembalanya tersebut tidak boleh digarap oleh orang lain selain dari keluarga dan keturunan daerah tersebut.
Sesaji untuk daerah tersebut adalah ayam panggang segeluntung, cengkaruk, gula kelapa, pisang raja ijo, rokok lintingan, wedang kopi, wedang teh, ketupat, dan lepet.

Legenda Benda.
Dahulu ada sebatang pohon kayu benda yang sangat besar, dan kayu tersebut setiap ditebang tumbuh lagi tak pernah mati. Karena tidak ada yang bisa menumbangkan pohon tersebut, maka diberikan sesaji berupa pepesan bekatul, gula kelapa degan kelapa ijo, pisang raja dan pisang ambon hijau. Dan setelah diberi sesaji tersebut maka pohon tersebut dapat ditebang.

Pemilihan Kepala Desa.
Desa Harjodowo bila akan mengadakan Pemilihan Kepala Desa sesajinya adalah:
a. Komaran komplit.
b. Senjang kawung
c. Kebaya ijo gadung
d. Kangsi tawon
Semua sesaji tersebut ditempatkan kedalam tenong (tempat jajanan Jawa), diletakkan di Balai Desa (tempat pemilihan).

Acara Sedekah Bumi.
Acara sedekah bumi, Desa Harjadowo yang menjadi agenda rutin yang disebut sedekah Bumi, yakni sebagai rasa sukur atas hasil panenan, acara tersebut dilaksanakan setelah panen selesai.

Beberapa Larangan yang perlu dihindari:
1. Pada bulan Syuro hendaknya dihindari untuk mengadakan pesta pernikahan, khitanan dan beberapa walimahan lainnya.
2. Dalam acara walimah khitanan tidak boleh ada peralatan yang mengantung, seperti gong, kuda lumping, wayang kulit dan sebagainya.
3. Bila ada yang meninggal hari kamis malam jum’at kliwon, maka makamnya harus ditunggu selama 7 hari 7 malam, karena dikhawatirkan ada orang yang mencuri kain kafan mayat tersebut, karena potongan kafannya dapat dijadikan jimat yang sifatnya nigatif.


SEJARAH DESA

A. Sejarah Pemerintahan Desa
1. TRUNAREJA
2. WARSITO
3. KARTA SENTIKA (… s/d 1929)
4.ASMAWIDJAJA (1932 s/d 1975).
Catatan:
Ada beberapa peristiwa pada jaman kepemimpinan Kepala Desa ini yaitu:
Pencalonan yang disandingkan ada dua peserta yakni:
- Kartawidjaja (Luangandawa).
- Partawidjaja (Arnan).
Setelah itu terjadi pembaharuan lagi yakni
Peserta pemilihan kades antara ASMAWIDJAJA dengan DALDIRI (Luangandawa). Hal tersebut terjadi setelah jaman kemerdekaan.
5. Ngalimun Djapar (1975 s/d 1989). Tandingannya pada saat Pilkades adalah Sargono. Pada masa ini ada pergantian PJ. Yakni PJ. Ardjo Suwito (Kaur Pembangunan).
6. Lusiman Sobari (1991 s/d 1999). Tandingannya pada saat Pilkades adalah Soimun dan Nasikin HS.
7. Nasikin HS (1999 s/d 2007) Tandingannya pada saat Pilkades adalah Paryono dan Supardi.
8. Slamet Raharjo (2007 s/d sekarang). Tandingannya pada saat Pilkades adalah Sulijan.

B. Sejarah Pembangunan Pendidikan.
Pada masa penjajahan Belanda di Harjodowo telah ada suatu sekolah yang hanya sampai kelas 3 (tiga), sekolah tersebut berlokasi di Luangandawa. Pada masa pemerintahan Jepang sekolah tersebut dibakar oleh Jepang, sehingga sejak itu di Harjodowo tidak ada sekolahan.
Pada masa pemerintahan Kepala Desa Asmawidjaja (1932-1975), kurang lebih tahun 1970-an dibangun sebuah Sekolah Dasar Negeri (sekarang SDN 2 Harjadawa). Sekolah Dasar Negeri Harjodowo lokasinya memanjang dari Barat ke Timur, hal tersebut dikarenakan lokasi tanahnya. Pembangunan pertama di sebelah barat, pada tahun 1977 dibangun gedung Inpres SDN yang menempati disebelah timurnya, dan pada tahun 1983 dibangun lagi disebelah baratnya. Sehingga di Harjodowo lokasi SDN menjadi satu lokasi.

