12/05/2026
KEBUMEN β Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kebumen mengikuti kegiatan bedah buku berjudul Making Democracy Count: How Mathematics Improves Voting, Electoral Maps, and Representation karya Ismar Volic di Ruang Rapat pada Selasa (12/5). Kegiatan ini diselenggarakan oleh KPU Republik Indonesia dan diikuti secara luring maupun daring melalui Zoom Meeting.
Kegiatan bedah buku ini menghadirkan penulis, Ismar Volic, yang merupakan akademisi dan Profesor di Departemen Matematika Wellesley College, Amerika Serikat. Selain itu, turut hadir sebagai panelis Mada Sukmajati dari Universitas Gadjah Mada dan Aditya Perdana dari Universitas Indonesia.
Aditya Perdana dalam pemaparannya menjelaskan demokrasi tidak hanya merupakan proses politik, tetapi juga sebuah sistem yang bersifat numerik. Pendekatan matematika dinilai mampu mengungkap kelemahan tersembunyi dalam sistem pemilu sekaligus membantu merancang sistem yang lebih transparan, teruji, dan akuntabel.
Salah satu temuan penting dalam buku tersebut adalah bahwa pada pemilu dengan dua kandidat, prinsip mayoritas sederhana memiliki dasar matematis yang kuat. Namun, ketika jumlah kandidat lebih dari dua, metode pluralitas berpotensi menghasilkan pemenang yang tidak didukung oleh mayoritas pemilih.
Dalam pemaparannya, Mada Sukmajati juga menekankan bahwa pendekatan matematika dalam sistem pemilu dapat membantu merancang sistem yang lebih objektif dan tidak semata didasarkan pada kepentingan politik. Ia menjelaskan bahwa berbagai aspek dalam pemilu, seperti sistem penyuaraan, ambang batas, desain daerah pemilihan, hingga konversi suara menjadi kursi, dapat dianalisis menggunakan pendekatan matematis untuk menghasilkan sistem yang lebih representatif.
Lebih lanjut, dibahas p**a bahwa tidak ada sistem pemilu yang sempurna secara matematis. Hal ini sejalan dengan konsep Arrowβs Impossibility Theorem yang menyatakan bahwa tidak ada sistem voting yang mampu memenuhi semua kriteria. Oleh karena itu, tujuan utama dalam desain sistem pemilu adalah mencari sistem yang paling minim kelemahan, bukan yang sempurna.
Selain itu, isu representasi juga menjadi sorotan penting dalam diskusi. Pembagian kursi parlemen, metode konversi suara, serta potensi ketidakadilan seperti gerrymandering dibahas sebagai tantangan dalam mewujudkan sistem pemilu yang adil. Berbagai metode matematis dinilai dapat membantu meminimalkan distorsi representasi dan meningkatkan kualitas demokrasi.
Melalui kegiatan ini, KPU Kabupaten Kebumen menunjukkan komitmennya untuk terus meningkatkan kapasitas kelembagaan dan kualitas penyelenggaraan pemilu melalui penguatan kajian dan literasi kepemiluan.