C. Sejarah Keadaan Kependudukan dan Pembangunan Lainnya.
Pada jaman penjajahan Jepang kurang lebih tahun 1942 terjadi musim kemarau panjang yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan pangan penduduk, kemarau tersebut selama kurang lebih 9 bulan. Makanan masyarakat Harjodowo pada saat itu adalah ketela rambat, kehidupan penduduk sangat sengsara pada masa itu.
Pada jaman Jepang ini oleh Jepang diadakan kelompok Pemuda yang diberi nama Keybodan, sedangkan pelatihnya disebut Sinedan. Para anggotanya tersebut dilatih kemeliteran (perang-perangan). Seragam keybodan menggunakan topi yang terbuat dari anyaman pandan. Jepang juga membuat kelompok Peta (Pembela Tanah Air), komandannya disebut Heiho.
Pada masa itu, utamanya musim penghujan keadaan penduduk sangat memprihatinkan yakni kurang pangan dan sandang, bahkan sandangan penduduk banyak yang terbuat dari bahan goni. Pada saat tersebut penduduk banyak terkena penyakit kutu besar berwarna putih (seperti kutu yang ada di Kerbau). Maka pada masa itu penduduk banyak yang kena penyakit gudig/ borok, serta kurang gizi. Pada masa itu penduduk Harjodowo jarang mempunyai anak karena penduduk kekurangan makan. Makanan yang penduduk konsumsi sehari-hari adalah bonggol pohon pisang dan ampas ketela pohon (budin) yang dibeli dari Daerah Sumpiuh (Banyumas).
Pada musim panen, petani harus menjual hasil panennya di Kelurahan dengan harga yang sangat murah, sementara penduduk yang miskin menjadi buruh untuk menumbuk padi, dan imbalannya adalah beras yang sangat sedikit. Petugas yang memberi upah menumbuk padi disebut dengan Kumico.
Pada masa ini banyak penduduk yang meninggal. Bila yang meninggal itu orang miskin mereka tidak dibungkus kain kafan, melainkan dengan tikar atau daun. Dalam setiap harinya ada saja yang meninggal dunia antara dua sampai tiga orang, sehingga menguburkannyapun sangat susah.
Masa pendudukan Jepang pun berakhir, namun Belanda datang kembali. Kedatangan Belanda di Harjodowo saat itu dengan mengadakan daerah pembatasan yang disebut Strasco, yang menjadi batas adalah Kali Kemit sebelah timur, sedangkan sebelah baratnya disebut Rekomba (Republik Belanda).
Penduduk berusaha menghambat laju perjalanan Belanda dengan merusak infrastruktur seperti jalan, jembatan dan lainnya. Di Harjodowo ada jembatan yang tidak bisa dirusak oleh penduduk karena saking kuat dan tebalnya, yakni jembatan Jentik (Brug Jentik), di wilayah Arnan (Harjodowo RT 01/ RW II).
Pada tahun 1944 Belanda mengundang Para Lurah ke Sukareja. Pada masa ini Kepala Desa Harjodowo dipimpin oleh Asmawidjaja. Karena Pak Lurah berhalangan kemudian diwakilkan kepada Bapak Kebayan Dulah Marsum. Namun ternyata Belanda sangat licik, semua undangan oleh Belanda dibunuh termasuk Kebayan Dulah Marsum, dan Pak Lurah Selamat dari pembunuhan karena tidak menghadiri undangan tersebut.
Pada masa Kemerdekaan RI, berdiri partai politik. Di Desa Harjodowo penduduk pun ikut kepartaian tersebut, pada masa ini peran idiologis cukup kuat. Di desa Harjodowo kepartaian ini terbelah:
- Masyumi (ditempatkan di Masjid Kuwarasan)
- Pesindo (ditempatkan di Kediaman Lurah Kuwarasan Bapak Pingi)
- OPR (Organisasi Pemuda Rakyat) di Harjadowo.
Pemuda pada setiap hari keliling kampung menjaga keamanan dan menjaga jangan sampai kesusupan dari partai lain. Gejolak G30S PKI di Harjodowo tidak terlalu terganggu.
Pada saat Megawati menjadi Presiden, ada program penanaman pohon kelapa. Di Harjodowo yang diprogram penanaman pohon kelapa di sawah Sibarong, namun program tersebut gagal karena pada saat penanaman tersebut Sawah Sibarong terendam air, sehingga pohon kelapa mati. Dan dampak dari program tersebut berakibat pada sumur penduduk airnya bau busuk dan berwarna kebiru-biruan.
Pada tahun 1968 dibangun Masjid Nurrochim di RT 03/ RW I, pembangunannya di prakarsai oleh Bapak H. Sumeri, Ngisom, Khunan, Kaum Palil, Kartanimad, dan Pandi. Pondasi masjid menggunakan tanah bekas sekolah bekas pembangunan jaman Belanda.


Ada beberapa pembangunan lainnya antara lain:
1. Masa Kepemimpinan Lusiman Sobari.
a. pembangunan jembatan dekat Kuburan Arnan.
b. Pembangunan jembatan depan rumah Pak Suyudi.
c. Balai Desa ambruk dan direhab.
d. Penambahan tiang listrik.
e. Pembebasan lahan tanah Sutet.

2. Masa Kepemimpinan Nasihin HS.
a. Pembangunan Makadam jalan.
b. Pembangunan talud.
c. Ambanisasi.
d. Pembangunan pagar Balai Desa.
e. Paving halaman Balai Desa.
f. Pembebasan tanah warga untuk pembangunan tanggul sungai Trenggulun.
g. ADD mulai turun.
h. BPD dibentuk (Badan Perwakilan Desa).
i. PPK (Program Pengembangan Kecamatan).

3. Masa Kepemimpinan Slamet Raharjo.
a. Pengangkatan perangkat desa.
b. Pembangunan talud Tambaksari.
c. Pembebasan tanah warga untuk saluran irigasi dengan swadaya masyarakat.
d. PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) masuk desa.
e. Rehab pembangunan TK (MCK, pavingisasi, dan ruang bermain).

Address

Harjodowo, Kuwarasan
Kebumen
54366

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Harjodowo, Kuwarasan, Kebumen, Jateng posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category